04 July 2012

Tulisan era mesin ketik lebih bagus


Kaget juga menemukan beberapa tulisan lama saya di majalah terbitan Jakarta tahun 1990an. Reportase tentang kerusuhan di Situbondo dan Madura. Gejolak di akhir orde baru.

Naskah itu saya tulis pakai mesin ketik Aiwa ketika masih mahasiswa di Jember. Kemudian dikirim lewat pos berikut beberapa foto. Komputer sudah ada tapi masih sangat-sangat terbatas. Ternyata naskah panjang saya itu dimuat utuh.

Saya heran karena ternyata tulisan reportase mendalam itu bisa sangat menarik. Jauh lebih menarik ketimbang tulisan-tulisan yang begitu banyak setelah saya jadi pekerja media. Kok bisa ya menulis pakai mesin ketik langsung jadi tanpa ada celah melakukan koreksi seperti pakai komputer? Mengetik pakai mesin ketik memang memaksa otak kita untuk berpikir disiplin dan cermat karena ruang untuk error sangat sedikit. Sebab, kalau aliran kalimatnya tidak lancar, kacau, kertas harus disobek, diganti baru.

Karena itu, saya bisa mengerti mengapa penulis-penulis lawas tetap bertahan pakai mesin ketik meskipun mereka sangat mampu membeli puluhan komputer atau laptop sekaligus. Sebut saja Daoed Joesoef atau Pramoedya Ananta Tour.

Sampai sekarang rasanya belum ada buku-buku yang kualitasnya melebihi karya Pramoedya. Buku-buku karya penulis generasi komputer, laptop, atau smartphone cenderung dangkal dan instan. "Saya sulit menemukan bacaan bermutu meski sudah mengubek-ubek toko buku," kata Budiono Darsono, wartawan senior pendiri detik.com.

"Saya sampai membaca bukunya Pramoedya diulang-ulang terus," lanjut Budiono seperti dikutip Intisari Juni 2012.

Saya sendiri pun merasakan hal yang sama. Buku-buku era laptop dan facebook cenderung hanya unggul visual, desain, grafis, foto dsb tapi kualitasnya medioker. Tulisan-tulisan dibuat begitu lekas, tergesa-gesa, sekadar mengejar deadline kehangatan isu.

Maka, jangan heran ada penulis yang mendadak menulis novel biografi seorang tokoh yang baru dikenalnya dua bulan lalu. Beda dengan Pram yang merenung sekian lama di Pulau Buru sebelum tak-tik-tak di mesin ketiknya.

Sejak pakai ponsel untuk blogging alias mobile blogging, tulisan saya di blog ini pun makin pendek. Cuma sekitar 2.000 karakter (pakai spasi). Tentu saja sangat sulit membuat tulisan yang bagus dengan karakter yang sangat sedikit. Sebuah tulisan yang 'selesai', dan belum tentu bagus, paling tidak panjangnya harus sekitar 6.000 karakter. Tapi, mau bagaimana lagi, sekarang memang zamannya menulis pendek-pendek dan serbainstan. Seperti orang Indonesia yang makin doyan mi instan.

No comments:

Post a Comment