14 September 2012

Soe Tjen bahas Ahok dan CINA



Oleh Soe Tjen Marching PhD

APA beda Marissa Haque dan Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama?  Banyak.  Tentunya tidak perlu saya sebutkan lagi. Tapi, apa persamaannya?  Mereka sama-sama mencalonkan diri menjadi wakil Gubernur (Banten dan Jakarta).

Marissa dengan leluasa menyatakan tentang kakeknya, Siraj Ul Haque, yang berasal dari Uttar Pradesh, India Utara.  Bahkan dalam satu satu blognya, dijelaskan bahwa kakeknya adalah orang India asli, sedangkan ayah mereka adalah orang Pakistan.  Namun, ini tidak menjadi masalah. Marissa Haque tetap orang Indonesia. 

Bandingkan Marissa dengan Ahok.Berkali-kali Ahok menekankan bahwa dia adalah orang Indonesia.  Seakan dia harus berjuang hanya untuk mendapat pengakuan untuk hal yang satu ini.  PR yang tidak perlu dikerjakan oleh Marissa saat ia mencalonkan diri sebagai Wagub Banten. 

Beberapa kecaman tentang Ahok bertebaran, menyebut dia CINA dan mempertanyakan rasa nasionalismenya terhadap Indonesia.  Apa sebenarnya arti kata CINA di Indonesia?  Kebanyakan menyebutkan, orang CINA pantas disebut demikian karena nenek moyang mereka berasal dari CINA, bukan dari Indonesia.  

Inilah yang tidak terjadi pada Marissa Haque, yang nenek moyangnya juga tidak berasal dari Indonesia.  Tidak ada yang meragukan nasionalismenya, dengan menyebut dia sebagai orang Pakistan atau India.  Padahal, jelas sekali dia menyatakan bahwa kakek dan ayahnya bukan orang Indonesia. 

Inilah diskriminasi yang masih mengakar, dan seringkali tidak disadari di Indonesia. Padahal, menurut penjelasan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006, konsep Indonesia asli adalah orang yang menjadi warga negara sejak lahir dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain atas kehendaknya sendiri.

Lalu, ketentuan Pasal 4 menegaskan bahwa anak yang dilahirkan di wilayah Negara Republik Indonesia dianggap Warga Negara Indonesia sekalipun status Kewarganegaraan orang tuanya tidak jelas. Jadi, mengidentifikasi Ahok sebagai CINA sudah bisa dianggap melanggar hukum.  

Mengapa sebutan CINA ini begitu ditekankan?  Padahal, ada banyak sekali migran-migran dari India dan Timur Tengah di Indonesia?  Tapi, hanya CINA yang seolah berbeda. 

Dan apa arti CINA itu sendiri?  CINA yang mana?  Sedangkan, garis perbatasan negara selalu berubah-ubah.  Yang dinamakan CINA sekarang bukanlah lagi Cina yang dulu.  Ada Taiwan dan RRT, yang keduanya disebut CINA, namun dengan ideologi yang cukup berbeda. 

Kalau kita menganggap bahwa suku Han adalah etnis Cina yang asli, etnis yang dianggap asli pun sudah banyak tercampur oleh darah Mongolia karena penjajahan bertubi-tubi.  Sedangkan orang Cina yang tinggal di sebelah Barat, juga telah bercampur dengan mereka-mereka yang tinggal di perbatasan Kazahktan dan Afganistan.  Karena itulah, di bagian itu, banyak orang yang berhidung mancung dibanding yang lain.  Bila kita menganggap murni sebagai yang lebih tua, sebenarnya sebagian nenek moyang penduduk Nusantara asalnya dari Yunan (Cina Selatan). 

Beribu-ribu tahun yang lalu mereka telah bermigrasi dan menyebar di beberapa kepulauan di Indonesia.  Jadi, bukankah mereka sebenarnya bisa dianggap sebagai Cina yang lebih murni daripada Cina di negaranya yang telah tercampur dengan darah Mongolia?   Antara Cina dan bukan Cina di Nusantara seharusnya tidak menjadi masalah, karena mayoritas dari mereka yang merasa pribumi sendiri adalah para migran. 

Kalau banyak orang akan ngotot bahwa identitas itu tergantung dari mana nenek moyang kita berasal, mungkin orang Indonesia akan berganti dengan orang Persia, orang Arab, orang India, dan orang Cina, karena yang nenek moyangnya berasal dari tempat yang disebut Indonesia akan jarang sekali, bila kita memang mau menelurusi ke belakang.   Namun, pemerintah penjajahan Belanda menginginkan adanya adu domba. 

