13 October 2012

Sedekah Bumi Kampung Tionghoa



Warga kampung Kapasan Dalam, Surabaya, kembali menggelar tradisi tahunan sedekah bumi. Acara ini sekaligus memperingati hari jadi Nabi Khonghucu alias Konfusius, tokoh utama agama Khonghucu. Dimulai sejak Kamis (11/10/2012) petang, selamatan bersih desa ini berlangsung selama dua hari penuh.

"Meskipun Kapasan Dalam ini dikenal sebagai kampung Tionghoa, semua penduduk di sini terlibat dalam sedekah bumi. Kita semua mengadakan ritual dan doa bersama untuk meminta berkah bagi semua warga," kata Gunawan Djajaseputra, tokoh masyarakat Kapasan Dalam, Surabaya.

Kampung Kapasan Dalam, yang terletak di belakang Kelenteng Boen Bio, ini setiap tahun memang mengadakan perayaan khusus untuk merayakan sejit Nabi Khonghucu. Umat Khonghucu mengadakan sembahyang khusus di kelenteng, sementara warga yang lain mengikuti tradisi bersih desa secara universal.

"Sebab, masyarakat Kapasan Dalam ini sangat heterogen. Agamanya macam-macam mulai Khonghucu, Buddha, Islam, Katolik, Kristen Protestan, Pentakosta, dan sebagainya," kata Gunawan yang juga aktivis Gereja Katolik.

Sesuai dengan tradisi, upacara diawali dengan doa bersama di pepunden yang terletak di dekat lapangan basket. Tempo dulu, menurut Gunawan, tumbuh 10 pohon trembesi yang dikeramatkan warga. Pada 1980-an tujuh batang di antaranya ditebang.

"Nah, pepunden kampung yang ada sekarang dulunya ada pohon trembesi yang sangat rimbun. Pohon itu yang memberi kesejukan kepada warga Kapasan. Sekarang ini rasanya gerah karena pohon itu tidak ada lagi," katanya.

Selepas ritual tradisional, dilanjutkan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing, diadakan kirab tumpeng dari Balai RW ke lokasi upacara, persis di depan pepunden. Setelah didoakan, tumpeng itu dinikmati bersama oleh warga dan tamu undangan. Selanjutnya, panitia dan pengurus kampung menyerahkan gunungan kepada Ki Tee Boen Liong untuk memulai pergelaran wayang kulit semalam suntuk.

"Wayang kulit itu sudah menjad acara tetap sejak dulu. Sebab, kami ini biarkan keturunan Tionghoa, sebenarnya sangat menikmati pergelaran wayang kulit. Suasananya terasa guyub, akrab, dan penuh kekeluargaan," kata pria 62 tahun ini seraya tersenyum.

Ki Boen Liong alias Ki Sabdo Sutedjo merupakan dalam keturunan Tionghoa produk asli Kapasan Dalam. Boen Liong berguru dalang secara khusus pada Ki Narto Sabdo (almarhum), maestro dalang yang sulit dicari tandingannya sampai saat ini. "Tahun lalu kami juga nanggap Ki Boen Liong. Dia sudah sangat akrab dengan warga Kapasan Dalam," katanya.

Menurut Liauw Soen Gwan, nama lain Gunawan Djajaseputra, dalam beberapa tahun terakhir acara sedekah bumi di Kapasan Dalam ini mendapat perhatian berbagai kalangan. Bahkan, tak sedikit tamu dari luar daerah, bahkan luar negeri, ikut menyaksikan pergelaran tradisi Jawa di kampung Tionghoa yang juga dikenal sebagai kampung kungfu ini.

No comments:

Post a Comment