11 September 2012

Soetiadji Yudho lestarikan budaya Tionghoa

Soetiadji Yudho


Meski sudah banyak berbuat untuk dunia pariwisata di Surabaya, Soetiadji Yudho lebih suka berada di belakang layar. Tak suka diekspos atau difoto. Soetiadji hanya ingin agar Kenjeran Panorama Ria Keluarga (Kenpark) yang dibangunnya bisa dinikmati sebanyak mungkin warga.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, akhir bulan ini (30/9/2012) Soetiadji Yudho menggelar Festival Bulan Purnama alias Tiong Chiu Ce di kawasan wisata pantai sekitar 100 hektare itu. Berikut petikan wawancara LAMBERTUS HUREK dari Radar Surabaya dengan Soetiadji Yudho, bos PT Granting Jaya, Jumat (7/9/2012).    

Ada sesuatu yang khusus dalam perayaan bulan purnama tahun ini?

Begini. Setiap tahun kita berusaha melakukan perubahan atau perbaikan agar pengunjung bisa lebih nyaman dalam menikmati fasilitas-fasilitas di Kenpark. Itu sudah menjadi komitmen kita sejak dulu untuk menyediakan tempat rekreasi keluarga yang nyaman, aman, dan murah. Perubahan atau penambahan fasilitas itu bisa perubahan kecil, sedang, atau besar.

Tahun ini bagaimana?

Perubahannya agak besar. Akses jalan diperbanyak. Jadi, pengunjung yang datang dengan sepeda motor atau mobil bisa dengan mudah masuk ke lokasi. Saya nggak bisa pastikan apakah akhir bulan ini bisa rampung mengingat pekerjaannya cukup besar. Kemudian kami juga membuka  Kya-Kya Pantai Karnaval. Selain menjadi pusat makanan dan minuman, ada wahana-wahana bermain untuk anak-anak.

Apakah ada fasilitas rekreasi lain?

Nah, kita sudah berencana membangun Dinosaurus Park, sebuah taman bermain anak-anak yang modern tapi tetap terjangkau harganya. Dinosaurus Park ini masih dalam proses. Tidak bisaa langsung jadi karena butuh biaya yang besar. Tapi kita punya komitmen untuk selalu melakukan perubahan dari waktu ke waktu.

Lantas,  kapan proses pembangunan di Kenpark ini selesai?

Tidak pernah berhenti. Kita jalan terus melakukan perubahan-perubahan kecil, sedang, atau besar. Sementara itu, kita juga berusaha memelihara fasilitas-fasilitas yang sudah ada agar bisa dinikmati masyarakat luas.

Setiap perayaan bulan purnama Anda selalu menampilkan atraksi budaya. Tahun ini kesenian apa yang ditampilkan?

Cuma tari-tarian dari Marlupi Dance, kemudian penampilan penyanyi Rani dan suaminya yang dikenal sebagai pesulap terkenal di tanah air (Adri Manan). Malam bulan purnama memang momentum untuk mengapresiasi seni budaya dan silaturahmi. Tapi kita juga selalu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Kita usahakan agar selalu ada variasi setiap tahunnya.

Tidak mendatangkan tim kesenian dari Tiongkok?

Tidak perlulah. Seniman-seniman kita itu kualitasnya tidak kalah dengan yang di luar negeri. Jadi, mengapa harus selalu melihat ke negara lain? Selama ini kita lebih banyak menampilkan seniman-seniman lokal seperti pertunjukan wayang kulit, campursari, kesenian Bali, Minahasa, Madura, Jawa, dan seni budaya Tionghoa. Kesenian kita itu sangat kaya sehingga kita tidak harus berorientasi ke luar negeri.

Mengapa Anda begitu getol membuat fasilitas baru seperti Gedung Langit, Kya-Kya, atau Dinosaurus Park?

Begini. Objek wisata pantai itu memang harus memiliki fasilitas, wahana, atau sesuatu yang berkesan bagi pengunjung. Kalau hanya mengandalkan pantainya saja, air laut, perahu nelayan, hutan mangrove... maka pengunjung akan cepat bosan. Paling-paling dia cuma datang dua kali, setelah itu tidak datang lagi. Makanya, di Kenjeran Park ini kita berusaha memanjakan pengunjung dengan berbagai fasilitas yang unik dan menarik. Dan itu akan kita lakukan terus-menerus, tidak akan berhenti dari tahun ke tahun.

Selama ini Kenpark sering dicitrakan sebagai tempat pacaran anak-anak muda. Bagaimana Anda menyikapi image seperti ini?

Siapa sih yang bisa melarang orang berpacaran? Tidak mungkin. Anak-anak muda itu ya memang dunianya seperti itu. Kita yang sudah dewasa pun dulunya pernah muda dan pernah berpacaran. Nah, yang bisa kita meminimumkan ekses dari pacaran itu agar tidak kebablasan.

Kita punya petugas keamanan yang selalu melakukan patroli keliling di Kenpark. Yang jelas, kita ingin menjadikan Kenpark sebagai tempat rekreasi keluarga yang sehat dan murah. Siapa pun dia, asa memenuhi syarat, punya tiket boleh menikmati semua fasilitas di tempat kami. Kita tidak mungkin melarang anak-anak muda masuk ke kompleks Kenpark. (*)



BIODATA SINGKAT

Nama : Soetiadji Yudho
Pekerjaan : Pengusaha
Jabatan : Direktur PT Granting Jaya
Pendidikan : SMA Sin Chung Surabaya

Unit Usaha
Kenjeran Panorama Ria Keluarga (Kenpark)
Hotel Oval Surabaya
Hotel V3 Surabaya

Penghargaan

MURI kue keranjang terbesar
MURI lampion terbanyak
MURI patung Buddha Empat Muka
MURI rombong PKL terpanjang
Forum Lintas Agama Surabaya

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 9 September 2012.

4 comments:

  1. mantep nih kenjeran park... :D

    ReplyDelete
  2. Ada koreksi sedikit ya. Tiong Chiu Pia itu kue terang bulan. Pia itu kue. Kalau hari raya dalam bhs Mandarin itu "jie" (festival dlm bhs Inggris), dan kalau tidak salah "tje" dalam bahasa Hokkian, seperti sebutan untuk kakak perempuan. Jadi yang tepat kalau mau menyebut hari raya tengah musim gugur ya "Tiong Chiu Tje". Tiong = tengah, chiu = musim gugur.

    ReplyDelete
  3. kamsia atas koreksi sampean. memang sudah salah kaprah. saya juga tahu pia itu kue tapi wong tionghoa di surabaya dari dulu menyebutnya begitu. saya akan koreksi.

    sekali lagi, terima kasih sudah sering membaca dan mengoreksi tulisan saya.

    ReplyDelete
  4. siip... atas beritane, kulo nggih tiange sing seneng mriko mlampah2 ningali suasana pantai sing asri lan seger.

    ReplyDelete