26 September 2012

Tujuh tahun Bukan Empat Mata



Bulan September ini Bukan Empat Mata (BEM) genap berusia tujuh tahun. Aslinya sih Empat Mata tapi kemudian diubah sedikit setelah ditegur Komisi Penyiaran. Acara yang dipandu pelawak Tukul Arwana ini tergolong awet, bisa bertahan begitu lama.

Saya sendiri sudah dua tahun lebih tidak nonton BEM karena bosan. Bahasa tubuh, gaya lawakan, tata panggung.. dsb sama. Guyonan lawas, kata orang Jawa Timur. Bahkan bintang tamunya pun mbulet lagi ke orang yang sama.

Tapi begitulah industri televisi yang punya logika sendiri. Selama masih ada orang yang suka, rating bagus, ya digeber terus. Kita dipaksa menikmati lawakan-lawakan Tukul yang slapstick ala Srimulat.

Beberapa menit lalu saya terpaksa menonton BEM di warung kopi pinggir jalan raya Ngagel, Surabaya. Maklum, tukang warungnya lagi memutar Trans 7 yang menyiarkan BEM. Saya tentu kurang sopan meminta dia memindahkan channel televisinya.

Malam itu Tukul mewawancarai Dewi Perssik dan dua artis cewek lain. Yah, sami mawon... masih sama dengan gaya Tukul tujuh tahun lalu. Kali ini rupanya banyak mahasiswa dikerahkan untuk menonton Tukul di studio, jadi tukang sorak, dan ketawa-ketawa saat Tukul membuat pelesetan atau gerakan-gerakan konyol.

Oh, rupanya zaman sekarang banyak orang yang dibayar hanya untuk tertawa! Pekerjaan yang asyik, masuk televisi pula.

Apa pun kata orang, BEM bersama Tukul punya ciri khas yang sangat kuat. Dan rupanya digandrungi jutaan orang Indonesia selama tujuh tahun terakhir.

Sekarang saya lihat BEM ini sudah punya epigon di Trans TV: acara yang dipandu Shoimah. Bedanya cuma jenis kelamin pembawa acaranya. Yang lain-lain sami mawon.

Rupanya, di tengah kehidupan yang makin sulit, jalan raya yang makin macet, orang Indonesia membutuhkaan lawakan ringan ala Tukul. Hitung-hitung untuk menghilangkan stres.

Kembali ke lap...topppppp!!!!!

2 comments:

  1. Acara TV dan filem itu cermin dari tingkat pendidikan dan intelek masyarakat. Kalau rakyatnya rata-rata masih berintelek rendah, ya guyonan ala Tukul yang penuh slapstick, seperti badut sirkus itulah yang laku. Humor satir, komedi situasi, dll. susah dipasarkan, karena rakyatnya belum mampu.

    ReplyDelete