30 October 2012

Menengok Kamar Banthe yang Sederhana




Di pojok timur Vihara Majapahit dibangun asrama untuk para bhante atau rohaniwan Buddha. Setiap hari mereka bermeditasi, melakukan olah spiritual, serta melayani pengunjung dari berbagai daerah di tanah air.

Suasana Vihara Majapahit di Trowulan, Mojokerto, ini sepi. Tapi menjadi sangat ramai saat hari raya Waisak atau acara buddhis lain. Bhante Ratanapanno mengajak saya melihat kamarnya. Wow, ternyata, kamar bhante-bhante Buddhayana ini sangat sederhana. Mirip kamar kos kelas menengah ke bawah.

Tapi, berbeda dengan kamar kos mahasiswa atau karyawan, yang dilengkapi televisi, tapi recorder, bahkan komputer atau laptop, kamar  para bhikku ini hanya berisi satu tempat tidur. Tak ada hiasan, aksesoris, atau barang-barang berharga. Hanya ada sebuah meja kecil yang ditumpuki buku-buku rohani.

“Kamar saya dan teman-teman, ya, seperti ini. Sebab, kebutuhan kami di sini juga tidak banyak,” ujar bhante asal Jawa Tengah ini.

Syukurlah, Bhante Ratanapanno dkk tak perlu memikirkan makan dan minum karena sudah disediakan Yayasan Lumbini, pengelola vihara yang diresmikan Maha Sthavira Ashin Jinarakkhita dan Gubernur Jawa Timur Soelarso pada 31 Desember 1989 ini. Di sana tersedia ruangan makan yang luas.

Siapa yang mencuci pakaian banthe?

“Ya, kami mencuci sendiri. Toh, pakaian kami nggak banyak. Sederhana saja,” katanya.

Bhante Ratanapanno mengatakan, para rohaniwan Buddhayana ini setiap hari tak hanya berkutat dengan urusan meditasi dan olah spiritual. Mereka juga melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik seperti masyarakat biasa. Cuci piring, kerja kebun, budidaya tanaman, dan sebagainya.

Saat ini ada 24 banthe yang tinggal di kompleks Mahavihara Majapahit.  Namun, menurut Ratanapanno, para bhante yang selalu tampil dengan kepala pelontos ini sering ditugaskan ke berbagai kota untuk pembabaran dhamma. Memberikan pembekalan dan pendampingan rohani kepada umat.

“Kalau Waisak atau acara-acara besar lain baru kumpul semua di sini. Bahkan, beberapa banthe dari luar negeri pun datang bergabung,” ujar Bhante Ratanapanno.

Saya senang berada di kompleks vihara, ikut melihat dari dekat kamar para banthe, dan kegiatan rutin mereka. Pola hidup sederhana, asketis, berusaha menjauh dari hiruk-pikuk modernisasi yang membuat manusia semakin sibuk dan sibuk, sehingga sering lupa keutamaan hidup.

Nammo buddhaya!

29 October 2012

Babu Indonesia Diobral di Malaysia



Kita sudah kehabisan kata membahas nasib TKI di Malaysia. Tapi nasib bangsa Indonesia, yang jadi kuli dan babu di negara para datuk Melayu itu, tak kunjung tuntas. Reda sebentar, muncul lagi. Begitu seterusnya.

Pagi tadi (29/10/2012), isu pembantu rumah tangga alias BABU alias maid dibahas di Metro TV. Rupanya ada isu baru: PRT asal Indonesia ternyata diobral di Malaysia. Dijadikan komoditas atawa barang dagangan. Nilai manusia (Indonesia) kembali direndahkan di negara jiran.

Dita Indah Sari, bekas pentolan Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang pada 1990-an, menggebu-gebu menghantam rezim Orde Baru, kini bicara datar, tenang, normatif, tanpa emosi. Saat ini Dita sudah jadi orang istana, wakil resmi pemerintah, yang bicara tentang TKI di Malaysia.

"Yah, kita sudah kirim surat melalui kedutaan besar kita di Malaysia," kata Dita yang makin gemuk itu. Blablabla....

Datar-datar saja. Elan vital Dita Indah Sari yang berkobar-kobar, ketika memimpin unjuk rasa buruh di Surabaya, kemudian ditangkap dan dipenjara oleh rezim Soeharto, tak ada bekasnya lagi.

Tak heran, Anis Hidayah dari Migran Care mengkritik keras Dita, wakil pemerintah RI, yang dianggap kurang fight dalam membela nasib TKI-TKI di Malaysia. Kebijakan moratorium yang (katanya) pernah dilakukan pemerintah Indonesia, menurut Anis, ternyata tidak jalan. Faktanya, moratorium atau penghentian pengiriman TKI ke Malaysia, khususnya pekerja-pekerja kasar, jalan terus.

"Saya minta Dita Indah Sari jangan bicara normatif dong!" tegas Anis Hidayah yang menggebu-gebu.

Gaya Anis Hidayah ini mengingatkan saya pada gaya Dita Indah Sari ketika menjadi pengurus PRD pada 1990-an. Yah, perjalanan waktu (dan nasib) memang selalu mengubah seseorang dengan drastis. Lihat saja tingkah pola bekas-bekas aktivis korban rezim Orde Baru yang kini jadi pejabat atau anggota legislatif. Bedanya ibarat bumi dan langit. Dulu teriak-teriak berantas KKN, sekarang ya ikut arus KKN-ria.

Masalah TKI, khususnya MAID alias babu-babu, ini memang tak akan pernah selesai selama pemerintah Indonesia masih tetap rajin mengeksor PRT ke Malaysia dan negara-negara lain. Orang Indonesia kelas menengah sejak dulu (simak internet, jejaring sosial) meminta pemerintah STOP mengirim pekerja-pekerja kasar ke Malaysia.

Silakan kirim TKI-TKI ke Malaysia, tapi yang punya keahlian macam perawat, dokter, insinyur, atau bintang film kayak Bunga Citra Lestari atau Manohara. Jangan kirim ribuan orang-orang tanpa skill ke Malaysia. Jauh-jauh merantau ke Malaysia jadi babu! Jadi tukang pikul barang! Jadi penjaga babi di peternakan! Jadi tukang kebun dan tukang sapu!

Tapi, apa boleh buat, posisi tawar Indonesia sangat-sangat-sangat lemah. Indonesia jauh lebih membutuhkan Malaysia yang kaya dan makmur, banyak lapangan kerja, untuk memberi makan kepada rakyat Indonesia yang tidak mendapat pekerjaan di negaranya sendiri. Maka, meskipun perlakuan terhadap TKI tidak bagus, dan tak akan pernah bagus (karena status sosial BABU sangat rendah), kita membiarkan saja ketimpangan macam ini.

Lalu, muncullah iklan-iklan di Malaysia semacam itu: INDONESIA MAIDS NOW ON SALE!

Bagaimana ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono? SBY selalu bangga dengan pertumbuhan ekonomi kita yang 6 persen. SBY dan menteri-menterinya bahkan optimistis kita bisa menjadi negara maju... bahkan bisa mengalahkan Malaysia? Tapi kapan?

Apakah pertumbuhan ekonomi 6 persen (atau 10 persen) kemudian bisa menyerap tenaga kerja, sehingga tidak perlu ada TKI kelas kuli-babu di Malaysia? Pemerintah kita selalu bicara normatif, tapi tidak konkret. Kapan sih pengiriman TKI ke Malaysia dihentikan?

Bukan sekadar moratorium atau penghentian sementara, tapi STOP TOTAL, karena orang Indonesia bisa bekerja di negaranya sendiri. Orang Indonesia pasti malu melihat iklan betapa wanita Indonesia dijadikan "barang dagangan" yang diobral di Malaysia.