Sejak abad ke-18, diadakan pemisahan antara mereka yang dianggap Cina dan mereka yang disebut pribumi.  Hal ini dilanjutkan dengan adanya Staats Regeling, Staatsblad No. 1917-30, yang mengharuskan mereka mempunyai identitas sebagai Cina atau pribumi.  Mereka yang merasa dan diharuskan menjadi Cina, ironisnya adalah manusia-manusia yang baru saja datang dari Negara Cina – yaitu mereka yang kebanyakan telah tercampur dengan Mongolia.  Sedangkan, para pendatang dari Yunan, akhirnya harus disebut Indonesia pribumi. 

Tentu, dalam masa perang, sering kali ada kekacauan identitas.  Perkawinan silang juga terjadi dari dulu.  Plus, adanya perselingkuhan dan lain-lain, yang menambah tidak mungkinnya lagi, seseorang mempunyai etnis yang murni.   Diskriminasi pun berlanjut.  Dari kolom KTP sampai passport, stempel CINA masih melekat.

 Sekarang, stempel seperti ini telah ditiadakan, namun sebutan CINA masih bergentayangan.  Tidak peduli, mereka lahir dan besar di Indonesia dan nenek moyangnya telah bergenerasi tinggal di Indonesia.  Yang dianggap CINA sering kali tetaplah CINA. 

Diskriminasi seperti ini bisa dianggap sepele, namun ketika kerusuhan Mei 1998 terjadi, kita bisa melihat, diskriminasi ini bukan hal yang remeh.  Begitu juga dengan munculnya tokoh seperti Ahok sebagai calon gubernur.  Masih saja yang dijadikan bahan untuk menjatuhkan dia adalah kecinaannya.

Tentu saja diskriminasi bisa datang dari berbagai pihak.  Mereka yang merasa CINA, misalnya, melarang anaknya berpacaran dengan yang dianggap PRIBUMI. Memang, kebanyakan manusia menderita amnesia sejarah, sehingga mereka berpaku pada etnisitas yang bisa menimbulkan rasisme luar biasa tanpa disadari.  


Saya telah tinggal di beberapa negara, dan kebanyakan dari teman saya di luar negeri menyebut saya orang Indonesia, karena kebetulan saya lahir dan besar di negara yang sekarang bernama Indonesia, dan berwarga negara Indonesia.  Namun, ketika saya pulang, ke tempat saya dilahirkan, saya masih disebut CINA.  Sebutan yang sangat mengejutkan beberapa teman saya di negara lain.  Karena, bagi mereka, tempat kelahiran dan kewarganegaraan saya sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menyebut saya orang Indonesia. 

Anehnya, ketika saya mempertanyakan sebutan CINA ini di negara saya dilahirkan dan dibesarkan, justru di sinilah, masih banyak yang menuduh saya mengada-ada, tidak saja dari mereka yang dianggap PRIBUMI namun juga yang disebut CINA.  Rasisme yang ditanamkan oleh pemerintah kolonial Belanda masih mempunyai dampak luar biasa!


Soe Tjen Marching (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 23 April 1971) adalah seorang Indonesianis, penulis, dan feminis. Alumnus SMAK Sint Louis Surabaya dan Universitas Kristen Petra Surabaya ini memperoleh gelar PhD dari Universitas Monash, Australi,a dengan menulis disertasi tentang otobiografi dan buku harian perempuan-perempuan Indonesia. Ia telah diundang sebagai dosen tamu di berbagai Universitas di Australia, Britania dan Eropa. 

35 comments:

  1. mantap banget. padat dan sangat jelas poinnya. artikel yg memberi pencerahan kepada kita semua anak bangsa indonesia.

    ReplyDelete
  2. Saya setuju bahwa pemerintah dan rakyat Indonesia tidak boleh dan tidak berhak menggunakan stempel Cina lagi dalam kehidupan bernegara dan berpolitik, seperti dalam hal Ahok ini. Ke-Cina-an banyak diangkat ketika mau menjatuhkan lawan yang keturunan Tionghoa, walaupun yang bersangkutan sudah turun temurun di Indonesia. Potensinya untuk menjadi eksplosif besar sekali, apalagi jika digabungkan dengan kepekaan agama (Islam), sehingga Ras and Agama diangkat menjadi satu.

    Akan tetapi, saya tidak setuju bahwa orang Tionghoa di Indonesia tidak boleh disebut Cina atau Tionghoa lagi. Seseorang yang mempunyai identitas satu, dua, bahkan tiga itu sudah biasa. Misalnya teman saya orang Yahudi dari Rusia yang berimigrasi ke Amerika Serikat. Dia Yahudi, menjalani ritual Yahudi (walaupun tidak taat), berbahasa Rusia lancar dan suka minum vodka dan main catur, tetapi berkewarganegaraan USA dan sangat bangga dengan ke-Amerika-annya.

    Identitas itu serahkan kepada orangnya atau kaumnya sendiri. Kalau mereka masih mau dipanggil Cina atau Tionghoa, ya silakan. Kalau tidak mau, ya nggak apa. Tidak semua orang Tionghoa seperti mBak Soe Tjen ini yang hanya merasa Indonesia, dan tidak merasa Cina sama sekali.

