06 July 2012

Bahasa Belanda yang mati

Tadi Eric, orang Belanda keturunan Jawa, mencari mamanya lewat metrotv. Saat berusia enam bulan Eric diadopsi oleh keluarga Belanda di negara kincir angin. Dia jadi londo ireng; wong Belanda yang fisiknya 100% Jawa.

Diwawancarai Gadiza Fauzi, Eric berbicara dalam bahasa Inggris yang lancar ala British. Sama sekali tak ada rasa Jawa. Saya merasa sebagai orang Belanda, tegasnya.

Hampir semua orang Belanda memang fasih berbahasa Inggris karena bahasa Belanda sudah tidak laku di dunia. Belanda negara kecil sehingga pengaruh bahasa Belanda di dunia sangat kecil, bahkan hampir tidak ada. Timnas sepakbola Belanda juga berantakan.

Saya langsung termenung. Untung, para pemimpin dan intelektual kita di masa lalu memilih Inggris dan bukan Belanda sebagai bahasa asing pertama. Andaikan bahasa Belanda yang dipilih niscaya kita tergagap-gagap dalam komunikasi internasional. Maka belajar bahasa Belanda sebetulnya kurang bermanfaat dalam konstelasi dunia sekarang.

Belanda merupakan penjajah yang paling buruk. Penjajah yang tidak mau mengajarkan bahasanya kepada rakyat jajahan. Beda dengan Inggris yang rakyat jajahannya diajari bahasa Inggris. Atau bekas negara-negara jajahan Portugis atau Prancis atau Spanyol.

Di Indonesia bahasa Belanda sudah lama mati sejak proklamasi kemerdekaan. Kini orang Indonesia yang berbahasa Belanda tinggal komunitas indo yang jumlahnya sangat sedikit. Belanda mungkin menyesal (atau bangga) melihat hilangnya tetenger kolonial kecuali beberapa gedung tua di berbagai kota.

Orang Malaysia cenderung mendukung tim sepakbola Inggris, bekas penjajah, meskipun Rooney dkk selalu main jelek dan pasti tidak akan juara. Orang Indonesia saya rasa jarang sekali mendukung tim Belanda meskipun kualitasnya sangat bagus.

Di Jawa Timr, setiap malam selalu ada pertunjukan ketoprak atau ludruk yang menceritakan kebrengsekan meneer en mevrouw dan tentara Belanda tempo doeloe. Kontribusi ekonomi Belanda untuk Indonesia pun hampir tidak ada lagi.

4 comments:

  1. Bahasa Belanda mati di Indonesia karena 3 alasan: 1) Bahasa Indonesia, sejak diputuskan dalam sidang yang menghasilkan Sumpah Pemuda pd tahun 1928, dalam kurun waktu cepat sekali benar2 menjadi bahasa persatuan, menjadi bahasa pers dan pergaulan bangsa yang begitu beragam.
    2) Belanda tidak memberikan kemerdekaan kpd Indonesia ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, malah mati2an mau menjajah kembali dengan menggunakan Aksi Polisi (dari perspektif Belanda) atau Perang Kemerdekaan (dari perspektif RI) 1945-1949. Akibatnya setelah pengakuan kedaulatan, semua orang Belanda diusir dan perusahaan Belanda dinasionalisasi sbg balas dendam pemerintah Indonesia.
    3) Setelah Perang Dunia ke-2 berakhir, hegemoni Amerika Serikat tersebar luas dengan film, televisi, majalah, dll. hasil budayanya. Akibatnya bahasa Inggris menjadi bahasa internasional menggantikan bahasa2 kolonial lainnya.

    ReplyDelete
  2. Saya tidak paham bahasa Belanda, sebab saya waktu kanak2 sekolah Tionghoa Hwee-kuan. Ketika
    SMP saya sekolah di Surabaya, para teman2 disekolah selalu pakai istilah: IK dan YEE, saya
    jadi bingung. Mereka yang sok ke-blanda2-an, walaupun bisanya cuma Ike atau Yee, merasa diri mereka memiliki derajat yang lebih tinggi, terlebih jika mereka hari minggu boleh menyambut Hosti, memakai nama yang diberi akhiran -tje, atau memakai nama ala Filmstar Hollywood, walaupun waktu itu semuanya memiliki nama 3 suku. Diotak para Blandisch tersebut hanya ada Inlander dan Singkek, yang mereka anggap sederajat dengan binatang piaraan mereka.
    Syukur Alhamdulillah, dunia selalu berputar, para Blandisch sudah tidak laku lagi.

    ReplyDelete
  3. dulu saya tersenyum ketika di zwembad centrum in bandung ( kolam renang centum ) ada tulisan " verboden voor inlander en hounden : dilarang masuk pribumi dan anjing 2
    mereka begitu diskriminatif
    waktu berjalan ternyata mereka benar , pejabat 2 disini kelakuannya sama kaya hound ( anjing) korupsi dan sok pintar dan melupakan sejarah serta menghapus jejak. tot sins

    ReplyDelete