05 September 2012

Ridwan S Harjono - Bhakti Persatuan dan Perpit Jatim

Ridwan memberikan bingkisan Lebaran di LPA Benowo, Surabaya.



Selama bulan Ramadan lalu, para pengusaha Tionghoa yang tergabung dalam Yayasan Bhakti Persatuan (YBP) dan Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS) blusukan ke berbagai lokasi untuk bakti sosial. Selama satu dekade lebih, Ridwan Soegianto Harjono (71) setia memimpin yayasan yang bermarkas di Kertajaya Indah Timur 31 Surabaya untuk menyantuni ribuan masyarakat kurang mampu.

Berikut wawancara LAMBERTUS HUREK dengan Ridwan S. Harjono:
    
Rupanya, bulan puasa lalu Anda dan para pengusaha lain sangat sibuk?

Betul. Dan itu memang sudah menjadi agenda rutin kami dalam 12 tahun terakhir setiap bulan Ramadan. Kami ingin sedikit berbagi dengan saudara-saudari kita umat muslim agar mereka dapat menjalankan ibadah puasa dan Lebaran dengan baik.

Mengapa Anda harus turun langsung untuk menemui warga?

Karena kami selalu ingin silaturahmi, bisa saling menyapa, saling kenal, menjalin persahabatan. Turun langsung ke lapangan juga membuat kita bisa lebih memahami berbagai persoalan riil yang dihadapi masyarakat bawah. Kami mendengar secara langsung laporan dari pengurus atau koordinator mereka. Kami juga ngobrol dengan pemulung, anak jalanan, anak yatim, tukang becak, dan sebagainya.

Apa saja yang diberikan kepada masyarakat saat baksos?

Bahan-bahan kebutuhan pokok seperti beras, biskuit, mi instan, kue-kue, buku tulis, gula pasir, sabun mandi, pasta gigi, dan sebagai. Semuanya merupakan sumbangan dari para pengusaha dan yayasan-yayasan yang tergabung dalam Yayasan Bhakti Persatuan. Syukurlah, setiap tahun jumlah paket yang disalurkan kepada masyarakat selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Berapa banyak masyarakat yang disantuni dalam baksos ini?

Untuk tahun ini kami memberikan 7.500 paket puasa dan Lebaran kepada masyarakat kurang mampu. Ramadan tahun lalu 5.000 paket. Jadi, jumlah sasaran kali ini meningkat 2.500 orang atau naik 50 persen. Mudah-mudahan tahun depan meningkat lagi karena semangat para pengusaha untuk baksos ini memang makin lama makin menggembirakan.

Lantas, bagaimana para pengusaha memilih kelompok sasaran?

Selama ini kami sudah punya jalinan kerja sama dengan berbagai panti asuhan dan yayasan sosial milik Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dan keluarga almarhum Bapak HM Noer yang menangani acara buka puasa bersama anak yatim dari Surabaya dan Madura. Kemudian komunitas pemulung di LPA (Lahan Pembuangan Akhir) Benowo, anak jalanan, dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia yang juga sering menyantuni anak yatim.

Ada yang berbeda dari baksos tahun ini?

Oh ya, tahun ini kami bekerja sama dengan pihak TNI dan Polri untuk bersama-sama menyantuni kaum duafa. Dengan Polrestabes Surabaya, kami turun langsung untuk menyalurkan paket Lebaran kepada sekitar 2.500 orang tukang becak di seluruh Kota Surabaya.

Kenapa tukang becak perlu mendapat perhatian khusus?

Seperti disampaikan oleh Bapak Alim Markus, ketua dewan pembina Yayasan Bhakti Persatuan, para tukang becak ini merupakan orang-orang yang hampir 24 jam berada di jalan raya. Mereka sebetulnya sangat membantu tugas kepolisian untuk menjaga keamanan kita sebagai masyarakat Surabaya. Kalau ada hal-hal mencurigakan, mereka bisa menyampaikan laporan kepada kepolisian. Kalau Surabaya aman dan damai, maka orang bisa bekerja dengan tenang, iklim usaha bisa berjalan dengan baik.