    Identitas tambahan itu seharusnya digunakan untuk memperkaya budaya bangsa Indonesia. Misalnya Bahasa Betawi pun menyerap bahasa Hokkian (Cina), karena untuk menghitung uang mereka pakai cepe, ceceng, ceban, goban, gope, jigo.

    ReplyDelete
  3. Uraian Soe Tjen diatas adalah ciri, fotocopy logika generasi muda, notabene generasi A-hok, Tionghoa-Indonesia zaman sekarang. Generasi ini menyangkal fakta kehidupan yang dinyatakan dalam pepatah Jerman,
    Recht haben und Recht bekommen,sind zwei paar Schuhe.
    Generasi muda yang tidak sabaran, selalu kesusu.
    Antipathy warga pribumi terhadap kaum Cina adalah fakta, seperti bara dalam sekam. Seharusnya A-hok jangan kipas-kipas sekam yang ada baranya. A-hok boleh kipas2 di Bangka-Belitung atau Singkawang, bersikaplah bijak, ojo ngompor ning pulau Jawa.
    Sifat rasis orang Cina, saya yakin, lebih besar daripada rasisnya kaum pribumi.
    Jangan mengambil contoh pada Obama di Amerika, sebab beruntung Obama besar di Jakarta dan Hawaii. Coba membaca sejarah rasisme di Amerika, Ku-kluk-klan, atau Martin Luther King. Tanya Billy dan Hillary Clinton, yang seumur saya, apakah mereka 50 tahun silam boleh duduk disamping orang Amerika kulit berwarna ?
    Satu fenomena di Indonesia, yang saya tidak bisa mengerti, yaitu : Ketika PP Nomor 10 tahun 1959 dikeluarkan, ribuan orang Cina, Arab dan India, pada bingung. Saya masih ingat betul, bagaimana encek2 Cina bermusyawarah dengan teman2 dagangnya yang bernama Attamimi, Bawazir, Al Habsyie, Sungkar, Basalamah, Alatas, Assegaf, Muhajir, Al Bakri..dll, tindakan apakah selanjutnya yang harus mereka lakukan. Banyak dari mereka memilih menjadi WNI, pindah kedaerah swatantra tingkat I atau II, dan tidak sedikit dari mereka yang pulang ke Tiongkok, Bombay dan Hadratmaut. Pertanyaan saya adalah : mengapa sampai sekarang Cina tetap saja Cina, sedangkan Arab, yang dulu sederajat dengan Cina, sekarang menjadi WNI-Kelas-Satu mengungguli pribumi ?????

    ReplyDelete
    Replies
    1. WNI keturunan arab mudah diterima mungkin krn faktor agama Islam. Orang pribumi tidak punya hambatan piskologi bersosialisasi dg Arab2 dr Hadramaut dsb krn sesama muslim. Kalau chinese kayaknya agak susah sih. Makanya, kalau gak salah Junus Jahya dulu rajin kampanye agar orang2 Tionghoa di Indonesia sebaiknya masuk Islam agar asimilasi bisa berjalan lancar dan mulus.

      Delete
  4. Soe Tjen oh Soe Tjen, cobalah introspeksi ! Bangsa yang paling rasis adalah orang Jepang, Cina dan Korea. Justru orang2 pribumi, kulit sawo-matang, di Asia Tenggara, termasuk Nusantara, lah yang paling toleran. Kolonial Belanda memang brengsek dan bajingan, namun argumentasi-mu terlalu murah untuk selalu menyalahkan si Belanda. Babu dan sopir Indonesia yang bekerja dirumah-tangga Cina, mulai mereka masih gendhok atau kacung, sampai tua-bangka, tetap saja miskin-melarat. Sedangkan si juragan bisa menyekolahkan anak2-nya keluar negeri, punya rumah di Singapur, Australia dan Amerika. Sebelum lu menuntut keadilan dari orang lain, berbuatlah adil kepada babu yang memomong lu, mulai bayi sampai jadi PhD. Berbuatlah adil kepada sopir-mu, yang mengantar dan menjemput lu tiap hari, dari Taman Kanak2 sampai lulus SMA. Janganlah lu anggap, khan mereka sudah digaji ! Apakah lu mau bekerja dengan gaji sekecil mereka ? Mereka bukannya bodoh, hanya nasibnya yang kurang beruntung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... Memang di masyarakat selalu ada ungkapan begini: kerja sama Cina ya kayak gitu, soro! Kerja sama orang Cina itu menderita, penghasilan gak seberapa, sering dimarahi. Tapi kalau keluar juga susah karena butuh makan, sementara gak bisa buka usaha sendiri.

