31 August 2012

Saksi Yehuwa bikin resah muslimah


Beberapa kali saya melihat aksi umat Saksi Yehuwa mencari pengikut baru. Berduaan masuk kampung, nekat, mengajak tuan rumah bicara tentang agama. Bagaikan sales yang menawarkan ketjap nomer satoe ke rumah-rumah.

Kecap-kecap lain dianggap buruk dan palsu. Ketjap nomer satoe adalah tjap Saksi Yehuwa yang dibikin di pabrik Menara Pengawal di Amerika Serikat sana. Tekun sekali umat Saksi Yehuwa menawarkan kecapnya meski tuan rumah alias masyarakat sudah punya kecap sendiri-sendiri.

Pekan lalu, saya memergoki dua penjual kecap Saksi Yehuwa sedang melakukan proselitasi di Pucangsewu, Kota Surabaya. Kaget karena yang ditarget ini seorang ibu muslimah, berjilbab. Dia aktif di pengajian wanita terkenal di Surabaya.

Wah, bisa gawat nih! 

Karena ibu ini pasti merasa dua orang itu Nasrani atau Kristen yang berusaha memurtadkan dirinya. Dan, benar, sang ibu itu memang menganggap Saksi Yehuwa itu sama dengan gereja-gereja umum di Indonesia macam Katolik, Protestan, Pentakosta, Karismatik, Baptis, Advent,  dsb.

"Kalian itu mau apa? Kok ke sini menawarkan agama kalian? Saya kan Islam! Masa kalian tidak tahu!" ujar ibu berjilbab itu emosional.

Sangat bisa dimengerti, Bu! Jangankan ibu yang muslimah, selama ini pun orang-orang Kristen harus bersitegang dengan mereka yang sangat agresif melakukan proselitasi.

Melihat suasana yang jelek, saya pun terpaksa intervensi. Saya hadapi dua Saksi Yehuwa itu. Dengan halus saya mengusir keduanya pergi karena berbagai alasan. Kalau bisa, jangan datang lagi!

Bisa jadi panjang masalahnya kalau tokoh-tokoh Islam punya image bahwa orang Nasrani itu agresif memurtadkan umat Islam dari rumah ke rumah seperti dilakukan Saksi Yehuwa. Padahal, Saksi Yehuwa ini sudah lama dianggap bukan Kristen mainstream alias arus utama. Sebaliknya, Saksi Yehuwa juga menganggap gereja-gereja lain itu sesat dan ngawur.

Indonesia ini negara yang sangat sensitif soal SARA, khususnya agama. Proselitasi ala Saksi Yehuwa bisa membuat situasi semakin runyam. Dan, ujung-ujungnya, orang Kristen mainstream yang tidak tahu apa-apa, dimusuhi oleh mayoritas anak bangsa.

Dialek lokal Tionghoa kian memudar



Sejak tahun 1980-an generasi muda Tionghoa perlahan-lahan kehilangan kemampuan berbahasa Tionghoa baik dialek lokal maupun Mandarin sebagai nasional. Orang muda keturunan Tionghoa di Surabaya bahkan lebih fasih bahasa Suroboyoan ketimbang bahasa leluhurnya.

"Saya hanya bisa sekadar hitungan satu sampai 10 bahasa hokkian. Sama sekali tidak bisa bahasa mandarin," kata David Tan, mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Surabaya.

David mengaku hanya tahu marganya Tan dan leluhurnya berasal dari Provinsi Fujian alias Hokkian di Tiongkok Selatan. Orang tuanya pun sudah tidak bisa lagi berbahasa Tionghoa. Kini, setelah bahasa Mandarin makin naik pamornya di dunia internasional, dan tak ada larangan ala rezim Orde Baru, David mulai mencoba belajar bahasa Mandarin. Itu pun tidak mudah mengingat lidah Surabayanya yang sangat sulit mengucapkan lafal Mandarin secara tepat.

Julianto Shi, pemerhati masalah Tionghoa dari Pontianak, juga melihat fenomena umum di tanah air ini. Padahal, komunitas Tionghoa di Kalimantan Barat tergolong besar dan mereka dikenal paling aktif melestarikan tradisi dan budaya leluhur. Keluarga Julianto sendiri berbicara dalam bahasa Tiociu, salah satu dari sekian banyak dialek lokal di Tiongkok.

Selain tekanan rezim lama, menurut Julianto, anak-anak muda enggan mempelajari bahasa ibu atau dialek lokal karena dianggap sudah kuno. "Belajar bahasa Tiociu itu ketinggalan zaman karena bukan bahasa nasional," kata Julianto merujuk pendapat sebagian besar generasi muda Tionghoa.

"Makanya, sering ada kecaman dari orang-orang tua: orang Tionghoa yang tidak tahu bahasa ibunya itu orang Tionghoa yang bodoh," katanya.

Merosotnya penggunaan dialek-dialek lokal Tionghoa di Indonesia, menurut Julianto, juga disebabkan oleh meningkatnya peranan bahasa Inggris dan Mandarin di dunia internasional. Kedua bahasa ini dianggap lebih unggul dan bergengsi.



26 August 2012

Sepeda motor primadona NTT

Susi Air mendarat di Lewoleba, Lembata.


Hanya di Indonesia sepeda motor menjadi kendaraan pribadi paling favorit. Banyak alasannya. Murah, luwes, efektif. Selama angkutan umum masih semrawut orang pasti memilih kendaraan pribadi.

Kalau belum mampu membeli mobil, maka motor menjadi pilihan paling rasional. Dan itu didukung fasilitas kredit yang sangat lunak. Cukup 500 ribu saja kita sudah bisa punya motor bagus.

Di Flores, khususnya Lembata, yang tak punya angkutan kota dan angkutan desa, motor jadi primadona. Motorlah yang jadi dewa penyelamat transportasi di kampung saya dan tempat-tempat lain di NTT.

Sejak akhir 1990an sepeda motor menjadi kendaraan umum di Flores Timur dan Lembata. Ke mana-mana pakai ojek motor. Setiap saat selama 24 jam kita bisa bergerak ke mana saja karena pemuda-pemuda di kampung sangat banyak yang ngojek.

Dan ojek motor ini tidak hanya marak di Lembata tapi juga di Kupang. Anda tahu Kupang itu ibukota provinsi NTT yang sekarang ini sangat padat penumpang di Bandara Eltari. Kalau mau berangkat ke bandara di kawasan Penfui, maka pilihan kita hanya kendaraan pribadi. Diantar keluarga atau teman dengan mobil.

Kalau tidak punya mobil? Tenang, banyak ojek motor yang siap menjemput kita pada pukul 04.00 atau kapan saja kita mau.

Saya sendiri suka naik ojek dari Sikumana ke Bandara Eltari, cukup membayar Rp 20 ribu atau Rp 15 ribu. Taksi tidak ada. Hanya, orang NTT perlu diajari budaya pakai helm karena tukang ojek di Kupang (apalagi di Flores) sangat malas pakai helm.

Turun dari pesawat berpenumpang 12 orang Susi Air di Bandara Lewoleba, Lembata, naik apa ke kampung sejauh 22 km? Angkutan pedesaan? Angkutan umum? Tidak ada. Orang Lembata bahkan tidak punya kosa kata taksi karena tidak pernah ada.

Tapi jangan khawatir, ojek sudah menunggu di depan kantor bandara. Jumlah tukang ojek ini bahkan lebih banyak daripada penumpang Susi Air. Maka selalu ada adegan rebutan penumpang dan perang mulut sesama tukang ojek motor itu.

Beberapa menit kemudian saya pun sampai di kampung. Berkat sepeda motor!

Konjen Tiongkok belajar bahasa Indonesia



Sebagai diplomat kawakan, Wang Huagen selalu berusaha mendalami dan mencintai budaya setempat. Tak heran, konjen Tiongkok ini selalu memakai baju batik dalam berbagai acara di Surabaya.

Sangat jarang Mr Wang memakai setelan jas kecuali di acara-acara khusus seperti perayaan hari nasional Tiongkok atau menghadiri konser musik klasik. "Saya memang suka batik Indonesia. Lebih nyaman dipakai," kata Wang Huagen kepada saya.

Bukan itu saja. Mr Wang juga berusaha keras belajar bahasa Indonesia meski tidak mudah bagi lidah orang Tiongkok. Suatu ketika dia mencoba membacakan pidato dalam bahasa Indonesia. "Guru saya dia," kata Mr Wang seraya menunjuk Wang Dandan, yang selama ini menjadi penerjemah resminya.

Mr Wang tak bisa english? Oh tidak! Dia sangat fasih berbahasa Inggris. Namun, Pak Konjen tak serta-merta beringgris ria seperti para ekspatriat umumnya. Atau pejabat kita yang sok nginggris.

Mr Wang praktik bahasa Indonesia ketika menyampaikan ucapan selamat beribadah puasa dan selamat Idulfitri kepada umat Islam di tanah air. Produser dan presenter televisi sebetulnya meminta Mr Wang bisa berbicara dalam bahasa Mandarin atau Inggris kalau kesulitan mengucapkan kata-kata Indonesia.

Tak dinyana pria yang sudah empat tahun bertugas di Surabaya ini ternyata memilih bahasa Indonesia. "Saya salut sama Pak Konjen yang punya kemauan keras untuk belajar bahasa Indonesia. Kita harus bangga karena orang asing mau belajar bahasa kita," kata Andre Su, pembawa acara China Town di SBO TV.

Andre yang juga guru bahasa Mandarin mengatakan tidak mudah bagi orang Tiongkok untuk melafalkan kata-kata bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Sama sulitnya dengan orang Indonesia melafalkan kata-kata Mandarin yang sangat menekankan nada atau aksen.

"Makanya, kita perlu mengapresiasi upaya Pak Konjen untuk lebih mengenal bahasa dan budaya kita," katanya.

Terima kasih Pak Konjen! Xiexie Wang xiangsheng!

25 August 2012

Gereja Mormon di Jawa Timur


Sekte Mormon sebenarnya sudah lama ada di Indonesia tapi kurang digubris masyarakat. Orang-orang kristiani dari semua denominasi, entah Katolik, Protestan, Evangelis, Baptis, Karismatik, Pentakosta, dsb juga cenderung mengabaikannya karena dianggap bukan gereja. Mormon hanya dianggap sebagai aliran nonkristen dari Amerika Serikat (USA) yang hanya memakai kedok atau label Kristen.

