29 September 2012

Edwin Suryalaksana, Tjiwi Kimia, dan PITI

Edwin (tengah) bersama Bambang Sujanto (kiri) dan pengurus PITI Jatim.

Kerja keras dan dedikasi tinggi. Semangat itulah yang selalu ditekankan Edwin Suryalaksana, direktur PT Tjiwi Kimia Tbk kepada karyawannya. Kini, pabrik kertas kertas yang berlokasi di Sidoarjo itu pun semakin diperhitungkan di kancah dunia.

PT Tjiwi Kimia memproduksi berbagai jenis kertas tulis dan cetak baik untuk coated maupun uncoated dan berbagai produk perlengkapan kantor yang diminati pasar internasional. Karena itu, pihaknya harus secara konsisten menjaga kualitas dan kesinambungan produk guna memenuhi permintaan pasar di dalam dan luar negeri.

"Saat ini Tjiwi Kimia merupakan produsen stationery terbesar di dunia," kata Edwin Suryalaksana beberapa waktu lalu. Tjiwi Kimia sendiri mengandalkan penjualan dari ekspor dibanding pasar domestik. Komposisi ekspor mencapai 68 persen dibanding pasar lokal yang hanya 32 persen.

Kapasitas produksi yang dimiliki Tjiwi Kimia sebesar 1,13 juta ton per tahun untuk kertas, 320 ribu ton per tahun untuk alat tulis, dan 78 ribu ton per tahun untuk kertas kemasan.

Edwin mengatakan, sektor pulp dan kertas bisa menjadi salah satu penggerak perekonomian nasional dan mengantar bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Ada beberapa alasan. Di antaranya ,Indonesia adalah negara dengan lahan luas dan sangat subur serta produktif. Sepanjang dikelola dengan berkelanjutan, kondisi alam ini bagus untuk tanaman industri seperti pohon akasia dan eukaliptus.

Kedua jenis pohon ini di Indonesia untuk siap panen hanya 5-6 tahun. Di negara lain butuh waktu lebih panjang, bisa 25 tahun, bahkan 50 tahun. Selain itu, biaya produksi juga relatif bisa bersaing dengan produsen kertas dari negara-negara lain, seperti dari Skandinavia atau Amerika Serikat.

Nah, dengan semangat membawa Indonesia menjadi lebih baik inilah, menurut pengusaha muslim Tionghoa ini, Tjiwi Kimia memberdayakan masyarakat dalam produksinya. Saat ini Tjiwi Kimia menghasilkan berbagai jenis tas belanja (shopping bag) kertas bermerek dunia dengan menggandeng para ibu rumah tangga di kawasan Sidoarjo dan Mojokerto.

"Ada ribuan ibu rumah tangga yang terbantu perekonomian keluarganya dari usaha membuat shopping bag tersebut," ujar Edwin.

Tak hanya berupaya berperan dalam meningkatkan taraf kehidupan masyarakat, Tjiwi Kimia juga berkomitmen melestarikan lingkungan. Kayu yang dipakai, katanya, hanya berasal dari area hutan industri atau sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

"Kami hanya mengambil kayu dari hutan industri yang ditanam, panen, lalu ditanam lagi," tegasnya.




Kedekatan Edwin Suryalaksana dengan masyarakat jelas terlihat saat halalbihalal bersama masyarakat Kecamatan Balongbendo dan Tarik, yang dihadiri  Bupati Sidoarjo Saiful Ilah di halaman kantor Kecamatan Balongbendo belum lama ini. Camat Balongbendo Agustin Iriani selaku tuan rumah menilai Tjiwi Kimia selama ini sangat peduli dengan pembangunan di wilayah Balongbendo dan Tarik.

"Berbagai sarana sudah dibangun untuk menunjang dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Balongbendo dan sekitarnya. Bahkan, Rumah Pintar yang sangat megah dengan berbagai fasilitasnya telah dibangun oleh PT Tjiwi Kimia di Tarik. Untuk itu, kami mengucapkan banyak terima kasih,” ungkap Agustin.

PT Tjiwi Kimia berdiri pada 1973 di wilayah Kecamatan Tarik. Karena skala produksi yang terus meningkat, pabrik kertas ini terus meluas hingga ke wilayah Kecamatan Balongbendo. "Kurun waktu dari tahun 1973 sampai sekarang itu cukup lama. Alhamdulillah, perusahaan ini terus mengalami kemajuan yang pesat tanpa ada gejolak dengan lingkungan sekitar. Kuncinya adalah dengan terus menjaga hubungan baik dengan lingkungan sekitar dan menjadikan masyarakat sebagai mitra perusahaan," kata Edwin Suryalaksana.

Berbagai penghargaan pun telah diraih perusahaan publik dalam naungan Asia Pulp and Paper (APP) ini. Di antaranya penghargaan Primaniyarta untuk kategori pembangunan merek global dan eksportir berkinerja yang diserahkan oleh Wakil Presiden Boediono di Arena Pekan Raya Jakarta.

Tjiwi Kimia Tbk juga meraih dua sertifikat ISO 9001 Quality Management System (QMS) dan ISO 14001 Environmental Management System (EMS) sekaligus penghargaan selama  sepuluh tahun terus menerima sertifikat ISO. Penyerahan 10 Years Award oleh wakil SGS, lembaga yang memberi sertifikasi sistem manajemen berstandar internasional.

Tjiwi Kimia dinilai telah menunjukkan kesungguhan  untuk secara berkelanjutan terus mengembangkan diri menjadi lebih baik. Edwin Suryalaksana pun kian optimistis perusahaan yang dipimpinnya semakin mendekati world class company, sejajar dengan perusahaan-perusahaan internasional. (rek)


Edwin dan Salahuddin Wahid.


