08 July 2012

Sulitnya menulis huruf hanzi


Oleh DAHLAN ISKAN

Sudah terlalu tua sebenarnya untuk start belajar bahasa asing. Apalagi bahasa Mandarin yang begitu sulit. Karena itu, saya tidak bercita-cita jadi pandai. Sekadar bisa saja. Dan, karena itu, saya memutuskan untuk tidak belajar menulis hanzi. Saya putuskan untuk hanya belajar memnaca dan bicara.

Belajar menulis hanzi hampir mustahil bagi saya. Jangankan menulis, membaca yang benar saja sangat berat. HAN misalnya saya bisa baca. Tapi untuk secara benar mengucapkan ZI perlu menempatkan lidah yang tepat, setepat mengambil sebutir kacang dengan sumpit.

Untuk menulis kata zi saja perlu melakukan enam kali goresan. Padahal kata zi termasuk kata yang paling sederhana penulisannya. Banyaksekali kata (konon yang biasa digunakan sehari-hari saja ada 3000), yang penulisannya memerlukan lebih dari 10 goresan. Tidak jarang pula yang untuk menulis satu huruf diperlukan 20 kali goresan.

Bahkan untuk menulis wan dari kata Taiwan diperlukan 27 kali goresan. Begitu sulitnya sehingga guru saya sendiri, yang masih relatih muda, gagal menuliskan secara benar kata wan dari Taiwan. Itulah sebabnya, Tiongkok kemudian melakukan penyederhanaan huruf. Bahkan, pernah dua kali atau dua tahap. Penyederhanaan pertama dilakukan hanya untuk sebagian kata yang paling sulit penulisannya.

Lantas, itu dianggap belum cukup. Beberapa tahun kemudian Tiongkok melakukan penyederhanaan lagi. Tapi yang kedua ini bikin orang semakin bingung. Sebab, dari penyederhanaan yang pertama saja masih belum banyak yang menyesuaikan diri. Bahkan, Taiwan masih sepenuhnya menggunakan yang lama.

Akhirnya, diputuskan kembali ke bentuk penyederhanaan yang pertama saja. Itu pun sampai sekarang di kalangan masyarakat dunia masih dikenal dua jenis tulisan. Orang Taiwan menggunakan huruf yang lama. Mereka tidak mau mengakui penyederhanaan yang dilakukan di Tiongkok.

Di Tiongkok huruf lama benar-benar ditinggalkan. Huruf yang lama hanya dikenal di buku-buku terbitan lama. Bagi kita yang di luar negara itu menjadi bingung harus belajar yang mana.

Kalau hanya belajar yang baru, jangan-jangan akan banyak berhubungan dengan masyarakat pemakai huruf lama. Mau belajar yang lama saja, nyatanya semakin jelas bahwa perkembangan huruf baru lebih banyak digunakan. Apalagi dengan kemajuan Tiongkok saat ini, maka bahasanya, dan huruf barunya, akan ikut mendominasi percaturan umum.

Lain halnya kalau Tiongkok tetap miskin seperti dulu, sementara Taiwan semakin kaya raya. Kalau seperti itu bisa jadi memang huruf lama yang akan tetap dominan. Atau malah, supaya tidak bingung, kita yang di luar negara itu harus belajar dua-duanya. Dan ini yang jadi masalah. Belajar satu jenis saja belum tentu bisa, bagaimana harus belajar dua jenis pula.

Saya sendiri waktu di Surabaya belajar huruf yang lama. Ini karena guru saya lulusan universitas di Taiwan. Tapi kini di Nanchang ini saya sepenuhnya belajar membaca huruf yang baru. Beberapa huruf baru itu sebenarnya masih bisa dikenal oleh pemakai huruf lama. Sebab, penyederhanaan yang dilakukan memang banyak juga yang hanya mengambil satu bagian yang khas dari huruf yang lama. Namun ada juga yang benar-benar beda.

Kata cong (nada dua) dari cong qian yang artinya dahulu misalnya benar-benar sepenuhnya baru dan menjadi sangat sederhana. Maka, kalau saya harus belajar menulis huruf hanzi, rasanya mustahil.

Sumber: Buku PELAJARAN DARI TIONGKOK

1 comment:

  1. Belajar bahasa memang seharusnya dimulai diwaktu masih kanak2. Kalau sudah tua ya sangat susah. Kalau saya di Tiongkok menulis surat dengan aksara latin secara lancar, maka orang China disana geleng2 kepala, mereka kagum. Bagi mereka aksara latin sangat sulit. Demikian pula sebaliknya.

    ReplyDelete