06 September 2012

Janjian dulu baru ketemu

Sore tadi saya lihat di televisi wartawan gosip memburu Puput Melati di sebuah mal. Penyanyi cilik lawas ini berkali-kali menolak diwawancarai tapi si reporter ngotot.

Ucapan Puput pendek dan ketus. Si reporter kejar terus sambil lempar pertanyaan soal gosip. Rupanya begitulah cara kerja reporter infotainment dalam mencari berita. Main nyanggong, labrak, cegat... meskipun sumber berita jelas-jelas tak ingin bicara.

Saya kurang suka interview keroyokan ala jumpa pers. Atau rame-rame mencegat pejabat, artis, dan sumber berita lainnya. Saya suka one-on-one interview alias wawancara satu lawan satu. Rasanya lebih puas dan kesannya sangat mendalam.

Tapi kadang saya kena batunya ketika menghadapi tokoh-tokoh lawas, old school, berpendidikan Belanda atau 1950an. Saklek dan disiplin luar biasa. Kalau mau bertemu harus janjian atau appoinment dulu. Gak bisa ujug-ujug ketemu. Apalagi main seruduk ala awak infotainment.

"Anda sudah janjian sama saya," tanya seorang guru besar senior Universitas Airlangga ketika saya datang ke rumahnya.

"Belum Pak. Saya hanya minta waktu Bapak 30 menit saja!"

"Tidak bisa! Anda tidak appoinment! Anda tidak tahu tata krama."

Saya pun pulang. Malamnya saya menelepon beliau minta waktu bertemu di rumahnya. Beliau bilang dua hari lagi jam sekian on time.

Benar saja. Sepuluh menit sebelum jadwal yang disepakati beliau sudah menunggu saya di ruang tamu. Ada camilan, kopi yang enak. Obrolan pun mengalir lancar. Begitu banyak pengetahuan dan wawasan yang saya dapat dari tokoh itu. Saya pun jadi lupa pengalaman diusir dari luar pagar rumahnya dua hari silam.

Ternyata tak hanya Pak S yang menerapkan disiplin ala Belanda. Pak M juga menyuruh saya pulang secara halus karena datang ke rumahnya tanpa appointment. Beberapa tokoh lawas pun punya disiplin yang sama.

Yang kacau adalah tokoh-tokoh yang tak mengalami pendidikan Belanda. Khususnya orang Indonesia yang lahir di atas tahun 1969 alias mulai era Orde Baru. Selain kurang disiplin, tak biasa hidup dalam jadwal yang ketat, dan sering ingkar janji sendiri. Appoinment tujuh kali pun tak berguna. Makanya dicegat saja di plaza!

2 comments:

  1. Aku sering berselisih pendapat dengan istri-ku, jika ingin berkunjung kerumah anak2-kami. Istri-ku yang agak belandis, selalu sebelumnya menelpon ke-anak, kalau ingin berkunjung untuk menengok cucuk. Kalau anak-kami bilang, Ma, besok saja, sekarang anak-ku masih tidur, atau mertua-ku mau datang, maka setelah alat telpon ditutup, istri-ku ngomel2, udah tak usah kesana sama sekali. Sebaliknya pikiran-ku tetap seperti wong Cino-kolot, ingin datang ya datang, kalau tidak ada dirumah, ya pulang atau jalan2 ketempat lain. Masakah ada anak yang berani ngusir orang-tua-nya sendiri. Ergo, jadi orang-tua jangan kesusu mewariskan kekayaan kepada anak2. Tunggu sampai mati saja. Selama kita masih mempunyai harta yang dapat diwariskan, kita masih punya kartu Truff.
    Prinsip-nya tak ada seorangpun yang tidak punya waktu, semuanya tergantung kepada siapa yang datang, atau siapa yang ingin bicara. Kalau seorang bilang tidak ada waktu, berarti orang itu tidak menghormati kita. Ya sudah, kita tak perlu berhubungan dengan orang macam begitu.

    ReplyDelete