15 August 2012

Budaya olahraga di Tiongkok



Olimpiade di London baru saja usai dan atlet RRT (Republik Rakyat Tiongkok) kembali menunjukkan kedigdayaannya. Meski berada di posisi kedua setelah USA, semua orang mengakui prestasi atlet-atlet negeri panda itu.

Mengapa RRT sedemikian perkasa?

"Sebab olahraga sudah menjadi budaya dan bagian hidup masyarakat RRT," kata Harsono, mahasiswa sebuah universitas di Xiamen, Provinsi Fujian.

Meski sibuk bekerja atau belajar, penduduk RRT tak pernah lupa berolahraga. Saat subuh orang-orang sudah terlihat jalan kaki baik sendiri maupun bersama-sama. Ada juga yang menekuni senam taiji khususnya lansia. Senam yang dimodifikasi menjadi senam tera Indonesia ini sangat bagus untuk kesehatan karena berkaitan erat dengan pernapasan.

Menurut Harsono, olahraga kebugaran ini tak hanya dilakukan pagi hari tapi juga sore dan malam hari. Pukul 23 masih banyak orang yang asyik gerak badan di taman-taman. Para mahasiswa juga begitu. Olahraga menjadi mata kuliah wajib di perguruan tinggi.

Harsono menjelaskan, budaya olahraga di RRT juga disertai dengan pembangunan sarana dan prasarana olahraga yang masif. Semua sekolah mulai SD hingga perguruan tinggi punya lapangan olahraga sendiri. Universitas Xiamen misalnya punya dua lapangan sepakbola, tiga lapangan futsal, 12 lapangan basket, dan tiga lapangan voli. Lahan-lahan kosong juga dibangun fasilitas olahraga oleh pemerintah.

Berkembangnya olahraga ini juga didukung sekolah atau kursus privat. Anak-anak kecil sudah diajarkan teknik olahraga secara profesional seperti cara bermain bulutangkis yang benar.

Warga Xiamen memang gandrung bulutangkis. Sebuah arena badminton yang punya 13 lapangan tidak cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan setiap hari.

Kursus olahraga, cerita Harsono, ternyata tak hanya diikuti anak-anak dan remaja. Mereka yang sudah berumur 30 tahun ke atas pun ternyata tidak malu belajar bulutangkis. Bukan untuk jadi atlet kelas dunia seperti Lin Dan tapi demi menjaga kebugaran tubuh.

Lapangan olahraga ini juga menjadi ruang interaksi. Mereka bisa bertemu teman lama yang jarang kopi darat. Bisa memperkenalkan anak dancu kepada teman-temannya. Di samping bisa bertukar cerita, badan pun menjadi lebih sehat dan bugar.

Sayang, kita di Indonesia hampir tidak punya lapangan atau tempat olahraga yang memadai. Jangankan masyarakat awam, lapangan bola untuk klub-klub kita pun kebanyakan masih di bawah standar. Akibatnya, saat ini para remaja dan mahasiswa lebih memilih hangout di kafe sambil berselancar di jagat maya.

Sejak kecil penduduk RRT didoktrin tentang pentingnya olahraga bagi kesehatan dan produktivitas. Pepatah terkenal yang selalu dipasang di tempat umum berbunyi:

"Olahraga satu jam sehari,
sehat bekerja selama 50 tahun,
hidup bahagia selamanya!"

7 comments:

  1. coba di indonesia ada budaya kyk gini jg...hehehe

    ReplyDelete
  2. Great blog here! Also your website loaԁs up
    verу fast! What wеb host агe you using?
    Ϲаn I get your affiliatе lіnk to yоur host?

    I wiѕh my web ѕite lοadeԁ up as quіckly аs
    yours lol
    Feel free to visit my website ; get facebook likes for fan page

    ReplyDelete
  3. Ηelpful info. Foгtunate me I diѕcoveгed
    your ѕite unintentіonallу, anԁ I'm stunned why this coincidence didn't happened
    in advancе! I booκmarked it.
    my website :: get facebook fans fast

    ReplyDelete
  4. minta alamat emailnya dong
    besok saya mau ke xiamen

    rgd,
    bahtiar@gmail.com

    ReplyDelete
  5. Menarik sekali budaya olahraga di tiongkok.

    ReplyDelete
  6. Mama saya seumur-hidup-nya tidak pernah berolah raga, dia selalu sehat, tidak pernah kedokter, tidak pernah sakit, dia meninggal dunia diusia 99 tahun, karena
    jatuh terpeleset dikamar mandi. Dia sehat karena selalu bekerja, ngopeni anak2-nya yang berjumlah 11 orang, tiap hari dia makan papaya.
    Saya yang menetap sejak 15 tahun di Tiongkok, tiap malam mulai pukul 20, selalu melihat banyak encim-encim ( usia 30 - 50 ) yang loncat2, nandak2, dengan iringan musik yang sangat keras, ber-aerobic ria, didepan gedung2
    pemerintah yang halaman parkirnya luas. Mereka2 itu sebagian besar adalah pegawai negeri, yang waktu bekerja selalu santai-santai ( malas ).
    Tidak ada kaum buruh wanita yang ikut-ikutan ber-aerobic. Kaum buruh dan pedagang pasar yang tiap hari, membanting tulang 12 jam, tujuh hari seminggu, mana punya waktu dan tenaga untuk nandak2. Kaum laki2 China hampir tidak ada yang ikut aerobic, mereka lebih senang ngobrol, merokok, minum-teh atau -arak, sambil berjudi main mahyong.
    Saya selalu gregeten melihat tacik2 yang nandak2, sebab rumah2 atau apartemen2 orang2 China sangat kotor, jorok. Saya pikir daripada kalian nandak, kan lebih baik membersihkan rumah. Orang2 China jaman sekarang sudah melupakan budaya nenek-moyang mereka. Jarang ketemu perempuan China yang yang ber-rambut hitam, kebanyakan warna rambutnya pirang atau coklat. Tingkah lakunya seperti selebriti holywood. Mata duwiten minta ampun.
    Teman2 dari Indonesia yang pernah berkunjung ke Tiongkok sering mengeluh kepada saya; bongso mu kuwi koq kasar2, ora duwe aturan. Saya jawab; yo, pancene ngono. Aku yo wis ketularan. melok dadi wong cino tulen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe.... Komentar xiang shen yg sangat menarik, penuh pesan, dan perlu dihayati manusia2 modern agar sehat dan panjang umur. Saya setuju 100 persen karena melihat kehidupan orang2 desa di pelosok pun seperti itu. Mereka tidak ke gym, gak senam aerobik, gak olahraga macam2, cukup melakukan kegiatan sederhana layaknya wong kampung di kebun, cari ikan, jalan kaki ambil air dsb. Hampir tidak ada orang kampung yg kegemukan meskipun makannya selalu nambah. Selamat minum jamu awet cerdas.

      Delete