27 July 2012

Impor kedelai, jagung, beras, garam



Ada saja ironi di negeri ini yang membuat kita kehilangan kata. Orang Indonesia, khususnya Jawa, doyan makan tempe dan tahu tapi kedelainya ternyata impor. Kedele yang bagus belum bisa diproduksi di Indonesia.

Kita sering bangga, membusungkan dada, sebagai bangsa penemu tempe. Bahkan mau dicatatkan di PBB segala, takut diklaim negara lain. Tapi kok kedelainya pakai impor? Krisis tempe dan kedelai kian membuktikan bahwa Indonesia ini sebenarnya negara yang sangat rapuh.

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang swasembada pangan. Bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya dengan makanan yang dihasilkan di buminya sendiri. Sangat rentan kalau Indonesia terus-menerus impor kedelai karena rakyat tak mau lagi menanam kedelai.

Sebelumnya ada geger impor garam. Padahal bahan laut kita begitu luasnya. Jangan-jangan suatu saat nanti kita harus impor air laut karena air laut kita dianggap tidak layak untuk membuat garam.

Indonesia yang luas, dan sering mengklaim negara agraris, juga mengimpor jagung, beras, gula dan bahan pokok lainnya. Impor gandum sangat wajar karena bahan pembuat kue dan roti ini memang tidak bisa tumbuh di Indonesia. Tapi saya hanya bisa ketawa pahit melihat Indonesia impor jagung, kedelai, gula, atau garam.

Impor buah jangan ditanya lagi. Datanglah ke pasar buah atau supermarket dan engkau bisa melihat dan mencicipi buah-buah segar dari mancanegara. Khusus duren bangkok saya bisa maklumi karena rasanya luar biasa dibandingkan duren lokal yang gak karuan itu.

Biasa, pemerintah kita baru kelihatan sibuk bicara soal tempe, tahu, garam, sapi, minyak goreng... kalau ada krisis seperti sekarang. Tidak bikin kebijakan jangka panjang untuk menjamin pasokan pangan di dalam negeri. Pemerintah juga cenderung menganggap kebijakan impor sebagai solusi mengatasi krisis bahan pangan. Tidak ada strategi jangka panjang untuk memajukan sektor pertanian di Indonesia.

Setiap hari ribuan hektare sawah dikonversi jadi pabrik, perumahan, atau perkantoran. Regenerasi petani dan nelayan sudah lama mandeg.

2 comments:

  1. Mengapa kedelainya itu. harus impor ? apakah di negara indonesia, tdk menanam kacang kedelai sendiri..

    ReplyDelete
  2. Pada dasarnya saya sangat sependapat dengan Bang Hurek. Firma Monsanto,USA, baru menanam kedelai sejak tahun 1980, sedangkan kita sudah makan tahu dan tempe sejak jaman Ronggolawe. Semuanya kedelai Made in Indonesia.
    Durian paling enak yang pernah saya makan adalah durian dari Parigi, Sulteng dan durian dari kota Pare, Kediri. Begitulah bangsa kita yang sifatnya sok-sok-an, semuanya harus barang import, barulah bergengsi. Kapan kita bisa menanggalkan sifat Inlander kita.

    ReplyDelete