Karena itu, dulu pada 1970an hingga 1980an Sekte Mormon ini dianggap aliran sesat yang perlu dilarang seperti Saksi Yehuwa. Tekanan gereja-gereja arus utama itu pernah berhasil tapi belakangan tidak bisa menahan tekanan balik Amerika Serikat atas nama human rights. Maka, Sekte Mormon pun mulai bebas mendirikan gereja di beberapa kota.

Ketika masih bersekolah di SMAN 1 Malang, tiap hari saya jalan kaki di depan GEREJA YESUS KRISTUS DARI ORANG-ORANG SUCI ZAMAN AKHIR di Jalan Sultan Agung. Sebab, gereja itu memang bertetangga dengan SMAN 3 dan SMAN 1 Malang.

"Gereja yang aneh," pikir saya. Maklum, saya jarang sekali melihat jemaat ramai-ramai kebaktian, latihan paduan suara, bikin acara anak muda, layaknya gereja-gereja lainnya.

Ketika saya bertanya kepada teman-teman saya yang Protestan, dan Pentakosta, yang kebetulan aktivis gereja dan keluarga pendeta, mereka tidak tahu aliran apa gereja ini. Belakangan baru saya tahu apa gerangan Gereja Mormon, sejarah, doktrin, cara penginjilan dengan naik sepeda pancal  berdua-dua, pakai kemeja putih plus dasi... setelah membaca beberapa buku tentang sejarah gereja.Khususnya buku bagus yang ditulis Pendeta Aritonang!

Yang justru jadi fokus perhatian gereja-gereja mainstream di Indonesia adalah gebrakan gereja-gereja aliran Haleluya yang luar biasa sejak 1980an. Maklum, gereja-gereja baru ini sangat berhasil "mencuri" begitu banyak domba dari kandang lain. Rebutan jemaat, gonta-ganti gereja, menjadi fenomena biasa. Gereja-gereja Haleluya ini tumbuh luar biasa di ruko, hotel, gedung ekspo, restoran, bahkan garasi. Apa pun bisa dijadikan tempat kebaktian.

Sebaliknya, Gereja Mormon meskipun suka melakukan penginjilan keliling dengan sepeda pancal ternyata tidak laku (atau belum laku). Tidak membuat jemaat gereja-gereja lama terpukau seperti gereja Haleluya alias Karismatik. Apalagi propagandis Mormon ini kebanyakan orang bule Amerika yang dianggap kurang berbahaya.

Karena itu, sampai sekarang umat Nasrani di Indonesia umumnya tidak melihat mormonisme sebagai ancaman serius. Biarkan saja, toh tidak punya jemaat.


Kalau di Malang sudah berdiri Gereja Mormon alias OSZA sejak 1980an, Surabaya malah tak ada gereja terbuka. Orang-orang nasrani, bahkan beberapa pendeta, yang saya tanya ternyata tidak tahu keberadaan Mormon di ibukota provinsi Jawa Timur ini.

Gereja Mormon baru berdiri tahun lalu (2011) di Jalan Upajiwa, Ngagel, samping AJBS. Saya yang hampir setiap hari lewat di situ terkejut karena tiba-tiba muncul bangunan yang persis sama dengan Gereja Mormon di Malang. Tak banyak orang Surabaya yang sadar bahwa bangunan itu gereja aliran Mormon dari USA.

Beberapa minggu kemudian papan nama dipasang. Tulisan dan font-nya sama dengan di Malang: GEREJA YESUS KRISTUS DARI ORANG-ORANG SUCI ZAMAN AKHIR. Hebat! Ketika gereja-gereja lain kesulitan mendapat izin mendirikan gereja baru, Gereja Mormon yang jemaatnya sangat-sangat sedikit malah bisa bikin gereja mentereng di lokasi yang sangat strategis.

Orang kemudian mengaitkan dengan lobi Amerika yang Mormonnya sangat kuat. Bahkan, calon presiden Amerika Serikat  Mitt Romney itu ternyata pentolan Gereja Mormon di Amerika Serikat. Ada juga yang mengaitkan dengan kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid (almarhum) ke kota markas Mormon, Salt Like City, untuk berobat beberapa tahun silam.

Tapi secara umum umat kristiani di Indonesia tenang-tenang saja karena menganggap aliran Mormon itu bukan Kristen meskipun nama resmi gerejanya pakai nama Gereja Yesus Kristus. Mormon dianggap agama yang berbeda dengan agama Kristen atau Katolik yang sudah mapan di Indonesia.

"Ngapain ngurusin Mormon? Gereja-gereja itu mendingan ngurus jemaatnya masing-masing," kata seorang aktivis gereja di Surabaya.

Gereja Mormon juga sudah mencetak KITAB MORMON dalam bahasa Indonesia. Saya kebetulan menemukan buku 685 halaman itu di pasar buku bekas Jalan Semarang. Saya terkejut melihat buku bersampul hitam, mirip Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, tapi ternyata bukan kitab sucinya orang Nasrani. Buku suci Sekte Mormon ini antara lain terdiri dari kitab Nefi, Yakub, Enos, Yarom, Omni, Mormon, Mosia, Alma, Helaman, Eter, dan Moroni.

Paling tidak, saya sudah membaca sedikit ajaran Joseph Smith, yang dianggap sebagai nabinya pengikut Sekte Mormon di seluruh dunia. Tuan Smith ini mendaku mendapat wahyu dari malaikat, kemudian menuliskan ajaran-ajarannya Kitab Mormon tersebut.

Bagi orang yang sejak kecil sudah membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, terus terang saja, Kitab Mormon ini terasa ruwet dan kurang menarik.  Belum lagi terjemahannya dalam bahasa Indonesia ini tidak bagus. Kalimatnya berbelit-belit. Makin dibaca malah kita makin bingung.

23 August 2012

Peziarahan Makam Mendek, Ngoro, Mojokerto



Nyekar atau ziarah ke makam-makam tua (dan dianggap keramat) masih dilakukan sebagian orang di Jawa. Khususnya penganut kejawen atau kebatinan. Salah satu makam tua terkenal adalah makam Mbah Mendek di Desa Kutogirang, Mojokerto, Jawa Timur.

Mendek, menurut cerita lisan, seorang penyebar Islam di akhir Kerajaan Majapahit. Orang sederhana yang rendah hati. Ada 5 wejangan beliau yang masih terpasang di pesarean: sabar, nrimo, temen (serius), ikhlas, budi pekerti luhur.

Kompleks makam ini begitu populernya sehingga dibuatkan pendapa, musala, kakus, kamar mandi. Ada juru kunci alias kuncen yang setiap hari merawat dan menjaga kebersihan. Karena itu, makam Mendek sangat bersih dan terawat.

Saat mampir ke sana saya lihat sekitar 10 pria sedang istirahat di pendapat. Gelar tikar, tidur. Ada lagi 5 orang lagi salat di musala. Tenang sekali, maklum tempat sembahyang atau meditasi.

Omong punya omong, ternyata banyak kenalan saya dari Sidoarjo aktif berziarah ke sini. Katanya, cari ketenangan. Dari Mendek biasanya ada yang lanjut ziarah ke petilasan Narotama dan Jolotundo, sekitar 8 km.

"Saya pernah 4 tahun 3 bulan di sini," kata Yasin dari Krembung Sidoarjo. Pada hari-hari tertentu dia rutin ke Mendek untuk refreshing spiritual, katanya.

Koh Jiang, orang Tionghoa dari Buduran, pernah berkelana setahun lebih di Mendek. Melarikan diri dari konflik keluarga. Di petilasan lawas ini dia mengaku tenang, sabar dan ikhlas. "Di rumahku orang hanya bicara soal uang uang uang," katanya serius.

Pada hari-hari keramat, khususnya Jumat Legi, kompleks seluas hampir satu lapangan bola ini ramai nian. Biasanya rombongan dari Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto dan kota-kota yang jauh. Sembahyang, salat, semedi, atau sekadar duduk-duduk mengharap belas kasihan Sang Pencipta.

"Tempatnya sepi sehingga bagus untuk merenung," kata Jiang, Tionghoa yang rupanya sudah jadi penganut kejawen itu. "Kita kan perlu melestarikan tradisi dan budaya leluhur."

Begitulah. Ibarat terminal, tujuan pengunjung makam ini macam-macam.

22 August 2012

Mudik di Jawa perlu dicontoh di Flores



Arus mudik di Jawa memang hiruk-pikuk karena melibatkan sekitar 25 juta orang. Bayangkan, jutaan orang bergerak dalam waktu bersamaan sekitar dua minggu ke berbagai tempat untuk berlebaran bersama keluarga.

Pemerintah, khususnya polisi, harus kerja keras untuk mengawal acara tahunan itu. Mudik menjadi ritual yang makin lama makin diminati meskipun keluarga yang bekerja di kota-kota besar itu sudah masuk generasi ketiga, keempat, bahkan kelima.

Saya sering merenung, geleng-geleng kepala. Luar biasa orang Jawa ini. Meskipun sudah puluhan tahun tinggal di kota, punya anak, cucu, cicit, tetap saja merasa sebagai wong kampung, orang desa. Berusaha mudik minimal sekali setahun untuk berhari raya. Kacang itu tidak pernah lupa lanjarannya!

"Apakah orang NTT, khususnya Flores dan Lembata juga punya budaya mudik?" tanya Pak Parto, orang Mojokerto, kepada saya.

Jawabannya bisa panjang, rada ilmiah, tapi bisa yang sederhana saja. Saya jawab tidak. Setahu saya orang Flores yang tinggal dan bekerja di Kupang atau Jawa, apalagi Malaysia, tidak pernah mudik hari raya baik itu Lebaran, Natal, Paskah. Ada satu dua tapi sangat-sangat sedikit.

Selain alasan biaya yang mahal, mudik belum jadi budaya macam di Jawa. Maka, jangan heran banyak orang Flores tak pulang kampung sampai 10, 20, 30 tahun. Bahkan dia sudah merasa jadi orang Kupang, Bali, Sabah, Larantuka karena punya istri, anak, cucu di tempat baru.

Ikatan dengan kampung halaman kian melemah ketika orangtua tak ada lagi. Apa yang mau dilihat di dusun? Orang-orang Flores urban ini bahkan sering merasa sebagai orang asing di kampung halaman leluhurnya sendiri. Belum lagi generasi kedua dst tak bisa berbahasa daerah Lamaholot, bahasa yang dipakai di Flores Timur dan Lembata. Beda dengan orang Jawa yang sangat menghargai dan melestarikan bahasa dan kebudayaan daerahnya!

