30 July 2012

Kawin lari di Flores Timur

Peta wilayah budaya Lamaholot di Flores Timur dan Lembata.


Yang dimaksud Flores Timur di sini adalah Flotim daratan, Adonara, Solor, Lembata, Alor, Pantar yang dihuni oleh penduduk etnis Lamaholot. Etnis yang berbahasa Lamaholot yang sistem nikahnya memakai belis gading ini jumlahnya cukup banyak di NTT.

Kawin lari sebetulnya merupakan bagian dari sistem budaya Lamaholot yang dilakukan dalam kondisi darurat atau sangat terpaksa. Karena itu, sangat jarang ada pasangan yang memilih kawin lari. Mungkin dalam 10 tahun hanya ada satu kasus kawin lari.

Metode kawin lari ini dilakukan oleh sejoli yang tidak direstui salah satu atau kedua pihak keluarga. Orangtua wanita keberatan karena berbagai alasan. Atau penolakan dari pihak laki-laki. Atau ditolak kedua pihak karena dianggap melanggar ketentuan adat Lamaholot.

Tapi dasar cinta sudah melekat, tak mungkin dipisahkan, kedua sejoli sepakat kawin lari. Bisa si pria memboyong wanita ke rumah orangtuanya, atau si perempuan yang nekat kabur dan memilih tinggal di rumah keluarga laki-laki.

Tentu saja skenario pelarian sudah diatur rapi pasangan kekasih dengan pihak keluarga yang pro. Orang kampung biasanya tidak kaget karena sebelumnya memang sudah ada tanda-tanda bahwa nikah normal tidak mungkin terjadi karena 5 atau 11 alasan. Bahkan ada yang justru mendesak agar si laki-laki melarikan kekasihnya itu.

Setelah wanita masuk keluarga pria, maka urusan adat mulai dikebut. Dikirim utusan dari suku (marga) pria untuk memberi tahu kejadian yang baru terjadi. Bahwa kedua anak nekat memilih jalan macam itu? Mau apa lagi? Kami minta maaf, silakan marah sepuas-puasnya, kami terima! Begitulah basa-basi khas Lamaholot.

Bisa ditebak, orangtua wanita ngamuk dan murka meskipun sudah lama memperkirakan akan terjadi kemelut seperti ini. Tapi biasanya keluarga besar yang lain dari marga wanita bisa menyikapi dengan lebih arif. Nasi sudah jadi bubur. Pasangan itu toh sama-sama anak kita. Harus diurus adatnya, koda kiring (bahas belis dan berbagai urusan adat), dan seterusnya. 

Yang perlu diperhatikan, meskipun gadis yang dilarikan itu masih di dalam kampung, bahkan tetangga rumah, orang tua si perempuan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Lapor polisi pun tak guna karena tidak dianggap sebagai kejahatan. Wong anak perempuannya yang lebih sering 'minta diculik' sama si laki-laki.

Ada juga orangtua, biasanya pihak perempuan, geram luar biasa, sangat kecewa, karena anaknya nekat kawin dengan kekasihnya tanpa restu. Begitu marahnya, si ortu ini menempuh mekanisme adat yang namanya PORO KOLI.

Dengan poro koli, maka orangtua yang tidak setuju tadi mengumumkan kepada masyarakat bahwa mulai saat itu dia putus hubungan dengan si anak durhaka itu. Tidak mengakui lagi sebagai anak. Hak-haknya sebagai anak hilang. Bahkan, tidak boleh lagi datang ke rumah orangtuanya.

Karena implikasinya sangat berat, PORO KOLI ini biasanya sangat jarang dilakukan oleh orangtua yang anaknya kawin lari. Tapi biasanya dalam perjalanan waktu, ketika kedua orangtua sudah lanjut usia, terjadi rekonsiliasi secara alamiah. Tapi harus urus adat lagi untuk membatalkan PORO KOLI yang sudah telanjur dilakukan beberapa tahun silam.

Dan itu makan biaya lagi karena harus melibatkan suku (marga) yang jumlahnya tidak sedikit.

Singkat cerita, orang Lamaholot di Flores Timur itu hidupnya penuh dengan ikatan adat dan tradisi yang masih bertahan meskipun sering dikritik pihak gereja dan kalangan intelektual.

Pelawak dan pendakwah naik daun

Tukul Arwana, banyolan lawas!


Selama bulan puasa ini pelawak dan pendakwah panen tanggapan. Semua stasiun televisi kita dipenuhi dua macam profesi ini. Hampir selama 24 jam kita disuguhi ceramah agama Islam, lawak, atau sinetron dakwah.

Kalaupun ada acara lain seperti infotainmen pun isinya soal dakwah, selebriti lagi sahur atau buka, hikmah ramadan, dan musik religi. Trio Macan yang biasanya buas dan seksi mendadak alim dengan lagu islami. Mudah-mudahan tetap begitu setelah Lebaran nanti.

Segala sesuatu yang berlebihan, overdosis, biasanya tidak bagus. Begitu juga dengan dakwah atau lawak. Maka, apa boleh buat, kualitas lawakan kita pun masih begitu-begitu aja. Saat menonton lawakan Tukul dkk jelang sahur di SCTV, saya tidak menemukan titik ledak yang bikin saya ketawa. Lucunya di mana tidak jelas. Yang tertawa hanya penonton di studio yang patut diduga sudah dibayar untuk ketawa. Hehehe...

Lawakan tunggal yang istilah kerennya standup comedy pun tidak lucu lagi. Banyolan lawas yang diulang-ulang dengan sedikit modifikasi. Sangat jauh dari lawakan Mr Bean yang tetap segar meski sudah diputar bertahun-tahun.

Bagaimana dengan pendakwah? Hm... agak sensitif untuk dikomentari, tapi kebanyakan biasa-biasa saja. Sangat jarang ada pencerahan atau pemikiran baru selain mengulang-ulang pertanyaan lawas seperti hal-hal yang membatalkan puasa, keutamaan bulan ramadan, dan sejenisnya.

Keunggulan Quraish Shihab rupanya belum tergantikan. Tanpa banyak joke yang tidak perlu, penampilan yang dibuat-buat, Mr Shihab berhasil mengkaji kitab suci dengan sangat baik. Dan itu memberi wawasan kepada penonton televisi yang nonmuslim.

Begitulah program Ramadan di televisi Indonesia dari tahun ke tahun. Kita tak punya banyak pilihan karena saat ini liga sepakbola Eropa sedang libur. Kompetisi belum dimulai.

Apa boleh buat, kita ikuti saja lawakan Tukul atau Srimulat cs yang gitu-gitu aja. Anggap saja rezeki setahun sekali untuk pelawak dan pendakwah.

27 July 2012

Impor kedelai, jagung, beras, garam



Ada saja ironi di negeri ini yang membuat kita kehilangan kata. Orang Indonesia, khususnya Jawa, doyan makan tempe dan tahu tapi kedelainya ternyata impor. Kedele yang bagus belum bisa diproduksi di Indonesia.

Kita sering bangga, membusungkan dada, sebagai bangsa penemu tempe. Bahkan mau dicatatkan di PBB segala, takut diklaim negara lain. Tapi kok kedelainya pakai impor? Krisis tempe dan kedelai kian membuktikan bahwa Indonesia ini sebenarnya negara yang sangat rapuh.

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang swasembada pangan. Bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya dengan makanan yang dihasilkan di buminya sendiri. Sangat rentan kalau Indonesia terus-menerus impor kedelai karena rakyat tak mau lagi menanam kedelai.

Sebelumnya ada geger impor garam. Padahal bahan laut kita begitu luasnya. Jangan-jangan suatu saat nanti kita harus impor air laut karena air laut kita dianggap tidak layak untuk membuat garam.

Indonesia yang luas, dan sering mengklaim negara agraris, juga mengimpor jagung, beras, gula dan bahan pokok lainnya. Impor gandum sangat wajar karena bahan pembuat kue dan roti ini memang tidak bisa tumbuh di Indonesia. Tapi saya hanya bisa ketawa pahit melihat Indonesia impor jagung, kedelai, gula, atau garam.

Impor buah jangan ditanya lagi. Datanglah ke pasar buah atau supermarket dan engkau bisa melihat dan mencicipi buah-buah segar dari mancanegara. Khusus duren bangkok saya bisa maklumi karena rasanya luar biasa dibandingkan duren lokal yang gak karuan itu.

Biasa, pemerintah kita baru kelihatan sibuk bicara soal tempe, tahu, garam, sapi, minyak goreng... kalau ada krisis seperti sekarang. Tidak bikin kebijakan jangka panjang untuk menjamin pasokan pangan di dalam negeri. Pemerintah juga cenderung menganggap kebijakan impor sebagai solusi mengatasi krisis bahan pangan. Tidak ada strategi jangka panjang untuk memajukan sektor pertanian di Indonesia.

Setiap hari ribuan hektare sawah dikonversi jadi pabrik, perumahan, atau perkantoran. Regenerasi petani dan nelayan sudah lama mandeg.

26 July 2012

Punahnya aksara daerah


Saya sering ngetes teman-teman asli Jawa untuk menulis dengan aksara hanacaraka. Wow, sudah lupa! Dulu pernah diajar di SD! Sekarang? Tidak bisa, kata teman wong Jowo.

Tidak perlu survei macam-macam untuk membuktikan bahwa aksara Jawa hanacaraka sudah lama ditinggalkan justru oleh ahli warisnya sendiri: tiyang jawi. Orang Jawa lupa aksaranya karena tidak dipakai lagi.

Sejak bahasa Indonesia jadi bahasa nasional perlahan-lahan bahasa daerah minggir. Bahasa ibu hanya sekadar spoken language, bahasa lisan. Kalau hanacaraka saja tersisih, pasti lebih celaka lagi aksara-aksara daerah yang populasinya jauh lebih sedikit ketimbang Jawa.

Jangankan aksara daerah, media berbahasa daerah yang pakai aksara Latin pun hampir tak ada lagi. Tinggal Panjebar Semangat dan Joyoboyo, dua majalah bahasa Jawa yang tersisa. Itu pun kurang diminati orang muda. Orang tua pun malas membaca media berbahasa daerah. Dan itu berarti bahasa tulis nusantara akan tinggal sejarah. Jadi bahan kajian para peneliti naskah-naskah kuno nusantara.

