12 August 2012

Ganti gereja kayak ganti baju

Suasana kebaktian ala Gereja Haleluya


Cewek Tionghoa ini cantik, 20-an tahun, mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta terkenal di Surabaya. Sering kutip ayat Alkitab, khas umat gereja haleluya. Dia ini tipe jemaat yang kritis, lekas tidak puas dengan gembalanya.

Dalam dua tahun ini Meili sudah tiga kali pindah gereja di Surabaya. Sama-sama aliran haleluya. Dia kurang cocok aliran Protestan, apalagi Katolik. Dia bilang tak akan mau punya suami Katolik meski sama-sama Tionghoa.

"Kalau yang Katolik itu ikut saya oke-oke sajalah," kata cewek yang fasih bahasa Mandarin ini.

Mengapa gonta-ganti gereja tiap delapan bulan?

"Gak cocok sama pendetanya. Awalnya asyik tapi lama-lama gak asyik" katanya.

Kalau pendeta kamu yang sekarang asyik?

"Asyik," katanya.

Asyik bagi Meili artinya luas: pintar khotbah, luas wawasan, integritasnya baik.


Jangan-jangan kamu pindah gereja lain lagi kalau sudah bosan?
Seberapa kuatkah kamu ganti gereja?

Meili diam sejenak.

"Mudah-mudahan tidak," katanya.

Kalaupun toh pindah juga baginya no problem. Pindah gereja begitu mudahnya, semudah mengganti baju saja.

Sebagai orang Flores, awalnya saya sangat heran melihat kebiasaan gonta-ganti gereja di Jawa. Tapi lama-lama saya bisa memahami karena latar belakang budaya, tradisi hingga teologinya memang beda. Logika tradisional orang Flores tidak bisa diterapkan di Jawa yang amat sangat heterogen denominasi gerejanya.

Orang Flores sejak dulu hanya kenal satu gereja, yakni Katolik. Protestan tidak ada. Aliran haleluya lebih tidak ada lagi. Karena itu, meskipun doktrin katolisme diserang habis-habisan sejak era Luther, Calvin, Zwingli... orang Katolik di Flores tenang-tenang saja.

Tetap sembahyang kontas alias rosario, sembahyang Bapa Kami, Salam Maria, Aku Percaya, Saya Mengaku, Hendak Berlindung (ini doa khas umat Katolik di Flores meminta perlindungan Bunda Maria sebagai penutup Sembahyang Malam menjelang tidur), Ya Yesus yang Baik...  atau ikut latihan paduan suara kampung yang sangat sederhana.

Orang-orang Flores yang terlalu lama merantau di daerah yang katoliknya sangat minoritas biasanya dicurigai pindah gereja atau bahkan jadi mualaf. Maka, biasanya diam-diam orang kampung mengetes si Flores yang baru mudik. Caranya melihat sikap sebelum makan. Buat tanda salib atau tidak?

Kalau buat tanda salib berarti masih Katolik. Meskipun selama merantau di Jawa atau Malaysia si Flores itu sangat jarang, bahkan tidak pernah ikut misa di gereja. Hehehe....

16 comments:

  1. ganti baju bagi ku tidak penting, yang penting adalah ganti celana dalam. bang hurek sama seperti aku, kita sama2 lahir di kepulauan sunda kecil. hurek di flores, sedangkan aku di bali.
    sewaktu kanak2 di bali aku bersama teman2 pergi sembayang di pura hindu. sama mama-ku pergi ke kelenteng, sembayang toapekkong. di jawa -banyuwangi sama teman2 sekelas SR Negeri, ikut ngaji dan belajar bahasa arab. sewaktu SMP sekolah kristen protestan, ikut sembayang cara protestan. di SMA sekolah katholik aku ikut sembayang pater noster, ave maria,rosario dan hafal semua liturgi dalam bahasa latein. waktu remaja sesuai jaman, terpengaruh soekarnoisme dan ikut jadi pengagum ho chi min dan che guevara. entah apa agama-ku ? bisa semua dan bisa juga tidak samasekali. yang aku tau sekarang hanyalah ajaran budhi pekerti, hormati orangtua, jangan berdusta,jangan mencuri dan jangan serakah.

    ReplyDelete
  2. kalo gonta ganti pendeta bukannya wawasan jadi tambah luas
    beda orang kan penafsiran atas kitab sucinya suka berbeda, jadinya tidak monoton dengan satu kepala saja


    maaf kalo aku kurang memahami hal kayak ini

    ReplyDelete
  3. ini krn tradisi kekristenan di jawa masih sangat baru dan belum mengakar. jemaat masih mencari2 bentuk dan mudah terpengaruh tawaran gereja2 yg entertaining....

    beda dgn agama islam yg sudah mengakar dan menjadi agama rakyat.

