20 September 2012

Baba dan Nona Tionghoa di Flores

Bupati Lembata (NTT) Baba Yance  bersama istri dan anak.

Di kampung halaman saya, Flores Timur, Lembata, Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, orang Tionghoa cukup banyak. Bahkan, saat ini Bupati Lembata dijabat Yance Sunur, warga keturunan Tionghoa alias baba. No problem! Orang Lembata sejak dulu sudah biasa bergaul dengan Tionghoa dan sebaliknya.

Berbeda dengan di Jawa, semua orang Tionghoa di Flores dipanggil BABA (laki-laki) dan NONA (wanita). Baik yang masih anak-anak, gadis, atau nenek-nenek tetap disapa NONA. Istilah NYONYA tidak dikenal di kampung saya.

Sewaktu masih kecil di Lembata ada lagu daerah terkenal berjudul NONA MEI TAN ALEN BLARA: Nona Mei Tan Sakit Pinggang. Nona Metan ini istri pengusaha sukses di Lewoleba, kota kabupaten. Lagunya lucu dan asyik!

Baba Kok Sin dulu pemilik satu-satunya hotel di Lembata. Baba Koling punya toko besar dan pabrik es. Baba Kok Sin pemilik kapal penumpang yang disebut bis laut. Baba Ici juragan terang bulan di Larantuka.

Singkatnya, semua laki-laki keturunan Tionghoa disapa baba. Istri dan anak perempuannya nona. Mengapa dipanggil baba dan nona? Yah, dari zaman dulu sudah begitu. Tapi kenapa? Orang NTT biasanya tak bisa jawab.

Saya sendiri pun baru tahu asal-usul baba atau babah setelah hijrah ke Jawa Timur. Itu pun setelah membaca buku-buku tentang Tionghoa.

Awalnya saya heran karena saya tak pernah dengar warga Jatim memanggil orang Tionghoa dengan kata sandang BABA. Kok beda dengan di Flores? Bukankah sama-sama Tionghoa? Begitu saya membatin.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun tinggal di Malang, Jember, Surabaya, dan Sidoarjo, saya memang melihat baba-nona di Flores memang agak beda dengan orang Tionghoa di Jawa. Bahkan perbedaan itu cukup banyak.

Yang paling menonjol, baba-nona Tionghoa di Flores ini sudah sangat membaur, bahkan sudah kawin-mawin dengan penduduk setempat yang disebut etnis Lamaholot. Mereka sering datang ke desa-desa mencari hasil bumi, bermalam di rumah orang kampung, makan bersama, cerita panjang lebar tentang apa saja.

Tak ada sekolah 'eksklusif' untuk Tionghoa, atau yang sebagian besar muridnya Tionghoa. Anak-anak baba-nona ya sekolah bersama anak-anak kampung seperti saya. Di Surabaya, Malang, atau Jember sekolah-sekolah Katolik, yang idealnya universal, ternyata sudah identik dengan sekolah khusus anak-anak Tionghoa. Sangat jarang anak-anak Tionghoa di Jatim yang sekolah di sekolah negeri atau sekolah umum.

Karena itulah, ketika Yance Sunur maju sebagai calon bupati Lembata, warga setempat fine-fine saja. No problem! Dan akhirnya Baba Yance sekarang menjadi bupati di kampung saya.

13 comments:

  1. Agama menjadi faktor penentu untuk pembauran. Di Flores, orang Tionghoa dengan mudah memeluk agama Katolik, lalu jadinya membaur dengan penduduk asli: sekolah bersama, main2, dll. Di Larantuka, temanku yang orang Tionghoa diangkat anak oleh raja lokal dan pakai family name Da Costa, walaupun tampangnya Tionghoa hahaha.

    Di Filipina, begitu pula rupanya. Di Vietnam dan Thailand, juga begitu, tetapi agamanya Budha. Nah, di Jawa, Malaysia, penduduk asli mayoritas Islam. Untuk memeluk agama Islam itu kenapa sulit? Entah ya, mungkin larangan makan babi (lha di dalam budaya Tionghoa, bak = rou = daging itu secara default ya daging babi), larangan membungakan uang (mana bisa ini kalau berdagang).

    Maka itu dianjurkan Tionghoa di Jawa, Sumatera untuk memeluk agama Islam. Begitu jadi mualaf, sudah dianggap lebih pribumi daripada kon sing tekan Flores, Bung Hurek(!), walaupun kalau dilihat penyebaran homo sapiens in Nusantara, nenek moyang orang Flores lebih dahulu menetap dibandingkan orang Melayu / Jawa yang berambut lurus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anjuran agar orang Tionghoa di Jawa, Sumatera, Kalimantan masuk Islam sudah lama diperjuangkan Yunus Yahya, tokoh muslim Tionghoa. Asumsinya, kalau agamanya sama dengan pribumi, maka pembauran langsung jadi. Lumayan, anjuran Pak Yunus Yahya ini kemudian diikuti sejumlah orang Tionghoa yang sekarang tergabung di PITI. Tapi soal agama itu kembali lagi ke masing2 individu.