Di Flores ada puluhan bahasa daerah tapi tidak ada aksara. Bahasa Lamaholot yang dipakai di Flores Timur, Lembata, Adonara, Solor, Alor, Pantar benar-benar bahasa cangkem alias 100% bahasa lisan. Jangan heran orang Lamaholot sangat doyan KODA KIRING atau bicara adat berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Bangsa yang tidak kenal written language niscaya senang cangkrukan, omong-omong kosol, tak punya reading habit. Mau baca apa kalau rakyat tidak punya bahasa tertulis?

Saya agak iri melihat dua koran berbahasa Tionghoa terbitan Surabaya GUOJI RIBAO dan QIANDAO RIBAO di kantor dan kios surat kabar. Tebal, fotonya bagus, berita dan ceritanya banyak. Rupanya pembaca koran Mandarin di Surabaya, yang terbit setiap hari, sangat banyak. Jauh lebih banyak daripada pembaca dua majalah bahasa Jawa yang terbit mingguan.

Rupanya pemerintah Orde Baru kualat karena telah mengganyang habis bahasa Tionghoa. Hasilnya, bahasa dan aksara kita makin hilang, sementara Tionghoa makin berjaya.

China kok dilawan!

25 July 2012

Prioritas utama: kalahkan Malaysia!



Orang-orang bola kita makin kacau dan tidak fokus. Tidak tahu lagi prioritas dalam pembinaan sepakbola. PSSI ada dua. Kompetisi liga dua. Mungkin di dunia ini hanya Indonesia yang bisa begini dan, hebatnya, tidak disanksi FIFA.

Apa gunanya mendatangkan klub-klub Eropa bagi timnas? Tidak ada. Inter Milan atau QPR atau Valencia hanya datang untuk pemanasan dan... uang. Klub-klub top itu dibayar mahal agar mau nongol di Jakarta atau Surabaya. Uang itu bisa dipakai membayar gaji pemain Liga Indonesia yang tersendat-sendat.

Pengurus PSSI baik versi Djohar maupun La Nyala sama-sama kurang fokus untuk membentuk timnas yang hebat. Yang disegani di Asia Tenggara. Yang bisa mengalahkan Malaysia. Yang bisa main bagus selama 90 menit.

Baru-baru ini Indonesia U-19 tidak berdaya di hadapan publik sendiri. Hanya lumayan bagus saat lawan Timor Leste dan Macau, dua negara superkecil sebesar kecamatan di Jawa. Apa yang bisa kita banggakan kalau menang lawan Timor Leste?

Kita selalu inferior saat bertemu Malaysia di kompetisi resmi. Timnas Malaysia main rapi, well-organized, stamina terjaga, sementara pola main kita kacau. Indonesia terlihat seperti satu kelas di bawah Malaysia yang dilatih Ong xiangshen. Saya selalu gregetan melihat tim merah-putih dibuat mainan sama anak-anak Malingsia... eh Malaysia.

Bisa jadi karena terlalu banyak orang Indonesia yang jadi pekerja kasar di Malaysia. Karena itu, sungkan ketika harus berhadapan dengan para majikan alias tauke-tauke Malaysia. Bisa jadi timnas Indonesia sengaja main buruk, membiarkan Malaysia menang, agar berjuta TKI di Malaysia bisa diperlakukan dengan lebih manusiawi.

22 July 2012

Pastor-pastor SVD di Surabaya

Gereja Katolik Salib Suci di Wisma Tropo, Waru, yang diasuh pastor SVD.


Saat ini kita makin sulit menemukan pater-pater kongregasi Societes Verbi Divini atau SVD di Flores. Padahal, seminari tinggi di Ledalero, Flores, adalah penghasil pastor katolik terbanyak di dunia. Dan sebagian besar berasal dari Flores dan daerah lain di NTT.

Sejak 1990an paroki-paroki di Flores pelan tapi pasti diserahkan ke romo praja. Pater SVD lebih banyak diutus ke luar NTT, bahkan luar Jawa. Saya sering rindu dengan pater-pater SVD macam Pater Geurtz, Pater Lambert, atau Pater Van der Leur yang semuanya sudah meninggal. Ketika pulang kampung saya hanya bisa menemukan romo-romo praja yang gaya pastoral dan pendekatannya sangat beda dengan SVD.

Memang tidak salah para uskup di Indonesia memperkuat gereja lokal dengan imam praja. Tapi bagaimanapun kita yang pernah digembala pater-pater SVD merasa kehilangan. Romonya kok gak kayak pater dulu ya?

Kok gak kayak Pater Geurtz yang suka omong-omong dengan umat, jalan kaki, mampir ke rumah-rumah? Kok romo sekarang sibuk terus? Cepat-cepat pulang setelah misa? Seperti dikejar-kejar waktu?

Nah, ternyata pater-pater SVD ini sangat mudah ditemukan di Surabaya. Sejak awal 1970an SVD memang diminta uskup Surabaya untuk membantu mengelola paroki di Surabaya. Dimulai dengan Paroki Yohanes Pemandi di Wonokromo, paroki-paroki SVD ini berkembang pesat.

Selain Yopem, dekat RSAL Ramelan, imam-imam SVD menggembala Paroki Gembala Yang Baik (Jemur Handayani), Paroki Roh Kudus (Purimas Rungkut), Paroki Salib Suci (Tropodo), dan Paroki Santo Paulus (Juanda). Sebelumnya SVD juga mengelola Paroki Sakramen Mahakudus (Pagesangan, dekat Masjid Alakbar).

Jangan lupa Kapel RKZ atau Rumah Sakit Vincentius a Paulo dipimpin Pater Thoby Muda Kraeng SVD dari Lembata. Di RKZ pula ada biara suster abdi Rohkudus atau SSpS yang tak lain saudari SVD. Sudah pasti banyak suster asal NTT di RKZ yang sangat terkenal itu.

Saat mengikuti misa kudus di gereja-gereja SVD saya merasakan atmosfer Flores yang sangat kental. Logat sang pastor tetap sama dengan di kampung meskipun sudah bertahun-tahun di Jawa. Gaya berkhotbah, humor, dan sebagainya.... Flores banget.

Bahkan ada pastor yang memfotokopi lagu-lagu JUBILATE dan SYUKUR KEPADA BAPA (buku nyanyian litrgi khas Flores) untuk dinyanyikan umat Katolik di Surabaya, padahal orang Katolik di Jawa pakai buku PUJI SYUKUR atau MADAH BAKTI.

Rupanya romo SVD ini lupa bahwa Surabaya bukan Flores, bukan NTT. Bahkan, ada romo SVD asal Flores yang bertugas melayani umat Katolik Indonesia di Jerman yang minta dicarikan lagu perarakan Minggu Palem ala Flores. Maka, si aktivis gereja di Jerman itu pun menghubungi saya via internet. Saya pun memotret partitur lagu itu, kemudian dikirim via email.

Aneh tapi nyata! 

Kawin kampung dan kawin mulia di Flores

Paduan suara OMK di Gereja Benediktin, Kupang, NTT.



Pengertian kawin masal di Jawa dan Flores sangat jauh berbeda. Di Jawa kawin atau nikah massal diikuti begitu banyak pasangan kurang mampu yang sebetulnya sudah hidup bersama selama bertahun-tahun. Ritual ini perlu agar pasutri itu dapat surat nikah.

Di Flores kawin masal ini bukan karena faktor ekonomi alias tidak mampu. Kawin masal tak lain upaya gereja katolik (dan pemerintah daerah) untuk membereskan pasangan-pasangan yang sudah hidup serumah, bahkan sudah punya anak, yang sebelumnya sudah KAWIN KAMPUNG.

Kawin kampung merupakan istilah khas NTT, khususnya Flores. Disebut kawin kampung karena pria-wanita sudah terikat 'perkawinan' secara adat, tapi belum diberkati atau diresmikan gereja. Karena belum diresmikan gereja (agama), ya, dengan sendirinya belum diakui negara atau catatan sipil.

Cukup banyak alasan untuk melakukan kawin kampung. Antara lain persoalan belis yang berat. Si cewek tiba-tiba kabur ke rumah keluarga kekasihnya. Atau 'dijemput' kekasihnya ke rumah keluarga laki-laki. Atau kawin lari ke Malaysia Timur. Maka, mereka sudah punya anak tanpa pernikahan secara agama (gereja) sehingga tidak sah menurut hukum negara.

Kawin kampung di Flores jelas beda dengan kawin siri. Kawin siri itu diam-diam, dirahasiakan, sementara kawin kampung sangat terbuka. Semua orang di desa tahu bahwa A, B, atau C kawin kampung dengan X Y Z. Mana ada rahasia di desa-desa di Flores atau Lembata atau Adonara atau Flores yang sempit itu? Semua orang boleh dikata saling mengenal satu sama lain.  Keluarga besar, tokoh adat, dari kedua pihak pun sudah turun tangan untuk merespons kenyataan ini.

Gereja Katolik di NTT sejak dulu berada dalam dilema menghadapi kawin kampung alias kawin adat yang sangat tidak ideal menurut hukum kanonik. Idealnya, sebelum pemberkatan di gereja, masalah adat sudah selesai dan kedua mempelai belum hidup bersama. Inilah yang disebut KAWIN MULIA di Flores.

Kawin mulia memang benar-benar mulia, besar-besaran, pesta seminggu lebih. Resepsi diadakan di lapangan terbuka. Ramai nian! Kawin mulia ini mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat NTT.

Nah, pastor-pastor di Flores hanya bersedia memimpin misa penerimaan sakramen pernikahan untuk satu pasangan yang kawin mulia. Bagaimana kalau pasangan yang sudah telanjur punya anak, hamil, hidup bersama dalam kawin kampung?

Solusinya adalah KAWIN MASAL.

Pasangan-pasangan kawin kampung atau kawin adat itu dikumpulkan di salah satu gereja untuk pemberkatan nikah masal. Namanya juga masal, pesertanya sangat banyak. Resepsi sangat sederhana, bahkan nyaris tidak ada apa-apanya.

Dan ini berlaku bagi siapa saja. Anak bupati sekalipun tidak akan diperlakukan istimewa, misalnya diberkati secara eksklusif, kalau sudah punya anak sebelum nikah gereja. Hanya kawin mulia saja yang diistimewakan oleh gereja.

Yang merisaukan, sejak 1990an ada kecenderungan kawin mulia makin sedikit. Sangat jarang ada pesta pernikahan yang komplet-plet seperti saat saya masih kecil di Lembata dulu, tahun 1980-an, karena memang sudah tidak banyak kawin mulia. Bahkan muncul gurauan orang-orang kampung begini:

"Punya anak dulu, pemberkatan nikah urusan belakang dengan kawin masal. Toh, orang yang kawin masal belum tentu lebih bahagia daripada yang kawin mulia."

