08 October 2012

Tio Lioe Sen Bos Pabrik Farmasi PT USFI


Di musim haji seperti sekarang Tio Lioe Sen (80 tahun) selalu sumringah. Bukan apa-apa. Tak sedikit dari ribuan jamaah calon haji Indonesia, khususnya dari Jawa Timur dan wilayah Indonesia Timur, tak lupa membawa minyak kayu putih, minyak telon, minyak angin, dan aneka obat gosok yang dibuat pabrik farmasi di Kedungcowek, Surabaya.
“Pokoknya, sejak dulu masyarakat Indonesia itu butuh minyak kayu putih. Kita harus bersyukur karena tanah air kita ini ditumbuhi banyak tanaman obat yang bisa dimanfaatkan,” kata Tio Lioe Sen. 

 Pengusaha yang juga dikenal dengan Bambang Agoes Setiono ini ikut merintis PT Usaha Sekawan Farmasi Indonesia (USFI) sejak 1949.  Berikut petikan wawancara LAMBERTUS HUREK dengan Tio Lioe Sen pekan lalu:

Apakah Anda melakukan promosi khusus kepada jamaah calon haji?
Tidak ada. Minyak kayu putih itu memang sudah ada sejak zaman Belanda. Bahkan, sebelum ada pabrik, masyarakat juga bisa membuat ramuan obat tradisional dengan tanaman-tanaman obat yang ada di sekitarnya. Kami hanya meneruskan tradisi yang ada di masyarakat.
 Bagaimana sejarah singkat pabrik Anda?
Kita mulai mencoba dengan toko obat Eng Bie di Jalan Sidodadi. Dari situ kita melihat kebutuhan masyarakat akan obat-obatan praktis sangat tinggi. Zaman dulu, di awal kemerdekaan, kan tidak semaju sekarang. Usaha farmasi masih sangat sederhana dengan teknologi seadanya. Tapi, syukurlah, kita masih bisa membuat obat-obat luar seperti minyak kayu putih, minyak telon, minyak angin, dan sebagainya. Sekarang ini kami sudah punya 30-an macam obat-obatan.
Bahan-bahannya dari mana?
Hampir semuanya dari dalam negeri. Kayu putih itu kita ambil dari daerah Namlea di Pulau Buru, Maluku. Sejak dulu tanah di sana sangat cocok untuk tanaman obat seperti kayu putih. Tanaman ini bisa tubuh di Jawa, tapi hasilnya tidak akan bagus karena iklimnya kurang cocok. Lagi pula, petani di Jawa lebih suka menanam padi daripada tanaman-tanaman nonpangan.
Bagian apa yang dipakai untuk membuat minyak kayu putih?
Daunnya. Itu pun kandungan minyaknya tidak pernah stabil. Kadang minyaknya banyak, kadang sedikit, tergantung musim. Kalau banyak hujan, ya, kandungannya minyak sedikit. Makanya, kadang-kadang kita beli banyak, ternyata hasilnya tidak begitu bagus.
 Perusahaan Anda punya perkebunan khusus untuk bahan obat?
Tidak ada. Kita bekerja sama dengan petani-petani setempat. Mereka yang menanam, kemudian kita tampung untuk diproses di pabrik.
Apa tidak terlalu jauh mengambil bahan-bahan obat di Maluku?
Mau bagaimana lagi? Kualitas tanaman obat dari sana memang paling bagus. Bahkan, mungkin lebih bagus dari luar negeri. Jadi, kita tidak perlu impor.
Pabrik yang di Kedungcowek itu sejak kapan?
Baru dibuka tahun 1986 karena kita adakan perluasan. Tadinya cuma pabrik kecil di Jalan Kapasan, yang dikenal masyarakat dengan pabrik Cap Gajah. Mula-mula kita hanya memiliki lahan 5.000 meter. Kemudian terus berkembang sehingga sekarang menjadi dua hektare.
Karyawan Anda berapa orang?
Sekarang sekitar 500 orang. Lumayan banyak karena awalnya hanya 15 orang saja. Semua karyawan kita ambil dari warga Surabaya, khususnya yang tinggal di sekitar pabrik.
Bagaimana liku-liku usaha Anda selama puluhan tahun?
Yah, namanya orang usaha itu nggak pernah mulus. Selalu ada pasang surut, jatuh bangun. Tahun 1980-an kita sempat terguncang karena hampir semua karyawan mengundurkan diri untuk mencari pekerjaan lain. Sejak itu kita menyusun strategi bisnis baru dan manajemen yang profesional agar perusahaan ini tidak sampai tutup. Syukurlah, justru di tengah krisis itu kita bisa membangun pabrik yang besar di Kedungcowek.
Anda sudah berusia 80 tahun. Apakah masih ikut mengurusi perusahaan?
Oh, tidak. Saya sudah lama menyerahkan manajemen kepada tiga anak laki-laki saya. Sementara satu-satunya anak perempuan saya sekarang tinggal di Kanada. Saya bisa santai sambil mengikuti acara-acara sosial budaya.