      Delete
    2. Siapa yg ngajarin klu nenek moyang org flores homo sapien? Dongo, manusia ya dri manusia mati pun manusia.bukan kera yg jadi manusia mati tetap manusia.klu kera itu manusia knp skrg msh ada kera, knp ga jadi manusia aja tu kera.

      Delete
  2. asimilasi tionghoa di flores juga lebih mudah krn tionghoa totoknya hampir tidak ada. sekolah tionghoa juga tidak ada. sehingga, mau tidak mau, orang tionghoa bisa berasimilasi dengan mudah ke masyarakat setempat. tambahan lagi, segregasi oleh kolonial belanda tidak terjadi karena NTT populasi orang tionghoa tidak sebanyak di jawa.
    sekian pendapat saya.

    ReplyDelete
  3. Human relation tercipta akibat interaksi 2 manusia. Jika di Flores, penduduk asli tidak terlalu mempermasalahkan masalah ras, sehingga tionghoa di Flores pun tidak merasa berbeda untuk melebur dalam kehidupan sehari hari.
    Di Jawa, penduduk asli memperlakukan tionghoa dengan berbeda, maka tidak bisa dipersalahkan jika tionghoa di jawa pun tidak dengan mudahnya melebur dalam istiadat setempat.

    ReplyDelete
  4. Sperti halnya di Sape - Bima Kampung Saya Keturunan Tionghoa mendominasi dunia usaha perdagangan, sama seperti di NTT sapaan mereka Baba dan Nona dan mereka sangat membaur bahkan sekolah China yang didirikan sudah tidak dipakai lagi karena mereka banyak yang masuk SMP dan SMA Umum bahkan ada yang sekolah di SMP dan SMA Muhammadiyah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Zaman sekarang hanya ada 2 bahasa asing yang sangat penting, yaitu Inggris dan Cina-Mandarin. Di Universitas Nanjing, saya heran melihat betapa banyaknya orang kulit putih, Afrika dan Arab, yang belajar bahasa Cina.
      Ucapan bahasa Mandarin orang2 asing tersebut sangat bagus, tekanannya sangat tepat. Sedangkan bahasa Mandarin Cina-Indonesia pada umumnya ngawur, asal bunyi, karena kita tidak belajar intonasi yang benar. Semoga semua anak2 muda NTT bisa belajar bahasa Cina lagi.

      Delete
    2. Penjelasan teman dari Bima NTB ini menunjukkan bahwa faktor AGAMA bukan segalanya. Orang Bima itu sangat islami, tapi toh bisa berbaur dengan Tionghoa. Begitu pula orang Belitung, kampung Laskar Pelangi, yang mayoritas suku Melayu yang sangat islami, toh tidak ada masalah pembauran. Bahkan seorang Ahok yang Tionghoa dan bukan Islam bisa terpilih jadi bupati di Belitung yang Melayu Islam. Luar biasa!!!!

      Kita butuh sharing seperti ini untuk pencerahan buat anak bangsa.

      Delete
    3. Dari Bima, pergilah ke arah barat selama setengah jam menuju Dompu. Anda akan menjumpai sesuatu yang paling lain seantero nusantara. Kesultanan yang sigil resminya liong. :D

      http://dompu.org/gudang/pantjawarna-tahun-2-no-17-februari-1950-dompoe-hal-22-23.png

      Delete
  5. Di daerah belitung juga hubungan tionghoa dengan pribumi melayu sangat cair dan akrab. Kita bisa membaca cerita persahabatan mereka di novel LASKAR PELANGI.

    ReplyDelete
  6. memang semua pihak harus saling memahami, tenggang rasa dan menghormati. insya allah, tercipta kerukunan di indonesia.

    ReplyDelete
  7. Semua terpulang kepada identitas. Semakin kental identitas kita - baik itu bangsa, etnis, atau agama - semakin mudah dipolitisir oleh pihak2 lain, dan semakin kita tidak menggunakan nalar dalam mengambil keputusan.

    Identitas itu perlu hanya sejauh itu mengingatkan kita menjadi orang yang berguna dan manusia yang baik. Misalnya, sebagai seorang wartawan, saya akan melaksanakan tanggung jawab saya sebagai wartawan. Sebagai seorang Islam, saya akan mengamalkan ajaran2 luhur dalam Islam.

    Tetapi identitas apapun yang fanatik itu seperti racun. Misalnya: "Saya Kristen, oleh karena itu saya benar, dan kamu salah." Atau, "Saya ras kuning, yang ras sawo matang itu lebih tidak bisa dagang". Atau "saya ras sawo matang, yang ras hitam itu lebih bodoh". Atau, "Saya Indonesia, karena itu Malaysia itu maling dan sial".

    Semakin cair identitas kita, semakin kita bernalar dan pandai menganalisa, tanpa bias.

    ReplyDelete
  8. sangat menarik sharing pengalaman hubungan pribumi dan tionghoa di flores. intinya semua manusia sama 2 ciptaan TUHAN yg harus saling menyayangi tanpa membeda2kan.

    ReplyDelete