Orang-orang kampung melihat fakta bahwa pasutri yang kawin mulia umumnya hanya punya SATU anak, bahkan tidak dikarunia anak. Sebab, biasanya yang kawin mulia ini orang yang matang, usia >30, sibuk kerja, banyak berpikir macam-macam dan lupa bikin anak.

Beda dengan kawin kampung atau kawin masal yang biasanya dilakukan anak-anak muda belasan atau awal 20 tahun yang berani kawin meskipun tidak punya pekerjaan. Nah, pasutri muda hasil kawin masal ini biasanya punya anak sedikitnya tiga orang dalam jarak yang rapat. Mereka juga tidak peduli program keluarga berencana, kontrasepsi, dan sebagainya.

Saya kira pastor-pastor di NTT makin pusing bila makin hari makin banyak umat di desa-desa yang lebih memilih kawin masal (setelah kawin kampung) ketimbang pernikahan ideal yang disebut kawin mulia. Yang paling penting: "Apa yang dipersatukan Allah jangan diceraikan oleh manusia!"

21 July 2012

Sri Sedyaningrum Pendiri Sekolah Galuh Handayani

Hj. Sri Sedyaningrum


Oleh LAMBERTUS HUREK


Tujuh belas tahun lalu Sri Sedyaningrum (51) merintis sekolah inklusi swasta pertama di Surabaya yang dikenal dengan Sekolah Galuh Handayani. Bermula dengan hanya sembilan murid, di rumah kontrakan, sekolah untuk anak berkebutuhan khusus ini berkembang dari TK, SD, SMP, SMA, hingga college setara D2. Didukung sekitar 50 guru, 10 terapis, dan 10 karyawan, Sri Sedyaningrum konsisten melayani ratusan anak didiknya yang sering bertingkah 'aneh-aneh' itu.


Sejak kapan Anda mulai merintis sekolah inklusi ini?


Saya mulai sejak tahun 1995 di sebuah rumah kontrakan yang sederhana. Alhamdulillah, dengan izin Tuhan, semuanya dimudahkan karena sekolah ini dibuat untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Baru dua tahun lalu kami mendapat kesempatan untuk membangun gedung yang lebih representatif seperti sekarang.

Anda mulai menyelenggarakan sekolah ini dengan berapa murid?


Sembilan orang. Meskipun sangat sedikit, kami bekerja dengan serius untuk mendidik anak-anak yang punya special needs itu. Ternyata apa yang kami lakukan di sini perlahan-lahan diketahui oleh masyarakat, khususnya orangtua yang punya anak berkebutuhan khusus. Maka, dari sembilan murid kemudian berkembang menjadi 16 murid, naik lagi jadi 42, 72, kemudian 250 anak. Kapasitas sekolah ini 250 anak sehingga jumlah muridnya ya rata-rata 250 orang.

Rupanya perjuangan Anda cukup berat dari gedung kontrakan hingga berkembang pesat seperti sekarang?


Memang berat. Bukan hanya soal gedung sekolah tapi karena strategi dan metodenya berbeda dengan sistem yang diterapkan pemerintah. Guru-guru tidak hanya mengajar di kelas, tapi juga mengajak anak-anak ke KBS, Kenjeran, mal, dan sebagainya. Kita tidak boleh membuat anak-anak itu stres atau merasa tidak nyaman. Mereka harus dibuat gembira dan nyaman selama berada di sekolah.

Apa yang mendorong Anda mendirikan sekolah inklusi ketika konsep ini belum familier di tanah air?


Begini. Tahun 1990 PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) menekankan konsep yang sangat penting, yakni education for all. Sebanyak 77 menteri pendidikan di seluruh dunia menandatangani pernyataan bersama tentang inclusive education. Intinya, semua manusia di dunia ini berhak memperoleh pendidikan yang layak. Tidak boleh ada diskriminasi, tidak boleh ada yang ditolak karena alasan IQ, fisik, keterbelakangan mental, slow learner, dan sebagainya. Inilah yang mendorong saya mendirikan sekolah seperti ini. Karena itu, saya menerima semua anak dengan segala kelebihan, potensi, dan kekurangannya.

Saya kondisikan agar lingkungan sekolah ini benar-benar ramah anak. Saya paling tidak suka mendengar orang bertanya kepada anak, kamu ranking berapa. Sebab, IQ atau kemampuan akademis bukan segalanya. Evaluasi sih boleh saja, tapi kita tidak boleh men-judge anak dengan ranking atau IQ. Semua anak itu punya potensi luar biasa. Kita harus trust bahwa mereka bisa.

Artinya, sekolah Anda mencampur murid yang biasa dengan yang berkebutuhan khusus?


Benar. Ciri khas inclusive education adalah aksesibilitas. Itu syarat utama sekolah inklusif. Jadi, kami menerima semua anak, kecuali yang tingkat emosinya amat sangat labil. Anak seperti ini kami serahkan kepada dokter untuk ditangani dulu agar dia tidak mengganggu anak yang lain.

Lantas, bagaimana pihak sekolah menangani murid-murid yang punya masalah emosional atau mental?


Kami punya tim terapis yang profesional. Terapi itu sangat penting untuk mendukung proses belajar anak. Contoh: anak yang mengalami disleksia biasa menulis terbalik-balik. Kata boneka ditulis boekan atau budi ditulis dudi. Anak seperti ini harus diterapi untuk meluruskan persepsinya. Dan itu membutuhkan waktu dan kesabaran. Saya tegaskan bahwa inklusi itu pendidikan yang sangat bermutu, nondiskriminasi. Anak-anak tidak hanya dikembangkan kognisinya tapi juga perilaku dan kepribadiannya. Ada anak yang pintar sekali tapi suka menyendiri. Ini menjadi tugas guru untuk mengarahkannya agar bisa bersosialisasi dengan teman-temannya.

Murid-murid Anda juga ikut ujian nasional?


Kami tentu saja melihat dulu kompetensi anak. Kalau memang kompeten dia ikut ujian nasional, sementara yang tidak kompeten ikut ujian akhir sekolah. Kelulusan ditentukan oleh pihak sekolah. Alhamdulillah, persentase kelulusan anak-anak kami di ujian nasional 60-70 persen.

Apa harapan Anda untuk anak-anak yang lulus dari sini?


Mudah-mudahan mereka bisa mendapatkan pekerjaan, diterima masyarakat, punya kontribusi, bisa mandiri, tidak gandholi keluarga atau orang lain. Alhamdulillah, banyak alumni kami yang sudah bekerja, ada juga yang berwirausaha. Kehadiran orang-orang berkebutuhan khusus ini justru penting untuk menciptakan kesempurnaan di dalam masyarakat. Sekaligus mengurangi perilaku serakah. (rek)




Modal Semangat


SEJAK kecil Sri Sedyaningrum terpanggil menjadi guru atau pendidik. Karena itu, dia memilih bersekolah di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Santa Maria Surabaya, sementara teman-temannya lebih banyak yang memilih melanjutkan studi ke SMA setelah lulus SMP.

Tamat SPG, mulailah Sri berkarier sebagai guru sekolah dasar yang murid-muridnya dari keluarga kurang mampu. "Yah, saya mengajar di sekolah pinggiran dekat Kalimas," kenang Sri Sedyaningrum seraya tersenyum.

Dia menggambarkan kondisi para murid sekolah pinggiran itu sebagai sangat memprihatinkan. Ruang kelas seadanya. Kondisi lingkungan tidak sehat akibat polusi. Gizi anak-anak pun sangat kurang. Dengan iklim yang tidak kondusif seperti itu, tentu saja proses belajar-mengajar tidak mungkin bisa optimal. Outpun yang dihasilkan pun pas-pasan.

Tapi bukan Sri kalau mudah menyerah dengan kondisi serbaminus itu. Sebagai guru muda, dia sudah belajar banyak tentang dunia anak-anak dengan segala suka dukanya. Panggilannya sebagai pendidik pun semakin terasah.

Setelah mengajar di sekolah pinggiran di riverside alias pinggir sungai, Sri beroleh peluang untuk membaktikan diri sekolah dasar lain yang boleh dikata cukup elite. Sangat kontras dengan sekolah pinggiran. "Kalau sekolah elite ini semua fasilitas terpenuhi. Semua yang diperlukan untuk proses belajar mengajar dan tumbuh kembang anak ada," kata ibu tiga anak ini.

Meski punya berbagai fasilitas, orangtua murid berpenghasilan tinggi, tidak berarti sekolah elite tadi tidak punya kelemahan. Anak-anak juga punya problem karena ayah dan ibunya sama-sama sibuk bekerja. Perhatian terhadap anak mereka sangat kurang. Anak-anak justru lebih banyak ditemani pembantu atau babysitter.

Sri makin terenyuh ketika menemui anak berkebutuhan khusus di sekolah. Anak-anak macam ini seyogyanya membutuhkan perhatian ekstra dari orangtuanya dibandingkan anak-anak biasa. Lantas, bagaimana jika orangtuanya sibuk cari uang? "Itu benar-benar tidak bagus, tidak kondusif. Anak jadi under achiever," tegasnya. Kemampuan intelektual alias IQ anak yang sedang-sedang saja niscaya akan turun drastis kalau tidak ada treatment khusus.

Maka, Sri pun makin sadar bahwa anak-anak berkebutuhan khusus, yang jumlahnya cukup banyak, perlu mendapat perhatian khusus pula. Dan itu hanya bisa dilakukan di sekolah inklusi. "Jadi, modal awal saya hanya semangat," tegasnya. (rek)





BIODATA SINGKAT

Nama : Hj Sri SedianingrumLahir : Madiun, 14 April 1961
Anak :Bintang CF, Abraham Satria Wijaya, Hira Jamza Prasedia.
Jabatan : Ketua Yayasan Pendidikan Sekolah Galuh Handayani
Alamat : Manyar Sambongan 87-89 Surabaya

Pendidikan terakhir : SPG Santa Maria Surabaya
Penghargaan :
Akademi Manajemen Indonesia
Mendikbud Wardiman Djojonegoro
Harian Republika

Sumber: Radar Surabaya, Minggu 15 Juli 2012

20 July 2012

Bahasa Indonesia bahasa kelima di Flores Timur

Senja di pantai Atawatung, Lembata.


Mengapa orang Flores tidak lancar berbahasa Indonesia?
Bahasa Indonesianya kaku, kurang mengalir?
Beda dengan orang Betawi cepat di televisi?