      Tapi ketika kerja sama sesama pribumi juga kondisi sama saja. Si pekerja tetap gak puas, lalu komentar: Bos saya itu pelitnya sama saja dengan bos Cina! Sampai sekarang saya masih dengar ungkapan ini di masyarakat.

      Delete
    2. Ya, memang orang Indonesia pribumi terutama orang Jawa memang paling toleran. Yang 1945-1949 sebagai TNI menembaki orang-orang Cina yang sedang mengungsi dari perang. Yang 1959-1960 mengusir ratusan ribu warga Cina dari desa-desa. Yang 1965-1966 membantai ratusan ribu warga Cina krn dituduh PKI. Yang 1998 membakar pecinan di Jakarta dan memperkosa ratusan perempuan-perempuan Cina. Paling toleran di neraka jahanam.

      Pembantu-pembantu yang kerja di keluarga pribumi, apakah mereka diperlakukan lebih baik? Sopir keluarga saya, ikut kerja sudah 30 tahun, masih setia. Anak2nya pun kerja menjadi pegawai pembukuan. Ada kenaikannya dari satu generasi ke berikutnya. Kalau mau kaya, ambillah risiko, berdagang. Dulu Liem Sioe Liong keliling kampung2 berdagang kelontong. Apa beliau kaya dalam sekejap. Baca perjalanan hidup orang2 sukses di Indonesia, baik Jawa, Cina, Flores, Arab dll.

      Kalau di negara maju, ada standarnya, harus bayar pajak, harus payar asuransi kesehatan, harus ada batas jam kerjanya. Itu tanggung jawab pemerintah, presiden, DPR, bupati DPRD, walikota, dll., untuk membuatkan undang-undangnya. Pemerintahnya pada ribut korupsi, memeras pengusaha yang mau mengurus ijin. Pemerintah orang apa? Orang Cina?

      Pikir dulu sebelum komentar. Jangan asal mangap dan menunjukkan kebodohanmu.

      Delete
    3. Semua kejadian yang lu beberkan diatas adalah akibat perbuatan orang2 Cina macam lu orang.
      Tukang KKN seperti Liem. Dinegara maju orang Cina lah yang paling licik menipu negara, kerja gelap, menipu pajak, menipu asuransi kesehatan, penduduk gelap, dll.
      Orang Cina macam lu orang, membenarkan penyuapan, menyalahkan pejabat pribumi. Seandainya orang Jawa tidak toleran, orang cina macam lu orang, pasti sudah mathek kabeh.
      Lu itu ciri khas cino tak tau diri.

      Delete
    4. Anonymous yang menuduh Cina tak tahu diri. Kamu ini khas orang picik tidak berpendidikan. Yang membayar suap itu Cina doang, atau suku lain juga? Coba pikir. Yang bisa memberantas ialah pejabatnya bukan pengusahanya. Di Singapura, pejabatnya orang apa? 80% Cina! Ada korupsi? Tidak ada.

      Orang macam kamu ini, kalau memperkosa, lalu menyalahkan perempuannya: kenapa lu buat gua jadi nafsu? Kalau merampok, menyalahkan korbannya: kenapa lu bawa uang, jadinya gua kepengen ngrampok. Tidak heran kalau kamu tidak mampu berdagang, berusaha, hanya jadi pegawai saja, lalu pengusaha yang menurutmu sukses lalu kau maki-maki. Seperti Bakrie / Lapindo. Setelah mengebor keluar banjir lumpur, yang disalahkan penduduknya: kenapa lu punya rumah di sekitar sumur bor gas gua?

      Pengusaha yang sukses di Indonesia jaman sekarang bukan hanya Cina saja. Belajarlah dari pengalaman mereka. Pasti perjalanan hidup mereka sama dengan kaum Cina pengusaha / pedagang. Banting tulang, hemat, cari modal sana sini, pelan-pelan bayar modal, membesarkan usahanya. Kadang2 pun mereka harus bayar suap krn iklim usaha Indonesia memang brengsek. Makanya, jangan asal mangap saja, krn itu menunjukkan kebodohan otakmu yang cetek.

      Delete
  5. masalahnya lebih ke ekonomi dan kecemburuan sosial kayak ilustrasi pembantu rumah tangga itu. kalo ekonomi pribumi semaju tionghoa aq yakin isu rasial gak akan laku. ujungujungnya urusan perut juga.