Kita tentu lebih suka bila orang Indonesia dihargai di Malaysia, punya posisi stara dengan orang Malaysia, seperti Manohara yang pernah dijadikan istri oleh seorang pangeran di Kelantan. Sayang, Manohara yang cantik dan fashionable pun babak belu dihajar sang pameran, sehingga harus kabur ke Jakarta.

Lha, wong Manohara Adelia saja diperlakukan kayak gitu, apalagi pembantu rumah tangga alias maid?


Oh, Indonesia, sungguh malang nasibmu. Setelah dijajah Belanda selama 350 tahun, kemudian Jepang 3,5 tahun, nasibmu belum juga berubah:

"Een natie van koelies 
en een koelie onder de naties".

26 October 2012

Kemacetan di Surabaya makin parah



Surabaya memang belum macet total seperti di Jakarta. Tapi tanda-tanda ke arah sana sudah terlihat. Kamis petang, 25 Oktober 2012, menjelang Idul Adha, Kota Surabaya macet parah di berbagai kawasan. Kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali.

Saya kira, inilah kemacetan paling parah di Surabaya dalam 10 bulan pertama tahun 2012 ini. Dan saya ikut menjadi saksi, plus korban, kemacetan ini. Bayangkan, perjalanan dari Jalan Jemusari ke Ahmad Yani membutuhkan waktu sekitar 70 menit. Satu jam lebih.

Padahal, kita tahu, Jemursari ke Ahmad Yani itu tidak sampai lima kilometer. Lima kilometer butuh 70 menit! Padahal, Jalan Jemursari itu tetangga terdekat Jl Ahmad Yani.

Bagaimana bisa cepat kalau kendaraan tak bisa bergerak sama sekali? Dan saya juga tidak melihat petugas, polisi lalu lintas, yang berusaha mencari solusi saat itu. Padahal, markas Polda Jatim berada di Jalan Ahmad Yani, salah satu pusat kemacetan.

Begitu banyak pengendara motor dan mobil yang stres. Tak tahu harus berbuat apa karena jalan alternatif tidak ada. Semuanya kadung terperangkap macet. Ada pengendara yang marah-marah, lalu membunyikan klakson keras-keras. Banyak yang naik ke trotoar, kemudian jatuh, karena kondisi jalannya memang buruk.

Yang paling dahsyat justru konsumsi bahan bakar minyak alias BBM. Berapa juta liter BBM yang dibakar kendaraan bermotor tanpa bisa bergerak sama sekali? Pemborosan luar biasa ketika pemerintah pusing dengan subsidi BBM yang katanya naik terus.

"Kalau jalan kaki, kita sudah sampai dari tadi," ujar seorang gadis asal Sidoarjo.

Lumayan, orang ini masih bisa bercanda di tengah kemacetan. Sikap yang harus ditiru agak kita tidak perlu stres menghadapi persoalan khas kota besar ini.

Kemacetan parah seperti ini sekali-sekali memang perlu terjadi dan dirasakan warga Surabaya, khususnya pejabat-pejabat. Supaya wali kota, gubernur, kapolda, dishub, parlemen, dan siapa saja mau berpikir jauh ke depan mencari solusi.

Bagaimana lalu lintas di Surabaya dalam 10 tahun, 20 tahun, atau 30 tahun ke depan? Berapa banyak kendaraan pribadi yang akan melintas di jalan raya 20 tahun mendatang? Lantas, apakah kemacetan nanti akan seperti Kamis petang itu atau lebih parah? Kita tidak tahu.

Jika nanti semua warga Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan ke mana-mana pakai kendaraan pribadi, apalagi SATU ORANG SATU MOBIL, saya tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan jalan raya di Surabaya.

25 October 2012

Mangestuti Agil, Profesor Ramuan Tradisional


Alam Indonesia sangat kaya dengan aneka tumbuhan yang bisa dijadikan obat-obatan. Namun, belum banyak peneliti yang fokus meneliti tanaman obat dan aneka ramuan tradisional. Bahkan, guru besar yang menekuni ilmu yang satu ini pun masih sangat sedikit.

Nah, salah satu di antara sedikit guru besar itu adalah Prof Dr Mangestuti Agil (62) yang belum lama ini dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ilmu Botani Farmasi Farmakognosi, Fakultas Farmasi Universitas Arlangga. Perempuan kelahiran Jakarta, 22 April 1950, itu menyampaikan pidato bertajuk Pendekatan Etnomedisin Peran Wanita dalam Pembangunan Kesehatan Masyarakat Indonesia.

Berikut petikan wawancara LAMBERTUS HUREK dengan Prof MANGESTUTI AGIL di Laboratorium Fakultas Farmasi Unair, Surabaya, Jumat (19/10/2012) siang.

Mengapa Anda secara khusus menyoroti peranan wanita dalam pembangunan kesehatan?

Begini. Kaum wanita atau para ibu itu berperan sangat penting dalam menyiapkan generasi mendatang. Karena itu, para wanita ini harus benar-benar sehat. Dan, kalau kita teliti di berbagai daerah, sebagian besar ramuan tradisional entah itu dari Madura, Solo, Jogja dibuat untuk wanita. Hampir 70 persen ramuan tradisional itu untuk dikonsumsi wanita.

Maksudnya?

Sejak zaman dulu nenek moyang kita sudah paham akan pentingnya kesehatan wanita. Begitu seorang wanita akil balig, dia sudah dibiasakan untuk mengonsumsi ramuan tradisional untuk menjaga kesehatannya.
Saya ingatkan, ramuan tradisional itu fungsinya lebih ke pencegahan penyakit, bukan pengobatan! Nah, dengan rajin mengonsumsi ramuan tradisional, maka siklus masa suburnya baik, kandungannya sehat, semua organ tubuh sehat, sehingga setelah menikah nanti anak yang dilahirkan pun sehat.

Saat hamil pun wanita mengonsumsi ramuan tradisional tertentu untuk menjaga kesehatan. Saya melakukan penelitian di Madura, khususnya Sumenep, untuk mengetahui ramuan tradisional warisan keraton di sana. Wah, luar biasa! Ternyata sejak dulu masyarakat Madura sudah punya ramuan tradisional yang sangat lengkap. Makanya, wanita-wanita dari Madura ini biasanya sangat sehat dan bisa bekerja keras karena sudah terbiasa mengonsumsi ramuan atau obat tradisional.

Apakah ramuan kuno itu masih relevan dengan masa sekarang?

Jangan salah! Itu bukan kuno! Ramuan-ramuan tradisional di tanah air itu sudah terbukti efektivitasnya dari generasi ke generasi untuk menjaga kesehatan masyarakat. Saya melihat di daerah tertentu banyak orang punya kebiasaan minum air daun sirih. Wah, itu khasiatnya luar biasa. Selain meningkatkan kekebalan tubuh, air sirih sangat efektif menghilangkan bau badan. Contoh lain daun katuk (Saurus androgynus).

Itu biasa dipakai ibu-ibu untuk meningkatkan produksi air susu. Bagi saya, pemberian ASI ini punya kaitan erat dengan karakter anak ketika tumbuh menjadi seorang remaja hingga dewasa nanti. Mengapa terjadi tawuran pelajar atau mahasiswa? Hampir pasti karena waktu kecil dia kurang kasih sayang. Mungkin tidak mendapat ASI dari ibunya. Atau, ibunya tidak menyusui bayinya dengan penuh kasih sayang. Saya sempat menyinggung hal itu dalam pengukuhan guru besar kemarin.

Ngomong-ngomong, sejak kapan Anda rajin meneliti ramuan dan tanaman obat tradisional?

