29 September 2012

Edwin Suryalaksana, Tjiwi Kimia, dan PITI

Edwin (tengah) bersama Bambang Sujanto (kiri) dan pengurus PITI Jatim.

Kerja keras dan dedikasi tinggi. Semangat itulah yang selalu ditekankan Edwin Suryalaksana, direktur PT Tjiwi Kimia Tbk kepada karyawannya. Kini, pabrik kertas kertas yang berlokasi di Sidoarjo itu pun semakin diperhitungkan di kancah dunia.

PT Tjiwi Kimia memproduksi berbagai jenis kertas tulis dan cetak baik untuk coated maupun uncoated dan berbagai produk perlengkapan kantor yang diminati pasar internasional. Karena itu, pihaknya harus secara konsisten menjaga kualitas dan kesinambungan produk guna memenuhi permintaan pasar di dalam dan luar negeri.

"Saat ini Tjiwi Kimia merupakan produsen stationery terbesar di dunia," kata Edwin Suryalaksana beberapa waktu lalu. Tjiwi Kimia sendiri mengandalkan penjualan dari ekspor dibanding pasar domestik. Komposisi ekspor mencapai 68 persen dibanding pasar lokal yang hanya 32 persen.

Kapasitas produksi yang dimiliki Tjiwi Kimia sebesar 1,13 juta ton per tahun untuk kertas, 320 ribu ton per tahun untuk alat tulis, dan 78 ribu ton per tahun untuk kertas kemasan.

Edwin mengatakan, sektor pulp dan kertas bisa menjadi salah satu penggerak perekonomian nasional dan mengantar bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Ada beberapa alasan. Di antaranya ,Indonesia adalah negara dengan lahan luas dan sangat subur serta produktif. Sepanjang dikelola dengan berkelanjutan, kondisi alam ini bagus untuk tanaman industri seperti pohon akasia dan eukaliptus.

Kedua jenis pohon ini di Indonesia untuk siap panen hanya 5-6 tahun. Di negara lain butuh waktu lebih panjang, bisa 25 tahun, bahkan 50 tahun. Selain itu, biaya produksi juga relatif bisa bersaing dengan produsen kertas dari negara-negara lain, seperti dari Skandinavia atau Amerika Serikat.

Nah, dengan semangat membawa Indonesia menjadi lebih baik inilah, menurut pengusaha muslim Tionghoa ini, Tjiwi Kimia memberdayakan masyarakat dalam produksinya. Saat ini Tjiwi Kimia menghasilkan berbagai jenis tas belanja (shopping bag) kertas bermerek dunia dengan menggandeng para ibu rumah tangga di kawasan Sidoarjo dan Mojokerto.

"Ada ribuan ibu rumah tangga yang terbantu perekonomian keluarganya dari usaha membuat shopping bag tersebut," ujar Edwin.

Tak hanya berupaya berperan dalam meningkatkan taraf kehidupan masyarakat, Tjiwi Kimia juga berkomitmen melestarikan lingkungan. Kayu yang dipakai, katanya, hanya berasal dari area hutan industri atau sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

"Kami hanya mengambil kayu dari hutan industri yang ditanam, panen, lalu ditanam lagi," tegasnya.




Kedekatan Edwin Suryalaksana dengan masyarakat jelas terlihat saat halalbihalal bersama masyarakat Kecamatan Balongbendo dan Tarik, yang dihadiri  Bupati Sidoarjo Saiful Ilah di halaman kantor Kecamatan Balongbendo belum lama ini. Camat Balongbendo Agustin Iriani selaku tuan rumah menilai Tjiwi Kimia selama ini sangat peduli dengan pembangunan di wilayah Balongbendo dan Tarik.

"Berbagai sarana sudah dibangun untuk menunjang dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Balongbendo dan sekitarnya. Bahkan, Rumah Pintar yang sangat megah dengan berbagai fasilitasnya telah dibangun oleh PT Tjiwi Kimia di Tarik. Untuk itu, kami mengucapkan banyak terima kasih,” ungkap Agustin.

PT Tjiwi Kimia berdiri pada 1973 di wilayah Kecamatan Tarik. Karena skala produksi yang terus meningkat, pabrik kertas ini terus meluas hingga ke wilayah Kecamatan Balongbendo. "Kurun waktu dari tahun 1973 sampai sekarang itu cukup lama. Alhamdulillah, perusahaan ini terus mengalami kemajuan yang pesat tanpa ada gejolak dengan lingkungan sekitar. Kuncinya adalah dengan terus menjaga hubungan baik dengan lingkungan sekitar dan menjadikan masyarakat sebagai mitra perusahaan," kata Edwin Suryalaksana.

Berbagai penghargaan pun telah diraih perusahaan publik dalam naungan Asia Pulp and Paper (APP) ini. Di antaranya penghargaan Primaniyarta untuk kategori pembangunan merek global dan eksportir berkinerja yang diserahkan oleh Wakil Presiden Boediono di Arena Pekan Raya Jakarta.

Tjiwi Kimia Tbk juga meraih dua sertifikat ISO 9001 Quality Management System (QMS) dan ISO 14001 Environmental Management System (EMS) sekaligus penghargaan selama  sepuluh tahun terus menerima sertifikat ISO. Penyerahan 10 Years Award oleh wakil SGS, lembaga yang memberi sertifikasi sistem manajemen berstandar internasional.

Tjiwi Kimia dinilai telah menunjukkan kesungguhan  untuk secara berkelanjutan terus mengembangkan diri menjadi lebih baik. Edwin Suryalaksana pun kian optimistis perusahaan yang dipimpinnya semakin mendekati world class company, sejajar dengan perusahaan-perusahaan internasional. (rek)


Edwin dan Salahuddin Wahid.


Pimpin PITI Dua Periode

Di tengah kesibukannya mengurus PT Tjiwi Kimia, Edwin Suryalaksana terlibat di berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Salah satunya menjadi pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Timur. Tak sekadar pengurus biasa, Edwin bahkan dipercaya menjadi ketua umum PITI Jawa Timur untuk periode 2011-2016.

Ini merupakan periode kedua Edwin memimpin organisasi mualaf Tionghoa itu. Sosok yang low profile, tak banyak bicara, tapi pekerja keras ini dianggap paling pas mengemudikan PITI yang terkenal dengan Masjid Cheng Hoo itu.

"Pak Edwin itu orangnya low profile dan cocok memimpin PITI Jatim," kata Sang Tjai dari Jember. Edwin dinilai berhasil melakukan konsolidasi organisasi dan rajin menyapa pengurus di kabupaten/kota.

“Program saya memang tidak muluk-muluk, tetapi realistis. Misalnya bagaimana komunikasi antara wilayah dan daerah dapat terwujud dengan baik. Karena sebuah organisasi tanpa komunikasi yang harmonis tidak akan mampu menciptakan organisasi yang kondusif. Yang jelas, saya juga mendoron anggota PITI untuk membaur ke masyarakat. PITI itu bukan organisasi yang eksklusif,” tegasnya.

Dalam melaksanakan syiar Islam, Edwin mengaku teringat tokoh PITI di Mojokerto, almarhum H Sarutomo, pendiri Perusahaan Rokok Bokormas. Sarutomo membangun sebuah masjid sederhana dalam lingkungan pabriknya. Saat itu anggota PITI masih sedikit, tapi dapat berbaur dengan masyarakat sekitar pabrik, antara lain selalu salat berjamaah di masjid sederhana itu. Terasa sekali kerukunan antara anggota PITI dan masyarakat.

Bukan itu saja. Setiap ada kegiatan peringatan hari besar Islam, Sarutomo selalu mengikutsertakan masyarakat sekitar. "Cara seperti itu yang ingin kit kembangkan di PITI," katanya.

Edwin juga tetap berpengang teguh pada prinsip bahwa PITI tidak boleh dibelokkan ke arah politik praktis. “Saya tidak menghendaki PITI jadi lembaga politik. Kalau ada anggota atau pengurus yang memiliki afiliasi politik, silakan saja, tetapi itu sifatnya pribadi. Jangan sesekali melibatkan PITI,” tegasnya. (*)

26 September 2012

Tujuh tahun Bukan Empat Mata



Bulan September ini Bukan Empat Mata (BEM) genap berusia tujuh tahun. Aslinya sih Empat Mata tapi kemudian diubah sedikit setelah ditegur Komisi Penyiaran. Acara yang dipandu pelawak Tukul Arwana ini tergolong awet, bisa bertahan begitu lama.

Saya sendiri sudah dua tahun lebih tidak nonton BEM karena bosan. Bahasa tubuh, gaya lawakan, tata panggung.. dsb sama. Guyonan lawas, kata orang Jawa Timur. Bahkan bintang tamunya pun mbulet lagi ke orang yang sama.

Tapi begitulah industri televisi yang punya logika sendiri. Selama masih ada orang yang suka, rating bagus, ya digeber terus. Kita dipaksa menikmati lawakan-lawakan Tukul yang slapstick ala Srimulat.

Beberapa menit lalu saya terpaksa menonton BEM di warung kopi pinggir jalan raya Ngagel, Surabaya. Maklum, tukang warungnya lagi memutar Trans 7 yang menyiarkan BEM. Saya tentu kurang sopan meminta dia memindahkan channel televisinya.

Malam itu Tukul mewawancarai Dewi Perssik dan dua artis cewek lain. Yah, sami mawon... masih sama dengan gaya Tukul tujuh tahun lalu. Kali ini rupanya banyak mahasiswa dikerahkan untuk menonton Tukul di studio, jadi tukang sorak, dan ketawa-ketawa saat Tukul membuat pelesetan atau gerakan-gerakan konyol.

Oh, rupanya zaman sekarang banyak orang yang dibayar hanya untuk tertawa! Pekerjaan yang asyik, masuk televisi pula.

Apa pun kata orang, BEM bersama Tukul punya ciri khas yang sangat kuat. Dan rupanya digandrungi jutaan orang Indonesia selama tujuh tahun terakhir.

Sekarang saya lihat BEM ini sudah punya epigon di Trans TV: acara yang dipandu Shoimah. Bedanya cuma jenis kelamin pembawa acaranya. Yang lain-lain sami mawon.

Rupanya, di tengah kehidupan yang makin sulit, jalan raya yang makin macet, orang Indonesia membutuhkaan lawakan ringan ala Tukul. Hitung-hitung untuk menghilangkan stres.

Kembali ke lap...topppppp!!!!!

23 September 2012

Bos Tionghoa gak suka nampang

"Sampean punya email Pak?" tanya saya kepada seorang bos besar. Dia punya tiga hotel dan tempat wisata terkenal di Surabaya.

"Gak ada," katanya.

"Punya akun Facebook, Twitter, BB?"

"Gak ada. Buat apa? Gak ada waktu."

Ucapan begini sering saya dengar dari mulut bos-bos besar alias laopan Tionghoa. Bukannya gaptek, orang-orang superkaya itu biasanya tak suka menonjolkan diri. HP yang dipakai pun sangat sederhana.Yang penting bisa menelepon dan SMS. Tak perlu fitur yang canggih-canggih.

Minggu lalu saya ngobrol dengan seorang bos besar, Tionghoa Surabaya, yang produknya sangat terkenal di Indonesia. Saya perhatikan Pak B tidak pakai ponsel mahal sejenis BB. HP-nya lawas dan murah. Padahal, dengan kekayaannya, dia bisa saja membuat pabrik smartphone yang lebih keren dari BB.

Suatu ketika Pak C, bos besar yang punya 20 ribu, buruh diangkat jadi konsul kehormatan. Saya cari foto dan informasinya di google. Aha, ternyata tidak ada satu pun foto. Tulisan tentang beliau pun tidak ada.

Maka, ketika orang kecanduan jejaring sosial, BBM, twitter... saya selalu teringat bos-bos Tionghoa itu. Mereka sama sekali tak ikut arus tren komunikasi massa. Mereka tetap tak mau nampang di blog, FB, twitter dan sejenisnya. Bahkan beberapa bos juga menolak difoto wartawan meski sudah dibujuk setengah mati.

"Sudahlah, pokoknya aku jangan difoto. Yang penting, kamu foto wahana saya yang baru. Aku iki gak penting," kata Pak S dengan gayanya yang khas. Maka, di google foto beliau tidak ada.

Karena itu, ketika melihat begitu banyak orang yang sangat doyan meng-update status di jejaring sosial, mengunggah foto pribadi, mejeng, gaya narsis... saya hanya ketawa dalam hati. Pasti dia bukan bos perusahaan besar atau orang tajir. Sebab, bos-bos tenglang yang kaya-raya terlalu sibuk untuk mengurus akun di internet atau BB.

Satu-satunya bos besar yang tiap hari nongol di televisi adalah Alim Markus. Taipan Maspion Group ini malah jadi bintang iklan produknya sendiri dengan tagline:

CINTAILAH PRODUK-PRODUK INDONESIA.

21 September 2012

Mahasiswa Universitas Ciputra kunjungi Hwie Tiauw Ka


Sekitar 90 mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya, Sabtu (15/9/2012) mengunjungi lima lokasi yang erat kaitannya dengan keberadaan masyarakat Tionghoa di Surabaya. Yang menarik, kunjungan ini bukan sekadar pelesiran biasa, melainkan sebagai bagian dari mata kuliah Cultural Understanding.

"Para mahasiswa ini dinilai selama kegiatan berlangsung. Kami berusaha mengembangkan pembelajaran langsung di lapangan," kata Suryo Prawiroatmodjo, salah satu dosen pembimbing mahasiswa International Hospitality and Tourism Business (IHTB) Universitas Ciputra.

Adapun lima objek wisata yang dipelajari para mahasiswa adalah Perkumpulan Hwie Tiauw Ka, pabrik misua Marga Mulya, Kelenteng Hong An Kiong, Kelenteng Hong Tiek Hian, dan rumah sembahyang keluarga Han di Jl Karet.

Dibagi dalam tiga grup masing-masing 30 orang, para mahasiswa terlihat sangat antusias. Tak hanya bertanya dan mencatat, arek-arek UC juga sibuk mengabadikan berbagai objek menarik dengan kamera profesional maupun ponsel.

Suasana guyub terasa di Gedung Hwie Tiauw Ka, Jl Slompretan 58. Sejumlah pengurus perkumpulan ini seperti Aliptojo menyambut kedatangan rombongan mahasiswa UC. Aliptojo sempat 'mengetes' apakah ada di antara puluhan mahasiswa itu yang mengenal Hwie Tiauw Ka. Ternyata hanya segelintir yang tahu meskipun sebagian besar mahasiswa UC ini keturunan Tionghoa.

Aliptojo kemudian meminta Elisa Christiana, pengurus lain, untuk menjelaskan sejarah dan perkembangan ketiga komunitas ini di Surabaya dan Indonesia. Kuliah yang diberikan Elisa sangat hidup mengingat selama ini dia dikenal sebagai dosen bahasa Tionghoa di UK Petra.

Menurut dia, Hwie Tiauw Ka merupakan perkumpulan masyarakat Tionghoa yang tertua di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara. Gedung pertemuan di Jalan Slompretan 58 telah berusia 192 tahun.

"Kita bisa melihat catatan tahun pendirian gedung ini di prasasti," kata Elisa. Dia mengajak mahasiswa UC melihat dua prasasti yang dipasang di tembok dekat meja persembahan.

Elisa harus menjelaskan makna tulisan di prasasti mengingat sebagian besar mahasiswa tak bisa membaca aksara Tionghoa. Menurut Elisa, prasasti itu berisi nama-nama donatur serta nama raja yang saat itu memerintah di Tiongkok. "Untuk membangun gedung ini saja butuh waktu 43 tahun, setahap demi setahap, karena uang yang mereka punya sangat terbatas," kata Elisa seraya tersenyum.

"Kita bersyukur masih ada prasasti sehingga kita yang hidup di zaman sekarang bisa mengetahui sejarah keberadaan Hwie Tiauw Ka di Surabaya," katanya.

20 September 2012

Baba dan Nona Tionghoa di Flores

Bupati Lembata (NTT) Baba Yance  bersama istri dan anak.

Di kampung halaman saya, Flores Timur, Lembata, Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, orang Tionghoa cukup banyak. Bahkan, saat ini Bupati Lembata dijabat Yance Sunur, warga keturunan Tionghoa alias baba. No problem! Orang Lembata sejak dulu sudah biasa bergaul dengan Tionghoa dan sebaliknya.

Berbeda dengan di Jawa, semua orang Tionghoa di Flores dipanggil BABA (laki-laki) dan NONA (wanita). Baik yang masih anak-anak, gadis, atau nenek-nenek tetap disapa NONA. Istilah NYONYA tidak dikenal di kampung saya.

Sewaktu masih kecil di Lembata ada lagu daerah terkenal berjudul NONA MEI TAN ALEN BLARA: Nona Mei Tan Sakit Pinggang. Nona Metan ini istri pengusaha sukses di Lewoleba, kota kabupaten. Lagunya lucu dan asyik!

Baba Kok Sin dulu pemilik satu-satunya hotel di Lembata. Baba Koling punya toko besar dan pabrik es. Baba Kok Sin pemilik kapal penumpang yang disebut bis laut. Baba Ici juragan terang bulan di Larantuka.

Singkatnya, semua laki-laki keturunan Tionghoa disapa baba. Istri dan anak perempuannya nona. Mengapa dipanggil baba dan nona? Yah, dari zaman dulu sudah begitu. Tapi kenapa? Orang NTT biasanya tak bisa jawab.

Saya sendiri pun baru tahu asal-usul baba atau babah setelah hijrah ke Jawa Timur. Itu pun setelah membaca buku-buku tentang Tionghoa.

Awalnya saya heran karena saya tak pernah dengar warga Jatim memanggil orang Tionghoa dengan kata sandang BABA. Kok beda dengan di Flores? Bukankah sama-sama Tionghoa? Begitu saya membatin.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun tinggal di Malang, Jember, Surabaya, dan Sidoarjo, saya memang melihat baba-nona di Flores memang agak beda dengan orang Tionghoa di Jawa. Bahkan perbedaan itu cukup banyak.

Yang paling menonjol, baba-nona Tionghoa di Flores ini sudah sangat membaur, bahkan sudah kawin-mawin dengan penduduk setempat yang disebut etnis Lamaholot. Mereka sering datang ke desa-desa mencari hasil bumi, bermalam di rumah orang kampung, makan bersama, cerita panjang lebar tentang apa saja.

Tak ada sekolah 'eksklusif' untuk Tionghoa, atau yang sebagian besar muridnya Tionghoa. Anak-anak baba-nona ya sekolah bersama anak-anak kampung seperti saya. Di Surabaya, Malang, atau Jember sekolah-sekolah Katolik, yang idealnya universal, ternyata sudah identik dengan sekolah khusus anak-anak Tionghoa. Sangat jarang anak-anak Tionghoa di Jatim yang sekolah di sekolah negeri atau sekolah umum.

Karena itulah, ketika Yance Sunur maju sebagai calon bupati Lembata, warga setempat fine-fine saja. No problem! Dan akhirnya Baba Yance sekarang menjadi bupati di kampung saya.

18 September 2012

IIS SUGIARTI: Titip salam tapi maksud tak sampai




Aneh juga, di tempat wisata Pacet, Mojokerto, ada orang Madura putar lagu-lagu IIS SUGIARTI. Tembang lama yang sudah sangat jarang terdengar hari ini. Aneh karena orang Madura, dan keturunan Madura, paling gandrung dangdut dan kasidah.

"Saya suka karena musiknya menusuk ke hati," kata Cak Ipul bersama istri dan anak.

Dia simpan banyak lagu Iis Sugiarti dan sejenis di ponselnya. Diputar kapan saja dia merasa sumpek. Dengar lagu-lagu melankolis membuat dia jadi lebih lembut, katanya.

Saya pun ketawa dalam hati saat mendengar suara sendu Iis Sugiarti. Saya ingat teman sekolah di Larantuka, Flores, yang suka nyanyi di depan kelas ketika pak guru sudah ngantuk. Suaranya memang sangat bagus.

INGIN KUTITIP SALAM TAPI MAKSUD TAK SAMPAI
KARNA KUDENGAR DI SANA KAU TELAH BAHAGIA
HIDUP BERDUA BERSAMA DENGANNYA
OH ADAKAH ENGKAU INGAT AKU

Saya hafal lagu ini dan beberapa ciptaan Obbie Messakh lain karena sering dipakai latihan gitar di pinggir jalan. Kuncinya cuma tiga sehingga gampang dihafal. Nyanyi pun sambil merem kayak orang lagi merindu kasih. Hehehe...

Dulu hampir semua bemo alias angkot di Larantuka putar lagu macam ini. Semua yang berbau Obbie dan Pance memang dimakan orang NTT saat itu. Mungkin masih berlanjut sampai sekarang meski tren musik sudah sangat berbeda.

Hit lain Iis Sugiarti adalah DI SINI AKU MENANTI. Ciptaan Obbie Messakh, 1985, sebagai jawaban KAU DAN AKU SATU yang meledak luar biasa. Yah, lagu-lagu laris zaman dulu memang selalu dibuat jawabannya. Melodi mirip, bahkan sama, syairnya merupakan lanjutan lagu yang dijawab.

Ketika pertama kali diputar di pecinan Larantuka, Jl Niaga, heboh. Banyak orang yang beli kasetnya atau sekadar duduk dengar di depan toko kaset. Waktu itu hanya ada dua toko kaset. Kualitas sound-nya luar biasa untuk ukuran NTT. Seakan kita lagi nonton konser besar.

"Saya bikin lagu sesuai apa yang saya tangkap di masyarakat. Sederhana, gak muluk-muluk," kata Obbie Messakh. Ah, ternyata lagu sederhana itu tahan zaman.

MELODI MELODI MEMORI
MELODI MELODI MEMORI
LAGU KENANGAN MASA YANG SILAM
MASA PENUH WANGI BUNGA

17 September 2012

Shinta Wibisono rutin gelar operasi katarak gratis


Selama 10 tahun SHINTA WIBISONO aktif mengadakan bakti sosial operasi katarak gratis di Surabaya. Ibu yang masih gesit di usia 66 tahun ini bahkan turun langsung ke kampung-kampung untuk mencari calon pasien. Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dengan Ibu Shinta Wibisono:


Sudah berapa lama Anda melakukan bakti sosial operasi katarak?

Tidak terasa sekarang sudah memasuki tahun kesepuluh. Operasi katarak sudah 10 tahun, sunatan massal juga 10 tahun. Puji Tuhan, pelayanan kami ini sudah bisa dinikmati banyak orang, khususnya yang mengalami gangguan penglihatan karena katarak.

Total berapa pasien yang sudah Anda layani?

Waduh, sudah lupa. Yang, sudah jelas banyak sekalilah. Terakhir kemarin pasien operasi katarak 46 pasien, tahun lalu 98 pasien. Tahun ini jumlah pasien berkurang karena saat yang hampir bersamaan juga ada operasi katarak di tempat lain. Ini juga bagus karena di Indonesia ini masih sangat banyak saudara-saudari kita yang punya gangguan mata. Tapi kesempatan untuk operasi sangat terbatas.

