16 October 2012

Joaquin F. Monserrate Konjen AS di Surabaya


Pernah bertugas sebagai wakil kojen AS di Surabaya selama dua tahun (2000-2002), Joaquin F Monserrate kini kembali ke Surabaya sebagai konjen AS. Pria yang akrab disapa Wakin itu menggantikan Kristen F Bauer yang sekarang dipromosikan menjadi wakil dubes AS di Jakarta.
Tiba di tanah air pada 25 September 2012, Joaquin F Monserrate mengaku senang bisa bertemu dengan teman-teman lamanya di Surabaya. Dengan kemampuan bahasa Indonesianya yang semakin baik, Wakin pun menjadi lebih mudah menjalin komunikasi dengan berbagai kalangan di Surabaya.
Selamat datang kembali ke Surabaya!
Terima kasih. Saya juga senang bisa bertugas kembali di Surabaya.
Wah, rupanya bahasa Indonesia Anda semakin lancar. 
Saya masih harus terus belajar bahasa Indonesia. Dulu, waktu betugas di sini, saya sudah belajar, tapi sudah banyak kata yang lupa karena saya pindah ke negara lain seperti India dan Vietnam. Saya juga belajar bahasa Vietnam lho!
Sulit mana bahasa Vietnam dengan bahasa Indonesia?
Bahasa Vietnam itu jauh lebih sulit (dari bahasa Indonesia). Sebab, bahasa Vietnam itu punya nada yang membedakan arti. Misalnya kata ma. Artinya bisa macam-macam tergantung nadanya. Ma bisa berarti kuda, tapi juga bisa berarti lain. (Wakin kemudian mempraktikkan cara melagukan kata ma dalam bahasa Vietnam). Nah, bahasa Indonesia tidak perlu nada-nada seperti itu sehingga lebih mudah bagi penutur asing. Bahasa Indonesa juga banyak menyerap kata-kata bahasa Inggris.
Selain bahasa Indonesia, saya juga mulai belajar bahasa Jawa. Sebab, bahasa Jawa itu tergolong salah satu bahasa tertua di dunia seperti bahasa India. Ada banyak kata bahasa Jawa yang sama dengan bahasa India.
Anda punya guru khusus bahasa Jawa?
Belum. Sekarang saya belajar langsung sama orang-orang yang saya temui sehari-hari. Saya juga belajar sama sopir. Hehehe....
Ketika Anda menjadi wakil konjen AS tahun 2000-2002, kantor Konsulat Jenderal AS berlokasi di Jl dr Soetomo. Sekarang Anda berkantor di Perumahan Citraland. Ada perbedaannya?
Tentu saja suasananya berbeda, lingkungannya juga berbeda. Apalagi, dulu saya warung langganan di dekat kantor konjen (lama).
Oh, ya, apa makanan favorit Anda?
Lontong kupang. Hehehe... saya juga suka bebek goreng, martabak.
Bagaimana Anda menilai hubungan Indonesia-Amerika Serikat selama kepemimpinan Presiden SBY?
Sangat bagus. Pemerintah Amerika Serikat banyak bekerja sama dalam banyak bidang dengan pemerintah dan rakyat Indonesia. Setelah SBY tidak lagi menjabat presiden pun saya optimistis hubungan antara kedua negara tetap berjalan dengan baik. Kalau sistem demokrasi sudah berjalan, maka sebenarnya siapa pun yang menjadi presiden tidak akan mempengaruhi hubungan yang sudah berlangsung selama ini. Siapa pun yang jadi presiden Amerika Serikat, entah itu Barrack Obama atau Mitt Romney, kerja sama dan hubungan Indonesia-Amerika tetap akan baik.
Ngomong-ngomong, siapa yang bakal menang dalam pemilihan presiden AS bulan depan?
Masih sulit diprediksi. Dalam jajak pendapat sebelumnya, Obama lebih diunggulkan. Tapi, setelah debat kemarin, Anda sudah lihat debat itu kan, posisi Romney mulai naik. Kita lihat saja nanti karena hasil pemilihan presiden di Amerika itu memang sulit diperkirakan.
Bagaimana Anda melihat perkembangan sosial politik di Indonesia dalam 10 tahun terakhir?
Makin menarik. Tahun 2000-2002, waktu saya bertugas di sini, belum ada pemilihan presiden secara langsung. Sekarang Indonesia sudah dua kali mengadakan pemilihan presiden secara langsung. Gubernur, bupati, wali kota juga dipilih langsung oleh rakyat. Ini jelas merupakan perkembangan yang sangat menarik.
Pemilihan langsung itu memaksa calon-calon pemimpin untuk menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi rakyatnya. Dan mereka harus bisa menjelaskannya melalui debat terbuka.
Anda suka berolahraga?
Oh ya, saya suka sepak bola, tenis, tenis meja, bola basket.

Penulis: Lambertus Hurek


No comments:

Post a Comment