31 August 2012

Dialek lokal Tionghoa kian memudar



Sejak tahun 1980-an generasi muda Tionghoa perlahan-lahan kehilangan kemampuan berbahasa Tionghoa baik dialek lokal maupun Mandarin sebagai nasional. Orang muda keturunan Tionghoa di Surabaya bahkan lebih fasih bahasa Suroboyoan ketimbang bahasa leluhurnya.

"Saya hanya bisa sekadar hitungan satu sampai 10 bahasa hokkian. Sama sekali tidak bisa bahasa mandarin," kata David Tan, mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Surabaya.

David mengaku hanya tahu marganya Tan dan leluhurnya berasal dari Provinsi Fujian alias Hokkian di Tiongkok Selatan. Orang tuanya pun sudah tidak bisa lagi berbahasa Tionghoa. Kini, setelah bahasa Mandarin makin naik pamornya di dunia internasional, dan tak ada larangan ala rezim Orde Baru, David mulai mencoba belajar bahasa Mandarin. Itu pun tidak mudah mengingat lidah Surabayanya yang sangat sulit mengucapkan lafal Mandarin secara tepat.

Julianto Shi, pemerhati masalah Tionghoa dari Pontianak, juga melihat fenomena umum di tanah air ini. Padahal, komunitas Tionghoa di Kalimantan Barat tergolong besar dan mereka dikenal paling aktif melestarikan tradisi dan budaya leluhur. Keluarga Julianto sendiri berbicara dalam bahasa Tiociu, salah satu dari sekian banyak dialek lokal di Tiongkok.

Selain tekanan rezim lama, menurut Julianto, anak-anak muda enggan mempelajari bahasa ibu atau dialek lokal karena dianggap sudah kuno. "Belajar bahasa Tiociu itu ketinggalan zaman karena bukan bahasa nasional," kata Julianto merujuk pendapat sebagian besar generasi muda Tionghoa.

"Makanya, sering ada kecaman dari orang-orang tua: orang Tionghoa yang tidak tahu bahasa ibunya itu orang Tionghoa yang bodoh," katanya.

Merosotnya penggunaan dialek-dialek lokal Tionghoa di Indonesia, menurut Julianto, juga disebabkan oleh meningkatnya peranan bahasa Inggris dan Mandarin di dunia internasional. Kedua bahasa ini dianggap lebih unggul dan bergengsi.



16 comments:

  1. Terima kasih Bung Hurek sudah setia menulis tentang masyarakat Tionghoa di Indonesia. Ada sedikit koreksi. Orang Hakka itu bahasanya bukan Tiociu. Hakka ya Hakka, Tiociu ya Tiociu. Orang Tiociu itu asalnya di provinsi Kanton bagian utara, yang berbatasan dengan provinsi Hokkian bagian selatan. Bahasa Tiociu itu secara linguistik termasuk Bahasa Minnan, jadi masih dialek bahasa Minnan atau Bahasa Hokkian. Kalau Bahasa Hakka lain lagi. Kemudian, Bahasa Hokkian itu bukan dialek. Dari segi linguistik, itu bahasa yang sejajar dengan Bahasa Mandarin. Ada delapan golongan bahasa yang dituturkan orang Han di Tiongkok, termasuk Bahasa Min (Hokkian), bahasa Yue (Kanton), Bahasa Mandarin, dll. Nah, dalam Bahasa Min itu banyak variasinya, misalnya Minnan (bahasa2 Hokkian selatan), Minbei (bahasa2 Homkian utara). Terus, Bahasa Minnan itu pun banyak lagi dialek2nya, salah satunya ya Tiociu, kemudian ada dialek Kinmen, Amoy/Xiamen. Bahasa Minbei ada lagi dialek2nya: hokchiu, hokchia, hinghwa, xianyou, dll. Bahasa Mandarin pun Ada dialeknya, contohnya orang Han yang tinggal di Yunnan itu berbahasa Mandarin yang sudah terpengaruh bahasa2 selatan, setelah mereka beratus-ratus tahun tinggal di selatan. Bahasa Mandarin mereka disebut bahwa Mandarin dialek barat daya (xi-nan). Sekedar tambahan informasi saja.