Kalau sunatan massal berapa orang?

Rata-rata setiap kali baksos pasiennya lebih dari 100 orang. Operasi dari pagi sampai malam.

Tim dokter dari mana?

Kalau operasi katarak, kami kerja sama dengan Perdami: Persatuan Dokter Mata Indonesia dan RSUD dr Soetomo. Syukurlah, setiap enam sampai delapan bulan sekali kami melakukan baksos operasi katarak (gratis) untuk warga kurang mampu. Saking seringnya, saya membuat kamar operasi di klinik saya yang steril agar bisa dipakai operasi setiap saat.

Ada pengalaman berkesan selama Anda mengadakan baksos operasi katarak?

Sangat banyak. Kita bisa bayangkan bagaimana rasanya orang yang tidak bisa melihat sama sekali. Waktu operasi terakhir kemarin seorang ibu bernama Bu Suma begitu girangnya karena bisa melihat kembali setelah mengalami kebutaan selama delapan tahun. Bayangkan, delapan tahun ibu itu tidak bisa meliha apa pun dan akhirnya sekarang bisa melihat. Dia panik, teriak-teriak... karena sangat senangnya. Saya juga ikut bahagia dan bersyukur kepada Tuhan atas keberhasilan operasi itu.

Ngomong-ngomong, bagaimana cara Anda mencari pasien operasi katarak selama 10 tahun ini?

Saya turun sendiri ke lapangan. Saya ke mana-mana selalu membawa brosur di mobil saya. Di berbagai tempat saya berhenti, turun untuk menempelkan brosur pengumuman bahwa akan ada operasi katarak gratis. Puji Tuhan, cara ini ternyata efektif.


  



Suka Nyanyi, Kagumi Pavarotti

Sejak remaja Shinta Wibisono aktif di paduan suara. Aktivitas musikal di Sekolah Santa Ursula, Jakarta, ini ternyata terus membekas hingga dewasa. Di sela kesibukannya yang sangat padat, Shinta berusaha agar bisa tetap melakukan latihan olah vokal.

"Fokus saya tetap di pelayanan. Kalaupun saya membawa paduan suara ke mana-mana, tujuan utamanya tetap pelayanan sambil rekreasi," kata Shinta yang kini menjadi pembina Paduan Suara Spectrum Surabaya.

Kor ibu-ibu ini terbentuk secara tidak sengaja. Anggotanya pun bukan orang-orang yang punya kualitas vokal sangat baik. Maklum, ibu-ibu ini awalnya cuma berkumpul secara rutin untuk arisan saja. "Kalau sekadar arisan, ya, nggak asyik," kata ibu dua anak itu.

Lalu, Shinta menggagas latihan paduan suara peserta arisan ibu-ibu itu. Pelatih profesional didatangkan. Dari situlah teknik vokal mereka mulai terbentuk. Paduan suara amatir ini kemudian ditampilkan di berbagai event, mulai dari Marga Huang, Gereja Katolik Redemptor Mundi, Gereja Hok Im Tong, Gereja Mawar Sharon, bahkan ke luar negara. Juga mengisi acara-acara komunitas Tionghoa.

"Kalau kami kebetulan jalan-jalan ke Singapura atau Kuala Lumpur, kami lakukan pelayanan bersama paduan suara itu," katanya bangga.

Shinta sendiri mengaku sangat gandrung menikmati vokal Luciano Pavarotti. Suara penyanyi tenor asl Italia itu selalu memberi inspirasi bagi dirinya untuk menyanyi sebaik mungkin bersama anggota kor lainnya. Ketika tampil di panti jompo sekalipun, Shinta dan kawan-kawan berusaha memberikan yang terbaik.

"Dua tiga bulan sekali kami berkunjung ke panti jompo dan menyanyi di sana, selain melayani para oma opa," katanya.

Selain menyanyi, Shinta Wibisono senang merangkai bunga. Ternyata ibu-ibu Huang di Surabaya juga punya hobi yang sama. Maka, sebagai pengurus perkumpulan itu, Shinta mengagendakan semacam kursus atau pelatihan merangkai bunga.

Belum lama ini kediaman Shinta Wibisono dijadikan kelas merangkai bunga ala Jepang alias ikebana. Konjen Jepang sendiri yang memandu ibu-ibu membuat rangkaian bunga secantik mungkin.

"Awalnya acara itu mau diadakan di sekretariat marga Huang yang luas. Tapi beliau minta diadakan di rumah saja agar tidak diketahui orang luar," tuturnya.

Tak dinyana, acara pelatihan ikebana ini bocor ke media. Banyak wartawan yang datang ke rumahnya untuk meliput program informal itu. "Akhirnya, acara di rumah saya itu diliput berbagai media massa," kata penggemar bunga casablanca itu.

Sebelumnya Shinta juga mengajak instruktur lokal seperti Siti Supangkat untuk memberikan pelatihan merangkai bunga kepada ibu-ibu margga Huang. Hasilnya tidak sia-sia. Shinta dan kawan-kawan pun mencoba menghiasi rumah masing-masing dengan bunga rangkaian sendiri.

"Kalau rangkaian saya sih belum bagus," katanya merendah.






BIODATA SINGKAT

Nama : Shinta Wibisono
Lahir : Jakarta, 1 Juni 1946
Suami : Agus Wibisono
Keturunan :  2 anak, 4 cucu
Hobi : menyanyi, merangkai bunga
Pekerjaan : Pengusaha, pemilik Dian Clinic Surabaya
Alamat : Jl Trunojoyo Surabaya

Organisasi :
Paguyuban Marga Huang Jatim
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMMI)
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI)
Paduan Suara Spectrum
Penyanyi favorit : Luciano Pavarotti
Moto : Share with people

Pendidikan

TK-SMA di SMAK Santa Ursula Jakarta
Universitas Indonesia

16 September 2012

Barongsai tunggu pengakuan KONI

Chandra Wurianto alias Hu Jiangzhang

Barongsai dan liong belum dipertandingkan di arena PON XVIII di Riau. Meski begitu, para pengurus dan pemain barongsai di Jatim tetap berlatih untuk mengikuti kejuaraan nasional maupun internasional.

Ketua Persatuan Olahraga dan Seni Barongsai Indonesia (Persobarin) Jatim Chandra Wurianto optimistis cepat atau lambat barongsai akan dipertandingkan di ajang PON. Apalagi saat ini olahraga asal Tiongkok ini sudah tersebar di hampir semua provinsi di tanah air.

"Kita akan rugi kalau tidak menjadikan barongsai sebagai salah satu cabang olahraga PON. Sebab, ada kemungkinan barongsai dipertandingkan di SEA Games," kata Chandra kepada saya kemarin.

Pembina Yayasan Senopati Surabaya ini juga mengingatkan bahwa sejak 1998 pemain-pemain barongsai Indonesia aktif mengikuti berbagai kejuaraan internasional di Malaysia, Hongkong, Makau, hingga Tiongkok. Bahkan kejuaraan dunia lion dance alias barongsai ini pernah diselenggarakan di Pantai Ria Kenjeran, Surabaya.

"Prestasi pemain-pemain kita sangat menggembirakan mengingat barongsai baru bangkit kembali setelah reformasi," katanya.

Kiprah atlet-atlet barongsai Indonesia ini niscaya diketahui pemerintah mengingat Menteri BUMN Dahlan Iskan merupakan ketua umum Persobarin sejak pertama kali didirikan. Dahlan Iskan pun sudah sering mengusahakan agar barongsai bisa diterima sebagai cabor resmi PON.