Begitu antara lain pertanyaan sejumlah orang Jawa kepada saya. Dan memang tidak keliru. Orang Flores atau NTT umumnya, juga Papua, terlihat lambat bicara di televisi jika berbicara dalam bahasa Indonesia. Kesannya kurang fasih atau baru belajar berbahasa Indonesia. Kalah dengan orang Eropa atau Amerika yang baru sebulan ikut kelas bahasa Indonesia.

Cara bicara yang lambat sangat jelek untuk televisi atau radio. Beda dengan orang Eropa, Amerika, atau Tiongkok yang selalu bicara cepat, bahkan terlalu cepat. Bahasa Mandarin pemain-pemain film Hongkong umumnya amat sangat cepat.

Sebagai orang Lembata di pelosok Flores Timur, saya harus akui bahwa bahasa Indonesia standar sebenarnya tidak dikenal di NTT. Hingga tamat SD di kampung, saya tidak bisa berbahasa Indonesia aktif. Diam saja, nguping kalau ada orang kota yang lancar bicara bahasa Indonesia.

Anak-anak di desa justru lebih sering mendengar para eks TKI bercakap dalam bahasa Melayu Malaysia karena sebagian besar orang Flores Timur memang merantau di Malaysia Timur.

Sej`k bayi kami bicara dalam bahasa ibu, namanya bahasa Lamaholot. Itu pun versi Ileape. Kemudian coba-coba Lamaholot Adonara Timur yang beda tipis dengan Ileape. Kemudian mulai coba bahasa Melayu Larantuka (dan Lewoleba), semacam Melayu Pasar yang jadi lingua franca di Flores Timur, yang disebut bahasa Nagi.

Karena orang Lamaholot banyak yang kuliah di Kupang, bahasa Melayu Kupang yang pakai BETA (saya), SONDE (tidak), PI (pigi, pergi)... juga dipelajari. Bahasa Indonesia resmi bagaimana?

Baru kita kenal di sekolah, biasanya setelah kelas 3. Murid kelas 1,2,3 akan sulit menangkap pelajaran karena benar-benar tidak biasa dengan struktur dan fonologi bahasa Indonesia.

Orang Flores Timur misalnya tidak kenal kalimat ITU RUMAHMU.
Yang dikenal adalah ITU ENGKO PU RUMAH.

Sangat sulit mengajarkan struktur bahasa Indonesia yang memang beda dengan bahasa Lamaholot.Saya sendiri sampai kelas enam SD di Desa Mawa, Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, tidak bisa bicara dalam bahasa Indonesia. Hanya mengerti bahasa Indonesia secara pasif. Kosa kata atau vocabulary yang saya miliki sangat terbatas dan tidak pernah berkembang karena semua penduduk memang tidak fasih berbahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia standar hanyalah bahasa kelima di bumi Lamaholot. Karena itu, wajarlah kalau orang Flores termasuk profesor-doktor tidak bisa berbahasa Indonesia dengan cepat, lancar, enak.



Bahasa I  (Ileape) : AMA, MO MAI TEGA?
Bahasa II (Adonara) : AMA, MOE MAI TEKU NAI?
Bahasa III (Kedang) : AMO, PANDITA?
Bahasa IV (Nagi): BAPA, MO PIGI KE MENA KAH?
Bahasa V (Kupang) : BAPA,  MO PI MANA?
Bahasa VI (Indonesia) : BAPAK, MAU PERGI KE MANA?

Puasa hama hala muri

Masjid Nurul Jannah di Mawa, Lembata, NTT.



Wia hulemen go nawo Memeng Yati mai kuburan Ngagel, Surabaya. Na anaken amalake tou teika tepe. Matay lelaten kae, nolo pas wulanen tou. Pi memeng mehaka, anaken take.

Memeng maring meri na puasa Jumat. "Pemerintah puasa Sabtu, Muhammadiyah Jumat. Mo alawem pile dore Jumat le Sabtu," go maring nepa.

Memeng Yati dore Jumat. Pana nolo ti sainga nolo. Na maring meri masjid teti lango papa taraweh pertama Kamis rema, jadi puasa Jumat. "Go niat kae, insyaallah puasa lancar. Tun waiken ia go puasa leron 30," na maring go.

Semoga lancar!

Puken aku puasa 2012 nepi hama hala? Muhammadiyah nolo, pemerintah nong NU, ormas ayaken beng dore Sabtu? Susah, nepi masalah keyakinan raen: niku wulan muringen nong hisab le metode aku muri?

Menteri agama maring meri ana bai keker wulan kae ro ra roi wulan muringen hala. Wulan take paera. Kesimpulan: Sabtu beng puasa resmi versi pemerintah. Hama-hama watanen, puasa hama hala.

Agama nepe soal keyakinan ana bai raen. Pemerintah paksa bisa hala. Mio puasa Jumat, Sabtu, le puasa hala (ata kiwanan)... tite tetap toi wekike sare-sare, saling hormat.

18 July 2012

Mahasiswa Surabaya di Tianjin



Sejak Dahlan Iskan, mantan chairman Jawa Pos yang sekarang menteriBUMN, berhasil menjalani operasi ganti hati di Tianjin, kota di dekat Beijing ini kian terkenal. Banyak wisatawan Indonesia yang melancong atau berobat ke Tianjin. Bahkan kini pun sudah ada mahasiswa asal Indonesia yang menempuh pendidikan di Tianjin.

Pekan lalu dua mahasiswa asal Surabaya diwisuda di Tianjin University of Science and Technology (TUST). Mereka adalah Setiawan dan Abednego. "Hasil kuliah mereka selama dua tahun di Tianjin tidak mengecewakan meskipun awalnya mereka butuh proses untuk adaptasi," kata Su Rongxiang, direktur Surabaya International Institute of Business and Technology (SIIBT).

Menurut Su, Setiawan dan Abednego merupakan mahasiswa SIIBT yang melanjutkan kuliah di TUST setelah kuliah selama dua tahun di Surabaya. Program yang populer dengan 2+2 ini membuat mahasiswa kita lebih mudah beradaptasi dengan kondisi perkuliahan di China yang sangat berbeda dengan di Indonesia. "Selama dua tahun di SIIBT kami perdalam bahasa Mandarin dan wawasan tentang budaya dan pendidikan di Tiongkok," kata Su.

Setelah lulus dari TUST, menurut pria berkacamata ini, para alumni Indonesia diyakini punya kemampuan yang lebih dalam bidang bisnis, manajemen, dan teknologi. Mereka juga dengan sendirinya punya jaringan bisnis dengan pengusaha China. "Sekarang ini kan Tiongkok sedang gencar-gencarnya investasi di Indonesia. Nah, para alumni kita ini bisa menjadi penghubung yang baik karena dia paham kondisi dua negara dengan baik," katanya.

Kalaupun tidak terjun di dunia bisnis, menurut Su, sarjana lulusan Tianjin bisa menjadi gur atau dosen bahasa Mandarin di Indonesia. Su mencontohkan dirinya yang sarjana teknik tapi justru terjun di dunia pendidikan sebagai guru bahasa Mandarin. Su juga merintis kerja sama dengan Tiongkok di bidang pendidikan dan kebudayaan. "Jadi, kuliah di Tiongkok itu saya jamin punya prospek yang cerah. Mereka tidak akan sulit cari pekerjaan atau membuka bisnis sendiri," katanya.

13 July 2012

Angela Merkel berbahasa Jerman di Indonesia



Bahasa Inggris memang penting tapi bukan segalanya. Setiap negara punya bahasa nasional yang harus dijaga oleh warga dan khususnya pejabat mulai dari daerah sampai pusat. Maka pemerintah punya kewajiban merawat bahasa nasional, bahasa Indonesia.

Sikap Kanselir Jerman Angela Merkel ketika berkunjung ke Jakarta pekan lalu layak kita simak. Bu Angela ini fasih english. Tapi hanya di awal pidatonya saja dia kasih pengantar dalam bahasa Inggris. Lantas dia minta ijin khalayak untuk berbicara dalam bahasa Jerman.

Mengapa begitu? Dengan humor khasnya, Angela Merkel mengatakan bahwa pejabat-pejabat Prancis pun selalu berpidato dalam bahasa Prancis di hadapannya ketika berkunjung ke Jerman. Selain itu, dia ingin mendukung Goethe Institut yang sejak dulu aktif mengajarkan bahasa Jerman di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Saya kira apa yang diperlihatkan Angela Merkel ini layak dipetik orang Indonesia baik pejabat maupun bukan. Sebab ada kecenderungan bahasa Indonesia makin lama makin kurang dihargai di negeri sendiri. Orang berbahasa Indonesia dicampur english plus betawi dan entah apa lagi dalam acara-acara resmi.

Presiden kita pun tergolong pejabat yang terlalu sering mencampur pidatonya dengan kalimat-kalimat english. Seakan-akan kurang asyik kalau berbahasa Indonesia secara sederhana dan apa adanya.

Serbuan bahasa Amerika, demikian istilah sastrawan Taufiq Ismail, memang luar biasa. Begitu banyak nama program televisi yang pakai english meskipun khalayak sasaran orang Indonesia. Termasuk orang-orang kampung di pelosok yang belum mampu berbahasa Indonesia.

Benar lho... sampai sekarang masih banyak orang NTT yang belum bisa berbahasa Indonesia. Guru-guru SD sering menggunakan bahasa daerah untuk mempermudah anak didiknya menangkap pelajaran.

Lha, kalau bahasa Indonesia mulai ditinggal, dianggap kurang modern, yo pripun?

11 July 2012

Anang-Ashanty yang overdosis

Anang-Ashanty diarak di Jember. Kayak anak raja!



Saya rasa belum ada pesta pernikahan di Indonesia yang diperlakukan luar biasa oleh media selain Anang dan Ashany. RCTI, televisi terbesar, membuat siaran langsung sejak resepsi di Jakarta kemudian ngunduh mantu di Jember. Siaran langsung di jam utama.

Pesta pernikahan anak presiden pun kalah gemanya. Anang-Ashanty diistimewakan media, bukan hanya RCTI, seakan pasangan ini artis sangat istimewa. Apa prestasi Anang? Prestasi Ashanty? Nothing. Keduanya hanya artis industri musik biasa yang sama dengan band dan vokalis lain di Indonesia.

Duet Anang-Ashanty tidak istimewa. Suara keduanya kalah sama 10 finalis Indonesian Idol. Tapi Bupati Jalal di Jember memperlakukan Anang-Ashanti layaknya anak raja yang baru saja melangsungkan pernikahan. Diarak, dielu-ukan.

