01 August 2012

Eko Albaroyo Blakrakan JTV



Di saat rekan-rekannya sesama pelawak senior 'hilang dari peredaran', Eko Untoro Kurniawan (55 tahun) masih rutin nongol di televisi. Arek Suroboyo bertampang bule yang beken dengan nama Eko Albaroyo alias Eko Tralala alias Eko Londo ini blakrakan ke berbagai bangunan cagar budaya di Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur.

Oleh Lambertus Hurek


Apa sebetulnya visi Anda di acara Blakrakan JTV?

Sederhana saja. Tugas saya hanya mengingatkan pemerintah, pengusaha, dan masyarakat agar merawat dan melestarikan bangunan-bangunan cagar budaya. Sebab, cagar budaya itu punya nilai sejarah yang sangat tinggi. Kalau yang sudah kadung hilang ya mau bagaimana lagi? Tapi yang masih ada supaya dipertahankan.


Bagaimana kondisi cagar budaya di Surabaya yang Anda pantau selama ini?

Ada yang masih terawat dengan baik, tapi banyak juga rusak dan tidak terawat. Bahkan ada yang sudah hilang atau tidak ada lagi. Ini memang sudah menjadi rahasia umum.

Bisa kasih contoh?

Penjara Kalisosok. Itu kan lembaga pemasyarakatan yang sangat terkenal sejak zaman Belanda. Tapi setelah penjara itu dipindahkan ke Porong, Sidoarjo, sekarang jadi bangunan yang mangkrak. Tidak jelas fungsinya. Dibuat kos-kosan dan sebagainya. Anehnya, ketika tim kami syuting di lapangan tidak ada yang mengaku membuka usaha di Kalisosok. Nggak ada yang ngaku, tapi kenyataannya bekas penjara itu dimanfaatkan orang-orang tertentu.

Pemerintah tahu atau tidak?

Wah, aku gak ngerti. Seharusnya tahu karena pemerintah punya aparat dari tingkat RT/RW, kelurahan, dan sebagainya. Jadi, mestinya ada pengawasan terhadap semua cagar budaya yang ada di Surabaya dan kota-kota lain. Prinsipnya, bangunan cagar budaya itu jangan sampai diubah tapi bisa dimanfaatkan untuk kantor atau usaha. Kalau bangunan-bangunan cagar budaya ini bisa dipelihara, wah, kita punya begitu banyak objek wisata yang menarik.

Sudah berapa lama menjadi presenter Blakrakan?

Sekarang masuk tahun keempat. Dan fokus kami tidak hanya melulu di Surabaya tapi juga kota-kota lain di Jawa Timur bahkan ke Jawa Tengah. Bahkan, rencananya kami akan blakrakan ke Jawa Barat, Kalimantan, Sumatera, bila perlu ke Belanda. Jangan lupa, yang nonton JTV ini tidak hanya orang Surabaya atau Jatim tapi juga dari luar Jawa. Bahkan, yang banyak memberi masukan itu justru dari luar Jawa. Mereka rupanya senang dengan gaya saya yang santai, sedikit melawak, tapi fokusnya sangat jelas ke pengenalan dan pelestarian cagar budaya.

Kalau faktanya sekarang begitu banyak cagar budaya yang tidak terawat atau hilang, siapa yang harus disalahkan?

Tugas saya bukan menyalahkan orang tapi mengingatkan siapa saja untuk memelihara cagar budaya. Selama 300 episode lebih di Blakrakan itu saya tidak pernah menyalahkan pemerintah. Yang saya lakukan adalah mengingatkan pemerintah supaya cagar budaya kita jangan sampai hilang.

Apakah sudah ada hasilnya?

Lumayanlah, sekarang sudah banyak masyarakat yang mengenal cagar budaya di Surabaya dan Jatim. Pemerintah juga sudah mulai memasang plang di depan cagar budaya.

Apa yang Anda inginkan dengan bangunan cagar budaya itu?

Yah, seperti di luar negerilah. Di negara-negara maju bangunan cagar budaya benar-benar terawat dan dimanfaatkan. Tidak dibiarkan mangkrak atau tidak terurus kayak di sini.

Kalau Anda getol menyuarakan pelestarian cagar budaya, bagaimana dengan seni budaya tradisional?

Nah, ini juga jadi masalah yang harus diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat. Seni budaya tradisional jangan hanya dibicarakan, tapi juga dihidupkan dan dinikmati masyarakat. Kalau kesenian tradisional kita ditelantarkan ya jangan kaget kalau diklaim oleh pihak asing.

Anda sebagai pelawak senior masih bisa eksis, punya acara tetap di televisi. Bagaimana dengan pelawak-pelawak senior dan seniman tradisional yang lain?