    ReplyDelete
  2. Kamsia untuk penjelasan sampean. Saya langsung koreksi. Selamat berjuang!

    ReplyDelete
  3. Bahasa dialekt lokal sangat penting untuk kehidupan se-hari2. Jika dihitung dari sudut jumlah manusia, yang memakai bahasa Hokkian berlipat ganda banyaknya daripada manusia yang berbahasa Belanda, Hungaria, Norwegia, Swedia dll-nya. Mungkin bahasa Hokkian sama pentingnya dengan bahasa Italy. Manusia yang berbahasa Kanton sama banyaknya dengan manusia yang berbahasa Jerman. 30 tahun silam, istri-saya yang berbahasa Jawa dan Indonesia ingin membeli patung di Bali. Pedagangnya meminta 220000 rupiah, ketika saya berbahasa Bali dengan si pedagang, langsung harganya turun menjadi 72500 rupiah. Si pedagang tersenyum minta maaf, dia bilang, saya kira bapak seorang turis.
    Kalau di Tiongkok, kecuali di Fujian, saya lebih suka berbelanja di supermarket, sebab kalau pakai bahasa Mandarin dipasar, selalu harganya dimahalin. Sebab itu kalau kepasar di Tiongkok, saya menyuruh sopir- atau pembantu-saya, yang notabene penduduk pribumi lokal, untuk melakukan transaksi tawar-menawar. Jika seandainya orang China tidak memiliki huruf atau aksara yang sama, mungkin sangat susah untuk menyatukan suku2 yang berjumlah 1,4 Milliard manusia, menjadi satu nation. Kalau di Bali mendengar orang berbahasa Bali, saya merasa senang, sebab itulah bahasa yang pertama saya kuasai, terkecuali 6 bahasa2 lainnya. Demikian pula jika saya pergi ke Quanzhou/Fujian, saya teringat dengan pasar Pabean-Surabaya, sebab doeloe dipasar Pabean, para encek2 pedagang juga menggunakan bahasa Hokkian. Terkenang dengan ibu-bapak yang sudah almarhum dan kepada angkatan generasi tua yang kong-kouw.

    ReplyDelete
  4. gue orang hokkian riau, ancestry xiamen, bagi saya mandarin bukan bahasa kami, itu cuman seperangkat bahasa pemersatu bangsa cina, kami lebih bangga berbahasa hokkian

    ReplyDelete
  5. gua orang pedaleman, bahasa hokkien malah ga ngerti dan binggung, lebih enak ngomong mandarin resmi (beijing)

    ReplyDelete
  6. bahasa hokkien sekarang semakin tidak berguna, mending belajar mandarin /putongua, kalau ke eropa mana ada bule belajar hokkien? sama seperti kita belajar inggris vs prancis. mending belajar inggris/mandarin karena lebih berguna dalam bisnis modern.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau lu tidak becus berbahasa Hokkien, itu urusan-lu. Mana ada bahasa yang tidak berguna ? Apakah lu berani bilang kepada Jokowi, bahasa Jawa tidak penting ? Atau kepada AA. Puspayoga, bahasa Bali tidak penting ? Coba lu belanja kepasar di Berlin, Budapest, dll. pakai bahasa Inggris atau Putonghua, apakah sipedagang bisa ngerti lu mau beli apa !
      Coba lu baca cerita fable; si musang dan buah anggur ! Lu itu mirip si-musang dalam cerita tersebut.

      Delete
    2. Kamsia Xiangshen sudah menulis komentar2 bagus dan mendalam di saya punya blog. Saya sangat menghargai. Sebab sudah cukup lama blog2 sepi pembaca dan kehilangan respons. Digerus media sosial yg sangat interaktif. Selamat menyambut sincia tahun kambing.