Pak Tio bersama pengurus Hakka Jatim menerima mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya.

Bermula dari Toko Obat Kecil
Seperti pengusaha-pengusaha besar lainnya, Bambang Agoes Setiono sudah mengalami kepahitan hidup sejak usia balita. Kehidupan ekonomi orang tua yang sulit membuat kehidupan Tio Lioe sen, nama lahirnya, harus berpindah-pindah kota, bahkan negara.
Lahir di kota tembakau, Jember, 1932, Tio pun mengikuti orangtuanya ke negeri leluhur di dataran Tiongkok, tepatnya di kawasan yang sekarang dikenal dengan Provinsi Guangdong. Ternyata, situasi di Tiongkok pun tak banyak bedanya dengan di Pulau Jawa, yang masih dikuasai Hindia Belanda.
“Jangan bayangkan Tiongkok tahun 1930-an seperti Tiongkok yang sudah modern seperti sekarang. Kalau dulu, wah, penduduk di sana benar-benar sulit mencari makan,” kata kakek yang ramah ini.
Merasa tak ada tanda-tanda kemajuan ekonomi, sang ayah akhirnya memutuskan kembali ke Jawa Timur. Tio kecil, yang baru berusia 10 tahun, pun diajak pulang. “Kami tidak pulang ke Jember, tapi Tuban. Makanya, waktu kecil saya sekolah di Tuban. Mungkin saya ini anak kecil yang paling banyak pindah-pindah tempat,” kenangnya.
Situasi menjelang kemerdekaan, seperti diketahui, sangat tidak menentu. Belanda yang sudah menjajah bumi Nusantara selama 3,5 abad dipaksa bertekuk lutut karena kalah perang. Giliran tentara Jepang datang menggantikan pemerintahan yang lama. Keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau! 

Bagi para pengusaha Tionghoa, kehidupan menjadi jauh lebih sulit sebagai ekses perang Jepang melawan Tiongkok. Meskipun masih sangat belia, Tio sudah merasakan kesulitan-kesulitan yang dialami orang tuanya. Mereka pun memilih hijrah ke Surabaya. 
“Karena buka usaha di kota kecil seperti Tuban saat itu sangat sulit. Situasi ekonomi dan keamanan pada zaman Jepang sangat sulit diprediksi,” katanya.

Sembari melanjutkan sekolah di Liang Hoo High School, salah satu sekolah Tionghoa di Jalan Gembong, Tio membantu orang tuanya menjaga toko obat Eng Bie di Jalan Songoyudan, Surabaya. Toko obat itu, meski tidak besar, cepat dikenal masyarakat karena menyediakan obat-obatan untuk berbagai penyakit ringan yang dialami masyarakat. 






Dimuat di Radar Surabaya, Minggu 7 Oktober 2012.

3 comments:

  1. Salut saya kepada para encek2 yang berhasil membangun imperium-usaha, justru karena mereka tidak pernah mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Mereka hanya berbekal instinkt dan keuletan. Apa gunanya gelar akademik S3 atau S-teller, achirnya hanya jadi pegawai, alias kuli berdasi. Paling sialan adalah koruptor bergelar,
    korupsinya tambah besar.

    ReplyDelete
  2. minyak kayu putih dari Maluku memang yang terbaik...

    ReplyDelete
  3. itulah hebatnya pengusaha2 jaman dulu. kerja keras, ulet, pandai baca peluang dan sukses. mereka membuka lapangan kerja utk penduduk. semoga jadi inspirasi kita semua!!!

    ReplyDelete