    ReplyDelete
  6. dari dulu wong pribumi itu mengincar jabatan politik birokrasi pns tni polri alias priyayi utk cari nafkah dan prestis. lha kalo wong tionghoa yg dianggap sdh maju di bisnis ikut2an merebut jabatan publik maka lahannya wong pribumi jadi makin sempit. mungkin itu yg menyebabkan ahok diserang dgn isu cina. kira2 begitu pendapatku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. "... lha kalo wong tionghoa yg dianggap sdh maju di bisnis ikut2an merebut jabatan publik maka lahannya wong pribumi jadi makin sempit". Wong cilik, nah ini contoh cara berpikir yang sempit dan salah. Tionghoa itu bagian integral dari masyarakat Indonesia. Inilah yang dipermasalahkan Soe Tjen. Sebutan Cina itu bukan hanya identitas, tapi dijadikan alat diskriminasi: ah kau kan sudah makmur di bidang perdagangan, jangan kau masuk di politik. Lahan perdagangan kan terbuka sekarang, bukan hanya keturunan Tionghoa lagi. Ayo manfaatkan, dan saling memasuki lahan satu sama lain, dengan demikian barulah RI menjadi Bhinneka Tunggal Ika.

      Delete
  7. tulisan soe tjen dan komentar2 yg ada sangat menarik. kita jadi tahu pandangan intelektual tionghoa tentang kehidupan sosial politik di tanah air.

    ReplyDelete
  8. semoga kita semakin bersatu, hapus diskriminasi dlm bentuk apa pun.

    ReplyDelete
  9. Soe Tjen : Mengidentifikasi Ahok sebagai CINA sudah bisa dianggap melanggar hukum. Secara hukum, orang yang melanggar harus dihukum. Tolong dijelaskan KUHP Bab, pasal dan ayat berapa ? Dan sangsi hukumnya apa ? Siapa yang harus menghukum ? Polisi, jaksa, hakim ? Semua manusia yang tidak buta, bisa melihat kenyataan, bahwa Ahok adalah Cina.
    Orang di Tiongkok pun menyebut Ahok sebagai Cina, atau Hua-ren. Pengadilan dimana yang bisa menampung 1,6 Milliard terdakwa ? Ya, ya, Tionghoa-Indonesia raganya di Indonesia, tetapi otaknya di bulan. Bermata tak melihat, bertelinga tak mendengar.

    ReplyDelete
  10. Para kolonial kulit putih asal Eropa memang licik luar biasa. Si Belanda bilang nenek-moyang penduduk Nusantara adalah orang asal Yunnan. Jadi si Belanda boleh menjajah Nusantara, dengan alasan : Pulau2 ini toh bukan milik kalian, karena kalian toh juga pendatang dari Yunnan. Demikian juga dengan benua Amerika, si kulit putih berteori, penduduk asli Amerika adalah orang Siberia. Jadi bule2 boleh menjajah Amerika.
    Saya sudah keliling keseluruh Yunnan, tetapi disana saya belum pernah menemukan manusia yang mirip wajahnya seperti teman2 Indonesia saya, Slamet dan Untung, dari Jawa, atau Djong dari Flores.
    Yah, kalau Tionghoa ingin jadi bupati atau gubernur di Indonesia, maka teori bule-nya dipakai; nenek moyang kita sama2 dari Yunnan. Tetapi kalau mau cari pembantu, istilah hwana yang dipakai.
    Suatu hari saya akan mengajak Bung Hurek ke Yunnan, untuk membuktikan kebenaran itu. Memang ada ratusan penduduk Tiongkok yang wajahnya mirip suku Ambon, sebab mereka adalah keturunan campuran perempuan pribumi Timor, Rote atau Flores dengan lelaki Tionghoa, yang pindah ke RRT pada tahun 1960. Sayang nenek2 pribumi asli NTT yang ikut suaminya pindah ke Tiongkok sudah meninggal semuanya.

    ReplyDelete
  11. Saya sebagai orang Jawa hanya mau berbicara dengan saudara-saudara saya yang dapat berpikir secara maju dan bisa berintrospeksi.

    Sejarah mengatakan bahwa MAYORITAS Pribumi itu tidak berpendidikan, dan hampir selama kurang lebih 3 abad, sebagian besar dari mereka DILARANG/tidak bisa sekolah karena Belanda. Ya ada benarnya lah orang Jawa dibilang malas, mau dapat hasil tanpa usaha (contoh: para koruptor), susah berpikir maju, ITU SEMUA TERBENTUK SELAMA 300 TAHUN. bayangkan saja, dari kebiasaan jadi hobi, dan dari hobi jadi KARAKTER. jadi selama ini KARAKTER ORANG JAWA DIRUSAK OLEH Belanda selama 300 tahun. jelas ada yang dari mereka jadi kriminal, karena mereka tidak punya pekerjaan. nah, faktor kemiskinan lah yang juga mendorong adanya kriminalitas. jadi bagi kita orang Jawa, Mulailah BERUBAH dan jangan menyalahkan Bos-bos atau etnis lainnya, kita seharusnya bercermin diri, dan yang kita bisa petik dari orang cina adalah KERJA KERASNYA