Mudik massal tahunan ala Jawa ini sejarinya banyak sekali gunanya. Arus uang tiba-tiba mengalir deras ke kampung. Dan orang bisa tetap menyumbang pikiran atau materi demi kemajuan kampung halaman.

Begitulah. Desa-desa di NTT makin banyak kehilangan warganya yang hijrah menjadi orang kota... dan tak mau kembali lagi walau hanya seminggu.

Apel malang tidak laku



Malang sejak dulu dikenal sebagai kota apel di Jawa Timur. Sayang, kualitas apel malang makin lama makin jelek. Keras, kecut, tak bisa dinikmati sebagai buah segar.

Citra apel malang makin hancur sejak apel impor bebas masuk ke tanah air. Kita akhirnya tahu dan sadar bahwa ternyata mutu apel impor jauh lebih baik ketimbang yang di Malang itu. Apalagi harganya tidak jauh berbeda.

Karena itu, tadi saya lihat para pemudik lebaran dari Jakarta tidak mau membeli apel malang di Malang untuk oleh-oleh. Percuma, tidak disukai orang. Buat apa beli apel malang kalau di Jakarta banyak apel impor yang lebih ciamik dan manis.

Sayang, seperti biasa, pemerintah dan ahli-ahli kita kurang tanggap. Tidak melakukan riset untuk menemukan apel malang kualitas unggul yang tak kalah enak dengan apel impor. Atau, menanam varietas apel unggulan yang lebih enak ketimbang yang ada sekarang.

Para petani berdasi pun seperti kehilangan akal. Bukannya mendorong ditemukannya varietas unggul, malah minta perlindungan dari apel impor. Permintaan yang sulit di era perdagangan bebas.

Andaikan apel malang itu bagus, setidaknya mendekati apel washington, masyarakat akan rame-rame membeli apel malang. Kasus apel malang ini sama dengan durian bangkok yang lebih disukai konsumen karena enak, tebal, maknyus. Sementara duren-duren lokal tetap saja jelek dan tipis dagingnya.

Begitulah. Indonesia memang kurang serius menggarap agrobisnis meskipun selalu mengklaim negara agraris. Pemkab Malang, Pemkot Malang, dan Pemkot Batu rupanya lebih asyik mengurus pilkada dan sepakbola ketimbang budidaya dan pemuliaan tanaman apel.

Maka, bukan tak mungkin suatu ketika kita tak lagi menemukan apel malang di pasar karena memang tidak laku. Moga-moga Presiden SBY yang juga doktor pertanian mau memikirkan jutaan petani kita yang makin tergencet pasar bebas dunia itu.

Kritik Fariz RM untuk wartawan musik




Iseng-iseng saya membeli buku loakan Gramedia Malang karya pemusik Fariz RM berjudul Living in Harmony. Harganya cuma 10 ribu tapi wuih... isinya luar biasa bagus. Kita jadi tahu kegalauan Fariz tentang industri musik yang kacau dan intelektualitas seorang musisi serbabisa kelahiran Jakarta 5 Januari 1959 itu.

Buku ini menghimpun 59 catatan ringan Fariz yang sangat bergizi. Kita dibuat terbelalak dengan isi perut industri musik kita hari ini yang habis-habisan mengeksploitasi seniman alias artis. Itu pula sebabnya lagu-lagu pop sekarang mirip-mirip dengan tema yang sama. Beda dengan musik pop di era kejayaan Fariz RM pada 1980an yang sangat variatif.

Ada sebuah tulisan yang secara tajam menyoroti kualitas jurnalistik musik di Indonesia. Begitu parahnya karena berita yang diangkat umumnya soal selingkuh, kawin cerai, gosip murahan. Tak ada liputan mendalam tentang musik atu review seputar karya seniman industri musik.

Sudah begitu, menurut ayah tiga anak ini, wartawan sering merasa lebih tahu jeroan musik padahal dia sama sekali tidak bisa memainkan satu pun instrumen musik. Konyol! Fariz juga jengel karena si reporter sering menanyakan biodata, tanggal lahir, kapan mulai rilis album, dsb.

"Padahal saya sudah 31 tahun berkarier sebagai Fariz RM," tulisnya.

Wartawan sekarang dinilai malas mencari data yang sebetulnya tersedia melimpah di internet. Data elementer saja tak punya, bagaimana bisa si wartawan kita bisa membuat tulisan yang baik tentang Fariz RM dan musisi lain?

Fariz mengaku sangat asyik membaca ulasan musik yang ditulis wartawan-wartawan Barat. Sebab si wartawan bule itu tahu betul apa yang ditulisnya. Lengkap dengan data dan referensi.

"Kapan jurnalis-jurnalis di negeri saya tercinta ini mampu menghasilkan tulisan atau pemberitaan yang enak dan nikmat untuk dibaca?" tanya Fariz RM.

Mudah-mudahan gugatan pemusik sekaliber Fariz ini direspons para wartawan hiburan. Kalau hanya berkutat membahas kawin-cerai, gosip artis, ya sampai kapan pun jurnalisme kita tetap saja begini.

21 August 2012

Terkenang Radio TT 77 Malang

Ratusan fans Ebiet G Ade membeludak di depan studio Radio Senaputra, Jl Kahuripan, Malang, 11 Agustus 1979.. Jaman biyen artis2 top Jakarta selalu mengadakan jumpa fans di radio2 swasta.

Duduk ngopi di depan SMPK Santo Yusuf Malang  dengan teman lama, mata saya terpaku menatap proyek ruko yang gelap. Bangunan mangkrak. Belasan remaja arek Malang cangkrukan, ngopi, bercanda. Ada dua bencong genit tertawa cekikikan! Hehehehe....

Yah, studio Radio TT 77 yang sangat kondang pada 1980an dan 1990an itu sudah tak ada. Mangkrak bertahun dan akan dibangun gedung bertingkat. Tak ada lagi papan nama radio AM 828 dengan penyiar-penyiar big voice itu.

Masa lalu yang jaya memang sulit bertahan dalam jangka panjang. Apalagi di dunia radio yang menekankan hiburan seperti TT 77. Begitu banyak pemain baru dengan manajemen dan modal tangguh membuat pemain-pemain lawas keteteran.

Sebagai orang kampung, yang baru datang dari Flores, yang pindah dari SMAN Larantuka ke SMAN 1 Malang, tinggal di Jalan Suropati II/30, tak jauh dari studio Radio TT 77, awalnya saya sulit menikmati lagu-lagu khas TT 77. Blues, jazz, pop jazz, pop progresif alias pop kreatif. Singkatnya bukan pop pasaran ala Hati yang Luka, Tommy J Pissa, Rano Karno-Nella Regar, Muchlas Ade Putra.

Tapi karena tuan rumah di belakang RSSA selalu nyetel TT 77 akhirnya saya terbiasa. Mendengarkan musik blues dan jazz kelas berat setiap malam Senin. Saya mulai menikmati Fariz RM, Dian PP, January Chrsty dan sejenisnya. Beberapa kali saya minta lagu kalau kebetulan mampir ke studio Jl Dr Soetomo.

Ada sebuah program TT 77 untuk merayakan ultahnya yang sulit saya lupakan. Dia memaksa pendengar menyimak siarannya dari pagi sampai pukul 24 dengan kuis pundi-pundi berhadiah wah. Setiap saat si penyiar mengumumkan jumlah uang yang dimasukkan ke pundi-pundi itu.

Nilai uang dijumlahkan dan yang benar dapat hadiah. Gila! Banyak orang yang ikut dan benar. Singkat cerita, TT 77 sangat sukses di masa itu.

Sayang, keberhasilan di era AM ternyata tak berlanjut ketika hijrah ke FM. Kalau gak salah ganti nama dan positioning juga. Bersamaan dengan itu muncul pemain-pemain baru yang tanggap zaman. Maka kejayaan TT 77 hanya tinggal sejarah.

Saat ini tak ada jejak yang tersisa bahwa dulu di depan kompleks Sekolah Huaing pernah ada radio yang pernah terkenal di Malang. Tapi saya tak akan lupa suara Mbak Ines, sang penyiar beken.

Radio Senaputra yang tergusur



Saya kaget saat berdiri di depan (bekas) studio Radio Senaputra di Jalan Kahuripan Malang. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Yang ada cuma plang TNI AD bahwa gedung itu aset Kodam Brawijaya.

Radio Senaputra pindah? "Betul. Kalau gak salah pindah ke Wajir," kata seorang tukang becak di depan pintu masuk kolam renang Senaputra H+2 Lebaran 2012.

Saya cari informasi di internet tentang nasib radio yang mengudara sejak 1968 itu. Kalah gugatan hingga MA sehingga dieksekusi. Tak berhak menempati studio yang pernah jadi jujugan anak muda di Malang Raya itu.

Sebagai orang yang pernah menikmati kejayaan Radio Senaputra, ketika masih AM, saya ikut kehilangan jejak. Sebab dulu hampir tiap hari saya jalan kaki di depan radio rock itu. Saya terkesan dengan penyiar sekaliber Ovan Tobing yang beken tapi sangat familier.

Saya pun tidak lupa radio ini selalu unggul ketika menyiarkan sandiwara Saur Sepuh atau Misteri Gunung Merapi. Kalau radio-radio lain masih episode 20, Senaputra sudah seri 23 atau 24.

Itu karena setiap Minggu malam Bung Ovan sengaja memutar tiga episode sekaligus. Penggemar sandiwara radio pun benar-benar dibuat kecanduan. Hehehe...

Tapi roda zaman terus berputar seiring kemajuan teknologi. Ketika Kalimaya memelopori era FM di Malang, semua radio yang tadinya AM hijrah ke FM. Terjadi perubahan segmen, positioning dsb.

Saya lihat Senaputra tak lagi sehebat masa jaya di era AM. Radio TT 77 yang juga favorit saya ketika remaja di Malang nasibnya bahkan lebih parah lagi. Padahal dulu radio yang studionya di dekat kompleks Sekolah Santo Yusuf itu sangat elite dengan iklan yang melimpah.

