26 July 2012

Punahnya aksara daerah


Saya sering ngetes teman-teman asli Jawa untuk menulis dengan aksara hanacaraka. Wow, sudah lupa! Dulu pernah diajar di SD! Sekarang? Tidak bisa, kata teman wong Jowo.

Tidak perlu survei macam-macam untuk membuktikan bahwa aksara Jawa hanacaraka sudah lama ditinggalkan justru oleh ahli warisnya sendiri: tiyang jawi. Orang Jawa lupa aksaranya karena tidak dipakai lagi.

Sejak bahasa Indonesia jadi bahasa nasional perlahan-lahan bahasa daerah minggir. Bahasa ibu hanya sekadar spoken language, bahasa lisan. Kalau hanacaraka saja tersisih, pasti lebih celaka lagi aksara-aksara daerah yang populasinya jauh lebih sedikit ketimbang Jawa.

Jangankan aksara daerah, media berbahasa daerah yang pakai aksara Latin pun hampir tak ada lagi. Tinggal Panjebar Semangat dan Joyoboyo, dua majalah bahasa Jawa yang tersisa. Itu pun kurang diminati orang muda. Orang tua pun malas membaca media berbahasa daerah. Dan itu berarti bahasa tulis nusantara akan tinggal sejarah. Jadi bahan kajian para peneliti naskah-naskah kuno nusantara.

Di Flores ada puluhan bahasa daerah tapi tidak ada aksara. Bahasa Lamaholot yang dipakai di Flores Timur, Lembata, Adonara, Solor, Alor, Pantar benar-benar bahasa cangkem alias 100% bahasa lisan. Jangan heran orang Lamaholot sangat doyan KODA KIRING atau bicara adat berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Bangsa yang tidak kenal written language niscaya senang cangkrukan, omong-omong kosol, tak punya reading habit. Mau baca apa kalau rakyat tidak punya bahasa tertulis?

Saya agak iri melihat dua koran berbahasa Tionghoa terbitan Surabaya GUOJI RIBAO dan QIANDAO RIBAO di kantor dan kios surat kabar. Tebal, fotonya bagus, berita dan ceritanya banyak. Rupanya pembaca koran Mandarin di Surabaya, yang terbit setiap hari, sangat banyak. Jauh lebih banyak daripada pembaca dua majalah bahasa Jawa yang terbit mingguan.

Rupanya pemerintah Orde Baru kualat karena telah mengganyang habis bahasa Tionghoa. Hasilnya, bahasa dan aksara kita makin hilang, sementara Tionghoa makin berjaya.

China kok dilawan!

1 comment:

  1. Bang Hurek sangat bijaksana pandangannya. Bangsa yang berkultur atau berbudaya memang seharusnya memiliki aksara atau tulisannya sendiri secara khusus. Kenyataannya manusia2 dibenua Asia memiliki lebih banyak tulisan atau alphabet, dibandingkan dengan manusia2 dibenua Eropa. Di Eropa hanya ada 3 macam alphabet, yakni Yunani, Latin atau Romawi dan Cyrillis.
    Kenyataan sejarah, bangsa2 di Asia memiliki Kultur yang lebih tinggi daripada bangsa kulit putih. Sungguh sayang kita, orang Asia, memiliki Minderwertigkeitkomplex terhadap bangsa barbar yang berkulit putih.

    ReplyDelete