23 October 2012

Deddy Dhukun dan Dian Pramana Putra

Deddy Dhukun (kiri) dan Dian Pramana Putra.




Zona Memori sudah tak ada lagi di televisi. Tapi, lumayan, kemarin dini hari Metro TV memutar program lawas itu. mengingatkan kita akan penyanyi-penyanyi 1980-an dan 1990-an. Dulu mereka sangat populer, kini sudah pensiun semua. Sebab, tak ada tempat untuk artis senior di industri musik Indonesia.
Gara-gara tak bisa tidur, Surabaya ekstrem panas, saya terpaksa memutar televisi. Ketemu Zona Memori di Metro TV. Aha, Deddy Dhukun dan Dian Praman Putra tampil berduet dengan lagu-lagu lawas yang hit sekian tahun silam.
Deddy Dhukun seperti biasa: banyak bicara, selalu dominan, sementara Dian PP lebih tenang dan mengalah. Deddy yang banyak bikin syair, Dian PP yang bikin melodi. Kombinasi yang solid sejak 1983 (kalau tidak salah), sebelum datang era baru menjelang 2000.
Duo yang populer dengan 2D ini memang sangat khas. Keduanya menghidupkan lagu-lagu pop jazz yang sangat disukai pelajar dan mahasiswa saat itu. Beda dengan lagu-lagu pop biasa, akor yang dipakai lebih rumit dan kaya. Musiknya dianggap kelas atawa elit. Anak muda dulu suka pamer kaset 2D... biar kelihatan ngerti musik.
Band-band pelajar pun suka memainkan lagu-lagu 2D meskipun sering tidak pas. Yah, malam itu kita dibawa ke masa lalu ketika musik pop Indonesia sangat kaya warna. Ada pop manis ala Pance, Obbie Messakh, atau Rinto Harahap, yang dicela sebagai pop cengeng.
Ada pop rock ala Nicky Astria atau Ita Purnamasari. Band-band lawas yang bertahan macam D’Lloyd atau Panbers. God Bless yang tur ke mana-mana. Kemudian hingga Deddy Dhukun, Dian PP, Fariz RM, Mus Mudjiono, yang menyebut dirinya pengusung pop kreatif. Ada juga pop dangdut. Dan macam-macam warna lagi. Beda dengan musik pop sekarang yang hampir seragam, padahal kita punya puluhan channel televisi.
Dipandu Sys NS dan Ida Arimurti, Dian PP dan Deddy Dhukun membawakan hit lama seperti Masih Ada, Biru, Semua Jadi Satu, Aku Ini Punya Siapa. Lumayan untuk nostalgia, membuat kita kembali ke masa remaja.
Sayang, Deddy Dhukun yang banyak bicara itu menurut saya kurang bijaksana. Dia sepertinya memanfaatkan acara ini untuk mengejek musisi lain yang disebutnya hanya bisa menciptakan lagu tiga jurus. Si Dhukun ini memosisikan diri seperti komposer dan penyanyi yang paling hebat. Kurang menghargai musisi lain yang sudah sama-sama ditelan zaman.

2 comments:

  1. Bung Hurek yang baik, sayang sekali saya pribadi tidak mengenal sosok Deddy Dhukun atau Dian Pramana Putra, biarlah nanti saya telusuri di Youtube. Ketika saya remaja yang terkenal di Indonesia adalah Rachmat Kartolo, Tutik Soebardjo, Koes Bersaudara, Lilis Surjani, Pattie Bersaudara, Dara Sitompul, dll.
    Ketika saya tahun 1967 pergi ke Jerman untuk melanjutkan sekolah keperguruan tinggi, saya bawa oleh2 berupa piringan hitam dari para penyanyi tsb. diatas.
    Sampai di Jerman, kakak2-saya sangat kecewa, sebab yang diharapkan mereka adalah lagu2 kerontjong Indonesia, bukannya lagu2 pop. Dalam hati saya menggerutu, sok-nya kalian, baru lebih tua 7 atau 10 tahun sudah maunya mendengarkan lagu2 kerontjong. Sekarang telah 45 tahun berlalu, saya di Tiongkok sangat senang mendengarkan lagu2 kerontjong Indonesia.
    Haruskah kita manusia berpisah sedemikian jauhnya, untuk menyadari cinta sejati ?
    Memosisikan diri seperti orang yang paling hebat, adalah gejala atau symtom seorang yang sudah mulai tua dan pikun. Sering melamun mengenangkan masa lalu juga symtom seorang yang sudah pasrah untuk masuk keliang lahat. Salah satu lagu pop Indonesia yang sangat berkesan dikalbu saya, adalah Mimpi Sedih oleh Tetty Kadi, casett-nya saya dapat kiriman dari seorang teman putri di Surabaya. Nah, pada musim panas tahun 1972, saya dan si- Audax, teman karib asal Bajawa-Flores, berkenalan dengan segerombol nonik2 Italia yang datang kekota Wina untuk belajar bahasa Jerman. Saya dan Audax sering melantunkan lagu Mimpi Sedih itu. Para nonik2 Italia itu sangat tertarik mendengarkan nyanyian kita berdua, lebih2 lagi si Audax yang notabene bekas jebolan Seminari Katholik Ende, sangat pandai menyanyi dengan lagu nada kedua, sehingga paduan suara kita sangat meresap dikalbu nonik2 Italia yang cantik jelita itu. Yah, semuanya tinggal kenangan, bahkan sejak tamat sekolah tahun 1974, saya tidak pernah bertemu lagi dengan si- Audax. Audax, dimanakah gerangannya engkau berada ? Lu masih hidupkah ?

    ReplyDelete
  2. hehehe Luar biasa koleksi penyanyi2 lama sampean. Nama2 yang sampean sebut itu legenda musik Indonesia. Semuanya orang terkenal. Tetty Kadi ini penyanyi favorit mama saya (almarhumah), lagu2nya bagus dan manis khas A Riyanto. Begitu banyak lagu beliau yg hit dan diputar di beberapa radio di Surabaya sampai sekarang seperti Radio Media FM, MTB FM, Wijaya FM, dan Merdeka FM. Saya juga masih sering dengar pagi hari. Sekarang Tetty Kadi jadi anggota DPRD Jawa Barat.

    Lagu keroncong memang punya penggemar sendiri meskipun tidak pernah disiarkan di televisi swasta. Hanya TVRI saja yang punya acara, itu pun larut malam ketika hampir semua orang sudah tidur. Saya kebetulan pernah dekat dengan beberapa pemusik keroncong di Surabaya dan Sidoarjo. Sejak tahun 2000 musik keroncong menurun drastis. Yang menonjol justru campursari.

    Yang sering nyanyi keroncong justru tim kesenian dari Tiongkok yang berkunjung ke Surabaya. Mereka suka nyanyi Bengawan Solo, Jembatan Merah, atau Ayo Mama. Sebaliknya, orang Indonesia kalau nyanyi Tiongkok (hampir) pasti Yue liang dai biao wo de xin. hehehe...

    Beberapa orang Indonesia yang tinggal lama di Tiongkok memang punya nostalgia dengan lagu keroncong. Bahkan, dua minggu lalu James Chu (tinggal di Hongkong) datang ke Surabaya, Jakarta, dan Solo untuk bikin album keroncong.

    Sebaliknya, anak2 muda di Indonesia (yang didukung televisi) tergila2 dengan musik pop luar, Amerika, Korea, dsb, dan cenderung menertawakan musik keroncong yang dianggap musiknya orang tua. Kadang2 orang harus minggat dulu dari Indonesia agar bisa lebih mencintai seni budaya Indonesia.

    Merdeka!!!

    ReplyDelete