Di era internet, televisi yang begitu banyak, VCD/DVD melimpah... tantangan untuk Radio Senaputra dan radio-radio lain sangat berat. Fantasi luar biasa ala Brama Kumbara, Mantili, Lasmini, Mak Lampir, Mardian sudah tak laku lagi di radio. Apresiasi musik rock dari Ovan Tobing pun tak akan mempan ketika orang bisa dengan mudah menikmati band-band idola di youtube, kapan saja dan di mana saja.

Dan Senaputra pun tergusur oleh tentara!

20 August 2012

Jagung lebih mahal daripada beras


 

Begitu banyak hal aneh di NTT. Provinsi yang sejak dulu diplesetkan sebagai Nusa Tetap Tertinggal atau Nasib Tidak Tentu. Harian Kompas edisi 16 Agustus 2012 memberitakan sekarang ini harga jagung di NTT Rp 15.000, sementara harga beras tertinggi Rp 10.000.

Anda tahu padi tidak bisa tumbuh bagus di NTT karena kendala irigasi. Hanya Manggarai dan Ngada yang lumayan bagus sawahnya. Daerah lain di NTT begitu gersangnya sehingga hanya bisa ditanami jagung dan kacang-kacangan. Karena itu, makanan pokok orang NTT sejak dulu adalah jagung.

Pada 1980an orang NTT yang mengonsumsi beras hanya PNS dan ABRI. Beras kualitas jelek begitu mahalnya sehingga tak terjangkau rakyat biasa. Akibatnya, gengsi beras sangat tinggi, dianggap makanan priyayi, pangan orang pintar. Bahkan ada guru-guru di NTT yang mengatakan begini: orang NTT itu bodoh karena makan jagung. Coba kalau makan nasi (beras) pasti orang NTT bisa cerdas kayak orang Jawa.

Sejak awal 2000 kondisi perpanganan di NTT makin runyam. Mengkhawatirkan. Terutama sejak beras miskin alias raskin digelontorkan besar-besaran. Apalagi dibuat isu seakan-akan banyak daerah kelaparan. Raskin ini cuma Rp 1000, bahkan gratis untuk warga yang benar-benar tak punya uang.

Sejak itulah beras mulai menggantikan jagung sebagai makanan pokok. Harga beras di pasar makin murah, sebaliknya harga jagung makin mahal. Dan akhirnya jauh melampaui harga beras kualitas bagus.

Karena itu, ketika saya berlibur di Lembata belum lama ini saya tidak pernah menemukan yang namanya nasi jagung. Semuanya beras khususnya raskin.

Mesin giling jagung atau selep yang di masa kecil saya sangat banyak kini tak lagi saya temukan. Bagaimana mau giling jagung kalau beras raskin melimpah ruah?

Maka, gerakan pangan lokal harus lebih gencar dilakukan pemerintah provinsi NTT, tak hanya sekadar slogan belaka. Bukan tidak mungkin suatu ketika orang NTT tak lagi menemukan jagung di bumi Flobamora.

18 August 2012

Dahlan Iskan hidupkan blog

Dahlan Iskan, menteri BUMN, sebenarnya tidak pernah bikin blog pribadi. Tapi beberapa penggemar Pak Dis, sapaan akrab mantan bos Jawa Pos Group, ini membuat blog untuk mendokumentasikan tulisan-tulisannya. Agar lebih mudah diakses di internet karena tidak semua orang sempat membaca koran atau buku yang memuat catatan-catatan Dis alias Pak Bos.

Salah satu blog populer DAHLANISKAN.WORDPRESS.COM. Luar biasa popularitas blog tidak resmi Dahlan Iskan ini. Pengunjungnya ribuan orang sehari. Komentarnya pun berjubel. Begitu sebuah artikel tayang muncul ratusan komentar hanya dalam tempo dua tiga jam. Benar-benar fenomenal dalam dunia blogging di tanah air.

Beberapa menit lalu saya intip jumlah komentar di blog Pak Dis. Sakit Hati 407 komen, Lima Tahun Ganti Hati 333, Bumper Besar 405, Mobil Listrik 500, Mobil Listrik II 294, Sorgum 322. Jumlah komentar akan berubah dengan sangat cepat.

Blog Dahlan Iskan memang benar-benar fenomenal. Jauh melampaui blog artis paling populer sekalipun. Apalagi kalau menilai bobot komentarnya yang tidak sekadar say hello atau bilang nice posting dan semacamnya. Apa yang dicapai blog Menteri BUMN ini rasanya belum pernah terjadi dalam sejarah blog di Indonesia karena sangat stabil dan konsisten.

Ketika muncul jejaring sosial facebook banyak orang menganggap blog sebagai masa lalu. Sebab banyak blogger yang pensiun dan pindah ke FB yang lebih interaktif. Kemudian datang twitter dengan kicauan pendek. Kemudian BBM. Blogging dianggap ketinggalan zaman di era BBM. Hari gini masih ngeblog?

Lalu datanglah Dahlan Iskan dengan unofficial blog yang ternyata menyadarkan kita semua bahwa blog masih punya kekuatan yang luar biasa. Jangan sepelekan blog! Anda tidak mungkin membabar ide atau opini hanya dengan 140 karakter di twitter.

Mengapa blog Dahlan Iskan bisa sehebat itu? Jawabnya simpel: KONTEN, KONTEN, KONTEN! Sejak dulu saya bilang sangat sulit menemukan orang Indonesia seunik dan sehebat Dahlan Iskan.

Pak Dahlan berhasil memaksa orang berpaling ke blog! Proficiat!

17 August 2012

Bank Century, Bank Senturi, Bank Mutiara

Skandal dana talangan untuk Bank Century ramai lagi di media. Televisi-televisi mengulang-ulang pernyataan mantan ketua KPK Antazari Azhar, minta pendapat anggota parlemen, pengamat dan sebagainya.

Sejak dulu saya geli mendengar pembaca berita di televisi melafalkan BANK CENTURY dengan BANK SENTURI. Lafal itu bahkan sudah seperti lafal standar semua orang Indonesia ketika menyebut bank bobrok yang sudah ganti nama itu.

CENTURY jelas bahasa Inggris yang belum diserap sehingga harus dibaca sesuai lafal aslinya: SENCERIE.

Kita memang bukan english speaking nation tapi sejak 1975 kita punya kamus Inggris-Indonesia karya John Echols dan Hasan Shadily. Kamus yang paling banyak dibajak di Indonesia ini punya petunjuk fonologi atawa cara membunyikan kata Inggris yang kira-kira sesuai penutur asli. Tapi mengapa penyiar Metro TV yang bahasa Inggrisnya istimewa pun melafalkan Bank SENTURI?

Masalahnya, dari segi tata bahasa, nama bank ini memang bermasalah. Sudah benar dia pakai hukum DM tapi lupa bahwa kata CENTURY yang berarti abad tidak pernah diserap. Akan lebih afdal kalau yang dipakai CENTURY BANK sehingga dibaca menggunakan logat english. Bisa juga pakai BANK SENTURI kalau memang konsisten mengindonesiakan nama bank itu.

Lantas, mengapa orang Indonesia selalu menyebut Bank SENTURI? Bukan Bank CENTURI (pakai C: cacing), atau Bank SENCERI? Ini masalah kebiasaan saja. Juga kecenderungan orang Indonesia yang keminggris alias sok english tapi setengah-setengah. Suka mencampur kalimatnya dengan kata-kata english hanya untuk gaya-gayaan saja.

Syukurlah, Bank Century sudah berganti nama menjadi BANK MUTIARA. Nama yang sangat indah dan sangat Indonesia. Dan tidak akan menimbulkan masalah fonologi atau pembacaan seperti CENTURY yang dibaca salah kaprah: SENTURI.

15 August 2012

Budaya olahraga di Tiongkok



Olimpiade di London baru saja usai dan atlet RRT (Republik Rakyat Tiongkok) kembali menunjukkan kedigdayaannya. Meski berada di posisi kedua setelah USA, semua orang mengakui prestasi atlet-atlet negeri panda itu.

Mengapa RRT sedemikian perkasa?

"Sebab olahraga sudah menjadi budaya dan bagian hidup masyarakat RRT," kata Harsono, mahasiswa sebuah universitas di Xiamen, Provinsi Fujian.

Meski sibuk bekerja atau belajar, penduduk RRT tak pernah lupa berolahraga. Saat subuh orang-orang sudah terlihat jalan kaki baik sendiri maupun bersama-sama. Ada juga yang menekuni senam taiji khususnya lansia. Senam yang dimodifikasi menjadi senam tera Indonesia ini sangat bagus untuk kesehatan karena berkaitan erat dengan pernapasan.

Menurut Harsono, olahraga kebugaran ini tak hanya dilakukan pagi hari tapi juga sore dan malam hari. Pukul 23 masih banyak orang yang asyik gerak badan di taman-taman. Para mahasiswa juga begitu. Olahraga menjadi mata kuliah wajib di perguruan tinggi.

Harsono menjelaskan, budaya olahraga di RRT juga disertai dengan pembangunan sarana dan prasarana olahraga yang masif. Semua sekolah mulai SD hingga perguruan tinggi punya lapangan olahraga sendiri. Universitas Xiamen misalnya punya dua lapangan sepakbola, tiga lapangan futsal, 12 lapangan basket, dan tiga lapangan voli. Lahan-lahan kosong juga dibangun fasilitas olahraga oleh pemerintah.

Berkembangnya olahraga ini juga didukung sekolah atau kursus privat. Anak-anak kecil sudah diajarkan teknik olahraga secara profesional seperti cara bermain bulutangkis yang benar.

Warga Xiamen memang gandrung bulutangkis. Sebuah arena badminton yang punya 13 lapangan tidak cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan setiap hari.

Kursus olahraga, cerita Harsono, ternyata tak hanya diikuti anak-anak dan remaja. Mereka yang sudah berumur 30 tahun ke atas pun ternyata tidak malu belajar bulutangkis. Bukan untuk jadi atlet kelas dunia seperti Lin Dan tapi demi menjaga kebugaran tubuh.

Lapangan olahraga ini juga menjadi ruang interaksi. Mereka bisa bertemu teman lama yang jarang kopi darat. Bisa memperkenalkan anak dancu kepada teman-temannya. Di samping bisa bertukar cerita, badan pun menjadi lebih sehat dan bugar.

Sayang, kita di Indonesia hampir tidak punya lapangan atau tempat olahraga yang memadai. Jangankan masyarakat awam, lapangan bola untuk klub-klub kita pun kebanyakan masih di bawah standar. Akibatnya, saat ini para remaja dan mahasiswa lebih memilih hangout di kafe sambil berselancar di jagat maya.