    Sementara itu, Orang cina dijadikan kelas 2 oleh belanda dan mereka BISA SEKOLAH DAN BERDAGANG Bebas selama lebih dari "300 TAHUN". ya jelas lah mereka jadi kaya, karena mereka dikasih kesempatan dengan belanda. nah dari inilah Komunitas cina Dituduh oleh pribumi bahwa sebagian besar dari orang Cina adalah PENGKHIANAT,
    karena mereka berbelot kepada belanda dan MENINGGALKAN para pribumi menderita, Orang Cina semakin naik dan sayangnya pribumi semakin menurun ( sampai ada sosok Soekarno, Bung Tomo, Sudirman, dll yang dapat memutar balikan penjajahan Belanda, note: Sudirman juga mengusir penjajah Inggris)

    UNTUNGNYA, "SEBAGIAN KECIL" dari orang cina masih ada yang tetap setia pada pribumi, merekalah yang seperti: Ahok, Marie Pangestu, VJ Daniel, Agnes Monica, dll. mereka adalah Cina Nasionalis yang SEJATI

    Maka ada baiknya saudara-saudaraku orang cina, kalau kita menggenapkan "BHINEKA TUNGGAL IKA" yaitu berbeda-beda tetap satu, memang kalian memegang lebih dari 50% ekonomi Indonesia. tetapi apakah kalian mau bersatu kepada Pribumi yang telah kalian tinggalkan selama lebih dari 300 tahun yang melarat ? ayo bangun Divine connection dengan mereka

    Saudara-saudaraku orang cina, memang kebanyakan pribumi selalu memusuhi kalian, menuduh kalian, tetapi kebanyakan dari kalian (mayoritas Teman-teman saya orang Cina) juga mennganggap Pribumi: Hitam(rasis), Bau, Maling, Miskin, Kelas Pembantu, Koruptor, dll. kalau memang faktanya mereka begitu ya jangan makin dikutukin, malah kalian makin memperburuk keadaan. karena "hidup dan mati dikuasai lidah siapa yang suka menggemakannya akan memakan buahnya" (amsal 18:21)

    jadilah seperti ahok,dia peduli dengan saudara-saudaranya yang bahkan bepandangan beda dalam agama. Ubah dan Koreksi bangsa ini, jangan mengkhianati bangsa ini

    saudara-saudaraku orang jawa, kalau kita tau latar belakang kita malas dan main belakang juga mudah diadu domba , maka kita harus bisa berintrospeksi untuk menjadi: Kerja keras dalam anugerag Tuhan, Jujur dan Tegas, dan juga berhikmat, berpengetahuan, dan mempunyai wahyu. ayo ! Optimis dan Bersatu membangun Indonesia tercinta !

    ReplyDelete
  12. bukan main, diskusi terbuka membahas isu SARA yg tergolong sangat sensitif di era orde baru. itulah manfaatnya keterbukaan, demokrasi, dan reformasi. Viva Indonesia!!!!

    ReplyDelete
  13. ahok lbh cocok jadi wagub di belitung bukan jkt. jokowi pantas jadi gubernur jateng bukan jkt. kalau kayak gini ntar org aceh jadi gubernur papua. org maluku jadi gubernur sumatra barat.

    ReplyDelete
  14. Yang jelas, bupati di kampung saya, Lembata, NTT, orang Tionghoa bernama Yance Sunur dan tidak ada masalah. Orang Lamaholot (etnis asli di Flores bagian timur) sejak dulu tidak punya masalah dengan orang SINA (sebutan CINA di kampung saya karena bahasa Lamaholot tidak punya C, yg diubah menjadi S). Saya yg Lamaholot biasa main bareng teman yg SINA, sebaliknya orang SINA di Flores sering ke desa dan menginap di rumah orang desa, ngobrol, makan bersama, minum tuak hehehehe...

    Karena itu, ketika pemilihan bupati tahun 2011 isu Lamaholot vs SINA benar-benar tidak laku. Apalagi dua bupati sebelumnya yang asli Lamaholot kayak saya dinilai tidak berhasil.

    ReplyDelete
  15. semoga kemenangan Jokowi-Ahok membawa pencerahan bagi kita semua! Merdeka!!!!

    ReplyDelete
  16. Terbukti rakyat Jakarta mayoritas tidak peduli Cina atau tidak. Terbukti Jawa bisa berpartner dengan Cina, seperti kacang Cina dan gula Jawa dipadukan jadi Ampyang yang gurih dan manis. Selamat bekerja Pak Joko, selamat bekerja Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama. Hidup Indonesia bersatu, bersih, dan benar-benar Merdeka!

