02 October 2012

Lancy Liem populerkan guzheng



KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah meninggal dunia sekitar seribu hari yang lalu. Begitu besar jasa mantan presiden keempat Republik Indonesia asal Jombang, Jawa Timur, itu. Di antaranya, mengembalikan seni budaya Tionghoa ke ruang publik setelah sempat mati suri selama tiga dasawarsa.

Berkat jasa Gus Dur itu pula, kini Lancy Liem (36) 'panen tanggapan' untuk memainkan kecapi Tionghoa alias guzheng (baca: kucheng) ke berbagai kota di tanah air. Bukan itu saja. Alumnus Universitas Kristen Petra Surabaya itu juga sudah berhasil mendidik banyak anak muda untuk menekuni musik Tionghoa.

“Awalnya, pengunjung mal penasaran dengan alat musik ini. Mereka pikir kecapi Sunda,” ujarnya.


Sejak kapan Anda belajar musik tradisional Tionghoa?


Saya kebetulan terlahir dari keluarga yang sangat suka musik, tidak hanya musik Tionghoa. Karena itu, sebelum saya lahir pun musik selalu mewarnai keluarga saya. Suasana musikal inilah yang akhirnya mempengaruhi kecintaan saya terhadap musik.

Anda langsung diperkenalkan dengan guzheng atau belajar piano dulu?


Seperti kebanyakan anak-anak kecil di Surabaya, saya lebih dulu diajari main piano. Ini ada bagusnya karena saya dibekali pengetahuan musik yang bagus, membaca notasi dan sebagainya. Tapi karena di dalam keluarga saya juga ada musik tradisional Tionghoa, ya, otomatis saya juga mempelajarinya. Kami sekeluarga kemudian bersama-sama bermain musik di dalam rumah. Itu pengalaman yang tidak bisa terlupakan dalam hidup saya.

Dulu, di masa Orde Baru kan seni budaya Tionghoa masih dilarang pemerintah?


Betul. Karena itu, kita tidak bisa menampilkan kesenian atau musik Tionghoa di depan khalayak ramai. Kita hanya bisa bermain di lingkungan keluarga atau lingkungan yang sangat terbatas. Di masa Orde Baru sekalipun sebenarnya musik Tionghoa itu tidak mati sama sekali karena masih dimainkan di lingkungan keluarga. Nah, baru setelah era reformasi, khususnya ketika Gus Dur (almarhum KH Abdurrahman Wahid, red) menjadi presiden Republik Indonesia, seni budaya Tionghoa mulai ditampilkan di depan khalayak yang sangat luas.

Lantas, kapan Anda mulai mengisi acara musik di pusat perbelanjaan?


Nah, setelah reformasi itu, orang makin tertarik untuk menggali berbagai seni budaya Tionghoa, termasuk musiknya. Saya tentu saja ingin memperkenalkan instrumen Tionghoa agar bisa dinikmati dan diapresiasi masyarakat luas. Nah, saat perayaan tahun baru Imlek berbagai pusat perbelanjaan seakan-akan berlomba untuk menampilkan kesenian Tionghoa. Sejak itulah saya jadi sangat sibuk melayani permintaan untuk perform di berbagai tempat.

Anda tampil di televisi juga?


Oh iya. Setiap perayaan tahun baru Imlek saya tidak pernah absen main di televisi. Di TVOne, RCTI, dan beberapa stasiun lainnya.

Bagaimana respons masyarakat?


Luar biasa! Mereka sangat antusias menyaksikan penampilan saya di mal-mal karena boleh dikata hampir semua orang Indonesia tidak pernah melihat secara langsung alat musik yang disebut guzheng ini. Orang-orang sangat penasaran dengan bentuk maupun nada-nada yang dihasilkannya. Mereka mengira guzheng ini sejenis alat musik kecapi yang sudah dikenal di tanah air. Yah, guzheng ini bisa dikatakan kecapi Tionghoa karena memang berasal dari dataran Tiongkok sana.

Apakah musik yang dimainkan pun terbatas pada lagu-lagu Tionghoa?


Tangga nada yang dipakai pada awalnya memang pentatonik khas Tionghoa, sehingga di masa lalu guzheng dipakai untuk memainkan komposisi dari Tiongkok. Tapi seiring kemajuan zaman, guzheng terus mengalami modifikasi sehingga bisa dipakai untuk memainkan komposisi apa saja, termasuk yang diatonis.

Karena itu, setiap kali diundang untuk perform saya selalu membawakan lagu-lagu pop yang sudah dikenal masyarkat. Bahkan, belum lama ini saya diajak untuk berkolaborasi dengan Wali Band membawakan lagu-lagu rohani Islam. No problem. Para pemusik tradisional Tionghoa memang tidak punya kendala dalam berkolaborasi dengan band atau orkes mana pun. Guzheng dari Tiongkok ini memiliki 21 senar sehingga range nada-nadanya lebih luas dibandingkan kecapi dari Korea yang senarnya lebih sedikit.

Apakah sudah banyak generasi muda yang tertarik mempelajari guzheng?


Oh, cukup banyak dan hampir merata di berbagai kota besar di Indonesia. Cuma sekolahnya atau tempat kursusnya belum ada. Makanya, selain menjadi performer, saya juga harus menyisihkan waktu untuk menjadi guru atau instruktur guzheng dan instrumen Tionghoa lainnya. Saya senang bisa membagikan apa yang bisa saya lakukan kepada orang lain.

Bagaimana Anda melihat masa depan guzheng dan musik Tionghoa di tanah air?


Cukup menjanjikan. Sebab, masyarakat kita semakin terbuka dan apresiatif terhadap berbagai genre musik di seluruh dunia. Apalagi guzheng ini bisa dikolaborasikan dengan musik populer. Jadi, tidak sebatas memainkan komposisi tradisional Tionghoa.

Pewawancara: LAMBERTUS HUREK
Dimuat Radar Surabaya edisi Minggu 30 September 2012

2 comments:

  1. wah keren banget tulisan ini. kunjungi blog saya juga ya pak http://fokuz9.blogspot.com/

    ReplyDelete
  2. sangat sulit teknik penjarian guzheng, harus sangat tekun. salut untuk ibu lancy liem!!!

    ReplyDelete