Juara olimpiade kita, yang dapat medali emas  bulutangkis, kayaknya tidak pernah diperlakukan istimewa layaknya Anang-Ashanty. Apalagi pelajar yang juara olimpiade fisika atau matematika. Juara pengajian MTQ tak pernah diarak besar-besaran kayak Anang-Ashanty.

Rupanya ada krisis nilai luar biasa di masyarakat kita. Pemujaan terhadap selebriti sudah sangat berlebihan, dan itu didukung industri televisi. Juga didukung pemda alias bupati Jember.

Di Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Flores, ada budaya atau tradisi untuk tidak mengistimewakan pernikahan kedua. Apalagi dia menikah kedua karena cerai, bukan istri/suami mati. Sebab, jatah belis atau maskawin di Flores hanya untuk menikah SATU KALI dan seumur hidup. Orang yang menikah kedua, ketiga dst tidak punya jatah lagi di suku atau marga.

Karena itu, pernikahan kedua di Flores dilakukan secara kecil-kecilan, bahkan diam-diam. Tak akan ada pesta besar karena penduduk pasti malas datang. Tapi Anang bukan Flores atau NTT, daerah terbelakang di pelosok Indonesia.

Pesta pernikahan kedua Anang justru jauh lebih mewah, gebyar, jor-joran daripada pernikahan pertamanya dengan Kris Dayanti. Aneh, pernikahan kedua kok luar biasa! begitu pikiran orang kampung di NTT.

Tentu saja logika kampung beda dengan logika selebriti. Mereka punya dunia sendiri yang berbeda dengan orang biasa. Dan mereka punya uang miliaran hingga triliunan rupiah untuk melakukan apa saja.

10 July 2012

Orang desa makin gemuk



Saya baru melintas di dusun sempur, desa seloliman, trawas, mojokerto. Menemui mbok supinah, yang punya warung kopi khas ndeso. Dia sangrai kopi kemudian numbuk sendiri. Rasanya beda dengan bubuk kopi buatan pabrik.

Yang menarik perhatian saya, selama berjalan kaki sekitar dua km itu saya tidak menemui satu pun orang dusun yang jalan kaki. Hanya sepeda motor yang lalu lalang. Seorang pengendara motor rupanya kasihan melihat saya jalan kaki. Monggo ikut saya, katanya. Saya jawab terima kasih. Saya sengaja jalan kaki. Kendaraan saya dititip di dekat jolotundo.

Sekitar 50 meter dari PPLH, pusat wisata lingkungan yang terkenal di jatim, tukang ojek menawari saya naik motor. Kasihan plus cari uang tentu saja. Saya bilang terima kasih. Saya sengaja jalan untuk menguruskan badan hehehe... Tukang ojek yang overweight itu tertawa kayak tersindir.

Di sempur ini, dusun sejuk yang bikin iri orang surabaya, saya perhatikan banyak anak muda 20- tahun yang kegemukan. Obesitas. Terutama remaja cewek yang depan rumahnya jualan bensin botolan. Kelihatan bundar, terlalu banyak menyimpan lemak di perut dan bawah kulit.

Aha, sekarang kegemukan sudah menjalar ke desa. Bukan hanya orang kota yang kena obesitas! 

Mengapa tubuh orang desa berubah drastis dalam 20 tahun terakhir? Kurang gerak. Gizi bagus. Tak lagi kerja keras banting tulang ala remaja desa tahun 1980an. Makin sedikit anak muda di kampung yang memilih meneruskan pekerjaan orangtuanya sebagai petani.

Maka urbanisasi tak terelakkan. Daripada jadi petani di desa, orang desa ramai-ramai hijrah ke kota jadi buruh pabrik, penjaga toko, babysitter, atau TKI di luar negeri.

Dalam 10 hingga 20 tahun ke depan bukan tidak mungkin  Indonesia mengalami krisis produksi pertanian meskipun lahan masih luas. Sekarang saja kita sudah sulit mendapatkan buah-buahan lokal bermutu karena memang tidak dibudidayakan serius di tanah air. Kita sangat sulit menemukan duren asal jatim yang bagus di surabaya. Duren yang bagus ya dari thailand. Apel malang pun makin tergusur oleh apel impor.

Tidak hanya di jawa yang sebetulnya sudah sangat maju, di pelosok flores pun saya makin sulit melihat orang kampung yang jalan kaki. Anak-anak muda protolan sekolah lebih suka cangkrukan sambil main ponsel. Suatu ketika indonesia mengalami wabah obesitas plus gangguan kesehatan yang sangat serius.

Bagaimana bu menkes? Jangan cuma ngurusin kondom doang!

08 July 2012

Sulitnya menulis huruf hanzi


Oleh DAHLAN ISKAN

Sudah terlalu tua sebenarnya untuk start belajar bahasa asing. Apalagi bahasa Mandarin yang begitu sulit. Karena itu, saya tidak bercita-cita jadi pandai. Sekadar bisa saja. Dan, karena itu, saya memutuskan untuk tidak belajar menulis hanzi. Saya putuskan untuk hanya belajar memnaca dan bicara.

Belajar menulis hanzi hampir mustahil bagi saya. Jangankan menulis, membaca yang benar saja sangat berat. HAN misalnya saya bisa baca. Tapi untuk secara benar mengucapkan ZI perlu menempatkan lidah yang tepat, setepat mengambil sebutir kacang dengan sumpit.

Untuk menulis kata zi saja perlu melakukan enam kali goresan. Padahal kata zi termasuk kata yang paling sederhana penulisannya. Banyaksekali kata (konon yang biasa digunakan sehari-hari saja ada 3000), yang penulisannya memerlukan lebih dari 10 goresan. Tidak jarang pula yang untuk menulis satu huruf diperlukan 20 kali goresan.

Bahkan untuk menulis wan dari kata Taiwan diperlukan 27 kali goresan. Begitu sulitnya sehingga guru saya sendiri, yang masih relatih muda, gagal menuliskan secara benar kata wan dari Taiwan. Itulah sebabnya, Tiongkok kemudian melakukan penyederhanaan huruf. Bahkan, pernah dua kali atau dua tahap. Penyederhanaan pertama dilakukan hanya untuk sebagian kata yang paling sulit penulisannya.

Lantas, itu dianggap belum cukup. Beberapa tahun kemudian Tiongkok melakukan penyederhanaan lagi. Tapi yang kedua ini bikin orang semakin bingung. Sebab, dari penyederhanaan yang pertama saja masih belum banyak yang menyesuaikan diri. Bahkan, Taiwan masih sepenuhnya menggunakan yang lama.

Akhirnya, diputuskan kembali ke bentuk penyederhanaan yang pertama saja. Itu pun sampai sekarang di kalangan masyarakat dunia masih dikenal dua jenis tulisan. Orang Taiwan menggunakan huruf yang lama. Mereka tidak mau mengakui penyederhanaan yang dilakukan di Tiongkok.

Di Tiongkok huruf lama benar-benar ditinggalkan. Huruf yang lama hanya dikenal di buku-buku terbitan lama. Bagi kita yang di luar negara itu menjadi bingung harus belajar yang mana.

Kalau hanya belajar yang baru, jangan-jangan akan banyak berhubungan dengan masyarakat pemakai huruf lama. Mau belajar yang lama saja, nyatanya semakin jelas bahwa perkembangan huruf baru lebih banyak digunakan. Apalagi dengan kemajuan Tiongkok saat ini, maka bahasanya, dan huruf barunya, akan ikut mendominasi percaturan umum.

Lain halnya kalau Tiongkok tetap miskin seperti dulu, sementara Taiwan semakin kaya raya. Kalau seperti itu bisa jadi memang huruf lama yang akan tetap dominan. Atau malah, supaya tidak bingung, kita yang di luar negara itu harus belajar dua-duanya. Dan ini yang jadi masalah. Belajar satu jenis saja belum tentu bisa, bagaimana harus belajar dua jenis pula.

Saya sendiri waktu di Surabaya belajar huruf yang lama. Ini karena guru saya lulusan universitas di Taiwan. Tapi kini di Nanchang ini saya sepenuhnya belajar membaca huruf yang baru. Beberapa huruf baru itu sebenarnya masih bisa dikenal oleh pemakai huruf lama. Sebab, penyederhanaan yang dilakukan memang banyak juga yang hanya mengambil satu bagian yang khas dari huruf yang lama. Namun ada juga yang benar-benar beda.

Kata cong (nada dua) dari cong qian yang artinya dahulu misalnya benar-benar sepenuhnya baru dan menjadi sangat sederhana. Maka, kalau saya harus belajar menulis huruf hanzi, rasanya mustahil.

Sumber: Buku PELAJARAN DARI TIONGKOK

Paduan suara yang tidak menari

The Philippine Madrigal Singers



Sayang, The Philippine Madrigal Singers alias The Madz tidak konser di Surabaya. Kor terkenal ini hanya tampil di Jakarta dan Bandung. Saya hanya bisa baca ulasannya di Kompas 8 Juni 2012.

Dua tahun lalu saya berkesempatan menyaksikan konser Madz di Surabaya. Dan itu membuat saya sangat terkesan akan kualitas kor, harmoni, teknik vokal dsb. Madz benar-benar gila! Belum ada tandingannya di tanah air.

Saya sudah lama tidak berminat menyaksikan choir Indonesia, khususnya paduan suara mahasiswa alias PSM, karena terlalu sibuk menari. Seakan-akan kor yang bagus harus pakai tarian, koreografi macam-macam. Anggota kor dibebani seni gerak sehingga sering kedodoran dalam olah vokal.

Memang tidak salah karena sekarang memang zaman audiovisual. Paduan suara pun dikemas layaknya goyang dangdut yang berlebihan. Jadi norak karena anggota kor pada dasarnya bukan penari. Banyak yang badannya gendut sehingga tidak elok dilihat kalau menari.

Nah, The Madz dari Filipina ini benar-benar memberi pelajaran kepada para pelatih dan anggota kor di Indonesia bahwa paduan suara itu sejatinya seni suara. Bukan tarian yang sering mengganggu teknik vokal.

Madz bukan saja tidak menari, bahkan menyanyi dengan posisi duduk setengah melingkar. Tidak pakai dirigen. Hanya aba-aba halus dari Mark Anthony selaku choir master. Tapi paduan suara yang dihasilkan... wow sangat luar biasa. Saya seakan tidak percaya ketika menikmati kor ini di aula GKI Pregolan Surabaya tahun 2010.

