24 November 2012

Sri Mulyani menari keliling Eropa



Sabtu (24/11/2012), Sri Mulyani genap berusia 37 tahun. Di usia yang kian matang ini Sri telah membuktikan diri sebagai salah satu penari Jawa Timur yang punya jam terbang tinggi baik di dalam maupun luar negeri. Mungkin ibu tiga anak ini merupakan satu-satunya penari kita yang pernah mendapat kesempatan 'ngamen' di puluhan kota di Eropa.

Didukung sang suami, Ki Toro, dalang sekaligus pemusik tradisi, Sri Mulyani telah menciptakan ratusan karya tari yang sudah dipentaskan di berbagai festival regional, nasional, bahkan internasional. Meski begitu, tak ada kata puas bagi Sri Mulyani. Dia terus menari, meracik tarian baru, dan mengajar tari... karena seni tari sudah menjadi napas hidupnya.

Berikut petikan percakapan Lambertus Hurek dengan Sri Mulyani:

Sejak kapan Anda mulai belajar menari?

Sejak masih anak-anak saya sudah ikut berlatih menari. Sebab, saya berasal dari keluarga yang memang sangat dekat dengan seni tari. Awalnya hanya sekadar senang-senang saja, tidak terlalu serius ingin menjadi atau koreografer profesional. Tapi rupanya seni tari sudah telanjur menjadi bagian dari kehidupan saya sampai sekarang.

Lantas, kapan mulai serius menekuni seni tari?

Kira-kira sekitar tahun 1982. Waktu itu saya masih sekolah dasar (SD). Tapi mulai berproses dengan guru-guru tari dan penari-penari senior sejak tahun 1996 di Taman Budaya Jawa Timur.

Rupanya Anda belajar di sanggar tari yang profesional?

Benar. Sebab, saya memang tidak mau setengah-setengah dalam menekuni seni tari. Saya juga belajar di Bina Tari Jawa Timur, Tari Kreasi Bagong Kusumadiarjo, dan Pokja Pelatihan Tari Bali. Saya belajar menari kurang lebih 13 tahun. Selain itu, saya pernah berlatih pada Cak Rofik, Agustinus, dan Tri Broto Wibisono. Mereka semua kemudian menjadi mitra kerja saya dalam seni tari.

Barangkali Anda pernah ikut lomba saat remaja dan berhasil jadi pemenang?

Wah, kalau lomba-lomba menari di tingkat SD sampai perguruan tinggi, saya memang sering ikut dan, alhamdulillah, sering menang. Saya pernah jadi juara tari remo tingkat pelajar SMP-SMA, bahkan berlanjut ke jenjang perguruan tinggi. Bukannya sombong, saya selalu terpilih menjadi peserta terbaik. Saya tiga kali berturut-turut menjadi juara tari remo, sehingga piala bergilirnya saya bawa pulang menjadi piala tetap. Itu pengalaman yang tak pernah saya lupakan.

Anda kini lebih dikenal sebagai pentara tari yang sukses. Dari mana Anda mendapat ide untuk menciptakan tari kreasi?

Idenya bisa dari mana saja. Apa pun yang ada di sekitar kita bisa menjadi inspirasi untuk menciptakan karya-karya baru. Saya juga banyak menggali cerita kepahlawanan atau kearifan lokal.

Bisa sebut contohnya?

Tarian Panji Klaras Keboansikep yang terpilih sebagai karya tari terbaik tingkat nasional tahun 2005. Tarian itu saya ambil spirit perjuangan Kiai Hasan Mukmin di daerah Sruni, Gedangan, Sidoarjo, yang pantang menyerah melawan penjajah bersama masyarakat setempat. Mereka bangkit melakukan perlawanan karena mendapat tekanan berat untuk membayar upeti.

Nah, Kiai Hasan Mukmin itu mantan pasukan Pangeran Diponegoro. Meski hanya seorang penjual tikar, namun beliau punya kepedulian sangat tinggi untuk membela rakyat. Saya kemudian menggunakan properti tikar untuk mengekpresikan sarana perang seperti meriam, benteng, bambu runcing, dan sebagainya.

Lantas, bagaimana Anda bisa melakukan pertunjukan keliling di luar negeri?

Nah, kebetulan tahun 1997 saya berkolaborasi dengan Ki Toro (suami Sri, pemusik tradisional dan dalang, Red) berkeliling ke 24 kota di Prancis. Di Prancis saya membawakan karya hasil kolaborasi dengan penata tari Prancis dengan judul L'eppope de Gilgamesh atau Pengembaraan Gilgamesh.

Kemudian tahun 2004 kami berkeliling lagi di 50 kota ke Belanda menampilkan Tari spirit Jaranan. Saya juga pernah pula tampil di Turki tahun 2008.

Bagaimana apresiasi masyararat Eropa terhadap tarian Anda yang berakar pada tradisi Jawa Timur?

Wah, orang Barat itu memang punya apresiasi yang tinggi terhadap semua jenis kesenian. Setiap kali kami pentas selalu ramai. Dan mereka juga suka mendiskusikan kesenian yang sudah ditonton. Juga ada workshop, kolaborasi, dan sebagainya. Yang menarik, pertunjukan tari itu tidak harus dilakukan di dalam gedung kesenian yang bagus. Mereka bisa menyulap tempat apa pun menjadi ajang untuk berkesenian.

Apakah Anda masih diundang pihak luar negeri untuk tampil di festival atau event-event internasional?

Kalau undangan sih selalu ada. Tapi, terus terang saja, sampai sekarang kita selalu kesulitan mendapat sponsor yang mau mendukung kegiatan kesenian, khususnya seni tari. Ini juga yang membuat penari-penari kita kurang mendapat kesempatan untuk menampilkan kebolehannya di luar negeri. Padahal, melalui seni tari, kita bisa mempromosikan seni budaya Indonesia di luar negeri.

CV SINGKAT

Nama : Sri Mulyani
Lahir : Surabaya, 24 November 1975
Suami : Subiyantoro alias Ki Toro
Anak : 3 orang
Pekerjaan : Penari, koreografer
Sanggar : Pusat Olah Seni dan Budaya Sri Production
Alamat : Bluru Permai BH-2 Sidoarjo, Jawa Timur

Pendidikan :

SMP dr Soetomo Surabaya
SMA Dharma Wanita Surabaya
STKW Surabaya

Pengalaman Pentas

Pertunjukan keliling di 25 kota di Prancis selama tiga bulan, 1997
Indonesia Festival di Darling Harbour, Sydney, Australia, 2004
Mundial on Tour selama tiga bulan di Belanda, 2004
Festival Karya Tari Indonesia, 2005
Festival Cak Durasim di Taman Budaya Jawa Timur, 2006
Indonesian Dance Festival VIII di Gedung Kesenian Jakarta, 2006.
Festival Ramayana Internasional di Bali, 2006
Indonesia Performing Arts Mart, Solo, 2007.
Festival Cak Durasim, 2007
Egypt Annual Festival di kota Manisa, Turki, 2007
Indonesia Dance Festival IX, 2008, Taman Ismail Marzuki Jakarta.
Pembukaan IPAM 2009 di Mangkunegaran, Surakarta.
Temu Taman Budaya di Riau, 2010.
Apresiasi Seni bagi Guru dan Siswa di Puspo Agro Jemundo, Sidoarjo.
Pasamuan Kerukunan Antar Umat Beragama Internasional di Gianyar, Bali, 2011

No comments:

Post a Comment