Sudah lama sekali. Sejak tahun 1980, ketika mulai menjadi dosen, saya sudah menggeluti bidang ini. Ternyata, justru bidang ini pula yang akhirnya mengantar saya sebagai guru besar.

Lantas, mengapa ramuan atau pengobatan tradisional kita sepertinya 'kalah' gaung dibandingkan TCM (Traditional Chinese Medicine)?

Nah, China itu punya konsep ilmu pengobatan yang berbeda dengan Barat. Hebatnya, mereka berusaha keras untuk meyakinkan orang Barat agar konsep pengobatannya itu bisa diterima dan diakui secara ilmiah. Beberapa waktu lalu saya ikut seminar di Jepang. Saya melihat pihak China selalu berusaha meyakinkan pihak lain, khususnya Barat, bahwa konsep pengobatannya efektif.

Pihak Jepang juga sama. China bahkan seperti 'menantang' pihak Barat, silakan teliti di laboratorium bahwa ramuan tradisional kami ternyata bisa menyembuhkan penyakit liver, misalnya.

Apa hasilnya?

Sekarang ini TCM-TCM sudah diterima di berbagai negara, termasuk di Amerika Serikat. Kedua macam metode pengobatan itu tidak menafikan satu sama lain, tapi bekerja sama. Keduanya saling melengkapi. Misalnya, seorang dokter dengan metode pengobatan Barat (modern) tidak segan-segan mminta bantuan peramu obat tradisional untuk menangani pasien tertentu.

Bagaimana dengan kita di Indonesia?

Sekarang sudah mulai berkembang ke sana meskipun belum seluas di China. Saya pernah diminta pihak RSUD dr Soetomo untuk mengembangkan poli obat tradisional. Kita buka unit aromaterapi. Jadi, saya optimistis dengan masa depan pengobatan tradisional di tanah air.

Apalagi, kita sudah punya ramuan-ramuan tradisional warisan keraton yang sudah terbukti khasiatnya. Kita juga harus ingat bahwa ada saja penyakit yang tidak bisa diatasi dengan metode pengobatan modern.

Tapi ditengarai banyak pula obat tradisional atau jamu yang mengandung bahan kimia obat beredar di pasaran?

Karena itu, masyarakat sebaiknya mewaspadai produk-produk yang pabriknya kurang bonafide. BPOM biasanya selalu merilis daftar obat-obat tradisional ilegal yang berpotensi membahayakan kesehatan konsumen. Akan lebih bagus kalau masyarakat mengonsumsi ramuan yang dibuat sendiri seperti yang dilakukan masyarakat di Madura, Jogja, atau Solo. (*)




Isi Waktu Senggang dengan Menyulam

MESKIPUN sudah tiga dasawarsa berkecimpun di dunia akademik, Prof Mangestuti Agil ternyata tetaplah seorang perempuan rumahan. Tugas sebagai ibu rumah tangga benar-benar dilakoninya hingga berhasil mengentas kedua anaknya.

"Anak-anak saya sudah dewasa dan mandiri. Tapi nggak ada yang mengikuti jejak saya (sebagai dosen atau peneliti). Yang satu lulusan Fakultas Hukum, satunya lagi Hubungan Internasional," tutur Mangetuti lantas tertawa kecil.

Nah, ketika berada di rumah, setelah sibuk bergelut dengan mikroskop dan berbagai peralatan di laboratorium, Mangestuti menekuni hobi sederhana, layaknya wanita rumahan tempo doeloe. Apa itu?
"Saya dari dulu senang merajut, bikin taplak meja, dan sebagainya. Saya sangat menikmati hobi itu selama bertahun-tahun," katanya.

Banyak orang, khususnya teman-teman dekatnya sesama dosen, sering tak percaya seorang Prof Dr Mangestuti lebih asyik merajut atau menyulam ketimbang melakukan hobi yang lebih 'modern' seperti main golf, tenis, atau piano. "Anda ini doktor kok sukanya nyulam?" kata Mangestuti mengutip pernyataan temannya suatu ketika.

Janda almarhum H Agil H Ali, wartawan senior dan mantan pemimpin redaksi Memorandum, ini pun cuek saja mendengar gurauan teman-temannya. Dia tetap saja menyulam berbagai keperluan rumah tangganya. Menurut dia, hobi menyulam ini rupanya menurun dari sang ibunda tercinta, yang kini berusia 87 tahun.

Mangestuti coba-coba membuat sulaman, dan akhirnya jadi hobi sampai sekarang. Hanya saja, dosen senior Fakultas Farmasi Universitas Airlangga ini mengaku tidak suka membuat pola sendiri. Biasanya, dia menyulam mengikuti gambar pola yang sudah ada.

"Kalau masu sih sebetulnya saya bisa membuat rancangan sendiri. Tapi saya lebih suka mengikuti pola yang dibuat orang lain," ujarnya.

Meski terkesan sederhana, menurut dia, hobi menyulam ini membuat Mangestuti menjadi sangat dekat dengan anak-anaknya di rumah. Dia pun menjadi lebih peduli dengan berbagai aksesoris di rumah. Baginya, rumah ibarat istana pribadi yang selalu terus diperindah dengan aneka sulaman hasil karyanya sendiri.

Hanya saja, seiring karier akademiknya yang terus melejit, ditambah kesibukan mengikuti seminar baik di dalam maupun luar negeri, hobi menyulam ini tak lagi seintensif dulu. "Tapi saya tetap senang menyulam kalau ada waktu luang," katanya. (rek)

Tentang Mangestuti

Nama : Prof Dr Mangestuti Agil Apt MS
Lahir : Jakarta, 22 April 1950
Suami : H Agil H Ali (almarhum)
Anak : 2 orang
Hobi : Pekerjaan rumah tangga, khususnya menyulam
Jabatan Fungsional: Guru Besar Fakultas
Farmasi, Universitas Airlangga
Departemen : Farmakognosi dan Fitokimia
Alamat : Jl Dharmawangsa Dalam, Surabaya
Pendidikan : S1-S3 Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

24 October 2012

Belajar improvisasi bersama Slamet Abdul Sjukur

Andaikan semua guru musik di sekolah kayak Slamet Abdul Sjukur, pelajaran musik pasti sangat menyenangkan. Murid-murid dijamin ketagihan. Para murid tentu saja tak dicetak jadi pemusik atau komponis (kayak Slamet Sjukur), tapi setidaknya bisa menikmati musik dengan asyik.

Musik, apa pun jenisnya, memang perlu diapresiasi. Dan, agar bisa mengapresiasi, kita perlu guru yang benar. Guru yang tak hanya tahu musik, tapi juga tak mengajarkannya kepada awam. Banyak pemusik hebat, pintar main piano, gitar, violin, cello dsb, tapi belum tentu bisa membagikan kemampuannya.

Mendengarkan musik pun sebetulnya ada pelajarannya. Sayang, kita di Indonesia masih kekurangan orang-orang macam Slamet Abdul Sjukur, komponis, pianis, penulis, budayawan (entah apa lagi) asli Surabaya yang tak bosan-bosannya berbagi ilmu.

Selama 55 tahun SAS mengampu Pertemuan Musik Surabaya alias SAS. Isinya, ya itu tadi, apresiasi musik. Mulai anak kecil, mahasiswa, guru piano, pianis, dirigen, hingga komponis top dia kumpulkan di satu forum. Lalu, kita diajak nonton film atau menikmati permainan piano, gamelan, atau hanya sekadar bermain-main.

Ini penting karena SAS melihat semakin lama orang Indonesia kehilangan kegembiraan. Dus, sulit menikmati musik. Pemain piano kurang lepas main piano, kehilangan kegembiraan main piano, karena takut salah, takut dikritik, kurang percaya diri, dan sebagainya.