Oh ya, hebatnya lagi Madz tampil sepenuhnya secara acapella alias tidak pakai iringan piano atau alat musik lain. Mereka percaya bahwa vokal manusia merupakan instrumen musik luar biasa yang dikaruniakan Tuhan untuk manusia. Dan The Madz berhasil membuktikan diri sebagai salah satu paduan suara terbaik di dunia.

Sebaliknya, kita yang berbudaya goyang dangdut tetap asyik dengan paduan suara bergoyang sampai keringat. Yah... ini semua soal selera!

06 July 2012

Bahasa Belanda yang mati

Tadi Eric, orang Belanda keturunan Jawa, mencari mamanya lewat metrotv. Saat berusia enam bulan Eric diadopsi oleh keluarga Belanda di negara kincir angin. Dia jadi londo ireng; wong Belanda yang fisiknya 100% Jawa.

Diwawancarai Gadiza Fauzi, Eric berbicara dalam bahasa Inggris yang lancar ala British. Sama sekali tak ada rasa Jawa. Saya merasa sebagai orang Belanda, tegasnya.

Hampir semua orang Belanda memang fasih berbahasa Inggris karena bahasa Belanda sudah tidak laku di dunia. Belanda negara kecil sehingga pengaruh bahasa Belanda di dunia sangat kecil, bahkan hampir tidak ada. Timnas sepakbola Belanda juga berantakan.

Saya langsung termenung. Untung, para pemimpin dan intelektual kita di masa lalu memilih Inggris dan bukan Belanda sebagai bahasa asing pertama. Andaikan bahasa Belanda yang dipilih niscaya kita tergagap-gagap dalam komunikasi internasional. Maka belajar bahasa Belanda sebetulnya kurang bermanfaat dalam konstelasi dunia sekarang.

Belanda merupakan penjajah yang paling buruk. Penjajah yang tidak mau mengajarkan bahasanya kepada rakyat jajahan. Beda dengan Inggris yang rakyat jajahannya diajari bahasa Inggris. Atau bekas negara-negara jajahan Portugis atau Prancis atau Spanyol.

Di Indonesia bahasa Belanda sudah lama mati sejak proklamasi kemerdekaan. Kini orang Indonesia yang berbahasa Belanda tinggal komunitas indo yang jumlahnya sangat sedikit. Belanda mungkin menyesal (atau bangga) melihat hilangnya tetenger kolonial kecuali beberapa gedung tua di berbagai kota.

Orang Malaysia cenderung mendukung tim sepakbola Inggris, bekas penjajah, meskipun Rooney dkk selalu main jelek dan pasti tidak akan juara. Orang Indonesia saya rasa jarang sekali mendukung tim Belanda meskipun kualitasnya sangat bagus.

Di Jawa Timr, setiap malam selalu ada pertunjukan ketoprak atau ludruk yang menceritakan kebrengsekan meneer en mevrouw dan tentara Belanda tempo doeloe. Kontribusi ekonomi Belanda untuk Indonesia pun hampir tidak ada lagi.

Kitab suci pun dikorupsi




Pemerintah dan masyarakat Indonesia sering merasa paling suci di dunia. Alasannya? Masjid penuh sesak. Ibadah semarak. Umat sampai meluber ke jalan. Assalamualaikum sudah lama menjadi salam nasional.

Sedikit-sedikit orang menyebutkan nama Tuhan dalam interjeksi percakapan. Apa kabar? Alhamdulillah sehat. Kapan resepsi? Insyaalaah minggu depan.

Oh ya, sekarang ini pelajar sekolah-sekolah negeri di banyak daerah pun wajib pakai busana muslim. Bahkan kabarnya Tasikmalaya (dan beberapa kabupaten) bikin perda yang mewajibkan masyarakatnya pakai busana muslim. Di Aceh sudah lama berlaku ketentuan itu. Pakai hukum cambuk segala. Mungkin sebentar lagi akan ada hukum rajam dan potong tangan.

Sayang, korupsi di Indonesia malah bertambah banyak. Berita terakhir, proyek pengadaan kitab suci Alquran Rp55 miliar pun dikorup. Sebelumnya bekas menteri agama dipenjara karena korupsi. Beberapa pejabat kemenag juga dibui karenakorupsi. Bekas gubernur Aceh, yang provinsinya pakai hukum islam, cambuk, rajam... juga masuk penjara. Namanya Abdullah Puteh kalau tak salah.

Kita seperti kehabisan kata untuk menggambarkan korupsi di Indonesia. Kementerian Agama yang berisi orang-orang yang ahli agama, tukang khotbah, bahkan hafal isi kitab suci ternyata tidak suci. Tidak kebal korupsi.

Dana haji yang jumlahnya trilunan rupiah jelas rawan disalahgunakan. Lha, kementerian agama saja korupsi, bagaimana pula dengan kementerian atau lembaga lain yang tidak mengurus agama?

Menteri Agama Suryadharma Ali termasuk pejabat yang paling keras menentang konser Lady Gaga di Jakarta. Lady Gaga dianggap pemuja setan, brengsek, merusak moral bangsa, melanggar nilai-nilai agama.

Lantas, bagaimana dengan korupsi kitab suci di kementerian agama? Bekas menteri agama yang dipenjara? Mana yang lebih berbahaya; Lady Gaga atau bandit-bandit koruptor itu.

Indonesia rupanya punya paham sendiri tentang kesucian. Boleh korupsi apa saja, mencuri uang rakyat, asal tetap rajin beribadah dan menyebut nama Tuhan.

80 Tahun Prof Josef Glinka






Oleh LAMBERTUS HUREK


Selama tiga hari FISIP Universitas Airlangga menggelar seminar bertajuk Celebrating Anthropology untuk merayakan hari jadi ke-80 Prof Dr Habil Josef Glinka SVD pekan lalu. Acara ini digagas dosen-dosen antropologi yang kebanyakan mantan murid Glinka. Mereka menilai sumbangsih profesor asal Polandia ini sangat besar bagi perkembangan antropologi di tanah air.

Di usia delapan dasawarsa, Prof Glinka masih terus berkarya baik sebagai akademisi maupun rohaniwan. Berikut petikan percakapan saya dengan Prof Glinka sembari ditunggui tujuh mahasiswi Antropologi Unair di ruang kerjanya.



Selamat ulang tahun Pater Glinka! Bagaimana perasaan Anda ketika genap berusia 80 tahun ini?

Terima kasih. Menurut tradisi Jawa, usia 80 tahun itu luar biasa. Kalau di Alkitab malah tertulis usia manusia rata-rata 70 tahun. Delapan puluh tahun itu kalau kita kuat. Hehehe.... Saya sendiri tidak pernah membayangkan akan dibuat acara besar-besaran (untuk merayakan ulang tahun) seperti kemarin. Tapi, kata panitia, sekalian untuk memperkenalkan Antropologi Unair kepada masyarakat luas.


Apa resepnya bisa panjang usia dan tetap produktif?

Saya tidak punya resep khusus. Tapi mungkin karena setiap hari saya selalu bertemu dengan orang-orang muda. Ini membuat saya lebih semangat. Nah, itu ada para mahasiswi Unair yang datang ke sini untuk membicarakan soal perkuliahan.


Barangkali Anda punya pantangan khusus?

Saya tidak diet, cuma tidak makan daging sapi. Kalau makan daging sapi, perut saya mules, tidak enak. Kalau makanan-makanan lain tidak ada masalah.


Apakah Anda punya rencana setelah berusia 80 tahun?

Rencana apa? Saya tetap bekerja seperti biasa. Belum lama ini saya diminta menguji calon doktor di IAIN Sunan Ampel. Saya juga masih menulis, ikut seminar. Sekarang saya amsih capek setelah mengikuti acara selama tiga hari itu.


Bagaimana ceritanya Anda mendalami antropologi mengingat latar belakang Anda seorang pastor?

Saya studi antropologi sejak usia 27 tahun. Saya selesaikan sampai doktoral di Universitas Mickiewicz, Poznan, Polandia. Waktu itu disertasi doktoral saya tentang Indonesia. Tapi waktu itu Polandia masih jajahan Rusia sehingga saya cari data untuk penelitian saya ke Indonesia sangat sulit. Mau keluar dari Polandia sulitnya minta ampun.


Sejak kapan mengajar di Unair?

Sejak 1984. Sebelumnya, selama 20 tahun lebih saya tinggal di Flores, mengajar di Seminari Tinggi Ledalero dan di Universitas Nusa Cendana, Kupang, jadi dosen tamu. Tahun 1984 itu saya diundang Pak Adi Sukadana (mantan dekan FISIP Unair) untuk pindah dan bantu mengajar di sini. Saya dipinjam mulai tahun 1984 sampai sekarang.

Sebagai antropolog, bagaimana Anda melihat orang Indonesia?

Indonesia itu punya 300 lebih suku dengan budaya dan bahasa berbeda-beda. Penelitian saya tentang dari mana suku-suku itu berasal dan bagaimana mereka memecah serta menyebar. Awalnya kan mereka satu. Ini dimulai dari imigrasi 10 ribu tahun silam setelah zaman es berakhir. Yang dari utara dan barat masuk ke nusantara, mereka bersifat Mongoloid. Yang dari timur lebih bersifat Austro-Melanoid. Dalam penelitian, saya sebut Proto-Malay karena mereka berbahasa Melayu dengan ras berbeda dari Melayu kebanyakan. Penelitian itu saya publikasikan jadi buku tahun 1977.


Sudah berapa banyak kader Anda hasilkan?

Cukup banyak. Selama 20 tahun lebih di Flores saya sudah hasilkan sekitar 800 pastor, 12 sudah jadi uskup. Di Unair lebih dari seribu mahasiswa. Doktor yang saya promotori sudah 13 orang, juga guru besar. Ada juga yang sudah pensiun.

Kenapa Anda begitu berminat bertugas di Indonesia?

Saya sendiri memang punya sentimen dengan Indonesia. Sejak umur enam tahun saya biasa mendengar kabar tentang Indonesia dari seorang sepupu dari bapak saya yang telah menjadi misionaris di Flores. Dari sepupu itu, saya sering mendengar cerita-cerita indah alam dan lingkungan sosial di Indonesia. Akhirnya, saya berangkat ke Indonesia, mendarat di Flores tahun 1965, untuk mengikuti kursus bahasa.


Apakah Anda mengalami kesulitan mempelajari bahasa Indonesia?