      Delete
  7. wa penutur hokkian.. tp d wilayah/kota tmpat wa tinggal.. kebnyakkan org tionghoa bicara hokkien.. bahkan ada yg gk bs bhsa indo.. jd gk sebagian org tionghoa d indo yg gk bs bhsa indo.. buktinya d kota wa .. masih bnyak yg bcara hokkien.. stiap hari bicara hokkian.. tradisi tionghoa pun tetap berjalan.. lg pula kn gk da yg lrang bcara bahsa hokkien.. bhsa indo wa rasa juga gk pnting utk bljar.. lebih penting bhsa inggris n mandarin ouu.. tp wa bljar mandarinnya sekalian dgn cara bahs hokkiennya..

    ReplyDelete
  8. orang Tionghoa di Pulau Jawa bukannya sudah lama berbaur dgn orang Jawa dan berbahasa Jawa di rumah???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betapa untungnya jika seorang manusia menguasai ber-macam2 bahasa. Kita senang jika mendengar orang Suriname berbahasa Jawa, mengapa seorang Tionghoa harus melupakan bahasa ibunya. Adakah satu Bahasa yang najis ? Dengan orang Bali saya pakai bahasa Bali, dengan orang Jawa saya berbahasa Jawa, dengan mama saya pakai bahasa Hokkien, dengan Bung Hurek saya berkommunikasi dengan bahasa Indonesia, dengan orang Jerman, Austria, Swiss saya berbahasa Jerman, dengan orang Inggris saya pakai bahasa Inggris,
      di Tiongkok saya pakai bahasa Mandarin-Putonghua, digereja Katolik dan cagar budaya tua dibenua Eropa yang memakai bahasa Latein saya pelan2 bisa membaca dan tahu artinya.
      Coba Anda sarankan, bahasa yang manakah harus saya lupakan !
      Apakah seorang WNI-Keturunan Tionghoa berkurang Rasa Nasionalisme-nya, hanya disebabkan, karena dia fasih berbahasa Mandarin ? Bagaimana dengan WNI-Keturunan Arab yang sedemikian bangganya mengarab ? Bagaimana dengan Presiden Republik Indonesia yang sedemikian bangganya menginggris ? Bagaimana dengan para politisi Indonesia yang setiap bicara selalu pembukaan dan achir kalimatnya selalu mengumandangkan kalimat2 bahasa Arab ?
      Apakah mereka itu juga kurang Rasa Nasionalisme-nya ????
      Betapa kasiannya, jika seorang manusia hanya menguasai satu bahasa.
      Contohnya : Saya dan Istri pernah ikut Tour di Beijing. Dirombongan itu ada 2 wanita Jerman, 1 Cina-Amerika dan orang2 China. Tour-guide-nya
      bisa bahasa Inggris. Si-Cina-amerika itu hanya bisa berbahasa Inggris.
      Selama dalam perjalanan si-Cina-ameriki selalu nyerocos dengan Tour-guide. Si-Tour-guide juga bangga bisa memamerkan bahasa Inggris-nya didepan orang2 China rombongan. Waktu makan siang, kita duduk bersama, satu meja bundar yang besar penuh hidangan. Si-Guide entah makan dimana, sebab dia tidak boleh makan ber-sama2 tamu.
      Dengan istri saya bicara Suroboyoan, dengan si-Jerman saya ngomong Jerman, dengan para China saya pakai Putonghua. Si Cina-ameriki yang bawel tidak tahu mau bicara dengan siapa, dia selalu berusaha mengajak saya ngobrol, yo tak ladeni nginggris. Begitulah congkaknya orang Amerika, selalu memaksa kehendaknya, bahkan ngomong-pun, orang lain diharuskan pakai bahasa Inggris.

      Delete
    2. Belajar bahasa baru, di luar bahasa ibu dan bahasa nasional, itu gampang2 susah. Anak2 muda Surabaya pun sulit memahami bahasa Jawa yg agak standar. Contoh: kulo mboten mireng. Pernah saya ngetes, ternyata nggak ada yg paham. Walaupun sama2 hidup di Jawa, bahasa Jawa standar macam ini bukan kosa kata sehari2 di surabaya. kamsia Xiangshen sudah bagi pengalaman dan komentar yg selalu mendalam.

