20 August 2012

Jagung lebih mahal daripada beras


 

Begitu banyak hal aneh di NTT. Provinsi yang sejak dulu diplesetkan sebagai Nusa Tetap Tertinggal atau Nasib Tidak Tentu. Harian Kompas edisi 16 Agustus 2012 memberitakan sekarang ini harga jagung di NTT Rp 15.000, sementara harga beras tertinggi Rp 10.000.

Anda tahu padi tidak bisa tumbuh bagus di NTT karena kendala irigasi. Hanya Manggarai dan Ngada yang lumayan bagus sawahnya. Daerah lain di NTT begitu gersangnya sehingga hanya bisa ditanami jagung dan kacang-kacangan. Karena itu, makanan pokok orang NTT sejak dulu adalah jagung.

Pada 1980an orang NTT yang mengonsumsi beras hanya PNS dan ABRI. Beras kualitas jelek begitu mahalnya sehingga tak terjangkau rakyat biasa. Akibatnya, gengsi beras sangat tinggi, dianggap makanan priyayi, pangan orang pintar. Bahkan ada guru-guru di NTT yang mengatakan begini: orang NTT itu bodoh karena makan jagung. Coba kalau makan nasi (beras) pasti orang NTT bisa cerdas kayak orang Jawa.

Sejak awal 2000 kondisi perpanganan di NTT makin runyam. Mengkhawatirkan. Terutama sejak beras miskin alias raskin digelontorkan besar-besaran. Apalagi dibuat isu seakan-akan banyak daerah kelaparan. Raskin ini cuma Rp 1000, bahkan gratis untuk warga yang benar-benar tak punya uang.

Sejak itulah beras mulai menggantikan jagung sebagai makanan pokok. Harga beras di pasar makin murah, sebaliknya harga jagung makin mahal. Dan akhirnya jauh melampaui harga beras kualitas bagus.

Karena itu, ketika saya berlibur di Lembata belum lama ini saya tidak pernah menemukan yang namanya nasi jagung. Semuanya beras khususnya raskin.

Mesin giling jagung atau selep yang di masa kecil saya sangat banyak kini tak lagi saya temukan. Bagaimana mau giling jagung kalau beras raskin melimpah ruah?

Maka, gerakan pangan lokal harus lebih gencar dilakukan pemerintah provinsi NTT, tak hanya sekadar slogan belaka. Bukan tidak mungkin suatu ketika orang NTT tak lagi menemukan jagung di bumi Flobamora.

3 comments:

  1. Beras (apalagi yg impor), dihasilkan dengan bantuan mesin2..... jadinya lebih murah ongkos produksinya. Beda dengan jagung yg ongkos produksinya begitu tinggi, maklum jika mahal......
    Apalagi, petani di sini sudah banyak mengkonversi lahannya menjadi lahan tanaman industri, sehingga lahan tanaman pangan jadi berkurang......

    ReplyDelete
  2. Nggak juga Bos! Saya pelanggan beli jagung di Surabaya. Yang bagus Rp 6.000, yg biasa cuma Rp 5.000. Mau beli banyak pun selalu tersedia di pasar2 di seluruh kota. Makanya, saya nggak habis pikir harga jagung di NTT (seperti ditulis Kompas) sampai Rp 15.000.

    Saya ini meskipun sudah lebih lama di luar NTT tapi masih saja rutin beli jagung untuk campur beras. Terima kasih atas komentar Anda.

    ReplyDelete
  3. numpang nanya om????? ngajarin org ntt supaya pintar gimana ya????? soal nya diajarin tiap hari masih aja ga mudeng.... apa perlu main kayu / tongkat ???

    ReplyDelete