Tidak. Sebelumnya saya sudah biasa mempelajari bermacam bahasa. Bahasa Latin wajib kami kuasai semasa kuliah. Bahasa Jerman dekat dengan orang Polandia karena kami pernah dijajah oleh Jerman. Bahasa Inggris tentu saja harus dikuasai oleh mereka yang harus berangkat ke luar negeri. Bahasa Polandia sendiri mempunyai dialek yang paling banyak dari bahasa-bahasa besar Eropa. Banyak dialek kami yang sulit dicari padanannya dalam bahasa lain. Jadi, belajar Bahasa Indonesia tidak ada masalah buat saya.


Sekarang ini Indonesia punya berapa profesor di bidang antropologi?

Dua orang (Prof Glinka dan Prof Etty dari UGM Jogjakarta). Polandia itu negara yang luasnya hampir sama dengan Pulau Jawa, tapi memiliki  120 profesor antropolog. Sementara Indonesia hanya punya 10-20 antropolog dan hanya dua profesor. Padahal, begitu  banyak fosil yang tersebar di seluruh Indonesia. (rek)

04 July 2012

Tulisan era mesin ketik lebih bagus


Kaget juga menemukan beberapa tulisan lama saya di majalah terbitan Jakarta tahun 1990an. Reportase tentang kerusuhan di Situbondo dan Madura. Gejolak di akhir orde baru.

Naskah itu saya tulis pakai mesin ketik Aiwa ketika masih mahasiswa di Jember. Kemudian dikirim lewat pos berikut beberapa foto. Komputer sudah ada tapi masih sangat-sangat terbatas. Ternyata naskah panjang saya itu dimuat utuh.

Saya heran karena ternyata tulisan reportase mendalam itu bisa sangat menarik. Jauh lebih menarik ketimbang tulisan-tulisan yang begitu banyak setelah saya jadi pekerja media. Kok bisa ya menulis pakai mesin ketik langsung jadi tanpa ada celah melakukan koreksi seperti pakai komputer? Mengetik pakai mesin ketik memang memaksa otak kita untuk berpikir disiplin dan cermat karena ruang untuk error sangat sedikit. Sebab, kalau aliran kalimatnya tidak lancar, kacau, kertas harus disobek, diganti baru.

Karena itu, saya bisa mengerti mengapa penulis-penulis lawas tetap bertahan pakai mesin ketik meskipun mereka sangat mampu membeli puluhan komputer atau laptop sekaligus. Sebut saja Daoed Joesoef atau Pramoedya Ananta Tour.

Sampai sekarang rasanya belum ada buku-buku yang kualitasnya melebihi karya Pramoedya. Buku-buku karya penulis generasi komputer, laptop, atau smartphone cenderung dangkal dan instan. "Saya sulit menemukan bacaan bermutu meski sudah mengubek-ubek toko buku," kata Budiono Darsono, wartawan senior pendiri detik.com.

"Saya sampai membaca bukunya Pramoedya diulang-ulang terus," lanjut Budiono seperti dikutip Intisari Juni 2012.

Saya sendiri pun merasakan hal yang sama. Buku-buku era laptop dan facebook cenderung hanya unggul visual, desain, grafis, foto dsb tapi kualitasnya medioker. Tulisan-tulisan dibuat begitu lekas, tergesa-gesa, sekadar mengejar deadline kehangatan isu.

Maka, jangan heran ada penulis yang mendadak menulis novel biografi seorang tokoh yang baru dikenalnya dua bulan lalu. Beda dengan Pram yang merenung sekian lama di Pulau Buru sebelum tak-tik-tak di mesin ketiknya.

Sejak pakai ponsel untuk blogging alias mobile blogging, tulisan saya di blog ini pun makin pendek. Cuma sekitar 2.000 karakter (pakai spasi). Tentu saja sangat sulit membuat tulisan yang bagus dengan karakter yang sangat sedikit. Sebuah tulisan yang 'selesai', dan belum tentu bagus, paling tidak panjangnya harus sekitar 6.000 karakter. Tapi, mau bagaimana lagi, sekarang memang zamannya menulis pendek-pendek dan serbainstan. Seperti orang Indonesia yang makin doyan mi instan.

Bisa tidur setelah Piala Eropa





Selama tiga minggu lebih irama tidur kita, yang doyan bola, terganggu gara-gara Euro 2012. Fase grup dimulai jam 23 disusul 1.45, kemudian fase KO dimulai jam 1.45. Ini semua gara-gara beda waktu lima jam antara Polandia-Ukraina dengan Indonesia.

Rhoma Irama sejak 70an sudah mengingatkan bahaya terlalu banyak begadang; Muka pucat, darah berkurang, segala penyakit akan mudah datang. "Darilah itu sayangi badan, jangan begadang setiap malam," pesan si raja dangdut.

Dilematis memang urusan bola ini. Laga-laga Euro terlalu menarik untuk ditonton secara langsung. Kita tak bisa jadi saksi sejarah bola dunia, tidak punya bahan cerita, jika tidak menyakikan bola di tv secara langsung. Tidak cukup hanya menonton cuplikan gol-gol yang cuma sekilas.


Maka, apa boleh buat, kejuaraan bola macam Euro atau Piala Dunia tetap kita lihat meskipun harus melanggar pesan Rhoma Irama. Saya sendiri terkena flu berat gara-gara melekan terus. Loyo dan tidak enak badan. Untung masih bisa kerja, tidak sampai bolos.

Yah... bola sudah jadi semacam candu bagi orang Indonesia. Dengan bola kita sejenak bisa melupakan gonjang-ganjing politik dan berbagai masalah di dalam negeri. Bicara bola, analisis bola, meski cenderung asal bunyi kayak pengamat di televisi, tetap asyik dinikmati ketimbang membahas ulah politisi di parlemen.

Syukurlah, Piala Eropa sudah selesai dengan final yang sangat buruk karena Italia ibarat tim yang baru belajar main bola. Kita kecewa tapi tidak bisa apa-apa karena sudah telanjur menonton. Telanjur rame-rame nonton bareng.

Dua tahun mendatang Piala Dunia digelar di Brasil. Mungkin lebih asyik karena kita bisa menyaksikan pertandingan pagi hari. Tidak perlu melekan dari jam dua sampai subuh. Tapi biasanya negara-negara bola di Eropa memaksakan sedemikian rupa agar siaran bola disesuaikan dengan jam utama mereka.

Kita tunggu saja. Tapi beda waktu Amerika dengan Indonesia biasanya jauh lebih menguntungkan kita di Indonesia. Apa boleh buat, kita dari dulu hanya bisa jadi penonton dan komentator abadi.

02 July 2012

EURO 2012 SPANYOL MASIH HOKI




Orang tionghoa sangat percaya hoki (mujur) dan ciong (apes). Setiap manusia atau tim punya hoki dan ciongnya sendiri. Sehebat apa pun sebuah tim sepakbola, kalau tidak hoki, tidak mungkin jadi juara.

Musim lalu misalnya Torres ciong di Chelsea. Maka biarpun gawang sudah kosong, tendangan si Torres tidak masuk. Apakah keciongan si Torres ini berlanjut, kita tunggu saja musim depan.

Spanyol baru saja mempertahankan gelar juara Piala Eropa setelah mempermalukan Italia 4-0. Terlepas dari gaya tika-taka Spanyol yang aduhai, Spanyol jelas sangat hoki, sementara Italia sangat ciong. Bagaimana tidak. Belum apa-apa pemain cedera dan diganti. Motta main sebentar lalu pingsan dan tidak bisa diganti karena sudah habis jatah. Italia main 10 orang melawan Spanyol yang sangat perkasa.

Jangan lupa di semifinal Spanyol sangat hoki lolos du penalti lawan Portugal. Permainan Xavi dkk kacau, tidak lancar mengalir. Keberuntungan menaungi Spanyol karena penendang Portugal lagi apes. Karena itu, timnas Spayol kali ini tidak bisa dibilang sangat luar biasa seperti diulas di internet dan surat kabar.

Jerman dengan pelatih Loew jelas bermain bagus dalam beberapa tahun terakhir tapi belum meraih satu pun gelar. Kok ciong melulu? Dukun fengshui Tiongkok kiranya bisa menganalisis geomansi, magnetik alam, shio dan sebagainya. Tapi bisa diperkirakan Joachim Loew bukan tipe pelatih yang punya hoki untuk memenangi trofi Piala Eropa atau Piala Dunia.

Jerman ketika ditangani Berti Vogst tidak sebagus tim sekarang tapi bisa juara dunia? Karena faktor hoki atawa dewi fortuna itu tadi.

Jose Mourinho sering membawa tim asuhannya jadi juara liga bahkan Champion League, selain karena pemain bagus, strategi, taktik, tapi juga HOKI. Maka, pelatih atau manajer yang dianggap selalu ciong, bawa sial, pasti akan langsung dipecat oleh big boss dari Tiongkok atau keturunan tionghoa. Redknapp di Spurs sukses memajukan klub tapi tidak hoki untuk jadi juara EPL. Sebaliknya Fergie tak akan akan dipecat karena selalu membawa hoki ke MU.

Sulitnya menulis Dahlan Iskan


Menteri BUMN Dahlan Iskan kini sangat populer berkat kebijakannya yang berani dan progresif. Jarang ada pejabat berpikir di luar kotak, berani eksekusi, dan berani bertanggung jawab atas kebijakannya.

Karena itu, Pak Dahlan menjadi sangat populer mengingat di Indonesia jarang ada menteri seperti putra Magetan ini. Lalu muncullah orang-orang yang memanfaatkan popularitas Pak Dahlan dengan menerbitkan buku tentang Dahlan Iskan.

 Itu naluri bisnis biasa penerbit dan penulis di tengah bisnis buku yang lesu akibat pembajakan. Sah-sah saja penulis oportunistik macam ini karena peluang bisnis harus bisa dimanfaatkan.

Tidak tanggung-tanggung, ada yang bikin buku tiga seri alias trilogi tentang Dahlan Iskan. Trilogi tidak cukup, bisa tetralogi atau kuintologi atau sekstologi. Semua bisa dibuat tergantung pasar lah.

Saya ketawa-ketawa saja melihat tren baru ini. Mengapa? Sejak dulu saya bilang Dahlan Iskan itu suhunya penulis dan wartawan di Indonesia. Gaya penulisan, cara bercerita, angle, spontanitas, kerunutan... beliau ini seng ada lawan.

