19 October 2012

Ki Boen Liong meriahkan sedekah bumi Kapasan



Selama dua hari berturut-turut warga kampung Kapasan Dalam menikmati pergelaran wayang kulit. Acara tahunan ini merupakan bagian dari ritual sedekah bumi atau bersih desa. Berbeda dengan di tempat-tempat lain, sedekah bumi di Kapasan Dalam selalu digelar pada tanggal 26 bulan kedelapan penanggalan Tionghoa (Imlek).

“Tepatnya satu hari sebelum peringatan hari jadi Nabi Khonghucu tanggal 27 Peh Gwee,” kata Gunawan Djajaseputra, tokoh masyarakat Kapasan Dalam, di sela pergelaran wayang kulit, Kamis (11/10/2012).

Menurut dia, Kapasan Dalam, yang terletak di belakang Kelenteng Boen Bio, sampai sekarang masih melestarikan tradisi sedekah bumi seperti yang dipraktikkan para leluhur tempo doeloe. Ritualnya pun merupakan perpaduan antara budaya Tionghoa dan Jawa. “Tahun ini sedekah bumi di Kapasan Dalam ini yang ke-116. Yah, sudah berlangsung selama satu abad lebih,” katanya.

Pertunjukan wayang kulit dan campursari selama dua hari ini berlangsung meriah meski sempat diwarnai turunnya hujan. Malam pertama menampilkan dalang Ki Tee Ben Liong, dengan cerita Rama Nitis. Suasana terasa gayeng lantaran dalang keturunan Tionghoa ini selalu menyisipkan guyonan segar sepanjang pergelaran. Salah satu sinden yang bertubuh tambun pun menjadi bulan-bulanan sang dalang.

“Luar biasa masyarakat Kapasan Dalam ini. Meskipun zaman sekarang sudah modern, globalisasi, masih tetap nguri-uri budaya. Mudah-mudahan tradisi sedekah bumi ini diteruskan oleh anak cucu kita di masa mendatang,” kata Boen Liong disambut tepuk tangan hadirin.

Seniman yang berguru ilmu mendalang pada maestro Ki Narto Sabdo ini juga dikenal sebagai putra asli Kapasan Dalam. Meskipun sekarang tinggal di kawasan lain, Boen Liong selalu kembali ke kampung halamannya untuk mengisi acara sedekah bumi. Menurut dia, sedekah bumi ini merupakan upacara tradisional untuk mengucap syukur sekaligus memohon berkah dan perlindungan dari Tuhan.

Pergelaran wayang kulit hari kedua tidak diadakan malam hari, melainkan siang hari. Kali ini lakonnya Wahyu Kamulyaan Jati. Menurut Gunawan, wayangan hari kedua ini sekaligus puncak perayaan sejit YM Khonghucu. “Warga yang beragama Khonghucu juga mengadakan sembahyang bersama di Kelenteng Boen Bio,” katanya.

Pria bernama asli Lauw Soen Gwan ini mengaku bersyukur karena penduduk Kapasan Dalam bisa berbaur meskipun berbeda-beda etnis, ras, maupun agama. Semua warga pun mau terlibat dalam sedekah bumi antara lain dengan menyumbang tumpeng, uang, hingga tenaga.

“Yang membuat kami terharu, banyak warga yang sudah lama pindah ke tempat lain masih sempat kirim tumpeng ke sini. Sebab, mereka tidak ingin tradisi leluhur ini hilang ditelan kemajuan zaman,” katanya.      


No comments:

Post a Comment