Saya ikut menikmati kegembiraan dan gaya Slamet A Sjukur (77 tahun) yang nyantai, tapi serius, pada PMS di halaman Perpustakaan C20, Jalan dr Cipto 20 Surabaya. Sekitar 20 peserta, termasuk saya, duduk santai di kebun yang dikelola Kathleen Azali itu. SAS duduk dekat pintu. Gemma, komponis muda lulusan Unesa, bertugas memutar rekaman HERBIE HANCOCK berjudul WATERMELON MAN. Manusia semangka, kalau diterjemahkan lurus.

Yah, Herbie Hancock salah satu legenda jazz dari USA. Kita diajak menikmati komposisi Watermelon yang sederhana tapi asyik. Dimulai pukulan drum, perlahan-lahan diikuti satu per satu instrumen, termasuk suara-suara manusia yang aneh, kemudian dilengkapi saksofon.

Setelah diperdengarkan, kita disuruh berimajinasi. Menghidupkan lagi musik Paman Hancock secara bebas. Menambahkan lagi dengan suara kita, bertepuk tangan, bunyikan lidah, menghentakkan sepatu, memukul apa saja (asal jangan memukul teman)....

"Kita bebas merusak komposisi yang ada itu agar lebih baik. Mau menambah apa saja silakan," pinta SAS.

Awalnya sih masih ragu, malu, takut, entah apa lagi. Maklum, orang Indonesia jarang mendapat pelajaran apresiasi musik jazz secara spontan dan bebas macam ini. SAS tahu betul itu. Tapi SAS, dengan guyonannya yang tetap nyelekit dan sengak, membuat kita mau tidak mau harus mau bikin improvisasi. Satu per satu, mulai dari yang duduk di pojok kanan, bergiliran hingga pojok kiri. Komposisi watermelonman diputar lagi.... dan mulailah improvisasi bebas (dan rada liar) ala petani semangka di Jawa Timur.

Saya kira Paman Hancock bakal kaget jika melihat komposisinya diblejeti, diobrak-abrik, oleh Slamet Abdul Sjukur dan arek-arek Surabaya. Slamet rupanya suka dengan improvisasi kami meskipun temponya ternyata tidak pas dengan ketukan pemain band Hancock. "Tidak apa-apa, kita ulangi lagi, kita main-main lagi," kata SAS yang rambutnya belum uban di usia mendekati 80 tahun itu.

Slamet Abdul Sjukur kemudian memberikan kesimpulan:

"Musik yang sehat itu terbuka buat siapa saja. Demikian sehatnya dan terbukanya,sehingga siapa pun bisa menikmatinya bahkan ikut terlibat aktif dalam proses pembuatan musiknya."

Di Indonesia sudah mulai sering diadakan festival musik jazz (meskipun tidak murni jazz, karena penyanyi koplo atau rock pun ikut). Tapi pelajaran dasar apresiasi jazz ala Slamet Abdul Sjukur boleh dikata tidak banyak. Bahkan belum ada.

Ah, andaikan guru-guru SD dan SMP kita punya wawasan musik seperti Slamet Abdul Sjukur!

23 October 2012

Suhu Surabaya yang ekstrem panas



Surabaya sejak dulu dikenal sebagai kota panas. Tapi panasnya Surabaya bulan ini, kata beberapa orang tua yang usianya di atas 70 tahun, lebih panas dari dulu. Sejak akhir September 2012 sampai sekarang semua orang di Surabaya mengeluh panas, panaaassss.... panasssss.

Saya perhatikan termomoter saya (buatan Tiongkok), suhu siang hari pernah tembus 37-38 Celcius. Badan Meteorologi dan Klimatologi Juanda minggu lalu bilang suhu Surabaya 36 Celcius. Yah, rata-rata 35 derajat Celcius. Bagus untuk menjemur kerupuk, tapi bisa membahayakan manusia kalau suhu terus naik. Bisa mati kita orang!

Suhu yang ekstrem membuat orang sulit tidur. Kipas angin tidak mempan. Hanya AC yang bisa melawan panasnya udara Surabaya sekarang.

Apakah hanya Surabaya yang panas? Ternyata tidak. Saya baru saja ke Malang, Trawas, Tretes, Batu... tempat-tempat yang dulu dianggap paling sejuk di Jawa Timur. Angka di termometer memang tidak seekstrem di Surabaya, tapi tetap gerah. Malang bukan lagi kota dingin. Jolotundo di Trawas yang dekat Gunung Penanggungan pun terasa pa nas pada siang hari.

Mengapa panas begitu merata di Jawa Timur?

Kata orang pintar, panasnya matahari Surabaya karena posisi sang surya memang sedang berada di atas wilayah Surabaya dan sekitarnya. Dus, surya terlihat begitu dekat dengan Kota Pahlawan. Sang surya sedang dalam perjalanan ke wilayah 23 derajat lintang selatan. Begitu kira-kira pelajaran ilmu pengetahuan bumi dan antariksa yang saya peroleh di SMP San Pankratio, Larantuka, Flores Timur, tempo doeloe.

Celakanya, sejak beberapa tahun terakhir musim hujan tidak lagi jatuh bulan Oktober (seperti pelajaran SD zaman dulu), tapi sudah bergeser jauh ke akhir November atau pertengahan Desember. Biasanya, hujan lebat dan merata menjelang Natal.

Karena itulah, perjalanan tahunan sang surya ke wilayah selatan tidak terhalang oleh hujan atau mendung. Sinar matahari benar-benar paripurna memapar Surabaya dan wilayah-wilayah lain yang sama lintangnya di peta. Apa boleh buat, kita harus terbiasa menerima anomali cuaca akibat climate change yang memang sudah lama terjadi.

Sepanas-panasnya Surabaya, kita masih bisa berteduh di bawah pohon rindang. Saat menikmati sate kelapa di Jalan wali Kota Mustajab, rasanya sejuk sekali karena jalan strategis itu dinaungi pohon-pohon yang sangat lebat. Ngopi siang hari di pinggir Kalimas pun asyik karena ada pohon-pohon yang lebat.

Maka, gerakan menanam pohon harus makin digalakkan di Surabaya. Bikinlah hutan yang banyak di dalam kota. Jangan cuma nanam hutan beton saja.

Deddy Dhukun dan Dian Pramana Putra

Deddy Dhukun (kiri) dan Dian Pramana Putra.