Sejak kecil penduduk RRT didoktrin tentang pentingnya olahraga bagi kesehatan dan produktivitas. Pepatah terkenal yang selalu dipasang di tempat umum berbunyi:

"Olahraga satu jam sehari,
sehat bekerja selama 50 tahun,
hidup bahagia selamanya!"

14 August 2012

EYANG BETE MENINGGAL DUNIA




Cukup lama saya tidak berjumpa Eyang Betawi. Budayawan Sidoarjo bernama asli Bambang Trimuljono ini memang sudah lama menarik diri dari wacana publik di Sidoarjo. Eh, tadi pagi saya dapat SMS dari Pak Benk, pelukis senior, mengabarkan Eyang Bete sudah tak ada.

"Beliau sudah selesai tugasnya. Sekarang dia sudah senang. Kita yang belum senang (karena masih hidup)," tulis Pak Benk dengan gaya senimannya.

Saya hanya bisa kirim doa dari jauh karena berada di luar kota. Semoga Eyang Bete beristirahat dengan damai di sisi Tuhan! Selamat jalan Pak!

Kepergian eyang yang juga insinyur teknik ini merupakan kehilangan bagi para seniman dan budayawan di Sidoarjo. Sebab selama ini dia banyak menggerakkan berbagai forum diskusi budaya di Sidoarjo. Ada forum malam Jumat atau Format. Malam anggoro kasih. Forum budayawan Sidoarjo.

Eyang Bete juga menerbitkan beberapa majalah kebudayaan meski tak ada yang awet. Praktis, semua kegiatannya tak lepas dari seni budaya. Dia tak hanya prihatin melihat bangsa yang makin kehilangan keramahan dan jati diri tapi juga melakukan kerja budaya yang konkret.

Selama 10 tahun almarhum menjadi mitra diskusi yang hangat dengan Bupati Sidoarjo Win Hendrarso, 2000-2010. Kebetulan Pak Win sangat tanggap terhadap masukan atau kritik eyang dkk. Para seniman dan budayawan ini bahkan sangat sering diajak ke pendapa untuk diskusi atau pentas.

Kritik-kritik Eyang Bete yang tajam tak membuatnya bermusuhan dengan bupati atau pejabat di Sidoarjo. Sayang, setelah tahun 2005 BT tak begitu aktif lagi karena kesehatan dan kesibukan mengurus anaknya. Sementara Pak Bupati sibuk mengurus dampak semburan lumpur lapindo.

Saya terakhir kali bertemu BT saat melayat pelukis Harryadjie BS yang juga motor seni budaya di Sidoarjo. Sebelumnya lagi saya bertemu BT saat melayat jenazah Eyang Thalib Prasojo. BT saya lihat tetap semangat dan antusias.

Kini giliran Eyang BT yang dipanggil Tuhan. Betapa fananya hidup ini. Tiga eyang budayawan kita pergi bersusulan: Eyang Thalib, Eyang Thelo dan Eyang BT.

12 August 2012

Ganti gereja kayak ganti baju

Suasana kebaktian ala Gereja Haleluya


Cewek Tionghoa ini cantik, 20-an tahun, mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta terkenal di Surabaya. Sering kutip ayat Alkitab, khas umat gereja haleluya. Dia ini tipe jemaat yang kritis, lekas tidak puas dengan gembalanya.

Dalam dua tahun ini Meili sudah tiga kali pindah gereja di Surabaya. Sama-sama aliran haleluya. Dia kurang cocok aliran Protestan, apalagi Katolik. Dia bilang tak akan mau punya suami Katolik meski sama-sama Tionghoa.

"Kalau yang Katolik itu ikut saya oke-oke sajalah," kata cewek yang fasih bahasa Mandarin ini.

Mengapa gonta-ganti gereja tiap delapan bulan?

"Gak cocok sama pendetanya. Awalnya asyik tapi lama-lama gak asyik" katanya.

Kalau pendeta kamu yang sekarang asyik?

"Asyik," katanya.

Asyik bagi Meili artinya luas: pintar khotbah, luas wawasan, integritasnya baik.


Jangan-jangan kamu pindah gereja lain lagi kalau sudah bosan?
Seberapa kuatkah kamu ganti gereja?

Meili diam sejenak.

"Mudah-mudahan tidak," katanya.

Kalaupun toh pindah juga baginya no problem. Pindah gereja begitu mudahnya, semudah mengganti baju saja.

Sebagai orang Flores, awalnya saya sangat heran melihat kebiasaan gonta-ganti gereja di Jawa. Tapi lama-lama saya bisa memahami karena latar belakang budaya, tradisi hingga teologinya memang beda. Logika tradisional orang Flores tidak bisa diterapkan di Jawa yang amat sangat heterogen denominasi gerejanya.

Orang Flores sejak dulu hanya kenal satu gereja, yakni Katolik. Protestan tidak ada. Aliran haleluya lebih tidak ada lagi. Karena itu, meskipun doktrin katolisme diserang habis-habisan sejak era Luther, Calvin, Zwingli... orang Katolik di Flores tenang-tenang saja.

Tetap sembahyang kontas alias rosario, sembahyang Bapa Kami, Salam Maria, Aku Percaya, Saya Mengaku, Hendak Berlindung (ini doa khas umat Katolik di Flores meminta perlindungan Bunda Maria sebagai penutup Sembahyang Malam menjelang tidur), Ya Yesus yang Baik...  atau ikut latihan paduan suara kampung yang sangat sederhana.

Orang-orang Flores yang terlalu lama merantau di daerah yang katoliknya sangat minoritas biasanya dicurigai pindah gereja atau bahkan jadi mualaf. Maka, biasanya diam-diam orang kampung mengetes si Flores yang baru mudik. Caranya melihat sikap sebelum makan. Buat tanda salib atau tidak?

Kalau buat tanda salib berarti masih Katolik. Meskipun selama merantau di Jawa atau Malaysia si Flores itu sangat jarang, bahkan tidak pernah ikut misa di gereja. Hehehe....

11 August 2012

Pembajak buku penjahat atau pahlawan?




Buku-buku Pramoedya Ananta Tour yang bermutu itu mahal untuk masyarakat berpenghasilan pas-pasan. JEJAK LANGKAH harganya di atas Rp100.000 meski sudah dikorting. Buku DUA TANGIS DAN RIBUAN TAWA karya Dahlan Iskan terbitan Gramedia juga mahal sekali, dekat Rp100.000.

Bagaimana bisa mengajak masyarakat cinta buku kalau buku-buku bagus sangat mahal? Buku-buku Andrea Hirata juga mahalnya minta ampun.

Tapi jangan khawatir, di Indonesia ada pembajak buku. Buku-buku laris, best seller, sekarang ini ada versi bajakannya yang bisa dibeli di Jalan Semarang Surabaya. Para pembajak ini sangat jeli sehingga hanya buku sangat laris yang dikopi.

Wow, saya perhatikan kualitas cetakannya tidak jelek. Jilidannya bagus. Bisa dibaca berkali-kali dan tak akan rusak. Di zaman komputer ini mengopi buku sangat mudah secara digital meski hasilnya tidak sebagus aslinya.

Tadi saya mampir ke tokonya si Lia gadis Madura di pusat buku Jl Semarang. Jejak Langkah cuma 20.000 bisa tawar dikit. Novel Sepatu Dahlan cuma 10 ribuan - aslinya mahal banget. Novel-novel islami yang laris pun punya versi bajakannya.

"Baca buku kopian dengan yang asli sama saja. Yang penting kan isinya," kata seorang pengunjung.

Buku asli yang mahal pun cuma dibaca sekali. Beda dengan kamus atau kitab suci yang dibaca berkali-kali sehingga cetakan dan jilidannya harus sangat bagus.

Para pembajak buku memang sudah lama dimusuhi penerbit karena merusak pasar. Melanggar copyright dan seterusnya. Tapi di sisi lain mereka dianggap pahlawan bagi warga kurang mampu yang senang membaca tapi duitnya cekak.

Berapa banyak pelajar dan mahasiswa yang terbantu oleh buku bajakan? Berapa banyak orang Indonesia yang beroleh pengetahuan dan pencerahan berkat buku kopian? Pasti luar biasa banyaknya.

Selama harga buku di Indonesia sangat mahal, akses ke perpustakaan terbatas, buku-buku kopian akan tetap ada. Dan tetap jadi jujugan warga kurang mampu untuk mendapat secercah pengetahuan.

Ketika orang membakar koran



Orang di daerah pegunungan seperti Trawas atau Pacet punya kebiasaan berdiang. Membuat perapian untuk menghangatkan badan saat hawa sangat dingin. Cara paling mudah adalah membakar ranting atau kayu kering yang mudah dijumpai di hutan.

Saya kaget melihat Mbak Hasna di Trawas meletakkan setumpuk kertas koran di atas kayu-kayu kering. Kertas koran itu buat memicu api karena mudah terbakar. Dan... dalam sekejap kertas koran itu sudah jadi arang.

Saya lihat koran yang dibakar ini macam-macam termasuk koran terbesar di Jakarta dan Surabaya. Saya tidak tega melihat koran yang kata orang produk intelektual itu hanya dijadikan bahan bakar belaka.

"Nggak apa-apa, itu kan koran bekas, sudah dibaca semua," kata mbak yang asli orang pegunungan ini tanpa bebas.

Sulit berdiskusi serius dengan orang-orang yang tak pernah merasakan susahnya membuat koran. Bagaimana bikin janji dengan sumber, wawancara, motret, menulis, editing.. masuk dapur percetakan hingga keluar menjadi NEWSPAPER.

Setelah dibaca sebentar, NEWS-nya hilang dan tinggal PAPER-nya saja. Dijual ke tukang loak tak laku, cuma kiloan. Diberikan ke tukang warung cuma jadi bungkus kacang atau penutup makanan. Diberikan kepada orang desa di pegunungan ya bakal dibakar bersama kayu kering untuk mengusir malam yang dingin.

Sejak melihat koran-koran bekas dibakar seenaknya, dan sebagian besar korang yang saya bawa, saya akhirnya memutuskan tidak lagi meninggalkan koran di warung mbak gendut itu. Lebih baik diberikan kepada orang yang suka membaca dan haus informasi tapi tidak pernah membeli surat kabar. Syukurlah, di desa masih ada orang yang seperti itu.

Koran memang beda dengan buku. Kalau masyarakat atau kejaksaan membakar buku pasti geger karena dianggap membakar ilmu pengetahuan. Meskipun buku yang dibakar itu kualitasnya sampah. Sebaliknya, ketika orang membakar koran bekas tidak ada reaksi sama sekali dari aktivis LSM, budayawan, atau pemerintah. Orang bebas membakar koran atau majalahnya karena toh miliknya sendiri?

10 August 2012

Tujuh belasan gak rame



Tujuh belasan tahun 2012 ini kayaknya kurang ramai ketimbang tahun-tahun lalu. Saya perhatikan di Surabaya dan Sidoarjo hampir tidak acara yang meriah. Umbul-umbul merah putih juga belum ada di tempat tinggal saya meskipun tanggal 17 Agustus sudah mepet.

Rapat-rapat panitia tujuh belasan juga nggak ada. Bahkan lomba-lomba di kampung khas tujuh belasan tahun ini ditiadakan. Soalnya warga ramai-ramai mudik, berlebaran di kampung halaman masing-masing.

Cukup renungan di rumah masing-masing sambil nonton televisi. Pasti ada dangdut koplo, kata teman yang biasanya ngurus tujuh belasan.

Mungkin ketidakmeriahan hari kemerdekaan kali ini karena umat Islam sedang puasa, dilanjutkan mudik, kemudian Idulfitri. Ibadah agama jauh lebih penting ketimbang hura-hura bikin lomba. Juga hanya habis-habisin uang.

Tapi bukankah dulu juga pernah bersamaan dengan bulan Ramadan? Kok dulu ramai sekarang tidak? Entahlah. Yang jelas, makin lama seremoni nasionalisme dan patriotisme sudah semakin menipis.

Kalaupun kita bikin acara belum tentu warga mau keluar rumah untuk berpartisipasi atau sekadar nonton. Sebab, orang kota memang sibuk dengan masalahnya sendiri-sendiri. Solidaritas kebangsaan, kebersamaan, makin berkurang.

Tadi pagi saya lihat televisi masih membahas isi ceramah Rhoma Irama yang dinilai rasis dan antidemokrasi. Rhoma meminta orang Jakarta tidak memilih pasangan Jokowi-Ahok sebagai gubernur karena Ahok itu China dan Kristen. Hari gini sentimen agama dan ras masih juga disuarakan seorang pemusik sekaliber Rhoma Irama. Ter.. la.. lu!!.

Coba kalau si Rhoma itu tim sukses Jokowi-Ahok. Pasti pernyataan serta dalil kitab suci yang dikutip akan lain lagi sesuai kepentingan si jurkam.

Begitulah. Indonesia sudah berusia 66 tahun tapi proyek kebangsaan ini masih jauh dari selesai. Kita masih dihantui kanker korupsi yang justru dilakukan dengan masif oleh aparat hukum seperti kepolisian.

Syukurlah, Surabaya Symphony Ochestra yang mayoritas pemusiknya Tionghoa masih mau menggelar konser kemerdekaan!

09 August 2012

Ketika Hartati jadi tersangka

Hartati alias Zou Liying


Pengusaha Zou Liying yang lebih dikenal dengan HARTATI MURDAYA akhirnya ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Zou bukan pengusaha biasa. Dia politisi, sosialita, dan tokoh agama Buddha.

Bukan sekadar agamawan, Hartati alias Liying ini sejak dulu dipercaya jadi ketua organisasi agama Buddha, Walubi. Didirikan tahun 1979, Walubi kemudian pecah karena di kalangan buddhis ada banyak sangha atau aliran yang berbeda pandangan.

Saingan berat Walubi adalah Konferensi Agung Sangha Indonesia. Konferensi yang dulu pernah sangat dominan di Walubi versi perwalian.

Kepemimpinan Hartati di Perwalian Umat Buddha Indonesia atau Walubi sejak dulu jadi polemik di kalangan umat Buddha di tanah air Walubi yang PERWALIAN bubar pada 1998. Tapi Hartati dkk bikin Walubi baru yang bukan lagi perwalian tapi PERWAKILAN.Akronimnya tetap Walubi: Perwakilan Umat Buddha Indonesia.

Maka, meski organisasi buddhis tak hanya satu, orang nonbuddhis selalu merujuk Walubi jika bicara agama Buddha di Indonesia. Dan Walubi biasanya identik dengan Hartati Murdaya alias Liying. Dialah pengurus puncak organisasi agama paling kaya di Indonesia, bahkan dunia.

Sudah lama saya mengkhawatirkan konglomerat merangkap pengurus agama sebesar Buddha. Bukan apa-apa. Ajaran agama dan praktis bisnis di Indonesia (juga di negara lain) sering menabrak aturan agama. Suap, kolusi, kongkalikong dan praktik kotor sulit dielakkan.

Bagaimana seorang agamawan bisa melakoni bisnis dengan bersih? Bagamaina dia harus menyampaikan suara profetis ketika Hartati juga politikus Partai Demokrat?

Saya tidak habis pikir kaum intelektual buddhis di Indonesia cenderung membiarkan Walubi berjalan bertahun-tahun dengan kondisi yang tak lazim ini. Orang pertama Walubi malah jadi orang dekat istana dan Partai Demokrat. Wah, wah.... opo tumon???

Umat Islam punya Majelis Ulama Indonesia yang terdiri dari para ulama, kiai atau ustad, dari berbagai ormas. Umat Katolik diwakili para uskup di Konferensi Waligereja Indonesia. Kristen Protestan dengan para pendeta atau teolog macam Dr Andreas Yewangoe, ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia. Umat Buddha justru menampilkan pengusaha yang bukan agamawan.

Yah, sebagai orang luar, saya hanya berharaap kasus dugaan korupsi yang menimpa Hartati ini membawa hikmah bagi kita semua, khususnya buddhis, khususnya Walubi. Sulit dibayangkan seorang ketua Walubi memimpin organisasi buddhis yang sangat terkenal dari balik penjara.

Berdoa pun perlu bayar

Menjelang puasa dan lebaran, banyak orang nyekar ke makam. Dan profesi pembersih makan, penjual kembang dan.. tukang doa laris manis. Anda bayar sekian ribu agar si tukang doa membacakan doa tertentu untuk keluarga yang sudah meninggal.

Lumayan penghasilan juru doa kalau musim ramai. Mengapa tidak berdoa sendiri saja? Kok membayar orang lain yang sama sekali tak mengenal penghuni kubur untuk berdoa.

Yah, inilah zaman edan ketika sembahyang atau doa pun sudah jadi komoditas. Ada uang ada doa!

"Minggu depan ada pengajian di Semolo," kata si A.

"Pulangnya dapat apa? Apa peserta pengajian dapat uang?" balas si B di warung kopi. Saya tertawa kecil mendengar guyonan yang tak sepenuhnya keliru itu.

Di lingkungan gereja pun saya perhatikan arus komodifikasi sudah lama terjadi. Kalau ingin paduan suara yang mengiringi pemberkatan nikah atau sakramen perkawinan, ada harganya. Kita harus siapkan uang jasa untuk choir tertentu. Padahal, pepatah gerejawi mengatakan qui bene cantat bis orat! Orang yang menyanyi dengan baik untuk Tuhan itu ibarat berdoa dua kali.

Zaman memang sudah berubah. Dan perubahan itu juga menembus ke ruang spiritualitas keagamaan. Saya masih ingat waktu masih SMP dan SMA di Larantuka, Flores Timur, kami berjuang keras agar bisa jadi anggota paduan suara yang bertugas di Katedral Larantuka. Hanya orang terpilih saja, yang suaranya bagus, bisa lolos. Ikut kor jadi kebanggaan yang luar biasa.

Saya sendiri tidak pernah terpilih masuk kor sekolah karena kalah bersaing. Baru aktif paduan suara setelah hijrah ke Jawa Timur. Itu pun karena kor lingkungan di gereja katolik umumnya kekurangan anggota.

Dan setahu saya anggota kor sangat antusias berlatih, apalagi menjelang lomba atau tugas saat natal atau paskah. Tak pernah terbayang anggota kor meminta bayaran atau uang bensin. Sebab menyanyi di gereja pada dasarnya ibadah. Manfaatnya dirasakan anggota kor dan umat yang mendengarkan lagu.

Lha, kok sekarang muncul kor-kor profesional sehingga perlu fee atawa ongkos? Mboten ngertos!

08 August 2012

Buka puasa nan enak di Flores

Masjid di Lewotolok, Lembata, NTT



Saya selalu perhatikan Bu Yati berbuka puasa di Surabaya. Menunya sederhana, sama dengan hari biasa. Tak ada takjil tambahan yang manis atau menu-menu khusus seperti ditayangkan televisi.

"Saya buka dengan minum air putih saja. Gak repot-repot," katanya. Bu Yati ini jelas bukan orang miskin karena rumahnya besar di lokasi strategis.

Tak ada kolak, gak ada es degan, cao alias es kolangkaling atau kurma. Puasa ala bu hajah ini benar-benar hemat. Bisa menekan pengeluaran selama sebulan karena sahurnya pun sederhana.

Melihat menu buka puasa macam itu, ingatan saya langsung terbang ke Lembata, pelosok NTT. Mama Siti, adik kandung mama saya, serta orang Islam di kampung halaman di Ileape berpuasa. Meskipun orang Islam sedikit, bulan Ramadan sangat meriah. Dan ikut dinikmati anak-anak kampung yang beragama Katolik.

Selama sebulan penuh anak-anak menanti buka puasa karena menunya jauh lebih enak dan lezat ketimbang hari biasa. Sudah pasti ada es kelapa muda, kolak kacang hijau, kolak singkong, kolak umbi-umbian dan sebagainya.

Kolak itu makanan wajib buka puasa. Sulit membayangkan orang Islam di Lembata tanpa kolak atau kelapa muda. Karena bahan-bahannya tersedia, ditanam sendiri, tak perlu membeli selain gula pasir.

Menu buka puasa pun selalu berlebih, sengaja diperbanyak agar bisa dinikmati ATA KIWAN alias nonmuslim yang tidak berpuasa. ATA WATAN alias orang Islam dan ATA KIWAN di kampung memang punya ikatan kekerabatan yang sangat kuat. Sama-sama orang Lamaholot yang diikat kultur dan adat yang sangat kuat.

Akhir Ramadan saudara-saudari muslim alias ATA WATAN dari seluruh kecamatan berkumpul di salah satu desa yang ada masjid besar. Gantian tiap tahun untuk berlebaran bersama, salat Id bareng di lapangan terbuka. Orang-orang muslim itu menginap di rumah-rumah penduduk setempat yang hampir semuanya ATA KIWAN alias Katolik. Panitia Lebaran juga kepala desa dan pengurus desa setempat yang hampir pasti kiwanen alias nonmuslim.

Luar biasa memang kekerabatan di pelosok Flores Timur.

05 August 2012

Senja kala bulutangkis kita

Lin Dan juara Olimpiade 2012 London.


Boro-boro dapat emas, kali ini Indonesia hanya dapat malu di London. Kita gagal total di Olimpiade 2012. Tak ada emas, perak, perunggu bulutangkis. Padahal dulu kita dianggap sebagai negara kuat, elite badminton dunia.

Prestasi bulutangkis kita tinggal catatan sejarah. Generasi emas berlalu. Regenerasi gagal. Bayangkan, Taufik yang dapat emas di Athena 2004 masih ikut memperkuat tim Indonesia. Pemain-pemain di bawah Taufik sangat jauh kualitasnya. Kita bahkan tidak hafal nama-nama pemain badminton kita karena prestasinya memang tidak ada.

Saya sedang menyaksikan siaran langsung pertandingan pemain Tiongkok vs Korea Selatan. Kelihatan sekali kalau RRT jauh di atas pemain-pemain lain di dunia. Perkecualian hanya Li Cungwei dari Malaysia yang bisa mengimbangi Lin Dan.

Postur, teknik, strategi, stamina, gerak tipu, kecerdasan pemain China memang di atas pemain lain. Sehingga, kita tidak boleh iri RRT bisa dengan mudah menghabisi lawan-lawannya.

Saya sebetulnya terlalu sering membahas nasib badminton di negara yang pernah melahirkan Rudi Hartono, Lim Suiking, Alan Budikusuma, Susi Susanti, Taufik Hidayat, Lius Pongoh, Ardy BW, atau Icuk Sugiarto. Kita sulit menyalahkan PBSI karena krisis ini sudah kelihatan sejak 15 tahun terakhir.

Saya mencermati anak-anak Tionghoa sudah lama tidak main bulutangkis. Mereka fokus sekolah tiga bahasa, les piano, kursus macam-macam... tak ada waktu untuk main bulutangkis. Olahraga raket ini tidak menjamin masa depan yang baik. Dan itu terlihat dari mantan-mantan pemain bulutangkis yang pernah berjaya di masa lalu.

Juara-juara bulutangkis kita dulu sengaja mengorbankan sekolah demi prestasi. Tidak sempat kuliah. Tidak fokus bisnis. Hasilnya memang luar biasa tapi tidak diimbangi dengan penghargaan dari negara. Bahkan, naturalisasi pun dipersulit.

Lha, hari gini anak siapa yang mau habis-habisan berlatih badminton, menomorduakan sekolah, tanpa jaminan masa depan yang baik? Rupanya, kita perlu belajar dari RRT bagaimana menjamin masa depan atletnya seumur hidup.

Jangan pernah pinjamkan buku

Sudah setahun ini buku biografi pemusik hebat dipinjam Mbak Nuri. Tapi tidak ada isyarat akan dikembalikan. Diam-diam sudah saya ikhlaskan. Tak ada harapan untuk dia kembalikan.

Tak hanya Nuri, masih banyak buku lain yang 'hilang' di tangan teman atau kenalan. Saat meminjam katanya segera dikembalikan. Sebulan berlalu, dua bulan, enam bulan... satu tahun... bablas angine!

"Jangan pernah meminjamkan buku anda karena hampir pasti tidak kembali," pesan seorang profesor di Surabaya. Kalau teman anda ngotot, silakan fotokopi lalu minta uang pengganti ongkos fotokopi.

Prinsip ini juga dipegang teguh Oei Hiem Hwie, kolektor buku-buku Pramoedya dan pendiri Perpustakaan Medayu Agung Surabaya. Perpustakaan yang punya ribuan buku langka, majalah lawas era kolonial, hingga tulisan tangan almarhum Pram tidak pernah melayani peminjaman buku. Yang ada hanya layanan fotokopi. Karena itu, koleksi buku di perpustakaan ini selalu bertambah, tidak berkurang kayak perpustakaan sekolah atau universitas.

Pesan para bapak perbukuan ini sebenarnya sudah lama saya dengar, tapi selalu saya lupakan. Sebab, yang pinjam itu memang orang-orang dekat atau kenalan akrab. Saya sengaja membuktikan tesis pak profesor bahwa buku bagus tak akan dikembalikan. Hanya lima persen orang yang satria mengembalikan buku. Dan ternyata benar!

Gara-gara pengalaman buruk ini, belakangan saya terpaksa sering berbohong. Yakni ketika ada mahasiswa atau peneliti yang menghubungi saya via email hendak meminjam buku literatur tertentu yang pernah saya resensi di internet. "Maaf, buku itu sudah dipinjam dan belum dikembalikan," kata saya, berbohong.

Sederhana saja pikiran saya. Kalau orang-orang dekat saja sulit mengembalikan buku, bagaimana pula dengan orang yang tidak kita kenal? Hanya tahu sedikit via internet?

Di Indonesia soal amanah atau tanggung jawab sangat mudah diomongkan tapi sangat sulit dipraktikkan dalam dunia perbukuan. Tidak heran banyak taman bacaan atau perpustakaan kecil yang tutup.

Beberapa tahun lalu saya bersama Pak Bambang Haryaji (almarhum) pernah merintis taman bacaan kecil-kecilan di pelosok Trawas, Mojokerto. Kami pasok buku-buku lama, yang bagus, majalah, surat kabar. Maksudnya agar ada bacaan sembari ngopi ketimbang ngobrol ngalor-ngidul soal kebatinan atau nomor togel.

Hasilnya memang sesuai prediksi. Buku-buku koleksi, majalah, koran, hilang. Bukannya dibaca di tempat tapi dibawa pulang entah ke mana. Ibu yang kami percaya mengurus taman bacaan itu tidak bisa berbuat banyak.

Tak hanya di dusun terpencil, di Surabaya pun program taman bacaan pun tidak jalan. Yang agak lumayan hanya perpustakaan umum di kawasan Rungkut.

03 August 2012

Buka puasa di Kelenteng Cokro



Buka puasa di lingkungan masjid itu biasa. Tapi di kompleks kelenteng? Ini yang unik dan menarik. Ratusan warga muslim mulai anak-anak hingga lansia berkumpul di halaman TITD Hong San Ko Tee Surabaya untuk menunggu saatnya membatalkan puasa.

Sekitar pukul lima petang halaman kelenteng di Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya itu dipadati warga dari kawasan Pandegiling dan sekitarnya. Sementara pengurus dan jemaat Kelenteng Cokro sibuk mempersiapkan takjil dan nasi bungkus. Seorang polisi dan beberapa umat juga tak kalah sibuk mengarahkan warga agar antre dengan tertib.

Setelah azan magrib terdengar, takjil pun dibagikan.

"Alhamdulillah, puasa saya hari ini berjalan lancar dan sekarang bisa berbuka di sini," kata Syaiful, warga Pandegiling, yang baru pertama kali berbuka puasa di kompleks kelenteng di tengah kota itu.

Usai menikmati takjil berupa es buah, pengunjung antre mendapatkan nasi bungkus. Menunya lumayan: nasi, telur, ayam, daging. Sebagian warga langsung kembali untuk berbuka di rumah, sebagian langsung berbuka di halaman kelenteng. "Saya salut dengan inisiatif pengurus kelenteng untuk mengadakan buka puasa bersama. Ini menunjukkan toleransi yang bagus di kalangan umat beragama," kata Bambang, warga Pandegiling.

Tak hanya warga muslim yang sumringah, Swie Lioe terlihat gembira di atas kursi roda. Pengurus TITD Hong San Ko Tee ini mengatakan, pihaknya menggelar bakti sosial buka puasa bersama setiap Jumat selama bulan Ramadan. Panitia menyediakan sekitar 500 paket takjil dan makanan untuk dinikmati warga Cokroaminoto dan sekitarnya.

"Kami yang menyediakan kupon, pihak RT yang menentukan warganya yang berhak ikut buka puasa bersama. Tentu saja prioritasnya untuk warga kurang mampu," kata Swie Lioe.

Baksos selama bulan Ramadan ini sudah digelar Kelenteng Cokro dalam beberapa tahun terakhir. Baksos lintas agama ini sengaja dilakukan agar jemaat kelenteng dan warga bisa saling mengenal dan menjaga tali silaturahim. "Kita ingin menunjukkan bahwa orang-orang kelenteng itu tidak eksklusif, tapi terbuka bagi masyarakat luas," kata Swie Lioe.

Tak hanya buka bersama, beberapa hari sebelum memasuki bulan puasa, Swie Lioe bersama pengurus Kelenteng Cokro lainnya juga mengadakan baksos pembagian 500 paket bahan pokok berupa beras dan mi instan. Kebiasaan yang baik ini akan terus dilestarikan di masa mendatang.  

02 August 2012

Buku doktorandus yang tidak menarik

Saya tersenyum sendiri melihat beberapa buku sastra di GramediaManyar, Surabaya. Pengarangnya pasang gelar lawas: doktorandus aliasdrs. Hari gini masih ada tiyang sepuh yang pamer gelar akademis produk sekolah tempo doeloe alias old school.

Orang-orang lama memang begitu doyan memasang gelar akademik di depandan belakang nama. Selain doktorandus dan doktoranda, ada juga BcHk atau BA. Maklum tidak banyak orang lama yang bisa kuliah di perguruan tinggi.

Gelar haji/hajah pun kerap dipasang karena tidak banyak orang yangbisa naik haji mengingat ongkosnya sekitar Rp50 juta. Di NTT haji/hajah sangat-sangat langka mengingat hanya segelintir orang yang mampu bayar biaya perjalanan haji. Selain itu agama Islam memang minoritas di NTT.

Jumlah jamaah haji dari Kabupaten Lembata misalnya dua tahun lalu hanya ENAM orang. Bandingkan dengan jamaah haji asal Kabupaten Sidoarjo yang mencapai sekitar 2.500 orang. Karena itu, haji-hajah di NTT biasanya selalu minta disapa dengan Pak Haji atau Haji Salim, Haji Ahmad, Haji Mamat... setelah pulang menunaikan ibadah d i Arab Saudi. 

Kembali ke buku karangan Pak Drs. Setelah saya intip ternyata isinya tidak menarik. Kayak makalah mahasiswa saja. Kalimatnya panjang-panjang, banyak kalimat majemuk bersusun, ruwet, khas doktorandus zaman dulu. Tapi lumayanlah,beliau sudah kerja keras untuk menulis buku meskipun tidak laku.

Kalau saya cermati, buku-buku yang ditulis orang yang senang pasang gelar di depan namanya, entah drs/dra, Dr, PhD, MA dan sejenisnya biasanya tidak menarik. Minggu lalu saya baca buku tentang Triad Hongkong yang pengarangnya pakai gelar banyak: Dr, PhD, MA. Isinya masih lebih bagus tulisan murid SMP atau SMA. Benar-benar sangat mengecewakan!

Sebaliknya, buku-buku atau tulisan Dahlan Iskan, Goenawan Mohamad, Ayu Utami, Dee Lestari, Andrea Hirata... sangat memukau. Bikin kita kecanduan membaca membaca membaca dan membaca.


01 August 2012

Eko Albaroyo Blakrakan JTV



Di saat rekan-rekannya sesama pelawak senior 'hilang dari peredaran', Eko Untoro Kurniawan (55 tahun) masih rutin nongol di televisi. Arek Suroboyo bertampang bule yang beken dengan nama Eko Albaroyo alias Eko Tralala alias Eko Londo ini blakrakan ke berbagai bangunan cagar budaya di Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur.

Oleh Lambertus Hurek


Apa sebetulnya visi Anda di acara Blakrakan JTV?

Sederhana saja. Tugas saya hanya mengingatkan pemerintah, pengusaha, dan masyarakat agar merawat dan melestarikan bangunan-bangunan cagar budaya. Sebab, cagar budaya itu punya nilai sejarah yang sangat tinggi. Kalau yang sudah kadung hilang ya mau bagaimana lagi? Tapi yang masih ada supaya dipertahankan.


Bagaimana kondisi cagar budaya di Surabaya yang Anda pantau selama ini?

Ada yang masih terawat dengan baik, tapi banyak juga rusak dan tidak terawat. Bahkan ada yang sudah hilang atau tidak ada lagi. Ini memang sudah menjadi rahasia umum.

Bisa kasih contoh?

Penjara Kalisosok. Itu kan lembaga pemasyarakatan yang sangat terkenal sejak zaman Belanda. Tapi setelah penjara itu dipindahkan ke Porong, Sidoarjo, sekarang jadi bangunan yang mangkrak. Tidak jelas fungsinya. Dibuat kos-kosan dan sebagainya. Anehnya, ketika tim kami syuting di lapangan tidak ada yang mengaku membuka usaha di Kalisosok. Nggak ada yang ngaku, tapi kenyataannya bekas penjara itu dimanfaatkan orang-orang tertentu.

Pemerintah tahu atau tidak?

Wah, aku gak ngerti. Seharusnya tahu karena pemerintah punya aparat dari tingkat RT/RW, kelurahan, dan sebagainya. Jadi, mestinya ada pengawasan terhadap semua cagar budaya yang ada di Surabaya dan kota-kota lain. Prinsipnya, bangunan cagar budaya itu jangan sampai diubah tapi bisa dimanfaatkan untuk kantor atau usaha. Kalau bangunan-bangunan cagar budaya ini bisa dipelihara, wah, kita punya begitu banyak objek wisata yang menarik.

Sudah berapa lama menjadi presenter Blakrakan?

Sekarang masuk tahun keempat. Dan fokus kami tidak hanya melulu di Surabaya tapi juga kota-kota lain di Jawa Timur bahkan ke Jawa Tengah. Bahkan, rencananya kami akan blakrakan ke Jawa Barat, Kalimantan, Sumatera, bila perlu ke Belanda. Jangan lupa, yang nonton JTV ini tidak hanya orang Surabaya atau Jatim tapi juga dari luar Jawa. Bahkan, yang banyak memberi masukan itu justru dari luar Jawa. Mereka rupanya senang dengan gaya saya yang santai, sedikit melawak, tapi fokusnya sangat jelas ke pengenalan dan pelestarian cagar budaya.

Kalau faktanya sekarang begitu banyak cagar budaya yang tidak terawat atau hilang, siapa yang harus disalahkan?

Tugas saya bukan menyalahkan orang tapi mengingatkan siapa saja untuk memelihara cagar budaya. Selama 300 episode lebih di Blakrakan itu saya tidak pernah menyalahkan pemerintah. Yang saya lakukan adalah mengingatkan pemerintah supaya cagar budaya kita jangan sampai hilang.

Apakah sudah ada hasilnya?

Lumayanlah, sekarang sudah banyak masyarakat yang mengenal cagar budaya di Surabaya dan Jatim. Pemerintah juga sudah mulai memasang plang di depan cagar budaya.

Apa yang Anda inginkan dengan bangunan cagar budaya itu?

Yah, seperti di luar negerilah. Di negara-negara maju bangunan cagar budaya benar-benar terawat dan dimanfaatkan. Tidak dibiarkan mangkrak atau tidak terurus kayak di sini.

Kalau Anda getol menyuarakan pelestarian cagar budaya, bagaimana dengan seni budaya tradisional?

Nah, ini juga jadi masalah yang harus diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat. Seni budaya tradisional jangan hanya dibicarakan, tapi juga dihidupkan dan dinikmati masyarakat. Kalau kesenian tradisional kita ditelantarkan ya jangan kaget kalau diklaim oleh pihak asing.

Anda sebagai pelawak senior masih bisa eksis, punya acara tetap di televisi. Bagaimana dengan pelawak-pelawak senior dan seniman tradisional yang lain?

Waduh, sangat memprihatinkan. Seniman-seniman yang dulu berjaya waktu muda sekarang hidupnya sangat menderita di usia sepuh. Ada yang jadi penjual nasi, tambal ban, kerja serabutan. Mereka sudah bertahun-tahun tidak manggung karena memang nggak ditanggap. Srimulat Surabaya juga sudah lama megap-megap. Pemainnya sekitar 40 orang tapi cuma dapat kesempatan manggung satu kali sebulan.

Mengapa Anda konsisten hidup di dunia seni?

Karena itu kan sudah menjadi pilihan saya. Sejak awal saya tidak mau kerja kantoran, nggak senang dibayar bulanan. Saya tidak mau jadi pegawai atau karyawan yang hanya terima gaji tiap bulan. Saya mau dapat uang kapan saja. (rek)




Jadi Tukang Pijat Bos Srimulat

SRIMULAT pernah sangat berjaya sebagai grup lawak terkemuka di Surabaya. Setiap hari ribuan orang antre membeli tiket untuk menyaksikan tingkah pola para pelawak binaan Teguh Slamet Rahardjo itu.

"Saya termasuk salah satu penggemar berat Srimulat. Saya selalu membayangkan bisa gabung dengan pelawak-pelawak senior," kenang Eko Kurniawan alias Eko Albaroyo.

Suatu ketika pada 1984 Eko memberanikan diri melamar jadi anggota grup lawak legendaris ini. Para pelawak senior heran karena tampang Eko dianggap kurang cocok jadi badut.

"Saya terlalu ganteng, sedangkan pelawak-pelawak yang disukai zaman dulu itu yang wajahnya jelek agar cepat mengundang tawa," katanya serius.

Namun, Eko akhirnya bisa meyakinkan pihak Srimulat bahwa dia bisa memberi warna dan karakter baru untuk kelompok Srimulat. Yakni, karakter wong Londo atau orang Belanda yang bisa berbicara bahasa Indonesia diselingi ungkapan kocak dalam bahasa Jawa.

Sejak itulah Eko dikenal dengan nama beken Eko Londo. "Sampai sekarang masih banyak orang yang memanggil saya Eko Londo. Itu pasti penggemar Srimulat di THR tahun 1980-an," katanya lantas tertawa kecil.

Eko mengaku sebagai sebagai salah satu pelawak generasi terakhir Srimulat bersama Mamik Prakoso, Gogon, Polo, Nunung, dan Kadir. Saat itu bayarannya sebagai pelawak hanya Rp 1.500 per minggu. Meski relatih kecil, Eko tidak mempersoalkannya karena dia sangat menikmati peranannya sebagai pelawak di panggung Srimulat. Ditonton ribuan orang, jadi orang terkenal, memberikan kepuasan batin yang luar biasa.

"Melawak bersama Srimulat itu seperti cita-cita yang kesampaian," katanya.

Selain pintar acting dan melawak, rupanya Eko punya keahlian memijat. Teguh, bos Srimulat, pun memanfaatkan jasanya untuk memijat. "Jadi, saya itu seperti tukang pijat pribadinya Pak Teguh bisa dua kali seminggu. Setiap kali mijat saya dikasih uang Rp 10.000. Lebih mahal daripada bayaran saya sebagai pelawak. Hehehe."

Seiring perjalanan waktu Eko Londo makin matang sebagai seniman lawak bersama Srimulat. Secara otomatis dia melontarka jurus-jurus khas Srimulat untuk mengocok perut penonton. Menurut dia, pemain-pemain Srimulat digembleng sedemikian rupa sehingga bisa se-nyawa ketika sudah berada di atas panggung. Misalnya topik yang diangkat A, disambar B, C, kemudian bom atau kelucuannya di D.

"Jangan di F, jadinya nggak lucu lagi. Nah, senyawa inilah yang selalu menjadi kekuatan Srimulat sejak dulu," katanya.

Sayang, sepeninggal Teguh pamor Srimulat perlahan-lahan memudar. Meskipun pelawak-pelawak Srimulat tetap eksis dari panggung ke panggung, kemudian televisi, animo masyarakat menonton Srimulat makin rendah dan akhirnya panggung Srimulat di THR Surabaya pun lengang. Eko dan kawan-kawan pun harus bergerilya melawak agar asap dapur tetap mengepul.

"Jadi, saya ini termasuk generasi terakhir Srimulat. Setelah kami ya nggak ada lagi pemain Srimulat baru karena memang tidak ada rekrutmen lagi," katanya.  (rek)