Kemudian, dengan TNI AD, kami bekerja sama dengan Kodim di Jl Gresik untuk bersilaturahmi dengan anak-anak yatim piatu. Mungkin suatu ketika kita bisa membuat proyek atau kegiatan lain yang lebih konkret, tidak hanya bakti sosial. Dan itu bisa dilaksanakan seperti pembuatan klinik jiwa di wilayah Ponorogo. Di sana kami membangun sebuah rumah sakit kecil, semacam puskesmas, untuk menangani warga yang mengalami keterbelakangan mental, kurang gizi, dan sejenisnya.

Bagaimana para pengusaha membagi waktu untuk baksos di tengah kesibukan mengurus perusahaan?

Ini sudah jadi komitmen kami untuk mengadakan bakti sosial kepada masyarakat. Para pengusaha itu punya tanggung jawab sosial. Sesibuk apa pun kita berusaha menyisihkan waktu agar bisa turun langsung bersilaturahmi dengan masyarakat. Orang sesibuk Pak Alim Markus pun bisa menyisihkan waktunya untuk menemui para tukang becak di halaman polrestabes dan ribuan anak yatim di Masjid Al Akbar.

Syukurlah, selama sepuluh tahun lebih komitmen para pengusaha terhadap masyarakat tidak berkurang. Buktinya, jumlah masyarakat yang dijangkau semakin bertambah dari tahun ke tahun. (*)


Ridwan sedang diwawancarai TVRI Jawa Timur.

BIODATA

Nama : Ridwan Soegianto Harjono
Nama Tionghoa : Tan Giok Twan
Lahir : Pandaan, Pasuruan, 1941
Jabatan : CEO Star Group (PT Ria Star)
Bidang Usaha : Perdagangan, industri, realestat, perbankan.
Pendidikan :
Sin Hua Surabaya (1955-1958)
Chiau Kong (1959-1961)

Organisasi :
Yayasan Bhakti Persatuan
Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa
Persahabatan Tiongkok-Indonesia
Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya

Alamat : Jl Kertajaya Indah Timur 31 Surabaya
    

3 comments:

  1. Engkoh Giok Twan yang terhormat. Bagaimana jika bakti sosial dan silaturahmi dilakuan bukannya setahun sekali, tetapi secara rutin sebulan sekali. Tanggal 9 setiap bulan. Thay-kong, Engkong dan papa kita mencari nafkah sebelum Republik Indonesia lahir, zaman Hindia Belanda.
    Generasi kita, anak-kita, mencari nafkah di Republik Indonesia. Pemerintah tidak mampu membantu rakyatnya, alangkah baiknya jika kita yang mampu, membantu rakyat yang kurang beruntung. Owe kira soal dana, bukanlah hal yang sulit bagi kita. Secara logika, orang menjadi kaya, karena menarik keuntungan dari orang2 yang miskin. Memang Kesejahteraan Rakyat adalah urusannya pemerintah, dengan uang pajak,
    namun kita semua maklum, apakah yang dapat diharapkan dari pejabat2 Indonesia.

    ReplyDelete
  2. mudah-mudahan para pengusaha ini bisa mengangkat perekonomian masyarakat. baksos itu baik tapi gak cukup krn cepat habis kalau dimakan. lebih baik berikan pancing dan bukan hanya ikannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fakta dipulau Jawa, orang jelata tidak mampu
      membeli pancingan. Kalau punya pancingan tidak tahu harus mancing dimana. Mancing ditambak, dikepruk orang. Mau bikin tambak sendiri, tidak memiliki lahan lagi. Mau mancing di kali,
      sungainya tercemar limbahnya pengusaha. Mancing di pantai, permukaan air mengkilat oleh limbah minyak solar. Mau mancing kelaut, tidak punya perahu.

      Delete