Pimpin PITI Dua Periode

Di tengah kesibukannya mengurus PT Tjiwi Kimia, Edwin Suryalaksana terlibat di berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Salah satunya menjadi pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Timur. Tak sekadar pengurus biasa, Edwin bahkan dipercaya menjadi ketua umum PITI Jawa Timur untuk periode 2011-2016.

Ini merupakan periode kedua Edwin memimpin organisasi mualaf Tionghoa itu. Sosok yang low profile, tak banyak bicara, tapi pekerja keras ini dianggap paling pas mengemudikan PITI yang terkenal dengan Masjid Cheng Hoo itu.

"Pak Edwin itu orangnya low profile dan cocok memimpin PITI Jatim," kata Sang Tjai dari Jember. Edwin dinilai berhasil melakukan konsolidasi organisasi dan rajin menyapa pengurus di kabupaten/kota.

“Program saya memang tidak muluk-muluk, tetapi realistis. Misalnya bagaimana komunikasi antara wilayah dan daerah dapat terwujud dengan baik. Karena sebuah organisasi tanpa komunikasi yang harmonis tidak akan mampu menciptakan organisasi yang kondusif. Yang jelas, saya juga mendoron anggota PITI untuk membaur ke masyarakat. PITI itu bukan organisasi yang eksklusif,” tegasnya.

Dalam melaksanakan syiar Islam, Edwin mengaku teringat tokoh PITI di Mojokerto, almarhum H Sarutomo, pendiri Perusahaan Rokok Bokormas. Sarutomo membangun sebuah masjid sederhana dalam lingkungan pabriknya. Saat itu anggota PITI masih sedikit, tapi dapat berbaur dengan masyarakat sekitar pabrik, antara lain selalu salat berjamaah di masjid sederhana itu. Terasa sekali kerukunan antara anggota PITI dan masyarakat.

Bukan itu saja. Setiap ada kegiatan peringatan hari besar Islam, Sarutomo selalu mengikutsertakan masyarakat sekitar. "Cara seperti itu yang ingin kit kembangkan di PITI," katanya.

Edwin juga tetap berpengang teguh pada prinsip bahwa PITI tidak boleh dibelokkan ke arah politik praktis. “Saya tidak menghendaki PITI jadi lembaga politik. Kalau ada anggota atau pengurus yang memiliki afiliasi politik, silakan saja, tetapi itu sifatnya pribadi. Jangan sesekali melibatkan PITI,” tegasnya. (*)

7 comments:

  1. moga2 tjiwi kimia tidak mencemarkan lingkungan...

    ReplyDelete
  2. semoga PITI dan muslim Tionghoa semakin maju dan berkembang.
    Salut sama Pak Edwin.

    ReplyDelete
  3. muslim tionghoa harus jadi motor pembauran, jangan malah eksklusif di masjidnya sendiri. kenapa gak gabung saja sama masjid2 yg sudah ada????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah rahasia umum, ada saja umat muslim non-Tionghoa yg curiga jika ada muslim Tionghoa yg masuk ke mesjid2 mereka, apalagi jika terlihat bermata sipit atau kulitnya sangat kuning. Tentunya dicurigai jemaah bukanlah perasaan yg nyaman.

      Meskipun umat muslim Tionghoa bisa saja membaur di tengah mesjid2 umum, tapi sebagaimana karakter org Tionghoa yg suka cangkruk bersama rekan sesama Tionghoa (karena kesamaan nasib sbg etnis minoritas), maka adanya mesjid yg dikelola oleh, dari, dan untuk muslim Tionghoa menjadi suatu keniscayaan.

      Delete
    2. Kenapa seh kok Orang Tionghoa di-kejar2 terus untuk jadi motor pembauran? Maksudnya membaur itu apa seh, supaya kehilangan identitas Tionghoanya? Lho, jadi Orang Indonesia apa harus begitu? Lha Orang Batak kok boleh punya gereja batak, namanya HKBP. Orang Jawa kok boleh punya gereja sendiri, namanya GKJW. Orang Madura yang di Surabaya pun punya langgar2 sendiri. Orang Jawa yang turun temurun di Sumatera aja sekarang apa jadi orang Batak atau Padang?

      Mau punya mesjid sendiri kok gak boleh ... dikit2 dibilang harus membaur. Pembauran itu terjadi karena 2 reaksi: yang membaur mau, dan yang menerima juga harus mau. Orang Tionghoa yang Islam itu kan baru2. Selain itu sering2 mereka tidak sama agama dengan keluarga sendiri. Budaya kemuslimannya belum mengakar. Jadi kebutuhannya lain, mereka perlu dukungan moral dari orang2 yang sama dan mengerti. Kdg sembahyang perlu belajar dari nol. Lha kalau di masjid yang wong Jowo tok apa ada imamnya yang sukarela membantu.

      Orang Tionghoa yang di Surabaya itu kurang membaur apa coba, bahasanya sudah sehari-hari pake Indonesia atau Jawa ngoko, malahan ikut menciptakan koran2 berbahasa Melayu pertama (termasuk Jawa Pos). Doyanannya makan semanggi dan soto lamongan. Makanannya ikut menyumbang khasanah makanan Nusantara, dengan mi, pangsit, lumpia, tahu, ote2, bakso / bakwan, siokee, dll. Guyonannya sudah ludruk dan Srimulat.

      Kalau dibilang kurang membaur ya keterlaluan. Kalau mau jadi Cina dan Indonesia dan Islam, biarin aja toh.

      Delete
  4. Benahin Dulu HSE nya... Keracunan Bau Kaporit mu Mulu Tiap Hari...

    ReplyDelete