23 September 2012

Bos Tionghoa gak suka nampang

"Sampean punya email Pak?" tanya saya kepada seorang bos besar. Dia punya tiga hotel dan tempat wisata terkenal di Surabaya.

"Gak ada," katanya.

"Punya akun Facebook, Twitter, BB?"

"Gak ada. Buat apa? Gak ada waktu."

Ucapan begini sering saya dengar dari mulut bos-bos besar alias laopan Tionghoa. Bukannya gaptek, orang-orang superkaya itu biasanya tak suka menonjolkan diri. HP yang dipakai pun sangat sederhana.Yang penting bisa menelepon dan SMS. Tak perlu fitur yang canggih-canggih.

Minggu lalu saya ngobrol dengan seorang bos besar, Tionghoa Surabaya, yang produknya sangat terkenal di Indonesia. Saya perhatikan Pak B tidak pakai ponsel mahal sejenis BB. HP-nya lawas dan murah. Padahal, dengan kekayaannya, dia bisa saja membuat pabrik smartphone yang lebih keren dari BB.

Suatu ketika Pak C, bos besar yang punya 20 ribu, buruh diangkat jadi konsul kehormatan. Saya cari foto dan informasinya di google. Aha, ternyata tidak ada satu pun foto. Tulisan tentang beliau pun tidak ada.

Maka, ketika orang kecanduan jejaring sosial, BBM, twitter... saya selalu teringat bos-bos Tionghoa itu. Mereka sama sekali tak ikut arus tren komunikasi massa. Mereka tetap tak mau nampang di blog, FB, twitter dan sejenisnya. Bahkan beberapa bos juga menolak difoto wartawan meski sudah dibujuk setengah mati.

"Sudahlah, pokoknya aku jangan difoto. Yang penting, kamu foto wahana saya yang baru. Aku iki gak penting," kata Pak S dengan gayanya yang khas. Maka, di google foto beliau tidak ada.

Karena itu, ketika melihat begitu banyak orang yang sangat doyan meng-update status di jejaring sosial, mengunggah foto pribadi, mejeng, gaya narsis... saya hanya ketawa dalam hati. Pasti dia bukan bos perusahaan besar atau orang tajir. Sebab, bos-bos tenglang yang kaya-raya terlalu sibuk untuk mengurus akun di internet atau BB.

Satu-satunya bos besar yang tiap hari nongol di televisi adalah Alim Markus. Taipan Maspion Group ini malah jadi bintang iklan produknya sendiri dengan tagline:

CINTAILAH PRODUK-PRODUK INDONESIA.

14 comments:

  1. Bukan hanya Teng-lang yang memiliki budaya rendah diri. Orang Indonesia juga kenal pepatah:
    Ibarat padi, makin berisi makin menunduk.
    Kali tak beriak, dalam tandanya.
    Tong kosong nyaring bunyinya.
    Merendahkan diri dalam budaya China ada sangkut pautnya dengan kepercayaan mereka. Kaya mengaku miskin, karena takut maling, rampok dan handai taulan yang iri, minta-minta.
    Anaknya cantik dibilang elek. Anak pandai dibilang bodoh. Karena takut digondol setan.
    Biasanya orang yang mampu membeli sesuatu, achirnya tidak membeli barang tsb., karena mereka pikir, kalau gua mau beli, gua segera bisa beli. Ujuk2 tidak beli. Buat apa sok2-an.

    ReplyDelete
  2. Ilmu padi: makin berisi makin merunduk! kesederhanaan yg perlu dicontoh generasi muda yg jalannya masih panjang.

    ReplyDelete
  3. Yang paling utama itu keyakinan mereka, dan salah satu cara agar mereka dapat bergerak tanpa diuber-uber wartawan dan penggemarnya ! http://organdabekasi.blogspot.com

    ReplyDelete
  4. bos2 itu berjuang dari bawah, sangat sederhana, kemudian berkembang jadi kaya raya. pola hidup sederhana itu tetap terbawa sampai sukses. beda dgn anak2 dan cucunya yg begitu lahir ke dunia sudah menikmati kemewahan. kira2 gitu lah...

    ReplyDelete
  5. Gak mau promosi diri sendiri krn menghindari tukang pajak, hahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha...tionghoa indonesia ngaku kriminel tukang nilep pajak ! memang diseluruh dunia zhongguoren paling bocengli. mau bukti ? atau ngaca diri sendiri.

      Delete
    2. Menghindari tukang pajak tidak kriminil, Mas. Menghindari tukang pajak bukan berarti tidak bayar pajak. Menghindari: pemerasan dan macam2 urusan yang dipersulit. Komentar saya humor jangan diplintir untuk polemik SARA. Ngaca sana ke cermin, kelihatan siapa: Hitler, Osama
      Bin Laden? Ya gak heran.

      Delete
  6. ada unsur gaptek juga lah. bos2 itu kan sudah tua, jadi gak suka gadget yg modern.

    ReplyDelete
  7. Sebetulnya bos2 tionghoa yg saya maksud ini ramah dan gampang dihubungi. Tidak menghindari wartawan atau petugas pajak. Cuma mereka tidak tertarik sama gadget2 atau perangkat komunikasi modern. Informasi tentang mereka di internet sangat kurang, bahkan hampir tidak ada. Kira2 begitu.

    ReplyDelete
  8. kalau saya pikir mereka sudah sibuk juga kang. Masalah teknologi terbaru sebenarnya kebeli lah, mungkin anak dan cucunya yang pakai. Mengenai tulisan diatas ternyata mereka rata-rata rendah diri ya..salut

    ReplyDelete
  9. Para Bos Cina yang usianya 60 tahun keatas memang tidak bisa pakai alat computer. Mereka khan punya sekretaris untuk menjalankan alat itu. Mengapa mereka harus repot ? Otak-mereka adalah computer yang sangat canggih, yang tidak bisa dimanipulasi oleh sarjana S3 pun.

    ReplyDelete
  10. suka tulisanmu mas... buat introspeksi aja... khan "Introspeksi" itu akhlak yang hampir terlupakan

    ReplyDelete
  11. biasanya, bos2 yg kayak gitu berjuang dari wabah ketika perusahaan masih nol. dia tahu benar rasanya kerja keras, pernah miskin. akan sangat beda kalo sejak kecil sudah jadi anak orang kaya. beberapa anaknya bos besar malah foya2 di luar negeri.

    ReplyDelete