09 November 2012

Paduan suara di Jatim makin hebat


Bukan main paduan suara mahasiswa dan pelajar di Surabaya saat ini. Dalam dua minggu ini tiga kor anak muda Kota Pahlawan unjuk kebolehan di luar negara. PSM Universitas Airlangga baru kembali dari kompetisi choir di Polandia. Dan menang!!!

Kemudian dua hari lalu Paduan Suara SMAN 6 berangkat ke Guangzhou, Tiongkok, ikut festival paduan suara internasional. Semoga menang juga karena tahun lalu sudah dapat medali, kalau tak salah. Tak hanya mahasiswa dan pelajar SMA, anak-anak SD Cita Hati juga berangkat ke Tiongkok untuk lomba paduan suara kelas dunia.

Hebat, hebat, hebat!

Dulu, tahun 1990-an, ketika masih jadi penyanyi dan pengurus paduan suara mahasiswa Universitas Jember dan paduan suara di lingkungan Gereja Katolik di Jember, Malang, Surabaya, saya tak pernah membayangkan paduan suara kita bisa ikut kompetisi di luar negeri... dan (hampir selalu) menang.

Sekadar ikut kompetisi tingkat nasional di Bandung, yang diadakan ITB, kompetisi paling bergengsi di Indonesia saja sudah setengah mati. Cari dana, sponsor, latihan yang lama dan intensif, belum harus kuliah dan praktikum.... Dan keluhan itu sudah biasa dilontarkan teman-teman pengurus PSM di universitas lain. Termasuk kampus negeri yang sangat terkenal.

Tapi, setelah reformasi, semuanya berubah drastis. Ikut lomba ke luar negeri, entah Tiongkok, Polandia, Jerman, Korea, Inggris... bahkan kutub utara begitu mudahnya. Kirim 50 orang ke Eropa kayaknya lebih ringan ketimbang kirim 35 orang penyanyi dan ofisial paduan suara dari Jember ke Bandung. Hehehehe....

Jelas, ini membuktikan bahwa hari ini Indonesia punya banyak uang, mungkin dari sponsor atau pemerintah, untuk membiayai misi kesenian yang nonkomersial ini. Makin banyak pihak yang peduli paduan suara. Pak Harun, kepala dinas pendidikan Jawa Timur, kemarin mengatakan siap membiayai grup paduan suara berkualitas yang sanggup mengharumkan nama Jawa Timur di dunia.

Dulu, zaman saya, tidak ada pejabat tinggi yang bicara kayak Pak Harun. Sekadar keluar uang untuk pengadaan kostum saja, wah, susahnya bukan main. Saya masih ingat betapa susahnya meminta uang dari universitas, yang besarnya tak seberapa, untuk konsumsi anggota paduan suara saat latihan. Sekadar beli roti, camilan, dan minum wedhang jahe. Tak ada dana untuk makan di warung, apalagi restoran.

Maka, bebahagialah anak-anak paduan suara yang hidup di zaman internet ini! Ada youtube, kita bisa lihat penampilan kor di seluruh dunia. Cari partitur gampang! Tidak perlu menulis partitur pakai tangan seperti yang saya lakukan dulu.

Bagaimana dengan kualitas paduan suara sekarang? Sonoritas? Harmonisasi sopran, alto, tenor, bas? Teknik vokal?

Ehm... Kayaknya sama saja. Saya bisa jamin kor zaman dulu tak kalah dengan kor sekarang. Bahkan, bisa jadi lebih bagus. Kor-kor sekarang lebih banyak mengeksploitasi olah gerak, tari-tarian, entertaing! Mereka menyanyi dan menari. Bukan cuma menyanyi doang! Tapi, percayalah, kor-kor lawas yang membawakan Ave Verum Corpus atau Hallelujah Handell masih lebih mantap ketimbang kor-kor masa kini yang sangat menekankan visual.

Bagaimanapun juga selamat untuk semua paduan suara di Jawa Timur yang makin hebat! Lama-lama kor-kor pelajar dan mahasiswa tak mau lagi ikut festival paduan suara di Bandung, Jakarta, atau Jogjakarta karena sudah banyak festival di luar negeri. Toh, banyak sponsor yang mau membiayai.  

No comments:

Post a Comment