02 August 2012

Buku doktorandus yang tidak menarik

Saya tersenyum sendiri melihat beberapa buku sastra di GramediaManyar, Surabaya. Pengarangnya pasang gelar lawas: doktorandus aliasdrs. Hari gini masih ada tiyang sepuh yang pamer gelar akademis produk sekolah tempo doeloe alias old school.

Orang-orang lama memang begitu doyan memasang gelar akademik di depandan belakang nama. Selain doktorandus dan doktoranda, ada juga BcHk atau BA. Maklum tidak banyak orang lama yang bisa kuliah di perguruan tinggi.

Gelar haji/hajah pun kerap dipasang karena tidak banyak orang yangbisa naik haji mengingat ongkosnya sekitar Rp50 juta. Di NTT haji/hajah sangat-sangat langka mengingat hanya segelintir orang yang mampu bayar biaya perjalanan haji. Selain itu agama Islam memang minoritas di NTT.

Jumlah jamaah haji dari Kabupaten Lembata misalnya dua tahun lalu hanya ENAM orang. Bandingkan dengan jamaah haji asal Kabupaten Sidoarjo yang mencapai sekitar 2.500 orang. Karena itu, haji-hajah di NTT biasanya selalu minta disapa dengan Pak Haji atau Haji Salim, Haji Ahmad, Haji Mamat... setelah pulang menunaikan ibadah d i Arab Saudi. 

Kembali ke buku karangan Pak Drs. Setelah saya intip ternyata isinya tidak menarik. Kayak makalah mahasiswa saja. Kalimatnya panjang-panjang, banyak kalimat majemuk bersusun, ruwet, khas doktorandus zaman dulu. Tapi lumayanlah,beliau sudah kerja keras untuk menulis buku meskipun tidak laku.

Kalau saya cermati, buku-buku yang ditulis orang yang senang pasang gelar di depan namanya, entah drs/dra, Dr, PhD, MA dan sejenisnya biasanya tidak menarik. Minggu lalu saya baca buku tentang Triad Hongkong yang pengarangnya pakai gelar banyak: Dr, PhD, MA. Isinya masih lebih bagus tulisan murid SMP atau SMA. Benar-benar sangat mengecewakan!

Sebaliknya, buku-buku atau tulisan Dahlan Iskan, Goenawan Mohamad, Ayu Utami, Dee Lestari, Andrea Hirata... sangat memukau. Bikin kita kecanduan membaca membaca membaca dan membaca.


No comments:

Post a Comment