22 August 2012

Kritik Fariz RM untuk wartawan musik




Iseng-iseng saya membeli buku loakan Gramedia Malang karya pemusik Fariz RM berjudul Living in Harmony. Harganya cuma 10 ribu tapi wuih... isinya luar biasa bagus. Kita jadi tahu kegalauan Fariz tentang industri musik yang kacau dan intelektualitas seorang musisi serbabisa kelahiran Jakarta 5 Januari 1959 itu.

Buku ini menghimpun 59 catatan ringan Fariz yang sangat bergizi. Kita dibuat terbelalak dengan isi perut industri musik kita hari ini yang habis-habisan mengeksploitasi seniman alias artis. Itu pula sebabnya lagu-lagu pop sekarang mirip-mirip dengan tema yang sama. Beda dengan musik pop di era kejayaan Fariz RM pada 1980an yang sangat variatif.

Ada sebuah tulisan yang secara tajam menyoroti kualitas jurnalistik musik di Indonesia. Begitu parahnya karena berita yang diangkat umumnya soal selingkuh, kawin cerai, gosip murahan. Tak ada liputan mendalam tentang musik atu review seputar karya seniman industri musik.

Sudah begitu, menurut ayah tiga anak ini, wartawan sering merasa lebih tahu jeroan musik padahal dia sama sekali tidak bisa memainkan satu pun instrumen musik. Konyol! Fariz juga jengel karena si reporter sering menanyakan biodata, tanggal lahir, kapan mulai rilis album, dsb.

"Padahal saya sudah 31 tahun berkarier sebagai Fariz RM," tulisnya.

Wartawan sekarang dinilai malas mencari data yang sebetulnya tersedia melimpah di internet. Data elementer saja tak punya, bagaimana bisa si wartawan kita bisa membuat tulisan yang baik tentang Fariz RM dan musisi lain?

Fariz mengaku sangat asyik membaca ulasan musik yang ditulis wartawan-wartawan Barat. Sebab si wartawan bule itu tahu betul apa yang ditulisnya. Lengkap dengan data dan referensi.

"Kapan jurnalis-jurnalis di negeri saya tercinta ini mampu menghasilkan tulisan atau pemberitaan yang enak dan nikmat untuk dibaca?" tanya Fariz RM.

Mudah-mudahan gugatan pemusik sekaliber Fariz ini direspons para wartawan hiburan. Kalau hanya berkutat membahas kawin-cerai, gosip artis, ya sampai kapan pun jurnalisme kita tetap saja begini.

No comments:

Post a Comment