Zona Memori sudah tak ada lagi di televisi. Tapi, lumayan, kemarin dini hari Metro TV memutar program lawas itu. mengingatkan kita akan penyanyi-penyanyi 1980-an dan 1990-an. Dulu mereka sangat populer, kini sudah pensiun semua. Sebab, tak ada tempat untuk artis senior di industri musik Indonesia.
Gara-gara tak bisa tidur, Surabaya ekstrem panas, saya terpaksa memutar televisi. Ketemu Zona Memori di Metro TV. Aha, Deddy Dhukun dan Dian Praman Putra tampil berduet dengan lagu-lagu lawas yang hit sekian tahun silam.
Deddy Dhukun seperti biasa: banyak bicara, selalu dominan, sementara Dian PP lebih tenang dan mengalah. Deddy yang banyak bikin syair, Dian PP yang bikin melodi. Kombinasi yang solid sejak 1983 (kalau tidak salah), sebelum datang era baru menjelang 2000.
Duo yang populer dengan 2D ini memang sangat khas. Keduanya menghidupkan lagu-lagu pop jazz yang sangat disukai pelajar dan mahasiswa saat itu. Beda dengan lagu-lagu pop biasa, akor yang dipakai lebih rumit dan kaya. Musiknya dianggap kelas atawa elit. Anak muda dulu suka pamer kaset 2D... biar kelihatan ngerti musik.
Band-band pelajar pun suka memainkan lagu-lagu 2D meskipun sering tidak pas. Yah, malam itu kita dibawa ke masa lalu ketika musik pop Indonesia sangat kaya warna. Ada pop manis ala Pance, Obbie Messakh, atau Rinto Harahap, yang dicela sebagai pop cengeng.
Ada pop rock ala Nicky Astria atau Ita Purnamasari. Band-band lawas yang bertahan macam D’Lloyd atau Panbers. God Bless yang tur ke mana-mana. Kemudian hingga Deddy Dhukun, Dian PP, Fariz RM, Mus Mudjiono, yang menyebut dirinya pengusung pop kreatif. Ada juga pop dangdut. Dan macam-macam warna lagi. Beda dengan musik pop sekarang yang hampir seragam, padahal kita punya puluhan channel televisi.
Dipandu Sys NS dan Ida Arimurti, Dian PP dan Deddy Dhukun membawakan hit lama seperti Masih Ada, Biru, Semua Jadi Satu, Aku Ini Punya Siapa. Lumayan untuk nostalgia, membuat kita kembali ke masa remaja.
Sayang, Deddy Dhukun yang banyak bicara itu menurut saya kurang bijaksana. Dia sepertinya memanfaatkan acara ini untuk mengejek musisi lain yang disebutnya hanya bisa menciptakan lagu tiga jurus. Si Dhukun ini memosisikan diri seperti komposer dan penyanyi yang paling hebat. Kurang menghargai musisi lain yang sudah sama-sama ditelan zaman.

19 October 2012

Hubungan antara Debussy dan Gamelan



Oleh Slamet A. Sjukur
Komponis, arek Surabaya


Dimulai tahun 1889, ketika Prancis memperingati 100 tahun revolusi mereka dengan ditandai peresmian menara Eiffel dan penyelenggaraan hajatan besar L’EXPOSITION UNIVERSELLE di Paris.

Belanda yang punya jajahan negeri kita, ikut punya stan di sana bernama Le Kampong Javanais, untuk menjual teh hasil perkebunan Parakan Salak dengan dimeriahkan para petani perkebunan tersebut yang memainkan seperangkat gamelan Sari Oneng mengiringi 4 orang remaja penari dari Surakarta.

Di luar acara pertunjukan, mereka melakukan kehidupan sehari-harinya seperti biasanya di desa mereka, dan ini bisa disaksikan oleh para pengunjung stan. Debussy yang waktu itu berusia 27 tahun --- sudah mendapat Prix de Rome lima tahun sebelumnya dan mulai naik daun --- untuk pertama kalinya mendengarkan gamelan.

Suatu pengalaman luar biasa, yang semakin meyakinkan tentang apa yang samar-samar sudah dia rasakan. Musik yang merdeka, bebas dari cengkeraman Wagner sebagai puncak jaman romantik abad 19. Dia dapatkan itu di dalam gamelan, tentu saja, karena gamelan berbeda sekali dari musik barat.

Secara garis besar, musik Barat itu cerdas dan punya arah yang jelas, seperti suratan takdir yang sudah terbaca (ada kadens, ada perkembangan dan solusi yang tidak bisa dihindari), sedangkan gamelan itu berputar-putar terus seperti orang gila yang tidak peduli waktu.

Sebelum perjumpaannya dengan gamelan, Debussy sudah sering coba-coba dengan berbagai unsur interval yang memungkinkannya bisa menghindari keharusan fungsional harmoni, yaitu dengan meniadakan sebisa mungkin interval semiton, jadilah kawasan tangga-nada-penuh atau pentatonik yang dia bikin sendiri. Tapi semua ini baru coba-coba. Baru sejak 1889, gamelan menjadi sumber utama inspirasi estetik Debussy.

Sebagai sumber utama bagi seorang jenius seperti Debussy, gamelan tentu bukan sekadar untuk ditiru, melainkan diserap intinya dan diolahnya sampai menjadi bagian dirinya sendiri.

Karyanya yang berjudul Pagoda, untuk piano, oleh para musikolog barat dianggap sebagai yang paling nyata adanya pengaruh gamelan. Sayangnya bagi ‘telinga jawa’ karya tersebut terasa seperti musik Cina.

Musik Debussy akan terlalu dangkal seandainya di situ gamelan bisa dilacak dengan mudah pada setiap nada. Justru kita ini yang sebenarnya dituntut untuk cermat menangkapnya di dalam yang samar.

Nocturnes, yang terdiri dari tiga bagian untuk orkes, yang sama sekali tidak berbunyi seperti gamelan, malah di situlah terjadi persenyawaan Debussy dan gamelan.

Slendro tersirat di dalam bagian pertama dan ketiga. Nuages (Arak-Arakan Awan)  dan Sirénes (paduan-suara Putri-Putri Duyung) bergerak lamban bagaikan tari bedaya yang bebas dari desakan waktu, keselarasan harmoninya mengambang tak bergerak seperti butiran-butiran debu di udara rumah yang suwung.

Itu sikap Debussy yang sangat revolusioner, menentang pakem harmoni fungsional dan orkestrasi yang berat jaman romantik abad 19.

Di dalam Fête (Pesta Alam Semesta), yang berada diantara kedua bagian tersebut,  satu-satunya bagian yang cepat, dengan ostinato ritme yang berulang-ulang, demikian juga melodinya, menyelinap ketujuh nada pelog.

Ciri gamelan tidak terbatas hanya pada soal Interval dan tangga-nada saja. Sejumlah lapisan ketinggian-nada terjalin satu sama lain, nada-nada rendah bergerak perlahan, semakin tinggi lapisannya semakin cepat.

Polifoni yang bergerak bersamaan ini tertangkap oleh Debussy yang memang punya bekal kontrapung dengan seluruh kemungkinan pasangan ritmenya. Karena itu Debussy berani mengatakan bahwa dibandingkan dengan gamelan, musik Palestrina itu — yang merupakan puncak musik polifoni abad 16 --- tidak lebih dari permainan anak-anak.

Debussy juga merasakan gamelan seperti sungai yang airnya terus mengalir dan sekaligus sepertinya yang itu-itu juga. Tidak ada pengembangan seperti dalam musik barat, setiap peristiwa atau motif dibiarkan bersolek sendiri dalam siklus waktu yang damai.

Air menjadi simbol penting bagi Debussy: ‘La Mer’- laut, ‘Reflet dans l’eau’- bayangan di air, ‘Jardin sous la pluie’-kebun dibawah hujan, ‘Poisson d’or’-ikan mas . . . sampai-sampai patung Debussy yang ditempatkan di Bois de Boulogne --- sebuah hutan di tepi kota Paris --- bukannya berbentuk sosok sang komponis melainkan patung yang menggambarkan ‘air’.

Suatu kekeliruan orang menyebut musiknya beraliran impressionisme seperti lukisan-lukisan Monet, Pissarro, Renoir dll. Debussy sendiri menentang sebutan bodoh seperti itu. Dia akrab dengan dunia seni-rupa, tapi dia merasa lebih dekat dengan teman-temannya sasterawan simbolis seperti Louÿs, Verlaine, lebih-lebih Stéphane Mallarmé.

Dalam Préludes, dua bukunya yang masing-masing memuat duabelas karya, judul-judulnya tidak tercantum di awal karya sebagaimana lazimnya, tapi malah di akhirnya. Ini sebagai oleh-oleh dari pengalamannya mendengarkan gamelan.