    ReplyDelete
  17. Saya asli orang pribumi. Ibu angkat saya keturunan tionghoa. Saya merasa ada perbedaan gaya berpikir orang tionghoa dan pribumi. Coba perhatikan, setiap saya melihat orang pribumi kurang menghargai waktu dan dipakai waktunya hanya untuk bersenang-senang, kurang ada jiwa mandiri. Sedangkan orang thionghoa sudah sejak kecil sudah didik untuk mandiri. Oh ya karakter orang thionghoa itu hampir sama dengan karakther orang batak keras dan mandiri. coba seandainya orang pribumi mau belajar dari mereka dan belajar lebih pintar dan kreatif bukan kerja keras(Kata kerja keras itu tidak berlaku dijaman ini), pasti banyak yang sukses. Saya bukan ingin menghina tetapi saya sebagai orang pribumi turut prihatin dengan komentar yang diatas. coba mau terbuka dan belajar dari mereka, banyak ilmu yang bisa kita dapat dan kita juga bisa mendapatkan pola pikir mereka yang begitu hebat. Satu hal lagi, hubungan orang thionghoa satu dengan yang lain sangat erat, makanya dalam berdagang mereka mendapatkan peluang yang begitu luas. Sedangkan orang pribumi satu dengan yang lain saja masih sering ribut. maaf jika saya membangkang dan lancang terhadap warganegara tercinta ini.

    ReplyDelete
  18. Saya pribumi (konon) asli dari suku Jawa dengan wajah yang kata orang china sendiri mirip mereka (kata bos saya yang orang china makassar katanya saya kayak Ali Baba) setuju dengan tulisan di atas dan sangat tidak setuju dengan yang namanya diskriminasi karena bagi saya pribadi tidak ada satu ras pun yg lebih unggul daripada ras yang lain dan hal ini sesuai dengan keyakinan yang saya anut "bahwa dijadikannya manusia yang berbeda-beda itu adalah untuk saling kenal mengenal (berbaur)".

    Memang benar situasi sekarang ini adalah akibat politik pemisahan ras yang dilakukan oleh Belanda dan terus dipertahankan oleh rezim yang berkuasa di Indonesia, utamanya oleh rezim-rezim lama.
    Namun hal ini juga tidak terlepas dari pemahaman budaya di lingkungan keluarga tempat kita tumbuh dibesarkan, dengan atau tanpa disadari ajaran/pemahaman di keluarga kita masing-masing juga turut melestarikan ketidakharmonisan bernegara tsb, baik itu di keluarga jawa, keluarga sunda, keluarga sumatera, keluarga arab, keluarga cina dll.dengan berbagai macam alasan seperti: perbedaan budaya, menjaga trah, menjaga tradisi, menjaga gen agar tidak bercampur dengan ras yang lain karena khawatir keturunan yang dihasilkan tidak seperti orangtuanya.
    Saya banyak bergaul dengan orang-orang lain ras, utamanya dari ras china, arab dan india sejak mereka sekolah sampai mereka menikah. Saat sekolah/kuliah memang tidak terlalu kelihatan "beda"nya tapi begitu berpacaran atau menikah kelihatan teman-teman (sahabat-sahabat) saya itu selalu memilih pasangan dari ras mereka sendiri, tentunya hal ini menimbulkan pertanyaan dalam diri saya sendiri yang kebetulan berpandangan egaliter dan anti diskriminasi. Saya tanya ke mereka "kenapa sih kamu milih pasangan dari kalangan kamu sendiri, gak boleh ya sama ortu?" dan apa jawaban mereka? temen saya yang china mengatakan "iya nyokap gue gak setuju kalo gue nikah sama pribumi karena katanya bisa merusak keturunan (warna kulit) tapi kalo sama bule masih boleh karena ada di atas (kulit putih). Dalam hati saya bertanya sejak kapan mulia tidaknya seseorang ditentukan oleh warna kulit?.
    Kemudian dengan pertanyaan yang sama saya ajukan kepada teman yang etnis arab dan jawabannya "iye gue gak boleh sama bokap kalo nikah sama orang pribumi, harus sama dengan orang Arab juga karena untuk menjaga garis keturunan (bentuk fisik) dari leluhur mereka di arab sana apalagi kalo konon katanya ada hubungan langsung dengan darah nabi Muhammad SAW (aneh setahu saya nabi termulia tsb tidak pernah mengajarkan hal-hal yang seperti ini)
    Hal-hal yang saya ceritakan di atas memang tidak mutlak karena ada beberapa keluarga yang sudah maju pemikirannya (tidak berpemahaman ashobiyah (kesukuan/kebangsaan) yang sempit), seperti apa yang saya alami sendiri; istri saya keturunan dari 3 ras yaitu jawa, china dan arab (dengan kulit putih meskipun matanya tidak sipit) sehingga anak-anak saya terlihat seperti keturunan china bahkan dalam beberapa hal terlihat lebih china daripada istri saya (mata sipit dan kulit putih) dan saya sendiri jawa asli dengan kulit sawo matang di bagian luar. Tapi keluarga-keluarga yang seperti keluarga istri saya apabila dibandingkan dengan keluarga-keluarga yang masih kolot (baik pribumi, china, arab dll) prosentasenya masih lebih banyak keluarga yang kolot.
    Kenyataan-kenyataan semacam ini tidak bisa kita pungkiri malah melanggengkan rasa kebencian terpendam yang bagai api dalam sekam diantara masing-masing etnis di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negara Indonesia yang sama-sama kita cintai ini.

