21 June 2012

TCM melejit, dokter resah



Sejak ratusan tahun lalu kita sudah mengenal metode pengobatan Tionghoa alias TCM. Namun, tcm-tcm lawas ini bekerja diam-diam dan hampir tidak pernah beriklan dI media.

Kini, setelah era reformasi, tcm asal Tiongkok ramai-ramai menyerbu Indonesia dan sangat gencar beriklan di televisi. TCM-TCM itu mengklaim bisa menyembuhkan segala macam penyakit, termasuk penyakit-penyakit berat seperti kanker, diabetes, hingga serangan jantung. Bukan itu saja. TCM-TCM baru ini juga gencar memperkenalkan berbagai alat kesehatan.

Fenomena TCM mutakhir ini tak ayal membuat para dokter resah. Mereka menilai klaim iklan-iklan TCM itu bisa menyesatkan masyarakat karena sering bertentangan dengan ilmu kesehatan. Sejumlah pihak kemudian meminta pemerintah untuk menertibkan klinik-klinik TCM di berbagai kota.

Budi Sampurna, staf ahli menkes, mengatakan sampai sekarang belum ada peraturan tegas mengenai pendirian klinik tcm. Kemenkes tidak pernah mengeluarkan izin. "Yang ada hanya registrasi," kata Budi.

Pemberian nomor registrasi ini, menurut dia, untuk memantau kinerja klinik, khasiat obat, efek samping, serta kemungkinan bahaya dari praktik yang dilakukan. Sayangnya, registrasi ini kemudian dianggap sebagai izin resmi. Bahkan, nomor registrasi ini dijadikan dasar untuk beriklan secara masif di media massa.

"Padahal, untuk mendapatkan izin harus ada uji klini dulu dan caranya tidak gampang," kata Budi Sampurna.

Nah, soal uji klinis inilah yang jadi masalah di tcm. Dr Dharma Kumara Widya menyebut belum ada penelitian ilmiah yang bisa menjawab metode pengobatan Tiongkok. "Satu-satunya metode yang paling bisa diterima logika medis dan dibuktikan secara empiris baru akupunktur," ujar dokter akupunktur di RSCM Jakarta ini.

Meski susah dibuktikan secara medis, tcm sebenarnya jauh lebih tertata dari pengobatan tradisional lainnya. TCM pun punya standar yang sudah teruji ribuan tahun. Maka kita perlu arif dalam menyikapi keberadaan TCM.

2 comments:

  1. Tidak bisa disangkal lagi Traditional Chinese Medicine ada manfaatnya.Kabarnya untuk sekali berobat di TCM kita harus merogoh kantong 20 juta rupiah.Mahalnya sudah pasti sembuhnya belum tentu.Berapa persen yang berobat di sana sembuh dan berapa yang gagal?

    Pedagang adalah pekerjaan yang baik, melayani kebutuhan orang lain. Dokter adalah pekerjaan yang mulia, menolong jiwa orang lain. Namun jika kedua pekerjaan digabung akan terjadi malapetaka bagi kemanusiaan.

    ReplyDelete
  2. Setahu saya dalam pengobatan TCM yang penting adalah ramuan obat2-an ( djamu- )-nya. Akupunktur adalah sebagai therapy pelengkap.
    Lacurnya di Indonesia TCM sekarang ini oleh beberapa oknum, dijadikan peluang untuk mengeruk
    keuntungan semaximalnya. Misalnya temulawak, kunyit, pala, cengkeh, ang-co,tang-kwe, sangat sering dipakai dalam ramuan obat TCM, namun begitu diganti nama dengan aksara China, maka harga obatnya melambung, sesuka perutnya sipemilik klinik TCM, yang sebagian besar, notabene adalah pengusaha, yang tidak mengerti ilmu kedokteran Tiongkok. Dokternya disana hanyalah pegawai klinik belaka.
    Di Tiongkok tumbuh2-an bahan obat dijual dipasar, digelar atas tanah seperti kangkung, timun atau bayam. Harganya juga sangat murah. Sopir saya di Tiongkok, Cina pribumi, kalau melihat tumbuhan dipinggir jalan atau di-semak2, selalu menerangkan kepada saya, daun ini namanya apa, dan khasiatnya untuk penyakit apa.
    Perkara dokter didikan barat menentang TCM, karena mereka tidak paham tentang phytomedizin,
    tidak mengerti pengobatan tradisional, buta tentang tumbuh2-an. Lihat modelnya temulawak saja seumur hidup belum pernah. Tahunya cuma aspirin tablet, yang asalnya juga dari tumbuhan. Biasalah sifat manusia yang ignoranz, tidak tahu, tidak mengerti, tetapi selalu menentang. Belum pernah membaca kitab suci sebuah agama, tetapi menentang, antipaty.

    ReplyDelete