Ketika itu dia sering bingung, apakah gendingnya masih yang namanya tercantum dalam buku-acara ataukah sudah lewat. Persis seperti orang yang tidak tahu bahwa sebuah sonata itu terdiri dari beberapa bagian. Debussy akhirnya menyadari bahwa yang penting musiknya, judul hanya sebagai sugesti atau saran saja.

Di luar itu semua, sekalipun dengan seluruh perhatian dan kesungguhannya, Debussy sebenarnya dalam keadaan yang menimbulkan rasa kasihan. Itu bukan salahnya, tapi karena  keadaan pada waktu itu.

Gamelan yang dia dengarkan pada tahun 1889 itu gamelan Sunda, bukan gamelan Jawa (tepatnya Jawa Tengah). Memang Sunda terletak di Jawa sebelah barat, tapi gamelannya sangat berbeda dari gamelan Jawa yang ada di tengah. Ini membingungkan, memang. Orang Indonesia sendiri tidak mudah membedakan orang Spanyol dari orang Swiss, padahal mereka sama-sama orang Eropa.

Yang Debussy dengarkan pada waktu itu gamelan Sunda Sari Oneng yang diperagakan oleh buruh tani perkebunan Parakan Salak. Akan jauh berbeda seandainya yang tampil para wiyaga dengan gamelan keraton Mangkunegaran.

Di samping itu, keempat penarinya yang masih berusia antara 12 dan 16 tahun itu dari Surakarta, tapi bukan penari keraton. Sulit dibayangkan perpaduan yang luar biasa anehnya ini antara tandak Jawa dengan gamelan Sunda.

Hal ini bisa dianggap sebagai ulah kolonialis yang tidak senonoh, menurut pandangan kritis Edward Said terhadap orientalisme. Tapi hal ini berubah serta merta menjadi positif kalau nasib Debussy ini dikaitkan dengan cerita tokoh wayang Werkudara yang akhirnya malah berjumpa dengan Dewa Ruci.  Malapetaka yang mestinya menimpa nasib Werkudara ternyata akhirnya menjadi pencerahan.

Pencerahan yang dialami Debussy ini merupakan sumbangan tidak ternilai bagi sejarah musik. Musik abad-20 membuka hubungan antarbangsa.

Pejabat-pejabat NTT, contohlah Jokowi!

Sangat menarik melihat gebrakan Joko Widodo alias Jokowi. Setelah dilantik menjadi gubernur DKI Jakarta, Jokowi berkeliling kota melihat langsung kondisi lapangan. Dialog dengan warga. Mendengarkan curhat warga. Blusukan ke mana-mana.

Dengan cara ini, Pak Gubernur jadi tahu begitu banyak masalah riil di lapangan. Betapa angkutan umum di Jakarta sangat buruk. "Masa ibukota negara kok busnya kayak begini?" ungkap Jokowi. Saya cuma ketawa geli melihat ungkapan polos Jokowi.

Yah, warga Jakarta layak bersyukur punya gubernur yang mau turun ke jalan, berpikir out of the box, rajin cari solusi kayak Jokowi. Benar-benar tipe pemimpin yang mau melayani. Konsep pemimpin sebagai PELAYAN sering diucapkan, khususnya dalam kampanye, tapi sangat jarang diperlihatkan gubernur, bupati, wali kota di Indonesia.

Melihat Gubernur Jokowi di televisi, saya langsung membandingkan dengan bupati-bupati dan gubernur di daerah saya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Betapa jauhnya perbedaan dengan gaya Jokowi. Di NTT pejabat-pejabat, yang aslinya dari kampung, tiba-tiba berubah menjadi raja-raja kecil yang jauh dari rakyat. Mereka seakan menjadi makhluk dari planet lain.

Sebelum 1990-an, ketika saya masih berada di kampung, pelosok Lembata, saya tidak pernah melihat Bupati Flores Timur berkunjung ke kampung-kampung. Apalagi dialog dengan rakyat, memetakan masalah, cari solusi, dan seterusnya. Bupati Flores Timur saat itu ibaratnya raja yang hanya sibuk bekerja di kantor, kemudian pulang, istirahat di rumah jabatan.

Tidak ada kunjungan rutin bupati (saat itu) ke Lembata, Solor, Adonara, melihat kondisi masyarakat yang mengidap kemiskinan struktural, sehingga sebagian besar laki-laki merantau di Sabah dan Serawak, Malaysia Timur. Waktu saya masih SD di pelosok Lembata, saya dan teman hanya bisa menghafal nama bupati seperti Markus Weking, Simon Petrus Soliwoa, atau Iskandar Munthe tanpa pernah melihat orangnya secara langsung. Apalagi menjabat tangan bupati. Sebab, bupati-bupati yang berkuasa di Larantuka itu memang tidak pernah mengunjungi Ile Ape, kecamatan saya yang berada di pantai utara Lembata.

"Bapak Bupati kita itu wajahnya seperti apa?" tanya saya.

Kemudian Bapak Guru di kampung memperlihatkan foto bupati di surat kabar mingguan DIAN, koran stu-satunya yang beredar di Flores saat itu. Oh, Bapak Bupati Weking orangnya hitam. Oh, Bapak Bupati Soliwoa orangnya kurus dan tinggi! Lalu, kapan Bapak Bupati berkunjung ke kampung kita untuk membantu pengadaan air minum? Pak Guru pun tak tahu.

Tahun terus berganti, bupati datang dan pergi. Kemudian ada pemilihan langsung. Lumayan, berkat pemilihan langsung, calon-calon bupati yang biasanya duduk manis di Kupang atau Larantuka sudah mulai turun ke desa-desa... untuk kampanye. Ada tokoh yang puluhan tahun tinggal di Kupang tiba-tiba mengaku sebagai pejuang Lewotanah alias kampung halaman. Banyak tokoh yang sudah tidak berbahasa daerah (Lamaholot) karena memang beliau-beliau ini sudah puluhan tahun meninggalkan Lewotanah.

Karena bupati-bupati tak pernah turun ke kampung, blusukan ala Jokowi, maka berbagai persoalan di pelosok Flores Timur tak pernah diselesaikan. Contohnya jalan raya dan air minum. Kita yang hijrah ke Jawa akan menemukan kondisi jalan raya yang sama buruknya dengan 10 tahun lalu. Bahkan, lebih buruk. Dan rakyat di sana tidak merasa aneh melintas tiap hari di atas jalan yang mirip kubangan kerbau saat musim hujan.

Mengapa begitu?

Karena Bapak Bupati hanya asyik berkutat di istananya di ibukota kabupaten yang sangat jauh dari kampung saya di pelosok. Akal sehat sudah lama mati. Konsep pemimpin sebagai pelayan, sebagaimana ritual pembasuhan kaki pada Kamis Putih, di gereja-gereja di Flores sepertnya tidak punya efek pada perilaku pejabat-pejabat publik.

Maka, wajar saja kalau Provinsi NTT, khususnya Flores, khususnya Lembata, Solor, Adonara, Pantar, tidak bisa maju.  

Ki Boen Liong meriahkan sedekah bumi Kapasan



Selama dua hari berturut-turut warga kampung Kapasan Dalam menikmati pergelaran wayang kulit. Acara tahunan ini merupakan bagian dari ritual sedekah bumi atau bersih desa. Berbeda dengan di tempat-tempat lain, sedekah bumi di Kapasan Dalam selalu digelar pada tanggal 26 bulan kedelapan penanggalan Tionghoa (Imlek).

“Tepatnya satu hari sebelum peringatan hari jadi Nabi Khonghucu tanggal 27 Peh Gwee,” kata Gunawan Djajaseputra, tokoh masyarakat Kapasan Dalam, di sela pergelaran wayang kulit, Kamis (11/10/2012).

Menurut dia, Kapasan Dalam, yang terletak di belakang Kelenteng Boen Bio, sampai sekarang masih melestarikan tradisi sedekah bumi seperti yang dipraktikkan para leluhur tempo doeloe. Ritualnya pun merupakan perpaduan antara budaya Tionghoa dan Jawa. “Tahun ini sedekah bumi di Kapasan Dalam ini yang ke-116. Yah, sudah berlangsung selama satu abad lebih,” katanya.

Pertunjukan wayang kulit dan campursari selama dua hari ini berlangsung meriah meski sempat diwarnai turunnya hujan. Malam pertama menampilkan dalang Ki Tee Ben Liong, dengan cerita Rama Nitis. Suasana terasa gayeng lantaran dalang keturunan Tionghoa ini selalu menyisipkan guyonan segar sepanjang pergelaran. Salah satu sinden yang bertubuh tambun pun menjadi bulan-bulanan sang dalang.

“Luar biasa masyarakat Kapasan Dalam ini. Meskipun zaman sekarang sudah modern, globalisasi, masih tetap nguri-uri budaya. Mudah-mudahan tradisi sedekah bumi ini diteruskan oleh anak cucu kita di masa mendatang,” kata Boen Liong disambut tepuk tangan hadirin.

Seniman yang berguru ilmu mendalang pada maestro Ki Narto Sabdo ini juga dikenal sebagai putra asli Kapasan Dalam. Meskipun sekarang tinggal di kawasan lain, Boen Liong selalu kembali ke kampung halamannya untuk mengisi acara sedekah bumi. Menurut dia, sedekah bumi ini merupakan upacara tradisional untuk mengucap syukur sekaligus memohon berkah dan perlindungan dari Tuhan.

Pergelaran wayang kulit hari kedua tidak diadakan malam hari, melainkan siang hari. Kali ini lakonnya Wahyu Kamulyaan Jati. Menurut Gunawan, wayangan hari kedua ini sekaligus puncak perayaan sejit YM Khonghucu. “Warga yang beragama Khonghucu juga mengadakan sembahyang bersama di Kelenteng Boen Bio,” katanya.

Pria bernama asli Lauw Soen Gwan ini mengaku bersyukur karena penduduk Kapasan Dalam bisa berbaur meskipun berbeda-beda etnis, ras, maupun agama. Semua warga pun mau terlibat dalam sedekah bumi antara lain dengan menyumbang tumpeng, uang, hingga tenaga.

“Yang membuat kami terharu, banyak warga yang sudah lama pindah ke tempat lain masih sempat kirim tumpeng ke sini. Sebab, mereka tidak ingin tradisi leluhur ini hilang ditelan kemajuan zaman,” katanya.      


16 October 2012

Pameran Mengenang Almarhum Harryadjie BS


Selama lima hari puluhan seniman Sidoarjo tumplek-blek di Balai Pemuda Surabaya. Mereka memeriahkan pameran tunggal karya almarhum Harryadjie BS, pelukis senior Sidoarjo yang meninggal September 2011.
SOSOK Harryadjie BS seakan-akan hidup kembali bersama 70 karyanya yang dipajang di Galeri Surabaya. Pelukis yang tinggal di Sidokare Indah A/1 Sidoarjo ini sejak dulu dikenal sebagai seniman yang antitren, cuek, dan tak ramah pasar. Harryadjie melukis apa saja sesuai keinginan hatinya. Tak peduli lukisannya laku atau tidak.
“Almarhum Harryadjie ini termasuk seniman idealis Jawa Timur yang tak banyak jumlahnya. Dia tangguh dengan kepercayaan diri dan cuek dengan lingkungan sekitarnya. Hampir tidak ada pelukis seangkatannya yang setangguh dia,” kata Rudi Isbandi, pelukis senior yang membuka pameran tunggal kelima Harryadjie BS, itu.
Tak hanya Rudi Isbandi. Para pelukis baik senior maupun mahasiswa Fakultas Seni Rupa pun punya penilaian yang sama tentang pria kelahiran 25 September 1947 itu. Tak hanya idealis, Bambang Thelo (sapaan akrabnya) juga dikenal sebagai seniman serbabisa. Dia tidak hanya melukis di atas kanvas, tapi juga media apa saja.
Dalam 10 tahun terakhir Harryadjie lebih banyak memanfaatkan ‘sampah’, pelepah kelapa, buah-buahan untuk menghasilkan karya seni. Dia juga aktif dalam gerakan green art yang fokus pada isu-isu lingkungan hidup. Ayah satu anak ini, Jarot, juga kuat dalam sketsa. Ketika mengunjungi sebuah pameran UKM di Surabaya, Haryadjie memanfaatkan notes pemberian panitia untuk membuat sketsa yang menarik.
 “Mbah Bambang ini sangat sederhana dan hidup untuk kesenian. Bahkan, beliau meninggalkan ketika sedang mengurus acara pameran lukisan,” kata Sugeng Prajitno, pelukis yang dekat dengan almarhum Harryadjie.
Saat pembukaan di halaman Balai Pemuda, Cak Ugeng, sapaan akrab Sugeng Prajitno, memainkan aksi teatrikal tentang perjalanan hidup Harryadjie BS. Cak Ugeng bermain-main dengan api, menyemburkan cat minyak, mengolesi tubuhnya dengan cat, menggambarkan sosok pelukis yang dulu aktif di Aksera itu. Semburan Cak Ugeng ini akhirnya menghasilkan gambar tokek raksasa.
“Tokek itu simbolisasi dari Mbah Harryadjie. Dia bukan saja suka menggambar tokek dan reptil, tapi juga kehidupannya kayak tokek. Tidak banyak bicara, tapi selalu berkarya,” kata Cak Ugeng yang kini tinggal di Kahuripan Nirwana Village Sidoarjo itu.
Menurut Jarot, putra tunggal almarhum Harryadjie, ayahnya meninggalkan begitu banyak karya seni baik yang sudah dipamerkan maupun belum. Karya-karya itu ditumpuk begitu saja karena rumah mereka di Sidokare terbilang kecil. Semasa hidupnya Harryadjie sudah empat kali menggelar pameran tunggal.
Seniman yang juga mantan pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo ini sudah lama ingin bikin pameran tunggal karena selama ini hanya pameran bersama pelukis-pelukis lain. “Tapi baru kesampaian setelah ayah meninggal dunia,” katanya.

Joaquin F. Monserrate Konjen AS di Surabaya


Pernah bertugas sebagai wakil kojen AS di Surabaya selama dua tahun (2000-2002), Joaquin F Monserrate kini kembali ke Surabaya sebagai konjen AS. Pria yang akrab disapa Wakin itu menggantikan Kristen F Bauer yang sekarang dipromosikan menjadi wakil dubes AS di Jakarta.
Tiba di tanah air pada 25 September 2012, Joaquin F Monserrate mengaku senang bisa bertemu dengan teman-teman lamanya di Surabaya. Dengan kemampuan bahasa Indonesianya yang semakin baik, Wakin pun menjadi lebih mudah menjalin komunikasi dengan berbagai kalangan di Surabaya.
Selamat datang kembali ke Surabaya!
Terima kasih. Saya juga senang bisa bertugas kembali di Surabaya.
Wah, rupanya bahasa Indonesia Anda semakin lancar. 
Saya masih harus terus belajar bahasa Indonesia. Dulu, waktu betugas di sini, saya sudah belajar, tapi sudah banyak kata yang lupa karena saya pindah ke negara lain seperti India dan Vietnam. Saya juga belajar bahasa Vietnam lho!
Sulit mana bahasa Vietnam dengan bahasa Indonesia?
Bahasa Vietnam itu jauh lebih sulit (dari bahasa Indonesia). Sebab, bahasa Vietnam itu punya nada yang membedakan arti. Misalnya kata ma. Artinya bisa macam-macam tergantung nadanya. Ma bisa berarti kuda, tapi juga bisa berarti lain. (Wakin kemudian mempraktikkan cara melagukan kata ma dalam bahasa Vietnam). Nah, bahasa Indonesia tidak perlu nada-nada seperti itu sehingga lebih mudah bagi penutur asing. Bahasa Indonesa juga banyak menyerap kata-kata bahasa Inggris.
Selain bahasa Indonesia, saya juga mulai belajar bahasa Jawa. Sebab, bahasa Jawa itu tergolong salah satu bahasa tertua di dunia seperti bahasa India. Ada banyak kata bahasa Jawa yang sama dengan bahasa India.
Anda punya guru khusus bahasa Jawa?
Belum. Sekarang saya belajar langsung sama orang-orang yang saya temui sehari-hari. Saya juga belajar sama sopir. Hehehe....
Ketika Anda menjadi wakil konjen AS tahun 2000-2002, kantor Konsulat Jenderal AS berlokasi di Jl dr Soetomo. Sekarang Anda berkantor di Perumahan Citraland. Ada perbedaannya?
Tentu saja suasananya berbeda, lingkungannya juga berbeda. Apalagi, dulu saya warung langganan di dekat kantor konjen (lama).
Oh, ya, apa makanan favorit Anda?
Lontong kupang. Hehehe... saya juga suka bebek goreng, martabak.
Bagaimana Anda menilai hubungan Indonesia-Amerika Serikat selama kepemimpinan Presiden SBY?
Sangat bagus. Pemerintah Amerika Serikat banyak bekerja sama dalam banyak bidang dengan pemerintah dan rakyat Indonesia. Setelah SBY tidak lagi menjabat presiden pun saya optimistis hubungan antara kedua negara tetap berjalan dengan baik. Kalau sistem demokrasi sudah berjalan, maka sebenarnya siapa pun yang menjadi presiden tidak akan mempengaruhi hubungan yang sudah berlangsung selama ini. Siapa pun yang jadi presiden Amerika Serikat, entah itu Barrack Obama atau Mitt Romney, kerja sama dan hubungan Indonesia-Amerika tetap akan baik.
Ngomong-ngomong, siapa yang bakal menang dalam pemilihan presiden AS bulan depan?
Masih sulit diprediksi. Dalam jajak pendapat sebelumnya, Obama lebih diunggulkan. Tapi, setelah debat kemarin, Anda sudah lihat debat itu kan, posisi Romney mulai naik. Kita lihat saja nanti karena hasil pemilihan presiden di Amerika itu memang sulit diperkirakan.
Bagaimana Anda melihat perkembangan sosial politik di Indonesia dalam 10 tahun terakhir?
Makin menarik. Tahun 2000-2002, waktu saya bertugas di sini, belum ada pemilihan presiden secara langsung. Sekarang Indonesia sudah dua kali mengadakan pemilihan presiden secara langsung. Gubernur, bupati, wali kota juga dipilih langsung oleh rakyat. Ini jelas merupakan perkembangan yang sangat menarik.
Pemilihan langsung itu memaksa calon-calon pemimpin untuk menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi rakyatnya. Dan mereka harus bisa menjelaskannya melalui debat terbuka.
Anda suka berolahraga?
Oh ya, saya suka sepak bola, tenis, tenis meja, bola basket.

Penulis: Lambertus Hurek


15 October 2012

Otak kanan adalah segalanya?


Minggu lalu ada seorang motivator bicara di televisi tentang otak kanan. Pakailah otak kanan, maka Anda akan lebih kreatif dan kaya. Orang yang dominan otak kiri, kayak sebagian besar orang Indonesia, tidak bisa berpikir out of the box. Dan tak akan kaya! Begitu kira-kira penjelasan motivator itu.
Memang, sejak 10 tahun terakhir kampanye OTAK KANAN sangat gencar di Indonesia. Begitu banyak buku tentang otak kanan ditulis. Seminar, pelatihan, aktivasi, permainan... sebagian besar membahas mukjizat otak kanan. Bahkan, banyak tempat kursus yang tujuannya untuk memaksimalkan potensi otak kanan.
Hasil kampanye otak kanan yang sangat masif ini memang terbukti efektif. Sekarang ini para orang tua seperti berlomba-lomba mengikutkan anaknya dalam lomba, festival, reality show, atau kegiatan kreatif lainnya. Lomba menggambar plus mewarnai penuh sesak. Kursus sempoa laku. Anak-anak sejak kecil diarahkan jadi model, penyanyi, atau bintang film.
Selera anak-anak sekolah sekarang pun berbeda dengan era 1990, 1980, 1970, 1960. Zaman dulu pelajar berotak encer, indeks prestasi tinggi, juara fisika, matematika, kimia... jadi idola. Bahkan, pada 1990-an ada sinetron di TVRI, Rumah Masa Depan, yang menonjolkan sosok jenius Sangaja (kalau tidak salah). Otaknya begitu encer, tepat menjawab sebelum pertanyaan selesai dibacakan guru atau penguji.
Sekarang semua yang berbau selebriti, artis, seniman industri yag jadi idola. Bahkan, ada kecenderungan sekolah tak lagi dianggap penting karena hanya menekankan OTAK KIRI. Banyak remaja, yang disokong orang tuanya, sengaja memasukkan anak-anaknya ke home school, sekolah rumahan. Agar bisa fokus nyanyi atau main sinetron.
“Ngapain sekolah, banyak pekerjaan rumah, banyak banyak buku, kalau toh main sinetron bisa dapat uang banyak?” begitu pendapat yang makin meluas di masyarakat. Kalaupun hebat di sekolah, jadi akademisi, ilmuwan, profesor, gajinya jauh di bawah penghasilan artis film atau sinetron.
Zaman dan selera memang sudah jauh berbeda. Dulu orang tua melarang keras anaknya jadi penyanyi atau bintang film karena masa depannya kurang bagus. Sekarang kebalikannya. Sukses di akademik (otak kiri), kata si motivator, tidak akan pernah kaya karena sekarang ini eranya otak kanan.
Lantas, apa jadinya kalau hanya otak kanan yang diasah, sementara otak kiri diabaikan?
Saya baru membaca buku tentang soal otak ini terjemahan dari Tiongkok. Poinnya adalah keseimbangan. Baik otak kiri, otak kanan, otak tengah... punya fungsi dan manfaat bagi manusia. Meminjam istilah Orde Baru: kita tidak boleh bersikap ekstrem kanan atau ekstrem kiri. Terlalu menekankan otak kiri tentu tidak bijaksana. Sebaliknya, mendewa-dewakan otak kanan pun kurang elok.
Bayangkan sebuah negara hanya dipenuhi oleh seniman, artis, desainer, pekerja kreatif tanpa ada peneliti, ilmuwan, ahli bahasa, dosen, pegawai negeri sipil, karyawan. Bayangkan tak ada Poerwadarminta atau Sutan Mohammad Zain yang dengan tekun mencatat kata-kata untuk dijadikan kamus bahasa Indonesia. Atau, HB Jassin yang menelaah dan mendokumentasikan karya sastrawan di tanah air.
Jangan-jangan suatu ketika sekolah-sekolah formal dibubarkan karena semua anak lebih memilih sekolah di rumah (home schooling) atau belajar jarak jauh lewat internet dan perangkat teknologi informasi yang canggih.