Lantas, mengapa belum dipertandingkan di PON?

Menurut Chandra Wurianto, persoalannya sampai sekarang barongsai belum diterima sebagai anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Padahal, berbagai persyaratan administratif sudah diserahkan ke KONI sejak beberapa tahun lalu.

"Lha, kalau belum masuk KONI tentu tidak bisa ikut PON. Yang namanya PON itu kan hajatan resminya KONI," tegasnya.

Meski begitu, pengusaha perkapalan ini sangat yakin Persobarin diterima sebagai anggota KONI paling lambat tahun ini. Sebab, Menpora Andi Mallarangeng pernah menjanjikan hal ini di depan Dahlan Iskan beserta para pengurus Persobarin saat munas di Jakarta tahun lalu.

14 September 2012

Soe Tjen bahas Ahok dan CINA



Oleh Soe Tjen Marching PhD

APA beda Marissa Haque dan Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama?  Banyak.  Tentunya tidak perlu saya sebutkan lagi. Tapi, apa persamaannya?  Mereka sama-sama mencalonkan diri menjadi wakil Gubernur (Banten dan Jakarta).

Marissa dengan leluasa menyatakan tentang kakeknya, Siraj Ul Haque, yang berasal dari Uttar Pradesh, India Utara.  Bahkan dalam satu satu blognya, dijelaskan bahwa kakeknya adalah orang India asli, sedangkan ayah mereka adalah orang Pakistan.  Namun, ini tidak menjadi masalah. Marissa Haque tetap orang Indonesia. 

Bandingkan Marissa dengan Ahok.Berkali-kali Ahok menekankan bahwa dia adalah orang Indonesia.  Seakan dia harus berjuang hanya untuk mendapat pengakuan untuk hal yang satu ini.  PR yang tidak perlu dikerjakan oleh Marissa saat ia mencalonkan diri sebagai Wagub Banten. 

Beberapa kecaman tentang Ahok bertebaran, menyebut dia CINA dan mempertanyakan rasa nasionalismenya terhadap Indonesia.  Apa sebenarnya arti kata CINA di Indonesia?  Kebanyakan menyebutkan, orang CINA pantas disebut demikian karena nenek moyang mereka berasal dari CINA, bukan dari Indonesia.  

Inilah yang tidak terjadi pada Marissa Haque, yang nenek moyangnya juga tidak berasal dari Indonesia.  Tidak ada yang meragukan nasionalismenya, dengan menyebut dia sebagai orang Pakistan atau India.  Padahal, jelas sekali dia menyatakan bahwa kakek dan ayahnya bukan orang Indonesia. 

Inilah diskriminasi yang masih mengakar, dan seringkali tidak disadari di Indonesia. Padahal, menurut penjelasan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006, konsep Indonesia asli adalah orang yang menjadi warga negara sejak lahir dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain atas kehendaknya sendiri.

Lalu, ketentuan Pasal 4 menegaskan bahwa anak yang dilahirkan di wilayah Negara Republik Indonesia dianggap Warga Negara Indonesia sekalipun status Kewarganegaraan orang tuanya tidak jelas. Jadi, mengidentifikasi Ahok sebagai CINA sudah bisa dianggap melanggar hukum.  

Mengapa sebutan CINA ini begitu ditekankan?  Padahal, ada banyak sekali migran-migran dari India dan Timur Tengah di Indonesia?  Tapi, hanya CINA yang seolah berbeda. 

Dan apa arti CINA itu sendiri?  CINA yang mana?  Sedangkan, garis perbatasan negara selalu berubah-ubah.  Yang dinamakan CINA sekarang bukanlah lagi Cina yang dulu.  Ada Taiwan dan RRT, yang keduanya disebut CINA, namun dengan ideologi yang cukup berbeda. 

Kalau kita menganggap bahwa suku Han adalah etnis Cina yang asli, etnis yang dianggap asli pun sudah banyak tercampur oleh darah Mongolia karena penjajahan bertubi-tubi.  Sedangkan orang Cina yang tinggal di sebelah Barat, juga telah bercampur dengan mereka-mereka yang tinggal di perbatasan Kazahktan dan Afganistan.  Karena itulah, di bagian itu, banyak orang yang berhidung mancung dibanding yang lain.  Bila kita menganggap murni sebagai yang lebih tua, sebenarnya sebagian nenek moyang penduduk Nusantara asalnya dari Yunan (Cina Selatan). 

Beribu-ribu tahun yang lalu mereka telah bermigrasi dan menyebar di beberapa kepulauan di Indonesia.  Jadi, bukankah mereka sebenarnya bisa dianggap sebagai Cina yang lebih murni daripada Cina di negaranya yang telah tercampur dengan darah Mongolia?   Antara Cina dan bukan Cina di Nusantara seharusnya tidak menjadi masalah, karena mayoritas dari mereka yang merasa pribumi sendiri adalah para migran. 

Kalau banyak orang akan ngotot bahwa identitas itu tergantung dari mana nenek moyang kita berasal, mungkin orang Indonesia akan berganti dengan orang Persia, orang Arab, orang India, dan orang Cina, karena yang nenek moyangnya berasal dari tempat yang disebut Indonesia akan jarang sekali, bila kita memang mau menelurusi ke belakang.   Namun, pemerintah penjajahan Belanda menginginkan adanya adu domba. 

Sejak abad ke-18, diadakan pemisahan antara mereka yang dianggap Cina dan mereka yang disebut pribumi.  Hal ini dilanjutkan dengan adanya Staats Regeling, Staatsblad No. 1917-30, yang mengharuskan mereka mempunyai identitas sebagai Cina atau pribumi.  Mereka yang merasa dan diharuskan menjadi Cina, ironisnya adalah manusia-manusia yang baru saja datang dari Negara Cina – yaitu mereka yang kebanyakan telah tercampur dengan Mongolia.  Sedangkan, para pendatang dari Yunan, akhirnya harus disebut Indonesia pribumi. 

Tentu, dalam masa perang, sering kali ada kekacauan identitas.  Perkawinan silang juga terjadi dari dulu.  Plus, adanya perselingkuhan dan lain-lain, yang menambah tidak mungkinnya lagi, seseorang mempunyai etnis yang murni.   Diskriminasi pun berlanjut.  Dari kolom KTP sampai passport, stempel CINA masih melekat.

 Sekarang, stempel seperti ini telah ditiadakan, namun sebutan CINA masih bergentayangan.  Tidak peduli, mereka lahir dan besar di Indonesia dan nenek moyangnya telah bergenerasi tinggal di Indonesia.  Yang dianggap CINA sering kali tetaplah CINA. 

Diskriminasi seperti ini bisa dianggap sepele, namun ketika kerusuhan Mei 1998 terjadi, kita bisa melihat, diskriminasi ini bukan hal yang remeh.  Begitu juga dengan munculnya tokoh seperti Ahok sebagai calon gubernur.  Masih saja yang dijadikan bahan untuk menjatuhkan dia adalah kecinaannya.

Tentu saja diskriminasi bisa datang dari berbagai pihak.  Mereka yang merasa CINA, misalnya, melarang anaknya berpacaran dengan yang dianggap PRIBUMI. Memang, kebanyakan manusia menderita amnesia sejarah, sehingga mereka berpaku pada etnisitas yang bisa menimbulkan rasisme luar biasa tanpa disadari.  


Saya telah tinggal di beberapa negara, dan kebanyakan dari teman saya di luar negeri menyebut saya orang Indonesia, karena kebetulan saya lahir dan besar di negara yang sekarang bernama Indonesia, dan berwarga negara Indonesia.  Namun, ketika saya pulang, ke tempat saya dilahirkan, saya masih disebut CINA.  Sebutan yang sangat mengejutkan beberapa teman saya di negara lain.  Karena, bagi mereka, tempat kelahiran dan kewarganegaraan saya sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menyebut saya orang Indonesia. 

