16 June 2012

Rebutan kelenteng di Jatim





Setelah reformasi, posisi konghucu makin kuat. Diakui sebagai agama resmi keenam. Majelis konghucu alias matakin pun makin eksis dalam pengelolaan kelenteng.

Yang jadi masalah adalah kelenteng2 di Indonesia selama orde baru bernaung di bawah majelis tridarma, bagian dari majelis agama buddha. Memang dulu untuk amannya orang tionghoa yang bukan islam, kristen atau hindu menyebut dirinya beragama buddha agar bisa dapat ktp dan sebagainya. Padahal tridarma atau sanjiao itu sebetulnya tidak sama persis dengan agama buddha di vihara.

Nah, geger rebutan kelenteng ini baru saja terjadi di Tuban, TITD terkemuka di Jatim. Pengurus dan umat Kwan Sing Bio demo ke kemenag meminta matakin atau majelis konghucu keluar dari kelenteng itu. Sebab selama ini kelenteng di Tuban ikut majelis tridarma.

Tridarma dianggap sudah mencakup konghucu sehingga tidak perlu ada matakin. Benar2 tidak elok menyaksikan sesama orang tionghoa gegeran sendiri berebut kelenteng. Apalagi kasus ini mencuat keluar dan bisa bergulir ke pengadilan.

Saya tahu kasus ini sangat sensitif dan tidak mudah dicari jalan keluarnya. Mengapa? Majelis2 dan pengurusnya punya banyak kepentingan ekonomi, budaya, sosial, agama, hingga politik ketika sudah menguasai tempat ibadah. Para pihak sama2 ngotot dengan argumentasinya.

Lalu apakah pemerintah bisa menyelesaikannya? TIDAK BISA. Karena pemerintah yang notabene bukan tionghoa sangat sulit memahami tradisi dan religi tionghoa yang sinkretis. Orang pribumi dari dulu tidak paham mengapa seorang tionghoa memeluk 3 agama sekaligus. Mengapa umat kelenteng tridharma tidak pernah merayakan waisak padahal ktp-nya ditulis beragama buddha. Dan sebagainya dan sebagainya.

Maka, agar kasus rebutan kelenteng ini terus meluber ke luar, para pengurus majelis atau orang2 tionghoa sendiri yang menyelesaikannya. Tak guna mengadu ke pemerintah atau pengadilan. Bikin malu saja. Hanya orang tionghoa yang paham tradisi serta religi leluhurnya dari tiongkok.

1 comment: