06 July 2012

Kitab suci pun dikorupsi




Pemerintah dan masyarakat Indonesia sering merasa paling suci di dunia. Alasannya? Masjid penuh sesak. Ibadah semarak. Umat sampai meluber ke jalan. Assalamualaikum sudah lama menjadi salam nasional.

Sedikit-sedikit orang menyebutkan nama Tuhan dalam interjeksi percakapan. Apa kabar? Alhamdulillah sehat. Kapan resepsi? Insyaalaah minggu depan.

Oh ya, sekarang ini pelajar sekolah-sekolah negeri di banyak daerah pun wajib pakai busana muslim. Bahkan kabarnya Tasikmalaya (dan beberapa kabupaten) bikin perda yang mewajibkan masyarakatnya pakai busana muslim. Di Aceh sudah lama berlaku ketentuan itu. Pakai hukum cambuk segala. Mungkin sebentar lagi akan ada hukum rajam dan potong tangan.

Sayang, korupsi di Indonesia malah bertambah banyak. Berita terakhir, proyek pengadaan kitab suci Alquran Rp55 miliar pun dikorup. Sebelumnya bekas menteri agama dipenjara karena korupsi. Beberapa pejabat kemenag juga dibui karenakorupsi. Bekas gubernur Aceh, yang provinsinya pakai hukum islam, cambuk, rajam... juga masuk penjara. Namanya Abdullah Puteh kalau tak salah.

Kita seperti kehabisan kata untuk menggambarkan korupsi di Indonesia. Kementerian Agama yang berisi orang-orang yang ahli agama, tukang khotbah, bahkan hafal isi kitab suci ternyata tidak suci. Tidak kebal korupsi.

Dana haji yang jumlahnya trilunan rupiah jelas rawan disalahgunakan. Lha, kementerian agama saja korupsi, bagaimana pula dengan kementerian atau lembaga lain yang tidak mengurus agama?

Menteri Agama Suryadharma Ali termasuk pejabat yang paling keras menentang konser Lady Gaga di Jakarta. Lady Gaga dianggap pemuja setan, brengsek, merusak moral bangsa, melanggar nilai-nilai agama.

Lantas, bagaimana dengan korupsi kitab suci di kementerian agama? Bekas menteri agama yang dipenjara? Mana yang lebih berbahaya; Lady Gaga atau bandit-bandit koruptor itu.

Indonesia rupanya punya paham sendiri tentang kesucian. Boleh korupsi apa saja, mencuri uang rakyat, asal tetap rajin beribadah dan menyebut nama Tuhan.

4 comments:

  1. Terima kasih bung, Anda menuliskan hal yang kita sering kali tidak berani suarakan.

    ReplyDelete
  2. Prihatin Minoritas7:59 PM, July 08, 2012

    Mau jadi negara berdasarkan syariat Islam? Coba lihat: Arab Saudi, apanya yang maju? Ekonominya hebat? Menghasilkan pemenang hadiah Nobel? Rakyatnya berpendidikan? Wanitanya menjadi astronot? Tidak ada. Boro-boro wanita mau jadi astronot; mau nyetir mobil aja dimasukin penjara dan disiksa duluan. Negara kelahiran nabi Muhammad, seorang pembaharu progresis, itu sekarang penuh dengan aristokrat bodoh dan manja, tukang pemerkosa TKW dari Indonesia.

    Lihat RRT. Tidak beragama. Sudah ke sana belum? Saya baru kembali dari sana, setelah 25 tahun. Dalam waktu 1 generasi saja, Beijing dan Shanghai infrastrukturnya sudah sama bagus dengan negara2 maju. Tidak ada banjir. Selokan bersih. Jalan tol terpelihara. Gedung-gedung pencakar langit di-mana2. Kereta api laju tinggi jalan dan ber-AC. Bis2 kota jalan lancar dan ber-AC. Bahkan di kota2 kecil terpencil di propinsi paling selatan (Yunnan), petugas kebersihan selalu keliling mengumpulkan sampah. Di mana2 tong sampah terpisah antara yang recycled dan organik. Sawah2 hijau menghasilkan padi dan buah2an di-mana2. Cari taksi atau mikrolet yang murah, gampang. Jalan raya menghubungkan kota2 sampai ke pelosok2. Memang RRT masih belum tergolong negara maju, tapi kemajuannya itu bung, luar biasa. Indonesia yang tadinya lebih bagus (25 tahun lalu) sekarang seperti jalan di tempat.

    Kalau mau ribut2 ritual agama terus, apalagi dengan mengorbankan minoritas yang lain, sampai kapan pun tidak bisa maju. Negara mayoritas Muslim yang maju itu hanya Turki. Kenapa? Karena mereka sekuler bung. Sekuler.

    Indonesia mau diarahkan menjadi bersyariat Islam? Good luck lah kaum minoritas.

    ReplyDelete
  3. kitab suci pasti baik tapi yg gak baik itu orangnya. di mana-mana selalu ada org jahat dlm semua agama. kita jangan silau dg penampilan luar.

    ReplyDelete
  4. moga-moga koruptor cepat insyaf. dosanya berat lho!

    ReplyDelete