22 July 2012

Pastor-pastor SVD di Surabaya

Gereja Katolik Salib Suci di Wisma Tropo, Waru, yang diasuh pastor SVD.


Saat ini kita makin sulit menemukan pater-pater kongregasi Societes Verbi Divini atau SVD di Flores. Padahal, seminari tinggi di Ledalero, Flores, adalah penghasil pastor katolik terbanyak di dunia. Dan sebagian besar berasal dari Flores dan daerah lain di NTT.

Sejak 1990an paroki-paroki di Flores pelan tapi pasti diserahkan ke romo praja. Pater SVD lebih banyak diutus ke luar NTT, bahkan luar Jawa. Saya sering rindu dengan pater-pater SVD macam Pater Geurtz, Pater Lambert, atau Pater Van der Leur yang semuanya sudah meninggal. Ketika pulang kampung saya hanya bisa menemukan romo-romo praja yang gaya pastoral dan pendekatannya sangat beda dengan SVD.

Memang tidak salah para uskup di Indonesia memperkuat gereja lokal dengan imam praja. Tapi bagaimanapun kita yang pernah digembala pater-pater SVD merasa kehilangan. Romonya kok gak kayak pater dulu ya?

Kok gak kayak Pater Geurtz yang suka omong-omong dengan umat, jalan kaki, mampir ke rumah-rumah? Kok romo sekarang sibuk terus? Cepat-cepat pulang setelah misa? Seperti dikejar-kejar waktu?

Nah, ternyata pater-pater SVD ini sangat mudah ditemukan di Surabaya. Sejak awal 1970an SVD memang diminta uskup Surabaya untuk membantu mengelola paroki di Surabaya. Dimulai dengan Paroki Yohanes Pemandi di Wonokromo, paroki-paroki SVD ini berkembang pesat.

Selain Yopem, dekat RSAL Ramelan, imam-imam SVD menggembala Paroki Gembala Yang Baik (Jemur Handayani), Paroki Roh Kudus (Purimas Rungkut), Paroki Salib Suci (Tropodo), dan Paroki Santo Paulus (Juanda). Sebelumnya SVD juga mengelola Paroki Sakramen Mahakudus (Pagesangan, dekat Masjid Alakbar).

Jangan lupa Kapel RKZ atau Rumah Sakit Vincentius a Paulo dipimpin Pater Thoby Muda Kraeng SVD dari Lembata. Di RKZ pula ada biara suster abdi Rohkudus atau SSpS yang tak lain saudari SVD. Sudah pasti banyak suster asal NTT di RKZ yang sangat terkenal itu.

Saat mengikuti misa kudus di gereja-gereja SVD saya merasakan atmosfer Flores yang sangat kental. Logat sang pastor tetap sama dengan di kampung meskipun sudah bertahun-tahun di Jawa. Gaya berkhotbah, humor, dan sebagainya.... Flores banget.

Bahkan ada pastor yang memfotokopi lagu-lagu JUBILATE dan SYUKUR KEPADA BAPA (buku nyanyian litrgi khas Flores) untuk dinyanyikan umat Katolik di Surabaya, padahal orang Katolik di Jawa pakai buku PUJI SYUKUR atau MADAH BAKTI.

Rupanya romo SVD ini lupa bahwa Surabaya bukan Flores, bukan NTT. Bahkan, ada romo SVD asal Flores yang bertugas melayani umat Katolik Indonesia di Jerman yang minta dicarikan lagu perarakan Minggu Palem ala Flores. Maka, si aktivis gereja di Jerman itu pun menghubungi saya via internet. Saya pun memotret partitur lagu itu, kemudian dikirim via email.

Aneh tapi nyata! 

No comments:

Post a Comment