Anehnya, ketika saya mempertanyakan sebutan CINA ini di negara saya dilahirkan dan dibesarkan, justru di sinilah, masih banyak yang menuduh saya mengada-ada, tidak saja dari mereka yang dianggap PRIBUMI namun juga yang disebut CINA.  Rasisme yang ditanamkan oleh pemerintah kolonial Belanda masih mempunyai dampak luar biasa!


Soe Tjen Marching (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 23 April 1971) adalah seorang Indonesianis, penulis, dan feminis. Alumnus SMAK Sint Louis Surabaya dan Universitas Kristen Petra Surabaya ini memperoleh gelar PhD dari Universitas Monash, Australi,a dengan menulis disertasi tentang otobiografi dan buku harian perempuan-perempuan Indonesia. Ia telah diundang sebagai dosen tamu di berbagai Universitas di Australia, Britania dan Eropa. 

11 September 2012

Soetiadji Yudho lestarikan budaya Tionghoa

Soetiadji Yudho


Meski sudah banyak berbuat untuk dunia pariwisata di Surabaya, Soetiadji Yudho lebih suka berada di belakang layar. Tak suka diekspos atau difoto. Soetiadji hanya ingin agar Kenjeran Panorama Ria Keluarga (Kenpark) yang dibangunnya bisa dinikmati sebanyak mungkin warga.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, akhir bulan ini (30/9/2012) Soetiadji Yudho menggelar Festival Bulan Purnama alias Tiong Chiu Ce di kawasan wisata pantai sekitar 100 hektare itu. Berikut petikan wawancara LAMBERTUS HUREK dari Radar Surabaya dengan Soetiadji Yudho, bos PT Granting Jaya, Jumat (7/9/2012).    

Ada sesuatu yang khusus dalam perayaan bulan purnama tahun ini?

Begini. Setiap tahun kita berusaha melakukan perubahan atau perbaikan agar pengunjung bisa lebih nyaman dalam menikmati fasilitas-fasilitas di Kenpark. Itu sudah menjadi komitmen kita sejak dulu untuk menyediakan tempat rekreasi keluarga yang nyaman, aman, dan murah. Perubahan atau penambahan fasilitas itu bisa perubahan kecil, sedang, atau besar.

Tahun ini bagaimana?

Perubahannya agak besar. Akses jalan diperbanyak. Jadi, pengunjung yang datang dengan sepeda motor atau mobil bisa dengan mudah masuk ke lokasi. Saya nggak bisa pastikan apakah akhir bulan ini bisa rampung mengingat pekerjaannya cukup besar. Kemudian kami juga membuka  Kya-Kya Pantai Karnaval. Selain menjadi pusat makanan dan minuman, ada wahana-wahana bermain untuk anak-anak.

Apakah ada fasilitas rekreasi lain?

Nah, kita sudah berencana membangun Dinosaurus Park, sebuah taman bermain anak-anak yang modern tapi tetap terjangkau harganya. Dinosaurus Park ini masih dalam proses. Tidak bisaa langsung jadi karena butuh biaya yang besar. Tapi kita punya komitmen untuk selalu melakukan perubahan dari waktu ke waktu.

Lantas,  kapan proses pembangunan di Kenpark ini selesai?

Tidak pernah berhenti. Kita jalan terus melakukan perubahan-perubahan kecil, sedang, atau besar. Sementara itu, kita juga berusaha memelihara fasilitas-fasilitas yang sudah ada agar bisa dinikmati masyarakat luas.

Setiap perayaan bulan purnama Anda selalu menampilkan atraksi budaya. Tahun ini kesenian apa yang ditampilkan?

Cuma tari-tarian dari Marlupi Dance, kemudian penampilan penyanyi Rani dan suaminya yang dikenal sebagai pesulap terkenal di tanah air (Adri Manan). Malam bulan purnama memang momentum untuk mengapresiasi seni budaya dan silaturahmi. Tapi kita juga selalu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Kita usahakan agar selalu ada variasi setiap tahunnya.

Tidak mendatangkan tim kesenian dari Tiongkok?

Tidak perlulah. Seniman-seniman kita itu kualitasnya tidak kalah dengan yang di luar negeri. Jadi, mengapa harus selalu melihat ke negara lain? Selama ini kita lebih banyak menampilkan seniman-seniman lokal seperti pertunjukan wayang kulit, campursari, kesenian Bali, Minahasa, Madura, Jawa, dan seni budaya Tionghoa. Kesenian kita itu sangat kaya sehingga kita tidak harus berorientasi ke luar negeri.

Mengapa Anda begitu getol membuat fasilitas baru seperti Gedung Langit, Kya-Kya, atau Dinosaurus Park?

Begini. Objek wisata pantai itu memang harus memiliki fasilitas, wahana, atau sesuatu yang berkesan bagi pengunjung. Kalau hanya mengandalkan pantainya saja, air laut, perahu nelayan, hutan mangrove... maka pengunjung akan cepat bosan. Paling-paling dia cuma datang dua kali, setelah itu tidak datang lagi. Makanya, di Kenjeran Park ini kita berusaha memanjakan pengunjung dengan berbagai fasilitas yang unik dan menarik. Dan itu akan kita lakukan terus-menerus, tidak akan berhenti dari tahun ke tahun.

Selama ini Kenpark sering dicitrakan sebagai tempat pacaran anak-anak muda. Bagaimana Anda menyikapi image seperti ini?

Siapa sih yang bisa melarang orang berpacaran? Tidak mungkin. Anak-anak muda itu ya memang dunianya seperti itu. Kita yang sudah dewasa pun dulunya pernah muda dan pernah berpacaran. Nah, yang bisa kita meminimumkan ekses dari pacaran itu agar tidak kebablasan.

Kita punya petugas keamanan yang selalu melakukan patroli keliling di Kenpark. Yang jelas, kita ingin menjadikan Kenpark sebagai tempat rekreasi keluarga yang sehat dan murah. Siapa pun dia, asa memenuhi syarat, punya tiket boleh menikmati semua fasilitas di tempat kami. Kita tidak mungkin melarang anak-anak muda masuk ke kompleks Kenpark. (*)



BIODATA SINGKAT

Nama : Soetiadji Yudho
Pekerjaan : Pengusaha
Jabatan : Direktur PT Granting Jaya
Pendidikan : SMA Sin Chung Surabaya

Unit Usaha
Kenjeran Panorama Ria Keluarga (Kenpark)
Hotel Oval Surabaya
Hotel V3 Surabaya

Penghargaan

MURI kue keranjang terbesar
MURI lampion terbanyak
MURI patung Buddha Empat Muka
MURI rombong PKL terpanjang
Forum Lintas Agama Surabaya

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 9 September 2012.

09 September 2012

Gereja baru bernama YHS Church

Billy, Hanna, Yusak.

Sebuah gereja baru diperkenalkan di  Surabaya. Namanya Gereja Yakin Hidup Sukses atau YHS Church.  Gereja ini dipimpin  Pendeta Yusak Hadisiswantoro dan didampingi istrinya, Hanna Asti Tanuseputra,  serta Billy Zakharian (putra Yusak-Hanna).

Gereja YHS mengadakan kebaktian pengurapan di Gedung Srijaya, Jl Mayjen Sungkono Surabaya, Kamis (6/9/2012) malam. Sekitar 2.000 jemaat membanjiri ruangan hingga meluber keluar. Kebaktian sekaligus pengenalan YHS Church ini diawali penampilan Shine Vocal Group dari Malang yang membawakan puji-pujian rohani

Kemudian dilanjutkan pujian penyembahan dari dipimpin Richard Boy Mattulessy. Suasana suasana meriah dengan kehadiran Shout of Triumph Kids dari YHS Malang.Pendeta Yusak Hadisiswantoro dalam khotbahnya mengingatkan jemaat tentang kuasa dalam perkataan.