    ReplyDelete
  4. Pengamat Indonesia2:41 AM, August 15, 2012

    Menanggapi Sdr Anonymous, tradisi kekristenan di Jawa sudah seratus tahun lebih, bgmn dibilang tidak mengakar. Gereja Katolik yang di desa-desa itu liturginya pakai bahasa Jawa. Gereja Protestan ada GKJW yang juga menggunakan bahasa Jawa. Yang dikritik Bung Hurek sebagai gereja haleluya itu memang fenomena baru, yaitu aliran2 Protestan sempalan yang tidak mainstream, yang bukan GKI, GPIB. Gereja2 ini teologinya tidak dalam, sangat konservatif dalam pandangan sosial, sangat menekankan pengrekrutan anggota yang agresif, dan dalam khotbah2nya cenderung suka menyalahkan orang Kristen lainnya, terutama Katolik.

    ReplyDelete
  5. Lama tidaknya kekristenan pribumi (bukan belanda eropa) itu sangat relatif. Baptisan pertama kristen (protestan) di jawa timut 12 september 1844. Paulus tosari cs ini yg kemudian merintis gkjw di mojowarno jombang.

    Gereja katolik jawa terlambat 60 tahun. Baptisan katolik pertama di sendangsono, jogja 14 desember 1904. jadi sudah seratus tahun lebih meskipun kekristenan di jawa itu sifatnya diaspora.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menambahkan, mgkn rekans bisa baca buku Soegija dari Ayu Utami, bisa sedikit menggambarkan kehidupan awal Gereja Katolik di Jawa Tengah :)

      BD

      Delete
  6. Mas Hurek makin Pinter... Good luck yo mas, salam..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pintar opone mbak Judith??

      Salam untuk mbak Judith dan keluarga di Swiss, semoga masakannya tetap maknyus. Kayaknya sudah kerasan di eropa nih.

      Delete
  7. gereja2 haleluya or gerakan karismatik itu memang gerakan global yg membuat kekristenan lebih hidup n berkembang. gereja2 lama cenderung tidur shg org cenderung mencari alternatif baru.

    salam damai utk semua!

    yahya

    ReplyDelete
  8. ini memang persoalan besar di gereja2 dan kekristenan secara umum. dan sudah jadi masalah ketika gereja2 yg terus pecah itu mencoba membangun gereja baru di lingkungan masyarakat islam kayak indonesia. bakal ada penolakan krn gereja tak akan pernah cukup.

    ReplyDelete
  9. istilah yg menarik: Gereja Haleluya!!!! hehehe

    ReplyDelete
  10. boleh ganti gerejanya yang penting jangan ganti Yesus-nya..kalau saya lebih suka katolik, mau misa dimana saja tetap nyaman walaupun setiap daerah punya ciri khas sendiri. Tapi tata cara ibadat dan liturgi tetap sama. mengenai perbedaan doktrin, sudah ada sejak abad ketiga. itulah sebabnya ada konsili nicea, vatikan I dan vatikan II. yang sebenarnya mencontoh orang kristen perdana, dimana pernah ada masalah doktrin tentang apakah orang kristen harus disunat. dan masalah itu telah diputuskan di Yerusalem oleh kedua belas murid Yesus(bdk kisah para rasul). contoh kecil berikut dapat memberikan gambaran kenapa perbedaan doktrin itu dapat memberikan masalah. kebetulan saya punya kawan satunya pentakosta satunya lagi kristen protestan biasa, dua2nya dari mamuju. kami kul di makassar. mereka berdua tidak pernah akrab layaknya saudara. kalau sudah cerita soal agama masing2 saling menjelekan gereja satu sama lain. padahal dua2nya masih sepupuan. bleh....
    kalau sudah bagini saya hanya ingat perkataan Yesus "dari buahnya kamu akan tahu apakah pohon itu baik atau buruk".

    terakhir saya mau bilang: kawanan domba tanpa gembala yang baik sangat mudah diserang dan diceraiberikan.

    ReplyDelete
  11. gereja2 harus introspeksi.

    ReplyDelete
  12. Fenomena gonta-ganti gereja, bahkan gonta-ganti agama mudah-mudahan karena si pelaku mencari sebuah kesejatian iman. Istilah saya untuk pelaku adalah "puber" keimanan. Mudah-mudahan suatu saat bisa menemukan persinggahan yang tepat untuk menemukan hakikat kehidupan dan hakikat ketuhanan yang sejati...Amin..