      Delete
  9. om hurek, kalo kata beberapa sumber, orang2 Tionghoa di Jawa itu masuknya paling awal di Indonesia, sehingga kemudian mereka lebih "membaur" dgn masyarakat sekitar... mungkin boleh digolongkan sebagai "Peranakan" lah, seperti di Malaysia dan Singapura... kaum Peranakan adalah orang2 Tionghoa yg kemudian menyerap kebudayaan lokal seperti kebaya dan kuliner lokal (gulai, kari, kue/jajanan pasar), dan memang gak bisa lagi bahasa Tionghoa dan mereka berbahasa Melayu tetapi masih dgn aksen Tionghoa yg kental... hasil kebudayaan Peranakan Tionghoa contohnya kalo di Jakarta ada kesenian gambang kromong dan tari cokek, lalu di Semarang ada musik gambang Semarang dan makanan khasnya yaitu lumpia Semarang...

    nah, kalo di Sumatera Utara, orang Tionghoa termasuk generasi baru... dan memang lebih banyak saya temui hidup eksklusif, kurang membaur dgn masyarakat sekitarnya (Melayu, Batak, Jawa, dll)... makanya sampai detik ini, orang Tionghoa di Sumatera Utara mayoritas masih berbahasa Hokkien... di koran-koran lokal Medan om hurek bisa menemukan banyak lowongan kerja yg mencantumkan syarat "bisa berbahasa Hokkien"... lalu di Medan ada beberapa sekolah SD-SMA yg didominasi orang Tionghoa, dan orang2 non-Tionghoa yg sekolah di sana akhirnya jadi bisa bahasa Hokkien juga... tante saya, boru Batak, pernah kerja di satu bank swasta di Medan, karena kliennya kebanyakan Tionghoa maka mau tidak mau tante saya pun belajar Hokkien...

    dulu waktu saya tinggal di Palembang, kenalan saya banyak orang Tionghoa di sana... orang Tionghoa di sana bisa dibedakan jadi 2, pertama orang Tionghoa asli Palembang, dan yg kedua orang Tionghoa yg merantau dari Bangka Belitung... yg asli Palembang hanya bisa berbahasa Melayu, sedangkan yg dari Bangka Belitung rata2 berbahasa Hakka... mungkin karena sejarah Tionghoa di Palembang juga sudah tergolong tua, sehingga mereka ikut membaur... contoh yg paling terkenal ya makanan khas Palembang, pempek, itu adalah hasil kebudayaan Tionghoa...

    yg saya tau orang Tionghoa yg masih berbahasa Tionghoa (Hokkien, Hakka, Tiociu) kebanyakan di daerah Sumatera Utara, Riau (pesisir), Riau Kepulauan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat... yg lainnya kebanyakan sudah berbahasa Indonesia atau bahasa lokal, termasuk kalo om hurek dulu pernah mengulas ttg orang Tionghoa di Flores dan Lembata yg benar2 membaur dgn penduduk lokal...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Nababan benar. Sebenarnya kaum Tionghoa yang masih berbahasa Tionghoa itu tergantung dua faktor: jumlah orangnya, dan profesinya. Di Sumatera dan daerah2 itu, jumlahnya banyak dibandingkan masyarakat sekitarnya: Orang Dayak, Orang Melayu, Orang Batak. Sedangkan di Jawa, Orang Jawanya jauh lebih banyak, dan lingkungannya sangat padat, jadi mau gak mau harus membaur.

      Profesinya, karena itu menciptakan suatu ekslusivitas. Misalnya jadi kuli perkebunan, yang hanya ada di Sumatra dan Kalimantan. Perkebunan jauh dari perkampungan lokal, jadi ya mereka beranak pinak dengan berbahasa mereka sendiri.

      Ini teori saya.

      Delete
  10. Apapun bahasanya kita tetap orang indonesia kan.......

    Walaupun nenek elu elu pada dr tembok besar.....

    Kalau iye gue bangga tong

    ReplyDelete