05 November 2012

Tee Boen Liong Dalang Tionghoa dari Kapasan


Selama dua hari berturut-turut Ki Sabdho Sutedjo menggelar pertunjukan wayang kulit di lapangan Kapasan Dalam, tepat di di belakang Kelenteng Boen Bio, Surabaya. Mendengar suara dan gaya mendalangnya, tak ada yang menyangka kalau pria 47 tahun ini keturunan Tionghoa.

Ya, Ki Sabdho Sutedjo ini tak lain Tee Boen Liong, salah satu dari segelintir dalang Tionghoa di tanah air. Kiprah Boen Liong dalam dunia pewayangan mendapat apresiasi khusus dari Ki Narto Sabdho (almarhum), maestro dalang asal Klaten, Jawa Tengah. Boe Liong bahkan diberi nama Ki Sabdho Sutedjo ketika berguru langsung di padepokan milik Ki Narto Sabdho.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dengan Tee Boen Liong di sela perayaan sedekah bumi di Kapasan Dalam, Surabaya, pekan lalu.

Sudah berapa kali Anda pentas di Kapasan Dalam?

Wah, sudah sangat sering. Wong, saya ini kan aslinya dari Kapasan sini. Dan kebetulan warga Kapasan Dalam sejak zaman dulu punya tradisi mengadakan sedekah bumi atau bersih desa seperti kampung-kampung lain di Jawa. Kalau tidak salah, tradisi sedekah bumi di Kapasan Dalam itu tahun ini sudah mencapai tahun ke-116.

Dan selalu ada pergelaran wayang kulit?

Zaman dulu ada pergelaran wayang potehi, wayang golek, wayang wong, kemudian wayang kulit. Tapi belakangan ini lebih banyak nanggap wayang kulit. Karena saya asli Kapasan, makanya panitia biasanya meminta saya untuk main di sini. Wayangan di Kapasan ini bukan hanya satu kali, tapi dua hari berturut-turut. Hari pertama malam hari setelah ritual tumpengan dan doa bersama, kemudian hari kedua siang hari.

Wah, ki dalang dibayar dua kali dong?

Hehehe.... Kapasan Dalam ini kan kampung saya sendiri. Jadi, biayanya pun sangat minimal. Yang paling penting, kita bisa nguri-uri budaya, melestarikan tradisi sedekah bumi di Kapasan Dalam, yang merupakan kampung Tionghoa, yang sudah berlangsung selama satu abad lebih. Kita juga ingin agar generasi yang lebih muda ikut melestarikan tradisi ini di masa mendatang. Kita boleh saja modern, tapi jangan sampai kehilangan jati diri kita sebagai orang Indonesia.

Sebagai dalang keturunan Tionghoa, apakah Anda mengalami kesulitan di lapangan?

Tidak ada. Buktinya, saya sudah bertahun-tahun bisa main di berbagai lingkungan masyarakat baik di Jawa maupun luar Jawa. Saya malah mendapat apresiasi dari masyarakat karena meskipun Tionghoa, saya mau menekuni dunia pedalangan. Jangankan Tionghoa, orang Jawa yang jadi dalang pun sebetulnya juga sangat terbatas.

Saya pernah main di daerah Lampung dan disaksikan oleh sekitar 2.500 orang. Apresiasi mereka ternyata sangat bagus terhadap wayang kulit. Saya juga biasa main di lingkungan kelenteng, gereja, kampung, pusat perbelanjaan, atau hajatan ulang tahun perusahaan, dan sebagainya. Bahkan, saya pernah tampil bersama dengan dalang keturunan Arab dan Jawa di Jalan Bubutan, Surabaya. Jadi, dalang Tionghoa, Arab, Jawa tampil bareng dalam satu panggung.

Sebagai orang Tionghoa, saya justru punya semacam trade mark khusus. Wah, orang Tionghoa kok bisa mendalang? Ini menjadi semacam nilai tambah bagi saya. Di sisi lain, kalau saya melakukan kesalahan, penonton pun maklum. Wong dalangnya orang Tionghoa, bukan orang Jawa. Hehehe....

Anda tidak memasukkan unsur Tionghoa dalam pergelaran Anda?

Lihat-lihat dulu suasananya. Kalau di hajatan Tionghoa seperti sedekah bumi Kapasan Dalam saya bisa memasang lampion atau aksesoris khas Tionghoa. Tapi pada prinsipnya wayang kulit itu sudah punya pakem yang harus kita turuti meskipun kita bisa melakukan improvisasi agar pertunjukan lebih menarik.

Barangkali Anda mendapat pesan khusus dari guru Anda, mendiang Ki Narto Sabdho?

Yah, beliau berpesan agar saya menjadi dalang yang berkualitas, dalang ternama. Bukan hanya sekadar jadi dalang yang laris. Sebab, yang namanya dalang laris itu ada masanya. Tapi dalang ternama itu yang akan dikenang orang seperti Ki Narto Sabdo. Saya juga diminta puasa Senin-Kamis. Syukurlah, sampai sekarang saya masih mencoba melaksanakan amanat beliau.

Ngomong-ngomong, bagaimana frekuensi tanggapan Anda akhir-akhir ini?

Setiap bulan selalu ada tanggapan. Rata-rata dua tiga kali sebulan. Kalau lagi ramai, ya, bisa banyak kali. Orang bikin hajatan itu kan musimnya. Kalau pas musim, ya, sangat ramai.

Anda optimistis melihat masa depan wayang kulit di Indonesia?

Saya ini orangnya selalu optimistis. Saya yakin sekali bahwa wayang kulit akan tetap eksis di tanah air. Sebab, bibit-bibit dalang muda selalu muncul di berbagai daerah. Festival wayang bocah pun selalu diadakan dan selalu melahirkan calon-calon dalang di masa depan. (*)

No comments:

Post a Comment