    Tanggapan saya ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan atau menyerang etnis tertentu, justru kita generasi muda Indonesia yang sekarang ini harus berkomitmen untuk mewujudkan Indonesia Raya yang lebih baik tanpa diskriminasi dengan TIDAK MENGAJARKAN LAGI KEPADA ANAK-ANAK KITA PEMAHAMAN KESUKUAN/KEBANGSAAN RAS KITA YANG LEBIH BAIK DARIPADA SUKU/BANGSA/RAS YANG LAIN seperti yang dulu pernah kita dapatkan dari orang tua kita masing-masing.
    Salam persatuan..

    ReplyDelete
  19. Su cen...next time gak usah bawa2 topic ttg "oh my cina terzolimi..." gak mungkin lah gak ada comment sara atau org2 yang gak ngondok...kalo nulis mending in english...maybe some more educated ppl can appreciate your piece. Tp, argumentasi dan jawaban mu ttg CINA di indonesia masi so tame. Tp aku akui nek...tulisan mu bener2 TOP. It flows n is very insightful. V. Documented. No wonder u got Phd. Lol

    ReplyDelete
  20. Ama buat hurek...blogspots mu top gondos gandes mulak malik.
    upik...another side of surabaya and sekitarnya.
    Top

    ReplyDelete
  21. Salut sama pemikir muda yg progresif kayak Soe Tjen. Semoga tetap berpikir merdeka!!!!

    ReplyDelete
  22. Kuncinya TERBUKA DAN MAU BERGAUL. org cina terlalu mengasingkan diri. oya aku melakukan penelitian di fb hampir semua org cina yg aku amati profilny jarang yg menyukai artis/penyanyi/musisi pribumi keliatan mreka tdk nasionalisme

    ReplyDelete
  23. Itu membuktikan Pembauran Yg gagal, kalo keturunan arab, india dan lain2 lebih mudah bergaul dgn pribumi,..
    Kalo tionghoa masih sangat sulit, masih banyak Orang yg heran ketika ada org tionghoa berteman dgn pribumi, karna rata2 tionghoa sangat menjaga jarak dgn pribumi..
    Didunia maya saja sangat jelas terlihat contohnya di Medan, aku lihat Rata2 etnis tionghoanya tdk suka berteman dgn pribumi di fb..hampir semua tman nya adalah etnis tionghoa

    ReplyDelete
  24. Saya keturunan Tionghoa di Surabaya dan gak merasa susah tuh bergaul dengan "pribumi". Di Surabaya semua Tionghoa berbahasa Jawa Surabayan, dan makannya nasi pecel, nasi rawon, soto ayam, nasi bebek, semanggi. Entah apa yang dimaksud Anonymous dengan pembauran yang gagal. Pembauran yang gagal ialah pembauran yang memaksa Orang Tionghoa ganti nama, melarang Orang Tionghoa berbahasa Cina, melarang Orang Tionghoa beribadah menurut kepercayaan leluhurnya (Konghucu). Itu pembauran gagal total. Pembauran akan terjadi dengan alami dan para pendatang akan melebur dengan sendirinya apabila mereka tidak didiskriminasi, diberi ruang gerak selain perdagangan, dlsb. Kok Orang Tionghoa yang disalahkan terus. Kita ini sudah membaur rek. Yang merasa pribumi janganlah terus memandang dengan sirik dan dengki, tapi terimalah kami dengan tangan terbuka. Bukan hanya kalau kami memenangkan Piala Thomas, atau memberi sumbangan bencana alam, atau menjadi mualaf.

    ReplyDelete
  25. sebenarnya di indonesia keturunan china sudah berbaur diantaranya melalui petnikahan,setelah itu pilihan anak2 mereka ada dua macam,masuk kekeluarga salah satu ortu mereka,dalam agama maupun budaya,keturunannya ada yg melebur dan jadilah pribumi biasanya nanti cucu dan cicitnya akan nampak unsur chinanya, mata sipit dll.... yang kedua masuk kekelompok salah satu ortu yg keturunan china dan beranak pinak dan orang menyebutnya china..waktu jaman pa harto ada seorang keturunan china meminta ke pengadilan negri untuk dianggap pribumi dan membawa dokumen leluhurnya pengeran banten yg di-kejar2 belanda,dan ia beranak pinak diperkampungan china,namun ditolak dengan alasan budayanya sudah bergaya china

    ReplyDelete
  26. Karya tulis yang bagus

    Terima kasih Soe Tjen

    ReplyDelete
  27. Udah nga jaman sara-saraan

    ReplyDelete
  28. itu orang yang minta agar jokowi minta maap sama pki lho, tapi ya gak digubris

    ReplyDelete