06 November 2012

Prof Lukas Widyanto, Tokoh Pembauran Jatim, Berpulang

Jenazah Prof Lukas widyanto disemayamkan di auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.


Satu lagi tokoh pembauran di Jawa Timur berpulang ke pangkuan Sang Pencipta. Prof Dr Lukas Widyanto meninggal dunia dalam usia 86 tahun di Rumah Sakit Santo Vincentius a Paulo (RKZ) Surabaya, Minggu (4/11/2012). Jenazah mantan ketua Yayasan Universitas Katolik Widya Mandala ini, menurut rencana, dikremasi  di Krematorium Eka Praya, Kembang Kuning, Surabaya, Rabu (7/11/2012).

Mendiang Lukas Widyanto meninggalkan istri, Maria Magdalena Lyantini, tiga anak dan lima cucu. Sebelum diperabukan, jenazah dokter senior senior ini lebih dulu dibawa ke Aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga untuk mendapat penghormatan terakhir.

"Prof Lukas ini semasa hidupnya sangat aktif dalam gerakan pembauran etnis Tionghoa dan pribumi di Indonesia, khususnya Jawa Timur," kata Benny Hoe, aktivis Jejak Petjinan.

Di kalangan masyarakat Tionghoa, Lukas Widyanto dikenal sebagai mantan ketua Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB). Organisasi ini dibentuk menteri dalam negeri pada 31 Desember 1977 untuk mendorong pembauran etnis di tanah air. Bakom PKB ini menggantikan Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) yang berjaya pada era Presiden Sukarno.

Di masa Orde Baru itu tidak mudah bagi orang Tionghoa untuk mengembangkan organisasi dan mengungkapkan ekspresi budayanya di depan publik. Pemerintah kemudian membentuk Bakom PKB sebagai mediator antara warga Tionghoa dan pemerintah. Prof Lukas Widyanto kemudian dipercaya sebagai ketua Bakom PKB Jatim.

"Saat itu Bakom PKB-lah yang banyak menangani naturalisasi bagi orang Tionghoa yang ingin menjadi warga negara Indonesia. Suara Bakom PKB sangat didengar oleh pemerintah Orde Baru," kata Benny.

Sesuai dengan kebijakan politik saat itu, Bakom PKB yang dipimpin Lukas Widyanto ini juga gencar menyerukan asimilasi bagi orang Tionghoa. Kerja sama dan hubungan yang baik antara 'pribumi' dan 'nonpribumi' terus disuarakan. Dalam sejumlah seminar, kakek yang terlahir dengan nama Tjan Hoen Lay ini mengatakan, persoalan etnis di Indonesia perlu diselesaikan secara benar mengingat persoalannya sangat kompleks.

"Kita tidak bisa melihat secara sepihak karena masalahnya terkait satu sama lain," tegas Lukas suatu ketika. Di kalangan Tionghoa sendiri pun, menurut dia, pembauran itu tidak selalu mudah dilakukan mengingat masih ada golongan peranakan Tionghoa dan totok.

"Dengan orang Indonesia sukar membaur, dengan Tionghoa sendiri pun sukar," katanya.

Mengenai warga Tionghoa yang status sosial ekonominya lebih tinggi dibanding golongan mayoritas penduduk, menurut Lukas, juga tak lepas dari perjalanan sejarah para perantau dari dataran Tiongkok. Saat tiba di nusantara, para huaqiao ini awalnya tidak punya keahlian khusus. Jalan satu-satunya untuk bertahan hidup adalah berdagang. Berkat keuletan mereka, akhirnya para perantau ini mengalami kemajuan pesat di bidang ekonomi. Di sisi lain, peluang bagi warga Tionghoa di luar bidang perdagangan sangat terbatas.

2 comments:

  1. bakom pkb masih relevan? apa yg diperjuangkan pak lukas perlu dilanjutkan oleh generasi muda tionghoa spy lbh memasyarakat dalam kehidupan seharihari. rest in peace!

    ReplyDelete