12 November 2012

KHOTBAH PANJANG KHOTBAH PENDEK

Berapa durasi khotbah yang baik di gereja? Panjang, sedang, atau pendek? Atau tidak perlu ada khotbah?

Jawabnnya relatif. Tergantung gerejanya. Ada gereja yang memang kerjanya jualan khotbah. Makin panjang khotbah, makin banyak joke, cerita, umat makin senang. Apalagi banyak tepuk tangan dan teriak jargon-jargon seperti Haleluya dan segala macam.

Minggu 11 November 2011 saya mampir ke sebuah hotel di Surabaya. Ada pameran pendidikan Tiongkok. Kok ada pujian dengan lagu-lagu menghentak, full band, tepuk tangan meriah? Rupanya di ruang sebelah ada IBADAH RAYA, istilah baru untuk kebaktian gereja-gereja haleluya alias krismatik.

Silakan masuk, kata resepsionis. Wah, khotbah si pendeta berbusana pengusaha sukses, bukan jubah ala domine protestan, bicara menggebu-gebu. Kutip ayat-ayat Alkitab dengan lincah sesuai temanya yang penuh motivasi.

Khotbahnya sendiri sekitar satu jam lebih. Rupanya umat yang sebagian besar Tionghoa sangat puas. Jemaat juga dikasih amplop untuk diisi uang persembahan dan perpuluhan. Boleh juga via nomor rekening yang dicetak besar-besar di amplop.

Sorenya saya ke gereja lagi di Gereja Katolik Pagesangan. Guru-guru agama saya mulai SD sampai universitas bilang orang Katolik yang ikut kebaktian minggu di gereja protestan dianggap belum ke gereja. Biarpun ikut kebaktian lima kali, nyanyi jingkrak-jingkrak, haleluya, khotbah panjang. Sebab kebaktian protestan atau pentakosta itu bukan perayaan ekaristi.

Misa sore itu dipimpin pastor muda asal Cepu. Jawa banget! Bacaan kitab suci hari itu tentang persembahan janda miskin yang dianggap lebih bernilai ketimbang persembahan orang kaya. Juga tentang janda di Sarfat yang bertemu Elia.

Saya kaget karena homili romo praja ini sangat cair. Pakai ilustrasi bahasa Jawa sehingga umat tertawa kecil. Meskipun tidak baru, khotbah itu mengusik hati kita untuk bersikap seperti kedua janda miskin itu.

Khotbah romo di Gereja Pagesangan, tetangga Masjid Al Akbar Surabaya, hanya tujuh menit. Dan saya cukup terkesan.

No comments:

Post a Comment