Produktivitasnya pun tak tertandingi. Bayangkan, setiap minggu beliau menulis feature bagus di Jawa Pos dengan gaya bertutur kaliber empu di halaman 1 meskipun sudah jadi dirut PLN, kemudian menteri BUMN. Pejabat yang sibuk luar biasa bisa tetap menulis panjang dan bagus, bahkan lebih kaya data ketimbang tulisan wartawan biasa yang hanya orang luar.

Apa yang dilakukan Dahlan Iskan ini sebetulnya pukulan telak di wajah wartawan-wartawan kita, khususnya yang merasa senior, pengurus organisasi wartawan, redaktur lawas... yang malas (dan tidak mau) menulis karena merasa tidak punya waktu.

Sibuk mana Pak Bos dengan wartawan-wartawan senior itu? Dahlan Iskan menunjukkan bahwa kewartawan dan kepenulisan itu tetap melekat di tubuhnya meski sudah jadi menteri yang sibuk.

Dan, yang pasti, buku-buku tentang Dahlan Iskan itu pasti kalah bagus dengan tulisan Bos. Dahlan jauh lebih pandai menulis dirinya sendiri seperti di buku GANTI HATI. Penulis instan hanya bisa nebeng ngetop seiring ngetopnya Bos Dahlan!

Polisi wanita kurang tepat



Selamat hari bhayangkara! Dirgahayu kepolisian Indonesia!

Saya sudah lama tidak sreg dengan POLISI WANITA alias polwan. Istilah ini kurang tepat dari segi bahasa Indonesia. Polisi wanita secara harfiah berarti polisi yang khusus mengurus wanita atau perempuan.

Padahal, kita tahu, polwan itu sejatinya polri jaga yang punya tugas, kewajiban, dan hak sama seperti polisi berjenis kelamin laki-laki. Istilah POLWAN yang salah kaprah ini hanya menunjukkan gender saja. Bahwa polisi yang berambut panjang dan pakai rok itu berjenis kelamin perempuan. Kok tidak ada istilah polisi laki-laki? Lama-lama akan ada sebutan polisi gay atau polisi waria.

Senyampang lagi musim reformasi, sebaiknya kita tidak pakai istilah polwan atau polisi wanita. Cukup POLISI saja. Gendernya boleh laki-laki boleh perempuan karena toh tugas dan kewajibannya sama. Tentu saja ada beberapa bidang seperti pasukan antiteror yang mungkin belum bisa dimasuki polisi berjenis kelamin perempuan.

Di Surabaya sudah banyak perwira polri yang perempuan. Mereka menempati pos-pos penting yang dulu dimonopoli laki-laki. Kinerja mereka pun bagus.

Tapi saya melihat ada kecenderungan feminimisasi polisi-polisi berjenis kelamin perempuan. Disuruh masuk salon, macak terus, seakan-akan jadi pemanis korps bhayangkara. Baguslah kalau polisi terlihat cakep kayak artis dangdut, tapi sebaiknya tidak berlebihan. Saya akan lebih senang melihat polisi baik yang laki-laki maupun perempuan melakukan operasi reskrim atau antiteror bersama-sama.

Mungkin hanya di lingkungan kepolisian saja yang ada terminologi pembedaan gender ini. Kita tidak pernah dengan istilah guru wanita, petani wanita, dokter wanita, pendeta wanita, wartawan wanita, dosen wanita, dan sejenisnya.

01 July 2012

Gereja Katolik di Surabaya makin dingin

Gereja Katedral Hati Kudus Yesus, Jl Polisi Istimewa Surabaya. Dingin!

Surabaya itu kota panas. Tanah yang datar membuat angin tak terasa. Sumuknya bukan main. Karena itu, kipas angin atau AC harus hidup meskipun malam hari.

Saya lihat gereja-gereja katolik mulai menyesuaikan diri sejak 10 tahun terakhir. Yakni dengan memasang AC di dalam gereja. Terobosan yang sebelum tahun 2000 menimbulkan perdebatan keras di kalangan umat katolik.

Bolehkah bangunan gereja katolik dipasangi AC?
Bukankah sejak ratusan tahun lalu gereja katolik tidak pakai AC?

Maklum, orang Belanda dulu merancang gereja di Surabaya dan kota-kota lain di Indonesia dengan arsitektur tropis. Tetap sejuk, nyaman, tanpa perlu kipas angin atau AC. Bahkan gereja-gereja buatan Belanda dibuat dengan memperhitungkan kualitas akustik ruangan. Suara pastor di altar atau mimbar bisa terdengar jelas di bagian belakang tanpa bantuan pengeras suara atau sound system.

Karena itu, umat katolik yang senior umumnya menolak pemasangan AC di gereja. Tapi Surabaya panas, tidak fokus misa karena kipas-kipas? "Pakai kipas angin saja," kata orang tua.

Ternyata kipas angin tidak mempan lagi melawan kesumukan Surabaya. Debat soal AC akhirnya dimenangi umat muda plus pengusaha yang sejak lama ingin ada AC di dalam gereja. Katanya, banyak umat katolik yang pindah ke gereja lain, khususnya aliran karismatik, karena AC da ruangannya macam hotel bintang lima. Katolik akan ketinggalan zaman kalau terus menolak AC.

Kini saya lihat sudah banyak gereja yang pakai AC. Biasanya gereja-gereja yang umatnya pengusaha kaya. Dari 20 gereja katolik di Surabaya, saya rasa belum ada 10 yang pakai AC. Yang lain tinggal menunggu waktu (dan uang) saja.

Proyek AC ini menimbulkan perdebatan baru. Mengapa? Biaya pengadaan AC itu ternyata mahalnya seperti bikin gereja baru. Pasang AC di gereja Surabaya biayanya bisa dipakai membangun 10 gereja di desa-desa di Flores. Apa bukan pemborosan? tanya aktivis.

Yang pasti, AC itu membuat saya kedinginan di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel. Tidak betah. Maka, pagi tadi saya misa di gereja katolik lain di Surabaya yang tidak pakai AC.

Yah, namanya juga wong kampung, gak tahan AC.

Kembang Jepun sepi di malam minggu




Malam minggu Surabaya ramai di mana-mana. Tapi di Kembang Jepun tidak. Sangat lengang. Sangat kontras dengan geliat ekonomi siang harinya. Pusat pecinan Surabaya ini memang sudah lama tidur nyenyak di malam hari.

Sempat ada usaha menghidupkan KJ dengan membuat kya-kya, hiburan, kuliner di malam hari. Itu pun tak bertahan lama. Kya-kya hanya tinggal cerita.

Tadi saya mampir ke KJ karena cukup lama tidak lewat malam hari di situ. Sepi meski malam minggu. Hanya ada dua atau empat stan yang jualan makanan tionghoa khas Tiociu. Cuma stan ini yang bertahan sejak era kya-kya. Saya perhatikan tamunya hanya tiga orang termasuk saya.

Saya coba masakan tiociu yang katanya asyik itu. Ehm, ternyata biasa-biasa saja. Cuma harganya yang terlalu mahal, tak sepadan dengan kelezatannya. Nasi putih 7000, gurami 40000. Hanya teh tawar saja yang normal 1000.

Pantas saja tak banyak pengunjung. Chinatown yang di tempat lain jadi pusat wisata kota ternyata mati di Surabaya. Bangunan-bangunan pun terlihat sangat tua dan kusam. Sama sekali tidak mencerminkan selera tinggi bos-bos atau laoban Tionghoa yang kaya makmur itu.

Saya bergeser dari Kembang Jepun ke arah Kapasan. Lebih ramai ketimbang KJ dengan Boen Bio yang terawat apik. Stan makanan banyak dengan pengunjung yang riuh. Lurus ke Jalan Kenjeran masih ramai dengan aktivitas warga mengisi malam panjang.

Saya geser lagi ke arah Jembatan Suramadu. Wuih, benar-benar ramai dan hidup. Begitu banyak orang yang menikmati malam minggu di tepi pantai dengan angin laut kencang itu. Sejuk nian.

Ngopi di kaki Suramadu sambil blogging iseng-iseng macam begini memang asyik. Apalagi malam ini tidak ada pertandingan bola Piala Eropa. Esok baru kita melekan lagi menonton final sepakbola Italia vs Spanyol.

Bahasa Amerika makin mencengkeram



Saya lega karena masih banyak tokoh dan pakar yang galau dengan cengkeraman bahasa Amerika. Koran Kompas edisi 30 Juni 2012 memuat kegelisahan sastrawan Taufiq Ismail terhadap bahasa kita yang makin kacau. Dan justru televisi yang menjadi promotor utama bahasa Amerika.

"Bahasa Amerika itu bahasa yang hebat menjajah," kata Taufiq Ismail seperti dikutip Kompas.

Dulu tokoh-tokoh kita belajar bahasa Belanda plus bahasa asing lain tapi tidak menjadi belanda hitam alias londo ireng. Sekarang ini londo ireng begitu mudah dijumpai di televisi mulai artis Cinta Laura, Agnes Monica, Manohara, hingga pengamat bola atau politik. Rasanya kurang hebat kalau omongan mereka tidak dioplos dengan bahasa Amerika.

Inflasi bahasa Amerika paling terasa di metrotv, televisi milik Surya Paloh, politikus yang belakangan gencar mengajak masyarakat kembali ke jatidiri bangsa dan mengamalkan pancasila. Hampir semua acara metrotv pakai bahasa Amerika;

HEADLINE NEWS. TOP NINE NEWS. WIDE SHOT. TODAY'S DIALOGUE. KICK ANDY. Dan masih banyak lagi. Siapa pemirsa metro? Orang California atau Boston? Yang pasti, program-program itu berbahasa Indonesia kecuali namanya saja untuk keren-kerenan.

Bahasa Amerika makin mencengkeram karena kita semakin kurang menghargai bahasa Indonesia. Mengutip Taufiq Ismail, mental rendah diri, inlander, menunduk-nunduk sedemikian kuatnya sehingga orang merasa lebih gengsi bila mengoplos kata-katanya dengan bahasa Amerika. Jangan-jangan karena bahasa Indonesia itu memang bukan bahasa ibu dari hampir semua orang Indonesia sehingga tak ada rasa bangga dan memilikinya?

Kalau kita sendiri gandrung bahasa Amerika dan meremehkan bahasa Indonesia, bagaimana mungkin bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa internasional? Jangan kaget bila dalam beberapa tahun terakhir makin sedikit mahasiswa Australia yang belajar bahasa Indonesia.

Jangan-jangan suatu ketika orang Indonesia akan berbicara seperti Cinta Laura atau Manohara. Oops.. by the way.. saya sudah ngantuk and bye-bye!