13 July 2012

Angela Merkel berbahasa Jerman di Indonesia



Bahasa Inggris memang penting tapi bukan segalanya. Setiap negara punya bahasa nasional yang harus dijaga oleh warga dan khususnya pejabat mulai dari daerah sampai pusat. Maka pemerintah punya kewajiban merawat bahasa nasional, bahasa Indonesia.

Sikap Kanselir Jerman Angela Merkel ketika berkunjung ke Jakarta pekan lalu layak kita simak. Bu Angela ini fasih english. Tapi hanya di awal pidatonya saja dia kasih pengantar dalam bahasa Inggris. Lantas dia minta ijin khalayak untuk berbicara dalam bahasa Jerman.

Mengapa begitu? Dengan humor khasnya, Angela Merkel mengatakan bahwa pejabat-pejabat Prancis pun selalu berpidato dalam bahasa Prancis di hadapannya ketika berkunjung ke Jerman. Selain itu, dia ingin mendukung Goethe Institut yang sejak dulu aktif mengajarkan bahasa Jerman di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Saya kira apa yang diperlihatkan Angela Merkel ini layak dipetik orang Indonesia baik pejabat maupun bukan. Sebab ada kecenderungan bahasa Indonesia makin lama makin kurang dihargai di negeri sendiri. Orang berbahasa Indonesia dicampur english plus betawi dan entah apa lagi dalam acara-acara resmi.

Presiden kita pun tergolong pejabat yang terlalu sering mencampur pidatonya dengan kalimat-kalimat english. Seakan-akan kurang asyik kalau berbahasa Indonesia secara sederhana dan apa adanya.

Serbuan bahasa Amerika, demikian istilah sastrawan Taufiq Ismail, memang luar biasa. Begitu banyak nama program televisi yang pakai english meskipun khalayak sasaran orang Indonesia. Termasuk orang-orang kampung di pelosok yang belum mampu berbahasa Indonesia.

Benar lho... sampai sekarang masih banyak orang NTT yang belum bisa berbahasa Indonesia. Guru-guru SD sering menggunakan bahasa daerah untuk mempermudah anak didiknya menangkap pelajaran.

Lha, kalau bahasa Indonesia mulai ditinggal, dianggap kurang modern, yo pripun?

1 comment:

  1. Tidak semua orang kulit putih bisa berbahasa Inggris. Belum tentu Angela Merkel fasih berbahasa Inggris, tanpa membaca atau menghafalkan naskah terlebih dahulu. Bahkan Helmut Kohl atau Yoska Fischer bahasa Inggris-nya celetak-celetuk.
    Dihitung dari jumlah manusia, mungkin lebih banyak orang Indonesia yang lebih fasih berbahasa Inggris daripada orang Prancis. Orang Prancis memang sangat percaya diri, sebab zaman dulu, para bangsawan Eropa selalu berkommunikasi dalam bahasa Prancis. Bahasa mereka dulu di Eropa adalah bahasanya para elite.
    Orang Cina-Daratan yang fasih berbahasa Inggris, lulusan Cambridge, Oxford atau Harvard, tidak pernah mencampur-aduk-kan Putonghua dengan istilah2 Inggris.
    Hanya wong Indonesia yang sok-sok-an, bahasa Indonesia dicampur-adukkan dengan bahasa Inggris, supaya se-olah2 kelihatan pinter.
    Saya ini lulusan SMA di-Indonesia. Saya yakin mampu mengutarakan semua pendapat-saya dengan bahasa Indonesia yang baik dan akurat, tanpa dicampur-aduk dengan istilah Inggris,
    kecuali nama2 Inggris atau istilah ilmiah bahasa asing.
    Saya pernah dimintai tolong menbawa seorang encim-tua, asal Jakarta, dari Swiss ke Jakarta. Didalam pesawat seorang pramugara bule bertanya kepada si-encim; What would you like to eat and drink ? Si-encim bingung. Lalu si-pramugara mengulangi pertanyaannya dalam bahasa Prancis dan kemudian dalam bahasa Italy. Si-encim tetap membisu. Lalu saya nyeletuk dengan bahasa Inggris, ala SMA-Indonesia akzent Suroboyoan. Silahkan anda bertanya dengan bahasa Mandarin ! Si-bule bilang tidak bisa. Saya suruh dia bertanya dengan bahasa Indonesia. Dia bilang juga tidak bisa. Achirnya baru saya bilang, silahkan anda bertanya dengan bahasa Jerman. Oh, jadi nyonya ini bisa berbahasa Jerman ? Yes of course ! Nyonya tua ini juga polyglott seperti anda !
    Saya pernah berwisata di Beijing dengan rombongan yang campur aduk. Didalam rombongan ada seorang Cina-Amerika, yang hanya mampu berbahasa Inggris. Dia hanya bisa ngomong dengan si-pemandu wisata, sudah begitu sombongnya minta ampun, nyerocos terus-menerus, ingin menunjukkan betapa pintarnya dia. Waktu makan siang, kita duduk bersama dimeja bundar yang besar. Dengan istri, saya berbahasa Indonesia atau Jawa. Dengan peserta orang Jerman, saya berbahasa Jerman. Dengan peserta pribumi, saya bicara Putonghua. Si Cina-Amerika bertanya kepada saya; lu ini bisa berapa bahasa ? Saya jawab 6 atau 7 ! Saya tanya kembali; nenek moyang-lu di China darimana ? Dia jawab, dari Kwangtung. Lu bisa kantonese ? Tidak katanya. Jadi lu cuma bisa bahasa Inggris ? Ya, jawabnya.
    Bahasa Inggris memang sangat penting untuk soal business-international, namun untuk kehidupan se-hari2, bahasa daerah dan bahasa nasional masing2 daerah lah yang berguna. Namun dasar orang Amerika memang congkak, selalu memaksakan kehendak sesuka udelnya, bahkan bahasa-pun mereka paksakan kepada bangsa lainnya. Sedangkan orang Inggris masih mau berusaha belajar bahasa asing, walaupun bahasa mereka adalah cikal-bakalnya bahasa para kolonial di Amerika.
    Yang paling celaka, adalah para Tionghoa- dan Pribumi- Indonesia yang punya permanent-resident di-Singapura atau yang tinggal didaerah elit Jakarta, masakah mereka berbahasa Inggris didepan umum dengan anak2 mereka yang masih ingusan. Amit-amit jabang bayi !
    Nasionalisme mereka dimana ? Jika mereka malu jadi orang Indonesia, lebih baik konsekuen menetap diluar negeri ( Singapura, Australia, Kanada, Inggris atau Amerika ). Seandainya mereka ingin menetap di Eropa, disana-pun mereka harus belajar bahasa Jerman, Hungaria, Italy, Spanyol, Portugis, Ceko, Swedia, Serbo-kroatia,dll.-nya. Atau hue-guo ketanah leluhur, belajar Putonghua, seperti saya ini.
    Jika menurut Bung Hurek, bahkan Presiden SBY sendiri berpidato dengan bahasa campuran Inggris, aduuuh, aduuuh , kulo ora wani komentar !



    ReplyDelete