05 August 2012

Jangan pernah pinjamkan buku

Sudah setahun ini buku biografi pemusik hebat dipinjam Mbak Nuri. Tapi tidak ada isyarat akan dikembalikan. Diam-diam sudah saya ikhlaskan. Tak ada harapan untuk dia kembalikan.

Tak hanya Nuri, masih banyak buku lain yang 'hilang' di tangan teman atau kenalan. Saat meminjam katanya segera dikembalikan. Sebulan berlalu, dua bulan, enam bulan... satu tahun... bablas angine!

"Jangan pernah meminjamkan buku anda karena hampir pasti tidak kembali," pesan seorang profesor di Surabaya. Kalau teman anda ngotot, silakan fotokopi lalu minta uang pengganti ongkos fotokopi.

Prinsip ini juga dipegang teguh Oei Hiem Hwie, kolektor buku-buku Pramoedya dan pendiri Perpustakaan Medayu Agung Surabaya. Perpustakaan yang punya ribuan buku langka, majalah lawas era kolonial, hingga tulisan tangan almarhum Pram tidak pernah melayani peminjaman buku. Yang ada hanya layanan fotokopi. Karena itu, koleksi buku di perpustakaan ini selalu bertambah, tidak berkurang kayak perpustakaan sekolah atau universitas.

Pesan para bapak perbukuan ini sebenarnya sudah lama saya dengar, tapi selalu saya lupakan. Sebab, yang pinjam itu memang orang-orang dekat atau kenalan akrab. Saya sengaja membuktikan tesis pak profesor bahwa buku bagus tak akan dikembalikan. Hanya lima persen orang yang satria mengembalikan buku. Dan ternyata benar!

Gara-gara pengalaman buruk ini, belakangan saya terpaksa sering berbohong. Yakni ketika ada mahasiswa atau peneliti yang menghubungi saya via email hendak meminjam buku literatur tertentu yang pernah saya resensi di internet. "Maaf, buku itu sudah dipinjam dan belum dikembalikan," kata saya, berbohong.

Sederhana saja pikiran saya. Kalau orang-orang dekat saja sulit mengembalikan buku, bagaimana pula dengan orang yang tidak kita kenal? Hanya tahu sedikit via internet?

Di Indonesia soal amanah atau tanggung jawab sangat mudah diomongkan tapi sangat sulit dipraktikkan dalam dunia perbukuan. Tidak heran banyak taman bacaan atau perpustakaan kecil yang tutup.

Beberapa tahun lalu saya bersama Pak Bambang Haryaji (almarhum) pernah merintis taman bacaan kecil-kecilan di pelosok Trawas, Mojokerto. Kami pasok buku-buku lama, yang bagus, majalah, surat kabar. Maksudnya agar ada bacaan sembari ngopi ketimbang ngobrol ngalor-ngidul soal kebatinan atau nomor togel.

Hasilnya memang sesuai prediksi. Buku-buku koleksi, majalah, koran, hilang. Bukannya dibaca di tempat tapi dibawa pulang entah ke mana. Ibu yang kami percaya mengurus taman bacaan itu tidak bisa berbuat banyak.

Tak hanya di dusun terpencil, di Surabaya pun program taman bacaan pun tidak jalan. Yang agak lumayan hanya perpustakaan umum di kawasan Rungkut.

No comments:

Post a Comment