"Speak what you want to see, not what you see! Speak what you believe!" ujar menantu Pendeta Abraham Alex Tanuseputra, pendiri Gereja Bethany Indonesia itu.

Yusak Hadisiwantoro selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu pendeta di Gereja Bethany.  Dia sempat merilis album dengan salah satu nomor hit Yeshua Hamasia. Putri Yusak-Hanna bernama Sandra Angelia merupakan Miss Indonesia 2008.

Usai khotbah, kebaktian kebangunan rohani ini dilanjutkan dengan pengurapan jemaat. Sekelompok pemain musik tradisional angklung membawakan lagu Monggo Sami Nderek Gusti, kemudian penampilan tarian tradisional dengan kostum dari berbagai daerah di Indonesia diiringi lagu Kami Terima yang dinyanyikan tim pujian dari Malang.

Pendeta Hanna Tanuseputra mengaku tak menyangka melihat ribuan jemaat memenuhi Srijaya Hall. "Puji Tuhan, suasana di Srijaya kemarin seperti pesta rohani. Semoga jemaat yang hadir diberkati oleh Tuhan," katanya.

Oh ya, YHS ini semula kepanjangannya Yesus Hidup Sejati. Tapi tak lama kemudian diganti menjadi Yakin Hidup Sukses. Ketika melihat spanduk-spanduk di pinggir jalan raya di Surabaya, yang memajang foto Yusak Hadisiswantoro, saya langsung mengartikan YHS sebagai akronim nama Yusak Hadisiswantoro. Atau, bisa juga Yeshua Hamasia, judul lagu yang dipopulerkan oleh Yusak.

Tidak tanggung-tanggung, YHS Church memasang iklan satu halaman penuh di koran Jawa Pos edisi 8 September 2012. Wow, luar biasa!Ngomong-ngomong, kepanjangan YHS yang benar itu apa?

"Yakin hidup sukses!" kata Hanna Hadisiwantoro, nama populer Hanna Tanuseputra, di Radio Bahtera Yudha Surabaya, Sabtu (8/9/2012) sore. Nadanya sangat tegas.

08 September 2012

Aiguo orang-orang Tiongkok

Kita perlu meniru orang-orang Tiongkok yang sangat bangga, bahkan fanatik, dengan produksi negaranya. Apa pun kata orang tentang barang-barang made in China yang buruk mutunya, mereka tetap bangga menggunakannya.

Bisa jadi para cungkuo ren ini tidak tahu kalau ponsel cungkuo sering diledek orang Indonesia di kota-kota besar. Nona Yen dari Shanghai misalnya selalu pamer plus promosi ponsel nokia ala Tiongkok.

"Ini balang bagus sekali dan mulah. Buat apa pakai hape yang mahal," kata nona yang sudah tiga tahun tinggal di Surabaya ini.

Tak hanya hape, nona cakep ini selalu membawa oleh-oleh camilan dari Shanghai seperti manisan, permen, teh pahit, dsb. Sambil tak lupa bilang semuanya barang bagus dan enak.

Suatu ketika, di sela makan siang, ada orang tionghoa Surabaya yang membahas ponsel pintar. Dia kecam habis ponsel-ponsel cungkuo yang murah dan jelek kualitasnya. Memakai barang buatan Tiongkok bikin gengsi jatuh.

"Tidak bisa xiangshen, hape cungkuo itu bagus," protes Nona Yen.

Kemudian dia nerocos dalam bahasa Mandarin yang sangat cepat. Saya sama sekali tidak paham kecuali xiangshen yang artinya mister atau tuan atau bapak.

Semua orang Indonesia tahu kualitas produk Tiongkok itu kayak apa. Tapi diam-diam saya kagum dengan sikap Nona Yen (juga banyak orang RRT lain di Surabaya) yang sangat cinta produk negerinya. Mereka punya AIGUO yang sangat tinggi. Semangat cinta negara Cungkuo, terlepas dari kelemahan dan kekuragannya.

Sebaliknya, kita orang Indonesia sudah lama dijangkiti XENOFILIA, meminjam istilah Jaya Suprana. Yakni semacam penyakit gandrung berlebihan terhadap segala sesuatu dari luar negeri, khususnya Barat. Kalimat-kalimat bahasa Indonesia sekarang pun sepertinya harus ada frase, ungkapan, atau kata English. Makin nginggris makin keren dan modern.

Maka, kampanye CINTAILAH PLODUK-PLODUK INDONESIA dari taipan Alim Markus layak dipujikan. Meskipun belum tentu Alim Markus sendiri menggunakan ploduk-ploduk dalam negeli.

06 September 2012

Janjian dulu baru ketemu

Sore tadi saya lihat di televisi wartawan gosip memburu Puput Melati di sebuah mal. Penyanyi cilik lawas ini berkali-kali menolak diwawancarai tapi si reporter ngotot.

Ucapan Puput pendek dan ketus. Si reporter kejar terus sambil lempar pertanyaan soal gosip. Rupanya begitulah cara kerja reporter infotainment dalam mencari berita. Main nyanggong, labrak, cegat... meskipun sumber berita jelas-jelas tak ingin bicara.

Saya kurang suka interview keroyokan ala jumpa pers. Atau rame-rame mencegat pejabat, artis, dan sumber berita lainnya. Saya suka one-on-one interview alias wawancara satu lawan satu. Rasanya lebih puas dan kesannya sangat mendalam.

Tapi kadang saya kena batunya ketika menghadapi tokoh-tokoh lawas, old school, berpendidikan Belanda atau 1950an. Saklek dan disiplin luar biasa. Kalau mau bertemu harus janjian atau appoinment dulu. Gak bisa ujug-ujug ketemu. Apalagi main seruduk ala awak infotainment.

"Anda sudah janjian sama saya," tanya seorang guru besar senior Universitas Airlangga ketika saya datang ke rumahnya.

"Belum Pak. Saya hanya minta waktu Bapak 30 menit saja!"

"Tidak bisa! Anda tidak appoinment! Anda tidak tahu tata krama."

Saya pun pulang. Malamnya saya menelepon beliau minta waktu bertemu di rumahnya. Beliau bilang dua hari lagi jam sekian on time.

Benar saja. Sepuluh menit sebelum jadwal yang disepakati beliau sudah menunggu saya di ruang tamu. Ada camilan, kopi yang enak. Obrolan pun mengalir lancar. Begitu banyak pengetahuan dan wawasan yang saya dapat dari tokoh itu. Saya pun jadi lupa pengalaman diusir dari luar pagar rumahnya dua hari silam.

Ternyata tak hanya Pak S yang menerapkan disiplin ala Belanda. Pak M juga menyuruh saya pulang secara halus karena datang ke rumahnya tanpa appointment. Beberapa tokoh lawas pun punya disiplin yang sama.

Yang kacau adalah tokoh-tokoh yang tak mengalami pendidikan Belanda. Khususnya orang Indonesia yang lahir di atas tahun 1969 alias mulai era Orde Baru. Selain kurang disiplin, tak biasa hidup dalam jadwal yang ketat, dan sering ingkar janji sendiri. Appoinment tujuh kali pun tak berguna. Makanya dicegat saja di plaza!

05 September 2012

Ridwan S Harjono - Bhakti Persatuan dan Perpit Jatim

Ridwan memberikan bingkisan Lebaran di LPA Benowo, Surabaya.



Selama bulan Ramadan lalu, para pengusaha Tionghoa yang tergabung dalam Yayasan Bhakti Persatuan (YBP) dan Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS) blusukan ke berbagai lokasi untuk bakti sosial. Selama satu dekade lebih, Ridwan Soegianto Harjono (71) setia memimpin yayasan yang bermarkas di Kertajaya Indah Timur 31 Surabaya untuk menyantuni ribuan masyarakat kurang mampu.

