20 July 2012

Bahasa Indonesia bahasa kelima di Flores Timur

Senja di pantai Atawatung, Lembata.


Mengapa orang Flores tidak lancar berbahasa Indonesia?
Bahasa Indonesianya kaku, kurang mengalir?
Beda dengan orang Betawi cepat di televisi?

Begitu antara lain pertanyaan sejumlah orang Jawa kepada saya. Dan memang tidak keliru. Orang Flores atau NTT umumnya, juga Papua, terlihat lambat bicara di televisi jika berbicara dalam bahasa Indonesia. Kesannya kurang fasih atau baru belajar berbahasa Indonesia. Kalah dengan orang Eropa atau Amerika yang baru sebulan ikut kelas bahasa Indonesia.

Cara bicara yang lambat sangat jelek untuk televisi atau radio. Beda dengan orang Eropa, Amerika, atau Tiongkok yang selalu bicara cepat, bahkan terlalu cepat. Bahasa Mandarin pemain-pemain film Hongkong umumnya amat sangat cepat.

Sebagai orang Lembata di pelosok Flores Timur, saya harus akui bahwa bahasa Indonesia standar sebenarnya tidak dikenal di NTT. Hingga tamat SD di kampung, saya tidak bisa berbahasa Indonesia aktif. Diam saja, nguping kalau ada orang kota yang lancar bicara bahasa Indonesia.

Anak-anak di desa justru lebih sering mendengar para eks TKI bercakap dalam bahasa Melayu Malaysia karena sebagian besar orang Flores Timur memang merantau di Malaysia Timur.

Sej`k bayi kami bicara dalam bahasa ibu, namanya bahasa Lamaholot. Itu pun versi Ileape. Kemudian coba-coba Lamaholot Adonara Timur yang beda tipis dengan Ileape. Kemudian mulai coba bahasa Melayu Larantuka (dan Lewoleba), semacam Melayu Pasar yang jadi lingua franca di Flores Timur, yang disebut bahasa Nagi.

Karena orang Lamaholot banyak yang kuliah di Kupang, bahasa Melayu Kupang yang pakai BETA (saya), SONDE (tidak), PI (pigi, pergi)... juga dipelajari. Bahasa Indonesia resmi bagaimana?

Baru kita kenal di sekolah, biasanya setelah kelas 3. Murid kelas 1,2,3 akan sulit menangkap pelajaran karena benar-benar tidak biasa dengan struktur dan fonologi bahasa Indonesia.

Orang Flores Timur misalnya tidak kenal kalimat ITU RUMAHMU.
Yang dikenal adalah ITU ENGKO PU RUMAH.

Sangat sulit mengajarkan struktur bahasa Indonesia yang memang beda dengan bahasa Lamaholot.Saya sendiri sampai kelas enam SD di Desa Mawa, Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, tidak bisa bicara dalam bahasa Indonesia. Hanya mengerti bahasa Indonesia secara pasif. Kosa kata atau vocabulary yang saya miliki sangat terbatas dan tidak pernah berkembang karena semua penduduk memang tidak fasih berbahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia standar hanyalah bahasa kelima di bumi Lamaholot. Karena itu, wajarlah kalau orang Flores termasuk profesor-doktor tidak bisa berbahasa Indonesia dengan cepat, lancar, enak.



Bahasa I  (Ileape) : AMA, MO MAI TEGA?
Bahasa II (Adonara) : AMA, MOE MAI TEKU NAI?
Bahasa III (Kedang) : AMO, PANDITA?
Bahasa IV (Nagi): BAPA, MO PIGI KE MENA KAH?
Bahasa V (Kupang) : BAPA,  MO PI MANA?
Bahasa VI (Indonesia) : BAPAK, MAU PERGI KE MANA?

3 comments:

  1. bagusnya org flores punya tradisi poliglot: bisa banyak bahasa, dan itu membuat org lebih mudah belajar bahasa apa pun kayak inggris, jawa, jerman, dsb. justru ini kelebihan org yg tinggal di pulau berbahasa banyak. beda dg jawa yg hanya bahasa jawa saja, kemudian langsung bhs indonesia.

    ReplyDelete
  2. asyik juga kekayaan bahasa di tanah air, khususnya di flores. ada plus minsnya kalo suat daerah punya banyak bahasa...

    ReplyDelete
  3. Ama Lambertus Hurek, terima kasih banyak, blog Ama luar biasa membantu saya dalam menulis novel eh, cerpen tentang Lembata... GBU!

    ReplyDelete