09 August 2012

Berdoa pun perlu bayar

Menjelang puasa dan lebaran, banyak orang nyekar ke makam. Dan profesi pembersih makan, penjual kembang dan.. tukang doa laris manis. Anda bayar sekian ribu agar si tukang doa membacakan doa tertentu untuk keluarga yang sudah meninggal.

Lumayan penghasilan juru doa kalau musim ramai. Mengapa tidak berdoa sendiri saja? Kok membayar orang lain yang sama sekali tak mengenal penghuni kubur untuk berdoa.

Yah, inilah zaman edan ketika sembahyang atau doa pun sudah jadi komoditas. Ada uang ada doa!

"Minggu depan ada pengajian di Semolo," kata si A.

"Pulangnya dapat apa? Apa peserta pengajian dapat uang?" balas si B di warung kopi. Saya tertawa kecil mendengar guyonan yang tak sepenuhnya keliru itu.

Di lingkungan gereja pun saya perhatikan arus komodifikasi sudah lama terjadi. Kalau ingin paduan suara yang mengiringi pemberkatan nikah atau sakramen perkawinan, ada harganya. Kita harus siapkan uang jasa untuk choir tertentu. Padahal, pepatah gerejawi mengatakan qui bene cantat bis orat! Orang yang menyanyi dengan baik untuk Tuhan itu ibarat berdoa dua kali.

Zaman memang sudah berubah. Dan perubahan itu juga menembus ke ruang spiritualitas keagamaan. Saya masih ingat waktu masih SMP dan SMA di Larantuka, Flores Timur, kami berjuang keras agar bisa jadi anggota paduan suara yang bertugas di Katedral Larantuka. Hanya orang terpilih saja, yang suaranya bagus, bisa lolos. Ikut kor jadi kebanggaan yang luar biasa.

Saya sendiri tidak pernah terpilih masuk kor sekolah karena kalah bersaing. Baru aktif paduan suara setelah hijrah ke Jawa Timur. Itu pun karena kor lingkungan di gereja katolik umumnya kekurangan anggota.

Dan setahu saya anggota kor sangat antusias berlatih, apalagi menjelang lomba atau tugas saat natal atau paskah. Tak pernah terbayang anggota kor meminta bayaran atau uang bensin. Sebab menyanyi di gereja pada dasarnya ibadah. Manfaatnya dirasakan anggota kor dan umat yang mendengarkan lagu.

Lha, kok sekarang muncul kor-kor profesional sehingga perlu fee atawa ongkos? Mboten ngertos!

4 comments:

  1. Saya setuju dengan Anda menyanyi di gereja pada dasarnya ibadah.

    ReplyDelete
  2. Waktu saya kecil dulu, tiap hari Jumat pasaran tertentu, engkong saya yang totok dari Tiongkok, selalu mengundang tetangga2 yang orang Madura untuk berdoa dan selamatan di rumah (daerah Kalimas - Pabean), walaupun dia sendiri konghucu. Mereka datang, berdoa secara Islam, lalu pulang bawa berkat selametan / nasi tumpeng yang sudah disiapkan. Bagi engkong saya ini strategi untuk menjalin hubungan dengan tetangga.

    ReplyDelete
  3. Hahaha..... Mungkin benar jg Pak, tetapi klow ikut Koor orang nikahan tuh memang dibayar untuk ongkos latihan, perbanyakan teks dsb....... jd bukan anggota koornya yg dibayar...... sy sendiri pernah ikut koq......

    ReplyDelete
  4. Saya setuju gan, motivasinya harus diluruskan

    ReplyDelete