    ReplyDelete
  13. yg jadi masalah adalah umat Protestan yg Calvinist seperti saya, atau umat Katolik seperti om hurek, ketika mau jadi anggota "aliran Haleluya" maka harus dibaptis ulang, karena baptisan kita waktu bayi dianggap tidak sah... ini kan aneh... padahal baptisan itu sekali seumur hidup...

    ReplyDelete
  14. om hurek, aku juga sudah beberapa kali berganti gereja, tapi dgn alasan pindah domisili... dan memang keluargaku gak bisa jauh-jauh dari aliran Protestan Reformed atau Calvinist...

    aku dibaptis saat masih bayi di HKBP Jatiwaringin, Jakarta Timur, persis ketika Gereja Protestan terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara itu mengalami konflik hebat akibat campur tangan pemerintah Orde Baru sehingga orang tua saya tidak lagi menjadi jemaat HKBP...

    agaknya orang tua memutuskan saya dibaptis di gereja itu karena di situlah mendiang kakek saya aktif sebagai penatua dan pemimpin koor...

    sejak kecil aku bergereja di GKI... kemudian pindah ke Prabumulih, sebuah kota kecil di Sumatera Selatan yg belum ada GKI, kami bergabung di gereja Oikumene di bawah binaan PGI... gereja ini merupakan persatuan dari para jemaat dgn latar belakang Gereja Protestan yang berbeda, mayoritas dari HKBP dan ada juga dari GPIB... gedung gereja ini dibangun sebagai fasum oleh Pertamina, dan juga dipakai oleh stasi gereja Katolik untuk misa Minggu sore (tiap 2 minggu sekali), dan itulah satu2nya gereja Katolik di kota itu, parokinya kalo gak salah di Muara Enim...

    pindah lagi ke daerah pinggiran Bekasi, kami lagi-lagi bergereja di gereja Oikumene di bawah PGI... alasannya simpel: sangat dekat dari rumah... dan kebetulan yg dekat ini memang termasuk gereja2 Calvinist dan anggota PGI... kalo ada gereja aliran Haleluya dekat rumah kami belum tentu kami mau ke situ...

    gereja Oikumene ini jemaatnya juga beragam latar belakang, tetapi mayoritas dari GPIB dan GKI, ada juga dari HKBP dan gereja2 lain... oh iya, gereja2 Oikumene dalam binaan PGI mengakui keanggotaan ganda, jadi tidak perlu keluar dari gereja asal... bangunan gereja juga dipakai oleh stasi gereja Katolik untuk misa Sabtu malam, dan kami sudah sering mengadakan perayaan atau bakti sosial bersama-sama...

    kemudian aku sempat pindah ke Bandung, dan di sini aku memilih GKI Maulana Yusuf sebagai tempat beribadah dan bersekutu... kebetulan sudah lama GKI ini dikenal sebagai "gereja mahasiswa", isinya adalah mahasiswa Kristen dari berbagai pelosok negeri, karena kebetulan lokasinya berdekatan dgn ITB dan Unpad...

    kebetulan aku punya hobi jalan-jalan... kalo pas hari Minggu, aku akan mencari gereja2 Protestan Calvinist seperti GKI, GPIB, GKJ, GKJW... kalo gak ada juga, jujur aja, saya lebih senang ikut misa di gereja Katolik walau pasti gak boleh terima komuni... aku agak berat kalo disuruh ikut ibadah raya aliran Haleluya...

    menurut saya gonta-ganti gereja adalah bentuk pencarian iman seseorang... gak ada yg salah dgn itu... dan gak ada juga yg salah bagi seseorang yg memilih untuk tetap setia di "jalurnya" sampai mati... Katolik tetap Katolik, HKBP tetap HKBP, Haleluya tetap Haleluya, Advent tetap Advent, or else...

    bagi kita yg imannya belum dewasa, wajar saja kita memilih gereja tertentu berdasarkan "ke-ego-an", misalnya seperti alasan si Meili tadi: pendetanya pintar khotbah, luas wawasan, integritasnya baik... atau ya seperti ayah dan ibu saya, mereka tidak tahan dgn konflik hebat di gereja itu... atau alasan simpel: karena dari lahir sudah di gereja tertentu...
    tetapi seiring waktu, mereka pasti akan menemukan dasar iman yg kuat, kenapa harus di gereja A, gereja B, or else...

    ReplyDelete