21 September 2012

Mahasiswa Universitas Ciputra kunjungi Hwie Tiauw Ka


Sekitar 90 mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya, Sabtu (15/9/2012) mengunjungi lima lokasi yang erat kaitannya dengan keberadaan masyarakat Tionghoa di Surabaya. Yang menarik, kunjungan ini bukan sekadar pelesiran biasa, melainkan sebagai bagian dari mata kuliah Cultural Understanding.

"Para mahasiswa ini dinilai selama kegiatan berlangsung. Kami berusaha mengembangkan pembelajaran langsung di lapangan," kata Suryo Prawiroatmodjo, salah satu dosen pembimbing mahasiswa International Hospitality and Tourism Business (IHTB) Universitas Ciputra.

Adapun lima objek wisata yang dipelajari para mahasiswa adalah Perkumpulan Hwie Tiauw Ka, pabrik misua Marga Mulya, Kelenteng Hong An Kiong, Kelenteng Hong Tiek Hian, dan rumah sembahyang keluarga Han di Jl Karet.

Dibagi dalam tiga grup masing-masing 30 orang, para mahasiswa terlihat sangat antusias. Tak hanya bertanya dan mencatat, arek-arek UC juga sibuk mengabadikan berbagai objek menarik dengan kamera profesional maupun ponsel.

Suasana guyub terasa di Gedung Hwie Tiauw Ka, Jl Slompretan 58. Sejumlah pengurus perkumpulan ini seperti Aliptojo menyambut kedatangan rombongan mahasiswa UC. Aliptojo sempat 'mengetes' apakah ada di antara puluhan mahasiswa itu yang mengenal Hwie Tiauw Ka. Ternyata hanya segelintir yang tahu meskipun sebagian besar mahasiswa UC ini keturunan Tionghoa.

Aliptojo kemudian meminta Elisa Christiana, pengurus lain, untuk menjelaskan sejarah dan perkembangan ketiga komunitas ini di Surabaya dan Indonesia. Kuliah yang diberikan Elisa sangat hidup mengingat selama ini dia dikenal sebagai dosen bahasa Tionghoa di UK Petra.

Menurut dia, Hwie Tiauw Ka merupakan perkumpulan masyarakat Tionghoa yang tertua di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara. Gedung pertemuan di Jalan Slompretan 58 telah berusia 192 tahun.

"Kita bisa melihat catatan tahun pendirian gedung ini di prasasti," kata Elisa. Dia mengajak mahasiswa UC melihat dua prasasti yang dipasang di tembok dekat meja persembahan.

Elisa harus menjelaskan makna tulisan di prasasti mengingat sebagian besar mahasiswa tak bisa membaca aksara Tionghoa. Menurut Elisa, prasasti itu berisi nama-nama donatur serta nama raja yang saat itu memerintah di Tiongkok. "Untuk membangun gedung ini saja butuh waktu 43 tahun, setahap demi setahap, karena uang yang mereka punya sangat terbatas," kata Elisa seraya tersenyum.

"Kita bersyukur masih ada prasasti sehingga kita yang hidup di zaman sekarang bisa mengetahui sejarah keberadaan Hwie Tiauw Ka di Surabaya," katanya.

1 comment: