01 July 2012

Gereja Katolik di Surabaya makin dingin

Gereja Katedral Hati Kudus Yesus, Jl Polisi Istimewa Surabaya. Dingin!

Surabaya itu kota panas. Tanah yang datar membuat angin tak terasa. Sumuknya bukan main. Karena itu, kipas angin atau AC harus hidup meskipun malam hari.

Saya lihat gereja-gereja katolik mulai menyesuaikan diri sejak 10 tahun terakhir. Yakni dengan memasang AC di dalam gereja. Terobosan yang sebelum tahun 2000 menimbulkan perdebatan keras di kalangan umat katolik.

Bolehkah bangunan gereja katolik dipasangi AC?
Bukankah sejak ratusan tahun lalu gereja katolik tidak pakai AC?

Maklum, orang Belanda dulu merancang gereja di Surabaya dan kota-kota lain di Indonesia dengan arsitektur tropis. Tetap sejuk, nyaman, tanpa perlu kipas angin atau AC. Bahkan gereja-gereja buatan Belanda dibuat dengan memperhitungkan kualitas akustik ruangan. Suara pastor di altar atau mimbar bisa terdengar jelas di bagian belakang tanpa bantuan pengeras suara atau sound system.

Karena itu, umat katolik yang senior umumnya menolak pemasangan AC di gereja. Tapi Surabaya panas, tidak fokus misa karena kipas-kipas? "Pakai kipas angin saja," kata orang tua.

Ternyata kipas angin tidak mempan lagi melawan kesumukan Surabaya. Debat soal AC akhirnya dimenangi umat muda plus pengusaha yang sejak lama ingin ada AC di dalam gereja. Katanya, banyak umat katolik yang pindah ke gereja lain, khususnya aliran karismatik, karena AC da ruangannya macam hotel bintang lima. Katolik akan ketinggalan zaman kalau terus menolak AC.

Kini saya lihat sudah banyak gereja yang pakai AC. Biasanya gereja-gereja yang umatnya pengusaha kaya. Dari 20 gereja katolik di Surabaya, saya rasa belum ada 10 yang pakai AC. Yang lain tinggal menunggu waktu (dan uang) saja.

Proyek AC ini menimbulkan perdebatan baru. Mengapa? Biaya pengadaan AC itu ternyata mahalnya seperti bikin gereja baru. Pasang AC di gereja Surabaya biayanya bisa dipakai membangun 10 gereja di desa-desa di Flores. Apa bukan pemborosan? tanya aktivis.

Yang pasti, AC itu membuat saya kedinginan di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel. Tidak betah. Maka, pagi tadi saya misa di gereja katolik lain di Surabaya yang tidak pakai AC.

Yah, namanya juga wong kampung, gak tahan AC.

6 comments:

  1. Ga apa pakai AC, di jakarta banyak gereja katolik pakai AC, yg penting kolektenya harus lebih banyak buat bayar listrik, masa lebih gede tiket bioskop ? gitu kan.

    ReplyDelete
  2. saya bangga walaupun gereja saya tidak memakai AC (Paroki Santa Perawan Maria Gresik)

    ReplyDelete
    Replies
    1. desain gereja katolik di gresik setelah direnovasi tahun lalu memang sangat bagus sehingga sirkulasi udara begitu lancar. gereja menjadi sejuk tanpa perlu ac. saya sendiri sangat terkesan dgn gereja yg dipimpin romo donatus suwadji cm ini. terima kasih atas komentar anda.

      Delete
  3. puji tuhan untuk smua itu, ada ac atau tidak ada ac digereja yang aku mau datang hya pada TUHAN bukan karena ada ac atau tidak ada ac digereja (paroki st.anna duren sawit jakarta timur

    ReplyDelete
  4. yg penting iman, pengharapan dan kasih.

    ReplyDelete
  5. Mungkin orang Indonesia lahir-batin-nya memang bukan manusia yang religius. Dulu penganut Animisme, datang Hindu, ya jadi Hindu, datang Budha, ya jadi Hindu-Budha, datang Taoisme, ya jadi Tridarma, datang orang Portugis dan Spanyol, ya jadi Katolik, datang Belanda, ya jadi Kristen Protestan, datang Wali Songo, ya jadi Islam, datang penginjil baru dari Amerika, ya ber-bondong2 jadi penganut Haleluya.
    Para TKW kita, dirumah pakai jilbab, begitu sampai Hong-Kong langsung jilbab ditanggalkan, pakai celana jengki yang ketat atau mini-rock. Di-Eropa kalau tidak dilihat, ya kadang2 makan Wurst, alasannya kalau lapar tidak haram hukumnya.
    Saya secara pribadi sangat menghargai sifat toleran bangsa ini. Bangsa Indonesia lahir batin-nya manusia yang baik hati, ramah dan sopan, cuma memang kurang religius. Semoga tetap begitu, supaya tidak terjadi keributan gara2 Agama.
    Masakan mau menghadap Tuhan minta AC., kalau tidak ada AC, langsung nesu, purik mau ganti gereja, atau demonstratif kipas-kipas, seperti nonton tayangan show. Lah ini keterlaluan !
    Orang India tanpa alas kaki mendaki Himalaya, mandi mencuci diri dihulu sungai Gangga yang dinginnya 5 derajad Celcius.
    Orang Tibet merangkak, ndelosor, mengelilingi Wihara Potala, berkali-kali, sampai dengkulnya berdarah.
    Orang Birma walaupun dirinya lapar, tetapi tidak pernah menolak memberi sedekah kepada Bikshu yang datang mengemis.
    Yalah, tiap bangsa mempunyai sifat tersendiri, pokoke tetap toleran,
    ojo padu goro-goro Agama.

    ReplyDelete