22 July 2012

Kawin kampung dan kawin mulia di Flores

Paduan suara OMK di Gereja Benediktin, Kupang, NTT.



Pengertian kawin masal di Jawa dan Flores sangat jauh berbeda. Di Jawa kawin atau nikah massal diikuti begitu banyak pasangan kurang mampu yang sebetulnya sudah hidup bersama selama bertahun-tahun. Ritual ini perlu agar pasutri itu dapat surat nikah.

Di Flores kawin masal ini bukan karena faktor ekonomi alias tidak mampu. Kawin masal tak lain upaya gereja katolik (dan pemerintah daerah) untuk membereskan pasangan-pasangan yang sudah hidup serumah, bahkan sudah punya anak, yang sebelumnya sudah KAWIN KAMPUNG.

Kawin kampung merupakan istilah khas NTT, khususnya Flores. Disebut kawin kampung karena pria-wanita sudah terikat 'perkawinan' secara adat, tapi belum diberkati atau diresmikan gereja. Karena belum diresmikan gereja (agama), ya, dengan sendirinya belum diakui negara atau catatan sipil.

Cukup banyak alasan untuk melakukan kawin kampung. Antara lain persoalan belis yang berat. Si cewek tiba-tiba kabur ke rumah keluarga kekasihnya. Atau 'dijemput' kekasihnya ke rumah keluarga laki-laki. Atau kawin lari ke Malaysia Timur. Maka, mereka sudah punya anak tanpa pernikahan secara agama (gereja) sehingga tidak sah menurut hukum negara.

Kawin kampung di Flores jelas beda dengan kawin siri. Kawin siri itu diam-diam, dirahasiakan, sementara kawin kampung sangat terbuka. Semua orang di desa tahu bahwa A, B, atau C kawin kampung dengan X Y Z. Mana ada rahasia di desa-desa di Flores atau Lembata atau Adonara atau Flores yang sempit itu? Semua orang boleh dikata saling mengenal satu sama lain.  Keluarga besar, tokoh adat, dari kedua pihak pun sudah turun tangan untuk merespons kenyataan ini.

Gereja Katolik di NTT sejak dulu berada dalam dilema menghadapi kawin kampung alias kawin adat yang sangat tidak ideal menurut hukum kanonik. Idealnya, sebelum pemberkatan di gereja, masalah adat sudah selesai dan kedua mempelai belum hidup bersama. Inilah yang disebut KAWIN MULIA di Flores.

Kawin mulia memang benar-benar mulia, besar-besaran, pesta seminggu lebih. Resepsi diadakan di lapangan terbuka. Ramai nian! Kawin mulia ini mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat NTT.

Nah, pastor-pastor di Flores hanya bersedia memimpin misa penerimaan sakramen pernikahan untuk satu pasangan yang kawin mulia. Bagaimana kalau pasangan yang sudah telanjur punya anak, hamil, hidup bersama dalam kawin kampung?

Solusinya adalah KAWIN MASAL.

Pasangan-pasangan kawin kampung atau kawin adat itu dikumpulkan di salah satu gereja untuk pemberkatan nikah masal. Namanya juga masal, pesertanya sangat banyak. Resepsi sangat sederhana, bahkan nyaris tidak ada apa-apanya.

Dan ini berlaku bagi siapa saja. Anak bupati sekalipun tidak akan diperlakukan istimewa, misalnya diberkati secara eksklusif, kalau sudah punya anak sebelum nikah gereja. Hanya kawin mulia saja yang diistimewakan oleh gereja.

Yang merisaukan, sejak 1990an ada kecenderungan kawin mulia makin sedikit. Sangat jarang ada pesta pernikahan yang komplet-plet seperti saat saya masih kecil di Lembata dulu, tahun 1980-an, karena memang sudah tidak banyak kawin mulia. Bahkan muncul gurauan orang-orang kampung begini:

"Punya anak dulu, pemberkatan nikah urusan belakang dengan kawin masal. Toh, orang yang kawin masal belum tentu lebih bahagia daripada yang kawin mulia."

Orang-orang kampung melihat fakta bahwa pasutri yang kawin mulia umumnya hanya punya SATU anak, bahkan tidak dikarunia anak. Sebab, biasanya yang kawin mulia ini orang yang matang, usia >30, sibuk kerja, banyak berpikir macam-macam dan lupa bikin anak.

Beda dengan kawin kampung atau kawin masal yang biasanya dilakukan anak-anak muda belasan atau awal 20 tahun yang berani kawin meskipun tidak punya pekerjaan. Nah, pasutri muda hasil kawin masal ini biasanya punya anak sedikitnya tiga orang dalam jarak yang rapat. Mereka juga tidak peduli program keluarga berencana, kontrasepsi, dan sebagainya.

Saya kira pastor-pastor di NTT makin pusing bila makin hari makin banyak umat di desa-desa yang lebih memilih kawin masal (setelah kawin kampung) ketimbang pernikahan ideal yang disebut kawin mulia. Yang paling penting: "Apa yang dipersatukan Allah jangan diceraikan oleh manusia!"

No comments:

Post a Comment