Waduh, sangat memprihatinkan. Seniman-seniman yang dulu berjaya waktu muda sekarang hidupnya sangat menderita di usia sepuh. Ada yang jadi penjual nasi, tambal ban, kerja serabutan. Mereka sudah bertahun-tahun tidak manggung karena memang nggak ditanggap. Srimulat Surabaya juga sudah lama megap-megap. Pemainnya sekitar 40 orang tapi cuma dapat kesempatan manggung satu kali sebulan.

Mengapa Anda konsisten hidup di dunia seni?

Karena itu kan sudah menjadi pilihan saya. Sejak awal saya tidak mau kerja kantoran, nggak senang dibayar bulanan. Saya tidak mau jadi pegawai atau karyawan yang hanya terima gaji tiap bulan. Saya mau dapat uang kapan saja. (rek)




Jadi Tukang Pijat Bos Srimulat

SRIMULAT pernah sangat berjaya sebagai grup lawak terkemuka di Surabaya. Setiap hari ribuan orang antre membeli tiket untuk menyaksikan tingkah pola para pelawak binaan Teguh Slamet Rahardjo itu.

"Saya termasuk salah satu penggemar berat Srimulat. Saya selalu membayangkan bisa gabung dengan pelawak-pelawak senior," kenang Eko Kurniawan alias Eko Albaroyo.

Suatu ketika pada 1984 Eko memberanikan diri melamar jadi anggota grup lawak legendaris ini. Para pelawak senior heran karena tampang Eko dianggap kurang cocok jadi badut.

"Saya terlalu ganteng, sedangkan pelawak-pelawak yang disukai zaman dulu itu yang wajahnya jelek agar cepat mengundang tawa," katanya serius.

Namun, Eko akhirnya bisa meyakinkan pihak Srimulat bahwa dia bisa memberi warna dan karakter baru untuk kelompok Srimulat. Yakni, karakter wong Londo atau orang Belanda yang bisa berbicara bahasa Indonesia diselingi ungkapan kocak dalam bahasa Jawa.

Sejak itulah Eko dikenal dengan nama beken Eko Londo. "Sampai sekarang masih banyak orang yang memanggil saya Eko Londo. Itu pasti penggemar Srimulat di THR tahun 1980-an," katanya lantas tertawa kecil.

Eko mengaku sebagai sebagai salah satu pelawak generasi terakhir Srimulat bersama Mamik Prakoso, Gogon, Polo, Nunung, dan Kadir. Saat itu bayarannya sebagai pelawak hanya Rp 1.500 per minggu. Meski relatih kecil, Eko tidak mempersoalkannya karena dia sangat menikmati peranannya sebagai pelawak di panggung Srimulat. Ditonton ribuan orang, jadi orang terkenal, memberikan kepuasan batin yang luar biasa.

"Melawak bersama Srimulat itu seperti cita-cita yang kesampaian," katanya.

Selain pintar acting dan melawak, rupanya Eko punya keahlian memijat. Teguh, bos Srimulat, pun memanfaatkan jasanya untuk memijat. "Jadi, saya itu seperti tukang pijat pribadinya Pak Teguh bisa dua kali seminggu. Setiap kali mijat saya dikasih uang Rp 10.000. Lebih mahal daripada bayaran saya sebagai pelawak. Hehehe."

Seiring perjalanan waktu Eko Londo makin matang sebagai seniman lawak bersama Srimulat. Secara otomatis dia melontarka jurus-jurus khas Srimulat untuk mengocok perut penonton. Menurut dia, pemain-pemain Srimulat digembleng sedemikian rupa sehingga bisa se-nyawa ketika sudah berada di atas panggung. Misalnya topik yang diangkat A, disambar B, C, kemudian bom atau kelucuannya di D.

"Jangan di F, jadinya nggak lucu lagi. Nah, senyawa inilah yang selalu menjadi kekuatan Srimulat sejak dulu," katanya.

Sayang, sepeninggal Teguh pamor Srimulat perlahan-lahan memudar. Meskipun pelawak-pelawak Srimulat tetap eksis dari panggung ke panggung, kemudian televisi, animo masyarakat menonton Srimulat makin rendah dan akhirnya panggung Srimulat di THR Surabaya pun lengang. Eko dan kawan-kawan pun harus bergerilya melawak agar asap dapur tetap mengepul.

"Jadi, saya ini termasuk generasi terakhir Srimulat. Setelah kami ya nggak ada lagi pemain Srimulat baru karena memang tidak ada rekrutmen lagi," katanya.  (rek)

No comments:

Post a Comment