21 November 2012

An Xiaoshan sekretaris Konjen Tiongkok



Setelah Wang Dandan kembali ke Beijing, kini posisinya digantikan An Xiaoshan. Nona manis ini bertugas sebagai atase sekaligus penerjemah resmi Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya Wang Huagen.

Begitu tiba di Surabaya, An Xiaoshan langsung mendapat tugas berat. Yakni menyiapkan resepsi hari nasional Tiongkok di Hotel Shangri-La akhir September 2012. Maka, dia harus menghubungi sekian banyak relasi Konjen Tiongkok untuk menghadiri peringatan HUT kemerdekaan Tiongkok itu.

"Kami sudah punya daftar nama sehingga saya tinggal menelepon," kata Nona An kepada saya.

An pun lega karena hajatan tahunan ini berlangsung sukses. Resepsi berlangsung meriah, dihadiri ratusan pengusaha dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Tampil dengan gaun biru, An tak canggung ketika bertemu dengan para undangan yang baru pertama kali ditemuinya.

Selain Konjen Wang Huagen, malam itu An Xiaoshan menjadi pusat perhatian hadirin. Maklum, An jadi pembawa acara dwibahasa. Mula-mula An berbicara dalam bahasa nasionalnya, Mandarin, kemudian bahasa Indonesia. Wow, ternyata bahasa Indonesia An Xiaoshan cukup fasih meski logat Tiongkok tak mungkin hilang begitu saja.

"Sebelum bertugas di Surabaya saya mengajar bahasa Indonesia di Tiongkok," kata An seraya tersenyum.

Menurut dia, bahasa Indonesia bagi masyarakat Tiongkok bisa dibilang gampang-gampang susah. Kelihatannya sederhana, tapi tidak mudah ketika diucapkan. Meski begitu, An tertarik belajar bahasa Indonesia karena bertemu dengan Gunawan, warga keturunan Indonesia di Tiongkok.

Gunawan pun jadi guru privatnya selain belajar secara formal di perguruan tinggi. Karena itulah, ucapan An tidak secadel orang Tiongkok yang baru belajar bahasa Indonesia.

Kemampuan berbahasa Indonesia An semakin terasah ketika mendapat tugas belajar ke Jogjakarta. Di kota budaya itu An ditempatkan di Universitas Achmad Dahlan. Selama satu tahun An mempraktikkan kemampuan berbahasa Indonesia yang sudah dipelajarinya di kampus maupun Pak Gunawan. Tak hanya belajar bahasa Indonesia, An juga belajar bahasa Jawa serta tradisi budaya Jawa.

3 comments:

  1. New comments-nya nggak jalan, Bung. Jadi nggak bisa diskusi.

    ReplyDelete
  2. RRC selalu mempersiapkan generasi mudanya menjadi diplomat di seluruh dunia. Mereka mengirim banyak orang utk belajar bahasa dan budaya negara tertentu sebelum ditugaskan sebagai kader diplomat di masa depan. Ini yg membuat RRC tahu banyak tentang Indonesia, sementara kita tahu sedikit tentang RRC.

    ReplyDelete
  3. kalo bisa konjen dan kedubes China memperhatikan cewek2 china yg jadi PSK di tempat2 hiburan malam. kayaknya selama ini tidak tersentuh hukum. impor PSK cungkuok harus distop.

    ReplyDelete