Berikut wawancara LAMBERTUS HUREK dengan Ridwan S. Harjono:
    
Rupanya, bulan puasa lalu Anda dan para pengusaha lain sangat sibuk?

Betul. Dan itu memang sudah menjadi agenda rutin kami dalam 12 tahun terakhir setiap bulan Ramadan. Kami ingin sedikit berbagi dengan saudara-saudari kita umat muslim agar mereka dapat menjalankan ibadah puasa dan Lebaran dengan baik.

Mengapa Anda harus turun langsung untuk menemui warga?

Karena kami selalu ingin silaturahmi, bisa saling menyapa, saling kenal, menjalin persahabatan. Turun langsung ke lapangan juga membuat kita bisa lebih memahami berbagai persoalan riil yang dihadapi masyarakat bawah. Kami mendengar secara langsung laporan dari pengurus atau koordinator mereka. Kami juga ngobrol dengan pemulung, anak jalanan, anak yatim, tukang becak, dan sebagainya.

Apa saja yang diberikan kepada masyarakat saat baksos?

Bahan-bahan kebutuhan pokok seperti beras, biskuit, mi instan, kue-kue, buku tulis, gula pasir, sabun mandi, pasta gigi, dan sebagai. Semuanya merupakan sumbangan dari para pengusaha dan yayasan-yayasan yang tergabung dalam Yayasan Bhakti Persatuan. Syukurlah, setiap tahun jumlah paket yang disalurkan kepada masyarakat selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Berapa banyak masyarakat yang disantuni dalam baksos ini?

Untuk tahun ini kami memberikan 7.500 paket puasa dan Lebaran kepada masyarakat kurang mampu. Ramadan tahun lalu 5.000 paket. Jadi, jumlah sasaran kali ini meningkat 2.500 orang atau naik 50 persen. Mudah-mudahan tahun depan meningkat lagi karena semangat para pengusaha untuk baksos ini memang makin lama makin menggembirakan.

Lantas, bagaimana para pengusaha memilih kelompok sasaran?

Selama ini kami sudah punya jalinan kerja sama dengan berbagai panti asuhan dan yayasan sosial milik Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dan keluarga almarhum Bapak HM Noer yang menangani acara buka puasa bersama anak yatim dari Surabaya dan Madura. Kemudian komunitas pemulung di LPA (Lahan Pembuangan Akhir) Benowo, anak jalanan, dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia yang juga sering menyantuni anak yatim.

Ada yang berbeda dari baksos tahun ini?

Oh ya, tahun ini kami bekerja sama dengan pihak TNI dan Polri untuk bersama-sama menyantuni kaum duafa. Dengan Polrestabes Surabaya, kami turun langsung untuk menyalurkan paket Lebaran kepada sekitar 2.500 orang tukang becak di seluruh Kota Surabaya.

Kenapa tukang becak perlu mendapat perhatian khusus?

Seperti disampaikan oleh Bapak Alim Markus, ketua dewan pembina Yayasan Bhakti Persatuan, para tukang becak ini merupakan orang-orang yang hampir 24 jam berada di jalan raya. Mereka sebetulnya sangat membantu tugas kepolisian untuk menjaga keamanan kita sebagai masyarakat Surabaya. Kalau ada hal-hal mencurigakan, mereka bisa menyampaikan laporan kepada kepolisian. Kalau Surabaya aman dan damai, maka orang bisa bekerja dengan tenang, iklim usaha bisa berjalan dengan baik.

Kemudian, dengan TNI AD, kami bekerja sama dengan Kodim di Jl Gresik untuk bersilaturahmi dengan anak-anak yatim piatu. Mungkin suatu ketika kita bisa membuat proyek atau kegiatan lain yang lebih konkret, tidak hanya bakti sosial. Dan itu bisa dilaksanakan seperti pembuatan klinik jiwa di wilayah Ponorogo. Di sana kami membangun sebuah rumah sakit kecil, semacam puskesmas, untuk menangani warga yang mengalami keterbelakangan mental, kurang gizi, dan sejenisnya.

Bagaimana para pengusaha membagi waktu untuk baksos di tengah kesibukan mengurus perusahaan?

Ini sudah jadi komitmen kami untuk mengadakan bakti sosial kepada masyarakat. Para pengusaha itu punya tanggung jawab sosial. Sesibuk apa pun kita berusaha menyisihkan waktu agar bisa turun langsung bersilaturahmi dengan masyarakat. Orang sesibuk Pak Alim Markus pun bisa menyisihkan waktunya untuk menemui para tukang becak di halaman polrestabes dan ribuan anak yatim di Masjid Al Akbar.

Syukurlah, selama sepuluh tahun lebih komitmen para pengusaha terhadap masyarakat tidak berkurang. Buktinya, jumlah masyarakat yang dijangkau semakin bertambah dari tahun ke tahun. (*)


Ridwan sedang diwawancarai TVRI Jawa Timur.

BIODATA

Nama : Ridwan Soegianto Harjono
Nama Tionghoa : Tan Giok Twan
Lahir : Pandaan, Pasuruan, 1941
Jabatan : CEO Star Group (PT Ria Star)
Bidang Usaha : Perdagangan, industri, realestat, perbankan.
Pendidikan :
Sin Hua Surabaya (1955-1958)
Chiau Kong (1959-1961)

Organisasi :
Yayasan Bhakti Persatuan
Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa
Persahabatan Tiongkok-Indonesia
Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya

Alamat : Jl Kertajaya Indah Timur 31 Surabaya
    

02 September 2012

Satwa dilepas, ditangkap, dijual, dilepas lagi



Minggu pagi 2 September 2012 saya nongkrong di depan Sanggar Agung, kelenteng terkenal di Kenjeran Surabaya. Menikmati kelapa muda. Saya perhatikan penjual burung pekan di depan pintu masuk kelenteng.

Burung-burung kecil itu dijual seekor Rp 1.000. Pembelinya ya umat kelenteng yang melakukan upacara fangsen: melepas satwa ke habitatnya di alam bebas. Sesuai bunyi doa: semoga semua makhluk berbahagia!

Meski bukan buddhis, saya sangat setuju dengan konsep fangsen ini. Tidak baik mengurung binatang di alam sangkar atau kandang. Sebagus-bagusnya kandang hewan, dikasih makanan yang enak, si binatang pasti lebih bahagia hidup di habitat aslinya. Karena itu, binatang-binatang yang dikerangkeng di kebun binatang sebetulnya tidak berbahagia. Tidak sejahtera.

Yang merisaukan saya, filsafat fangsen yang bagus ini justru kontraproduktif karena melahirkan pedagang-pedang burung peking, burung lain, kura-kura dsb untuk memasok umat yang akan bikin fangsen.

Bermunculan pemburu burung dan satwa lain untuk dijual di dekat kelenteng atau vihara. Dan umat membeli satwa itu untuk dilepas ke alam bebas. Lalu ditangkap lagi oleh pemburu burung dan dijual ke pemasok burung di Pasar Kembang atau Kenjeran. Tujuan mulia fangsen pun tidak tercapai.

Membebaskan satwa dari kerangkengan manusia seperti yang diinginkan praktisi fangsen memang sangat sulit. Begitu banyak pasar burung di kota-kota. Jualan kura-kura atau reptil. Para penghobi binatang tentu saja punya ideologi yang bertentangan dengan fangsen.

Ada baiknya teman-teman penyelenggara fangsen memikirkan cara yang lebih efektif agar ritual cinta satwa ini bisa tepat sasaran. Agak aneh kalau burung-burung kecil dikerangkeng di tempat ibadah yang rutin melakukan upacara fangsen.

Nammo buddaya!