16 October 2012

Pameran Mengenang Almarhum Harryadjie BS


Selama lima hari puluhan seniman Sidoarjo tumplek-blek di Balai Pemuda Surabaya. Mereka memeriahkan pameran tunggal karya almarhum Harryadjie BS, pelukis senior Sidoarjo yang meninggal September 2011.
SOSOK Harryadjie BS seakan-akan hidup kembali bersama 70 karyanya yang dipajang di Galeri Surabaya. Pelukis yang tinggal di Sidokare Indah A/1 Sidoarjo ini sejak dulu dikenal sebagai seniman yang antitren, cuek, dan tak ramah pasar. Harryadjie melukis apa saja sesuai keinginan hatinya. Tak peduli lukisannya laku atau tidak.
“Almarhum Harryadjie ini termasuk seniman idealis Jawa Timur yang tak banyak jumlahnya. Dia tangguh dengan kepercayaan diri dan cuek dengan lingkungan sekitarnya. Hampir tidak ada pelukis seangkatannya yang setangguh dia,” kata Rudi Isbandi, pelukis senior yang membuka pameran tunggal kelima Harryadjie BS, itu.
Tak hanya Rudi Isbandi. Para pelukis baik senior maupun mahasiswa Fakultas Seni Rupa pun punya penilaian yang sama tentang pria kelahiran 25 September 1947 itu. Tak hanya idealis, Bambang Thelo (sapaan akrabnya) juga dikenal sebagai seniman serbabisa. Dia tidak hanya melukis di atas kanvas, tapi juga media apa saja.
Dalam 10 tahun terakhir Harryadjie lebih banyak memanfaatkan ‘sampah’, pelepah kelapa, buah-buahan untuk menghasilkan karya seni. Dia juga aktif dalam gerakan green art yang fokus pada isu-isu lingkungan hidup. Ayah satu anak ini, Jarot, juga kuat dalam sketsa. Ketika mengunjungi sebuah pameran UKM di Surabaya, Haryadjie memanfaatkan notes pemberian panitia untuk membuat sketsa yang menarik.
 “Mbah Bambang ini sangat sederhana dan hidup untuk kesenian. Bahkan, beliau meninggalkan ketika sedang mengurus acara pameran lukisan,” kata Sugeng Prajitno, pelukis yang dekat dengan almarhum Harryadjie.
Saat pembukaan di halaman Balai Pemuda, Cak Ugeng, sapaan akrab Sugeng Prajitno, memainkan aksi teatrikal tentang perjalanan hidup Harryadjie BS. Cak Ugeng bermain-main dengan api, menyemburkan cat minyak, mengolesi tubuhnya dengan cat, menggambarkan sosok pelukis yang dulu aktif di Aksera itu. Semburan Cak Ugeng ini akhirnya menghasilkan gambar tokek raksasa.
“Tokek itu simbolisasi dari Mbah Harryadjie. Dia bukan saja suka menggambar tokek dan reptil, tapi juga kehidupannya kayak tokek. Tidak banyak bicara, tapi selalu berkarya,” kata Cak Ugeng yang kini tinggal di Kahuripan Nirwana Village Sidoarjo itu.
Menurut Jarot, putra tunggal almarhum Harryadjie, ayahnya meninggalkan begitu banyak karya seni baik yang sudah dipamerkan maupun belum. Karya-karya itu ditumpuk begitu saja karena rumah mereka di Sidokare terbilang kecil. Semasa hidupnya Harryadjie sudah empat kali menggelar pameran tunggal.
Seniman yang juga mantan pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo ini sudah lama ingin bikin pameran tunggal karena selama ini hanya pameran bersama pelukis-pelukis lain. “Tapi baru kesampaian setelah ayah meninggal dunia,” katanya.

1 comment: