21 July 2012

Sri Sedyaningrum Pendiri Sekolah Galuh Handayani

Hj. Sri Sedyaningrum


Oleh LAMBERTUS HUREK


Tujuh belas tahun lalu Sri Sedyaningrum (51) merintis sekolah inklusi swasta pertama di Surabaya yang dikenal dengan Sekolah Galuh Handayani. Bermula dengan hanya sembilan murid, di rumah kontrakan, sekolah untuk anak berkebutuhan khusus ini berkembang dari TK, SD, SMP, SMA, hingga college setara D2. Didukung sekitar 50 guru, 10 terapis, dan 10 karyawan, Sri Sedyaningrum konsisten melayani ratusan anak didiknya yang sering bertingkah 'aneh-aneh' itu.


Sejak kapan Anda mulai merintis sekolah inklusi ini?


Saya mulai sejak tahun 1995 di sebuah rumah kontrakan yang sederhana. Alhamdulillah, dengan izin Tuhan, semuanya dimudahkan karena sekolah ini dibuat untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Baru dua tahun lalu kami mendapat kesempatan untuk membangun gedung yang lebih representatif seperti sekarang.

Anda mulai menyelenggarakan sekolah ini dengan berapa murid?


Sembilan orang. Meskipun sangat sedikit, kami bekerja dengan serius untuk mendidik anak-anak yang punya special needs itu. Ternyata apa yang kami lakukan di sini perlahan-lahan diketahui oleh masyarakat, khususnya orangtua yang punya anak berkebutuhan khusus. Maka, dari sembilan murid kemudian berkembang menjadi 16 murid, naik lagi jadi 42, 72, kemudian 250 anak. Kapasitas sekolah ini 250 anak sehingga jumlah muridnya ya rata-rata 250 orang.

Rupanya perjuangan Anda cukup berat dari gedung kontrakan hingga berkembang pesat seperti sekarang?


Memang berat. Bukan hanya soal gedung sekolah tapi karena strategi dan metodenya berbeda dengan sistem yang diterapkan pemerintah. Guru-guru tidak hanya mengajar di kelas, tapi juga mengajak anak-anak ke KBS, Kenjeran, mal, dan sebagainya. Kita tidak boleh membuat anak-anak itu stres atau merasa tidak nyaman. Mereka harus dibuat gembira dan nyaman selama berada di sekolah.

Apa yang mendorong Anda mendirikan sekolah inklusi ketika konsep ini belum familier di tanah air?


Begini. Tahun 1990 PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) menekankan konsep yang sangat penting, yakni education for all. Sebanyak 77 menteri pendidikan di seluruh dunia menandatangani pernyataan bersama tentang inclusive education. Intinya, semua manusia di dunia ini berhak memperoleh pendidikan yang layak. Tidak boleh ada diskriminasi, tidak boleh ada yang ditolak karena alasan IQ, fisik, keterbelakangan mental, slow learner, dan sebagainya. Inilah yang mendorong saya mendirikan sekolah seperti ini. Karena itu, saya menerima semua anak dengan segala kelebihan, potensi, dan kekurangannya.

Saya kondisikan agar lingkungan sekolah ini benar-benar ramah anak. Saya paling tidak suka mendengar orang bertanya kepada anak, kamu ranking berapa. Sebab, IQ atau kemampuan akademis bukan segalanya. Evaluasi sih boleh saja, tapi kita tidak boleh men-judge anak dengan ranking atau IQ. Semua anak itu punya potensi luar biasa. Kita harus trust bahwa mereka bisa.

Artinya, sekolah Anda mencampur murid yang biasa dengan yang berkebutuhan khusus?


Benar. Ciri khas inclusive education adalah aksesibilitas. Itu syarat utama sekolah inklusif. Jadi, kami menerima semua anak, kecuali yang tingkat emosinya amat sangat labil. Anak seperti ini kami serahkan kepada dokter untuk ditangani dulu agar dia tidak mengganggu anak yang lain.

Lantas, bagaimana pihak sekolah menangani murid-murid yang punya masalah emosional atau mental?


Kami punya tim terapis yang profesional. Terapi itu sangat penting untuk mendukung proses belajar anak. Contoh: anak yang mengalami disleksia biasa menulis terbalik-balik. Kata boneka ditulis boekan atau budi ditulis dudi. Anak seperti ini harus diterapi untuk meluruskan persepsinya. Dan itu membutuhkan waktu dan kesabaran. Saya tegaskan bahwa inklusi itu pendidikan yang sangat bermutu, nondiskriminasi. Anak-anak tidak hanya dikembangkan kognisinya tapi juga perilaku dan kepribadiannya. Ada anak yang pintar sekali tapi suka menyendiri. Ini menjadi tugas guru untuk mengarahkannya agar bisa bersosialisasi dengan teman-temannya.

Murid-murid Anda juga ikut ujian nasional?


Kami tentu saja melihat dulu kompetensi anak. Kalau memang kompeten dia ikut ujian nasional, sementara yang tidak kompeten ikut ujian akhir sekolah. Kelulusan ditentukan oleh pihak sekolah. Alhamdulillah, persentase kelulusan anak-anak kami di ujian nasional 60-70 persen.

Apa harapan Anda untuk anak-anak yang lulus dari sini?


Mudah-mudahan mereka bisa mendapatkan pekerjaan, diterima masyarakat, punya kontribusi, bisa mandiri, tidak gandholi keluarga atau orang lain. Alhamdulillah, banyak alumni kami yang sudah bekerja, ada juga yang berwirausaha. Kehadiran orang-orang berkebutuhan khusus ini justru penting untuk menciptakan kesempurnaan di dalam masyarakat. Sekaligus mengurangi perilaku serakah. (rek)




Modal Semangat


SEJAK kecil Sri Sedyaningrum terpanggil menjadi guru atau pendidik. Karena itu, dia memilih bersekolah di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Santa Maria Surabaya, sementara teman-temannya lebih banyak yang memilih melanjutkan studi ke SMA setelah lulus SMP.

Tamat SPG, mulailah Sri berkarier sebagai guru sekolah dasar yang murid-muridnya dari keluarga kurang mampu. "Yah, saya mengajar di sekolah pinggiran dekat Kalimas," kenang Sri Sedyaningrum seraya tersenyum.

Dia menggambarkan kondisi para murid sekolah pinggiran itu sebagai sangat memprihatinkan. Ruang kelas seadanya. Kondisi lingkungan tidak sehat akibat polusi. Gizi anak-anak pun sangat kurang. Dengan iklim yang tidak kondusif seperti itu, tentu saja proses belajar-mengajar tidak mungkin bisa optimal. Outpun yang dihasilkan pun pas-pasan.

Tapi bukan Sri kalau mudah menyerah dengan kondisi serbaminus itu. Sebagai guru muda, dia sudah belajar banyak tentang dunia anak-anak dengan segala suka dukanya. Panggilannya sebagai pendidik pun semakin terasah.

Setelah mengajar di sekolah pinggiran di riverside alias pinggir sungai, Sri beroleh peluang untuk membaktikan diri sekolah dasar lain yang boleh dikata cukup elite. Sangat kontras dengan sekolah pinggiran. "Kalau sekolah elite ini semua fasilitas terpenuhi. Semua yang diperlukan untuk proses belajar mengajar dan tumbuh kembang anak ada," kata ibu tiga anak ini.

Meski punya berbagai fasilitas, orangtua murid berpenghasilan tinggi, tidak berarti sekolah elite tadi tidak punya kelemahan. Anak-anak juga punya problem karena ayah dan ibunya sama-sama sibuk bekerja. Perhatian terhadap anak mereka sangat kurang. Anak-anak justru lebih banyak ditemani pembantu atau babysitter.

Sri makin terenyuh ketika menemui anak berkebutuhan khusus di sekolah. Anak-anak macam ini seyogyanya membutuhkan perhatian ekstra dari orangtuanya dibandingkan anak-anak biasa. Lantas, bagaimana jika orangtuanya sibuk cari uang? "Itu benar-benar tidak bagus, tidak kondusif. Anak jadi under achiever," tegasnya. Kemampuan intelektual alias IQ anak yang sedang-sedang saja niscaya akan turun drastis kalau tidak ada treatment khusus.

Maka, Sri pun makin sadar bahwa anak-anak berkebutuhan khusus, yang jumlahnya cukup banyak, perlu mendapat perhatian khusus pula. Dan itu hanya bisa dilakukan di sekolah inklusi. "Jadi, modal awal saya hanya semangat," tegasnya. (rek)





BIODATA SINGKAT

Nama : Hj Sri SedianingrumLahir : Madiun, 14 April 1961
Anak :Bintang CF, Abraham Satria Wijaya, Hira Jamza Prasedia.
Jabatan : Ketua Yayasan Pendidikan Sekolah Galuh Handayani
Alamat : Manyar Sambongan 87-89 Surabaya

Pendidikan terakhir : SPG Santa Maria Surabaya
Penghargaan :
Akademi Manajemen Indonesia
Mendikbud Wardiman Djojonegoro
Harian Republika

Sumber: Radar Surabaya, Minggu 15 Juli 2012

No comments:

Post a Comment