11 August 2012

Ketika orang membakar koran



Orang di daerah pegunungan seperti Trawas atau Pacet punya kebiasaan berdiang. Membuat perapian untuk menghangatkan badan saat hawa sangat dingin. Cara paling mudah adalah membakar ranting atau kayu kering yang mudah dijumpai di hutan.

Saya kaget melihat Mbak Hasna di Trawas meletakkan setumpuk kertas koran di atas kayu-kayu kering. Kertas koran itu buat memicu api karena mudah terbakar. Dan... dalam sekejap kertas koran itu sudah jadi arang.

Saya lihat koran yang dibakar ini macam-macam termasuk koran terbesar di Jakarta dan Surabaya. Saya tidak tega melihat koran yang kata orang produk intelektual itu hanya dijadikan bahan bakar belaka.

"Nggak apa-apa, itu kan koran bekas, sudah dibaca semua," kata mbak yang asli orang pegunungan ini tanpa bebas.

Sulit berdiskusi serius dengan orang-orang yang tak pernah merasakan susahnya membuat koran. Bagaimana bikin janji dengan sumber, wawancara, motret, menulis, editing.. masuk dapur percetakan hingga keluar menjadi NEWSPAPER.

Setelah dibaca sebentar, NEWS-nya hilang dan tinggal PAPER-nya saja. Dijual ke tukang loak tak laku, cuma kiloan. Diberikan ke tukang warung cuma jadi bungkus kacang atau penutup makanan. Diberikan kepada orang desa di pegunungan ya bakal dibakar bersama kayu kering untuk mengusir malam yang dingin.

Sejak melihat koran-koran bekas dibakar seenaknya, dan sebagian besar korang yang saya bawa, saya akhirnya memutuskan tidak lagi meninggalkan koran di warung mbak gendut itu. Lebih baik diberikan kepada orang yang suka membaca dan haus informasi tapi tidak pernah membeli surat kabar. Syukurlah, di desa masih ada orang yang seperti itu.

Koran memang beda dengan buku. Kalau masyarakat atau kejaksaan membakar buku pasti geger karena dianggap membakar ilmu pengetahuan. Meskipun buku yang dibakar itu kualitasnya sampah. Sebaliknya, ketika orang membakar koran bekas tidak ada reaksi sama sekali dari aktivis LSM, budayawan, atau pemerintah. Orang bebas membakar koran atau majalahnya karena toh miliknya sendiri?

No comments:

Post a Comment